Kita hidup di dunia yang tunggang langgang. Isu, persoalan, kekhawatiran, semuanya cepat hilang, secepat mereka datang. Suatu isu bisa terasa gawat, hanya ketika masih hangat.

Masih di penghujung tahun 2011, jejaring media sosial di Indonesia riuh dengan isu pembantaian orangutan. Tapi dalam hitungan minggu, isu itu seperti berlalu. Nasib orangutan masih riskan. Sementara deforestasi terus melaju, dan ekspansi lahan perkebunan sawit tak terhambat.

Perusahaan perkebunan kelapa sawit pun dengan lincah menempuh pola greenwashing untuk memoles citranya sebagai musuh utama orangutan. Ini upaya lapis kedua setelah bergincu membangun logika kehadiran perkebunan kelapa sawit sebagai upaya “menghijaukan hutan kembali”.

Dari Bali, sebagai media alternatif yang partisipatif, akarumput.com menggelar “Orangutan” – Suara untuk Alam II, bekerja sama dengan Sawit Watch dan Walhi Bali di Seaman’s Sanur, 17 Desember lalu. Acara ini diawali dengan diskusi “Refleksi Lingkungan Hidup Akhir Tahun” bersama Albert Nego Tarigan (direktur eksekutif Sawit Watch), Wayan Suardana atau Gendo (WALHI Bali), dan Gede Robi Supriyanto (vokalis Navicula).

Albert menyerukan penghentian ekspansi perkebunan sawit. “Kebun sawit merebut ruang hidup masyarakat lokal dan hewan langka seperti orangutan. Di Aceh, Riau, dan Kalimantan Timur, semua terjadi pembunuhan orangutan,” kata Albert.

Albert juga menyoroti kasus kekerasan di Kabupaten Mesuji, Lampung yang berkaitan dengan kehadiran perkebunan kelapa sawit. Lima orang tewas pada peristiwa bentrok antara masyarakat dengan pengamanan perusahaan sawit. Menurut Abert masih ada kasus serupa yang terjadi di daerah lain. “Di Riau, seorang ibu tewas karena dituduh menduduki kebun perusahaan sawit besar. Di Jambi, tujuh orang diberondong peluru, dan kami punya rekaman videonya,” kata Albert.

Setelah diskusi, acara beralih ke panggung musik dengan penampilan band The Listen, Balian, Nosstress, Geekssmile, dan Navicula.

Acara diselingi dengan lelang karya bertema orangutan karya seniman Bali seperti Made Bayak dan mahasiswa ISI yang tergabung dalam Komunitas Djamur. Dana yang terkumpul dari lelang sekitar Rp. 6,000,000 disalurkan ke WALHI Bali untuk perjuangan lingkungan hidup.

Momen yang paling ditunggu dari acara ini adalah peluncuran single terbaru Navicula berjudul “Orangutan”. Navicula mendedikasikan lagu ini untuk melipatgandakan kepedulian pada keselamatan dan kelestarian orangutan sebagai spesies langka. Robi menciptakan lagu ini pada April 2011 sebagai salah satu materi album baru Navicula yang direncanakan rilis tahun depan. “Orangutan” bisa diunduh secara gratis di sini.

Tidak hanya merilis lagu untuk diunduh publik, Navicula juga merilis video musik “Orangutan”. Gambar video ini diselipi dengan potongan gambar dari Green, the Film. Film dokumenter karya Patrick Rouxel ini berkisah tentang Green, seekor orangutan betina yang meregang nyawa. Film ini tanpa narasi, hanya gambar-gambar yang indah dan menyedihkan.

Green adalah korban deforestasi dan eksploitasi sumber daya alam. Film ini adalah perjalanan emosional seekor primata langka dalam kesendiriannya di dunia yang tak berpihak padanya.


Foto oleh Vifick Bolang dan Green the Film.

Related Posts: