Selama tiga minggu tembok Bar Luna, Ubud, penuh dihiasi foto banten (sesajen), selokan di pinggir jalan ataupun potret diri anak-anak dalam hitam putih. Namun kondisi itu harus berakhir karena pameran “Cerita dalam kaleng” Sanggar Anak Tangguh dan Komunitas Fotografi Semut Ireng harus berakhir Rabu (19/10).

Pameran fotografi lubang jarum yang berlangsung sejak Selasa (27/9) itu semuanya hasil karya anak muda dari Sanggar Anak Tangguh. Sanggar seni untuk anak-anak ini didirikan oleh I Komang Adiarta dan beberapa pengajar lain di Banjar Wangbung, Guwang, Sukawati.

Kelompok fotografi Semut Ireng memberikan pelatihan kepada anak-anak sanggar mengenai teknik pengambilan foto yang tertua di dunia: kamera lubang jarum. Kamera lubang jarum adalah alat sederhana yang terbuat dari kotak atau wadah yang tidak tembus cahaya. Wadah ini menjadi badan kamera dengan lubang kecil di satu sisi sebagai jalan masuk cahaya (diafragma).

Cahaya melewati lubang dan memproyeksi gambar secara terbalik pada film atau kertas foto yang ditempatkan di dalam kotak. Kamera lubang jarum adalah alat tertua untuk memperbanyak gambar dan alat ini menjadi leluhur dari semua kamera modern yang kita gunakan sekarang.

Alhazen (Ibn Al-Haytham, yang lahir di abad ke 10 di daerah yang kita kini sebut Irak) dihargai sebagai orang pertama yang menjelaskan cara bekerja kamera lubang jarum. Namun sebelumnya filsuf dari Cina dan Yunani pernah mengamati dan mendokumentasikan “kamera” yang mencul secara alami saat cahaya melalui lubang pada keranjang anyaman.

Komunitas lubang jarum pertama dari Indonesia terbentuk tahun 2002 di Jawa Timur. Fotografer lubang jarum dari Sanggar Anak Tangguh membuat kamera mereka dari kaleng bekas. Semut Ireng menyediakan kertas foto dan selotip hitam yang digunakan sebagai rana untuk menutupi lubang cahaya pada kamera kaleng.

Saat ditanya apakah anak-anak menikmati mengambil foto menggunakan kamera lubang jarum, satu anak menjawab, “Suka karena seru, tetapi kadang tidak suka kalau berpanas-panasan dan mengganggu jam makan siang.” Saat mendengar komentar tersebut, para penonton yang hadir pada acara pembukaan tertawa. Alasan teknik fotografi ini mengganggu jam makan fotografer adalah karena kamera lubang jarum paling efektif digunakan saat tengah hari.

Rio Helmi, fotografer ternama dari Indonesia, juga menghadiri acara ini dan membagi nasehat bijak kepada fotografer muda tentang sejarah fotografi. Rio menekankan pentingnya mereka terus mendalami aliran seni tersebut.

Judul pamerannya, “Cerita dalam kaleng”, terinspirasi dari konsep mengirim pesan dalam botol. Untuk pengambilan foto, Semut Ireng menggunakan kertas foto yang akan menghasilkan gambar negatif, daripada menggunakan film yang harus diproses lagi sebelum dicetak. “Para murid belajar kesabaran dan dapat merasa bangga dari proses membuat sesuatu menjadi milik mereka sendiri,” kata Vifick Bolang dari Semut Ireng.

Sanggar Anak Tangguh didirikan tahun 2007 oleh kelompok pengajar di Sukawati. “Kami merasa pendidikan yang anak-anak mendapatkan di sekolah masih kurang,” jelas Adiarta saat bicara di pembukaan pameran. “Kami ingin memberikan mereka ketrampilan tambahan.”

Komentar serupa juga pernah diucapkan oleh Made Bayak, guru di Sanggar Anak Tangguh, saat pameran mereka dua bulan lalu di Art Café, Seminyak. “Sekolah di daerah kita tidak menyediakan pendidikan seni yang memadai, jadi kita berusaha memberikan kursus tambahan bagi anak-anak untuk lebih membuka wawasan mereka,” kata Bayak.

Sanggar Anak Tangguh beraktivitas setiap hari minggu. Saat ini ada tujuh relawan di sana yang mengajar seni lukis, musik, tari, bahasa, matematika, dan fotografi. Selain pameran ini, murid tersebut baru selesai membuat mural (lukis tembok) besar di desa mereka.

Related Posts: