<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: It&#8217;s time Bali banned the bag</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com/en/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jan 2018 11:14:00 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
	<item>
		<title>By: Racrov Red Wing</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/#comment-302</link>
		<dc:creator>Racrov Red Wing</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2017 16:19:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1959#comment-302</guid>
		<description><![CDATA[ada yang punya data otentik tentang jumalh sampah kantong plastik di TPA Suwung? mohon di share sebagai data primer]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ada yang punya data otentik tentang jumalh sampah kantong plastik di TPA Suwung? mohon di share sebagai data primer</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Tolak Tas Kresek &#124; Bali Clean</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/#comment-257</link>
		<dc:creator>Tolak Tas Kresek &#124; Bali Clean</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2012 03:46:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1959#comment-257</guid>
		<description><![CDATA[[...] http://akarumput.com/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/ [...]]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] <a href="http://akarumput.com/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/" rel="nofollow">http://akarumput.com/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/</a> [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: agung mahatma</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/#comment-243</link>
		<dc:creator>agung mahatma</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2012 15:36:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1959#comment-243</guid>
		<description><![CDATA[saya kira, ini bukan plastik nya yg salah bli, tp cara membuangnya yg salah, 
karena tong sampah sangat minim keberadaannya,,,

coba skali2 bikin gerakan bikin tong sampah, di tiap depan rumah warga harus ada tong sampah,,, saya kira ga akan jadi masalah . karena yg saya liat di masyarakat , kecendrungan buang sampah sembarangan itu sangat besar, jd seperti pendapat awal saya, lebih real kita membuat gerakan bikin tong sampah di tiap depan rumah warga dan di tempat2 umum,, pkoknya tiap 10 meter di jalan ada tong sampah, saya sangat yakin, Bali bersih, 

kebetulan rumah saya berjarak skitar 1 Km dari TPA Temesi, Gianyar, saya liat pengolahan sampah terpusat seperti itu sebenarnya sudah ga maksimal, menurut saya lebiah baik, setiap Desa/ banjar, kelola sampah sendiri2,, mungkin bisa dialokasikan lahan :) 
]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya kira, ini bukan plastik nya yg salah bli, tp cara membuangnya yg salah,<br />
karena tong sampah sangat minim keberadaannya,,,</p>
<p>coba skali2 bikin gerakan bikin tong sampah, di tiap depan rumah warga harus ada tong sampah,,, saya kira ga akan jadi masalah . karena yg saya liat di masyarakat , kecendrungan buang sampah sembarangan itu sangat besar, jd seperti pendapat awal saya, lebih real kita membuat gerakan bikin tong sampah di tiap depan rumah warga dan di tempat2 umum,, pkoknya tiap 10 meter di jalan ada tong sampah, saya sangat yakin, Bali bersih, </p>
<p>kebetulan rumah saya berjarak skitar 1 Km dari TPA Temesi, Gianyar, saya liat pengolahan sampah terpusat seperti itu sebenarnya sudah ga maksimal, menurut saya lebiah baik, setiap Desa/ banjar, kelola sampah sendiri2,, mungkin bisa dialokasikan lahan :) </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Robi Navicula</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/#comment-242</link>
		<dc:creator>Robi Navicula</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2012 04:16:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1959#comment-242</guid>
		<description><![CDATA[Swalayan dan retail2 24 jam adalah salah satu sumber sampah kresek terbesar. Dimulai aja dari sini dulu, karena regulasi/perda utk pajak tas plastik bisa mudah diterapkan di sini... bisa jadi pajak akan dibebankan ke konsumen. Siapa yg mau pake kresek harus bayar. Saat ini orang cuma beli odol 1 biji aja maunya di masukin ke kresek. Coba kalo disuruh bayar, misalnya 1000 perak, pasti itu odol bakal dikantongin tanpa perlu di-kresek. Kresek yg gratis bikin orang manja, kalo kresek disuruh bayar, yakin deh kita semua bakal bawa tas sendiri kalo mo belanja. Dimulai dari langkah awal ini akan terbentuk mindset publik bahwa kresek itu sesuatu yg harus dikurangi, lama2 akan terbentuk mindset bahwa penggunaan plastik sekali pakai juga harus dikurangi. 
Dibarengi dengan edukasi formal/informal intensif, akan terbentuk mindset publik bahwa hati-hati terhadap kemasan plastik yg ga bisa di daur ulang.
Dan dibarengi dengan pemisahan distribusi sampah oleh pemerintah (yg organik ke pengolahan kompos, misal: Temesi kompos atau Pak Oles) dan sisanya yg sebagian kecil yg gak organik baru ke TPA. Sedangkan non-organik yg recycle-able ada nilai ekonominya dan pasti sudah jadi duit bagi pemulung/bank sampah.
Kebanyakan orang tidak peduli atau tidak paham bahayanya sampah plastik/bahan2 berbahaya lainnya macam styrofoam, dan kresek gratis bikin orang2 jadi manja dan tidak peduli.  Jadi pengurangan limbah plastik dimulai dari hal yang mendasar utk solusi jangka panjang. Solusi jangka pendek hanya mengatasi masalah utk kurun waktu yg singkat. 
Sebelum saya bikin lagu ini, saya sempat mencoba utk diet tas kresek selama sebulan utk tes bisakah kita hidup tanpa kresek, ternyata sangat bisa dan tidak ada kendala sama sekali. Kalau utk plastik kemasan memang sangat sulit karena mayoritas kemasan itu plastik sekali pakai, tapi utk kresek sangat mudah menolaknya.  Makanya gak ada alasan bagi orang lain utk orang2 utk tidak menggunakan tas kresek, dan gak ada alasan bagi pemerintah lokal tidak menerapkan perda pajak bagi tas plastik, dimulai dari swalayan/retail2/toko2.  Atau yg lebih ekstrim lagi, distributor tas plastik ke Bali.
Bali Go Clean &amp; Green tanpa Action, hanya akan menjadi slogan doang &gt;&gt;&gt; kritik ke pemerintah daerah nih ;)))]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Swalayan dan retail2 24 jam adalah salah satu sumber sampah kresek terbesar. Dimulai aja dari sini dulu, karena regulasi/perda utk pajak tas plastik bisa mudah diterapkan di sini&#8230; bisa jadi pajak akan dibebankan ke konsumen. Siapa yg mau pake kresek harus bayar. Saat ini orang cuma beli odol 1 biji aja maunya di masukin ke kresek. Coba kalo disuruh bayar, misalnya 1000 perak, pasti itu odol bakal dikantongin tanpa perlu di-kresek. Kresek yg gratis bikin orang manja, kalo kresek disuruh bayar, yakin deh kita semua bakal bawa tas sendiri kalo mo belanja. Dimulai dari langkah awal ini akan terbentuk mindset publik bahwa kresek itu sesuatu yg harus dikurangi, lama2 akan terbentuk mindset bahwa penggunaan plastik sekali pakai juga harus dikurangi.<br />
Dibarengi dengan edukasi formal/informal intensif, akan terbentuk mindset publik bahwa hati-hati terhadap kemasan plastik yg ga bisa di daur ulang.<br />
Dan dibarengi dengan pemisahan distribusi sampah oleh pemerintah (yg organik ke pengolahan kompos, misal: Temesi kompos atau Pak Oles) dan sisanya yg sebagian kecil yg gak organik baru ke TPA. Sedangkan non-organik yg recycle-able ada nilai ekonominya dan pasti sudah jadi duit bagi pemulung/bank sampah.<br />
Kebanyakan orang tidak peduli atau tidak paham bahayanya sampah plastik/bahan2 berbahaya lainnya macam styrofoam, dan kresek gratis bikin orang2 jadi manja dan tidak peduli.  Jadi pengurangan limbah plastik dimulai dari hal yang mendasar utk solusi jangka panjang. Solusi jangka pendek hanya mengatasi masalah utk kurun waktu yg singkat.<br />
Sebelum saya bikin lagu ini, saya sempat mencoba utk diet tas kresek selama sebulan utk tes bisakah kita hidup tanpa kresek, ternyata sangat bisa dan tidak ada kendala sama sekali. Kalau utk plastik kemasan memang sangat sulit karena mayoritas kemasan itu plastik sekali pakai, tapi utk kresek sangat mudah menolaknya.  Makanya gak ada alasan bagi orang lain utk orang2 utk tidak menggunakan tas kresek, dan gak ada alasan bagi pemerintah lokal tidak menerapkan perda pajak bagi tas plastik, dimulai dari swalayan/retail2/toko2.  Atau yg lebih ekstrim lagi, distributor tas plastik ke Bali.<br />
Bali Go Clean &amp; Green tanpa Action, hanya akan menjadi slogan doang &gt;&gt;&gt; kritik ke pemerintah daerah nih ;)))</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ian J Stevenson</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/#comment-241</link>
		<dc:creator>Ian J Stevenson</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2012 08:27:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1959#comment-241</guid>
		<description><![CDATA[saya setuju dengan agung, tapi robi bener juga. TPA udah mulai penuh. ]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya setuju dengan agung, tapi robi bener juga. TPA udah mulai penuh. </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: agung mahatma</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/#comment-240</link>
		<dc:creator>agung mahatma</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2012 05:40:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1959#comment-240</guid>
		<description><![CDATA[itulah susahnya bli,, pola pikir instant sudah membudaya (termasuk saya) beli ini itu sudah dibungkus plastik,, beli mie, sudah dikemas plastik juga, beli kacang ijo udah dibungkus, bahkan beli Senar Gitar pun dibungkus plastik biar ga karatan, 
jadi ga hanya tas kresek saja,, plastik kemasan juga sudah ga bisa dibendung lagi, jd saya kira agak mustahil, kecuali ada instruksi di setiap desa/banjar harus mengelola sampahnya. jd jgn lagi sampah terpusat di satu tempat (TPA) karna akan makin susah pengolahannya. 
sepertinya sangat mudah, karena pemerintah mengeluarkan ijin villa aja gampang, kenapa bikin pengolahan sampah susah..? 
setiap 10-20 meter ada tempat sampah, kemudian dijemput mobil pengangkut sampah sepertinya lebih real bli... ]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>itulah susahnya bli,, pola pikir instant sudah membudaya (termasuk saya) beli ini itu sudah dibungkus plastik,, beli mie, sudah dikemas plastik juga, beli kacang ijo udah dibungkus, bahkan beli Senar Gitar pun dibungkus plastik biar ga karatan,<br />
jadi ga hanya tas kresek saja,, plastik kemasan juga sudah ga bisa dibendung lagi, jd saya kira agak mustahil, kecuali ada instruksi di setiap desa/banjar harus mengelola sampahnya. jd jgn lagi sampah terpusat di satu tempat (TPA) karna akan makin susah pengolahannya.<br />
sepertinya sangat mudah, karena pemerintah mengeluarkan ijin villa aja gampang, kenapa bikin pengolahan sampah susah..?<br />
setiap 10-20 meter ada tempat sampah, kemudian dijemput mobil pengangkut sampah sepertinya lebih real bli&#8230; </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jane Fischer</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/#comment-239</link>
		<dc:creator>Jane Fischer</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2012 04:59:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1959#comment-239</guid>
		<description><![CDATA[Thank you Akarumput for this article by Tina Stockport. I especially appreciate that the author has taken up the greenwashing subject on the plastic called degradable, or OXO-degradable, sometimes  &quot;biodegradable&quot; plastic. Retailers around the world, such as Tesco, are dropping OXO plastic for alternatives which have longer life cycles and higher recycle rates. Here in Bali we still need to get out the facts on this greenwashing. Here is a great article with relevant links: http://www.businessgreen.com/bg/news/2102471/tesco-drops-controversial-biodegrable-plastic-carrier-bags]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Thank you Akarumput for this article by Tina Stockport. I especially appreciate that the author has taken up the greenwashing subject on the plastic called degradable, or OXO-degradable, sometimes  &#8220;biodegradable&#8221; plastic. Retailers around the world, such as Tesco, are dropping OXO plastic for alternatives which have longer life cycles and higher recycle rates. Here in Bali we still need to get out the facts on this greenwashing. Here is a great article with relevant links: <a href="http://www.businessgreen.com/bg/news/2102471/tesco-drops-controversial-biodegrable-plastic-carrier-bags" rel="nofollow">http://www.businessgreen.com/bg/news/2102471/tesco-drops-controversial-biodegrable-plastic-carrier-bags</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Robi Navicula</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/#comment-238</link>
		<dc:creator>Robi Navicula</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2012 04:51:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1959#comment-238</guid>
		<description><![CDATA[Irlandia udah jalan, http://www.nytimes.com/2008/02/02/world/europe/02bags.html?_r=1&amp;em&amp;ex=1202101200&amp;en=b81a97080dcd4b15&amp;ei=5087 . Ada baiknya ide ini di coba, apalagi pemerintah Bali udah kasi roadmap nya, tinggal realisasinya aja yg keteteran. Langkah pertama mungkin dari yg gampang dikontrol, kayak swalayan atau retail2 24jam. Nanti berikutnya baru pasar atau kios tradisional. Masalahnya adalah TPA sudah penuh, mau dikemanakan lagi tuh sampah plastik? mau bikin TPA baru? cuma solusi jangka pendek... Aku jadi ingat tahun 80-an dulu sebelum kresek marak, nyokap tiap mau ke pasar selalu bawa keranjang belanjaan sendiri, sekarang hal ini udah langka, karena tas kresek dikasi gratis. kalau dulu nyokap bisa, kenapa sekarang ngga? :)]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Irlandia udah jalan, <a href="http://www.nytimes.com/2008/02/02/world/europe/02bags.html?_r=1&#038;em&#038;ex=1202101200&#038;en=b81a97080dcd4b15&#038;ei=5087" rel="nofollow">http://www.nytimes.com/2008/02/02/world/europe/02bags.html?_r=1&#038;em&#038;ex=1202101200&#038;en=b81a97080dcd4b15&#038;ei=5087</a> . Ada baiknya ide ini di coba, apalagi pemerintah Bali udah kasi roadmap nya, tinggal realisasinya aja yg keteteran. Langkah pertama mungkin dari yg gampang dikontrol, kayak swalayan atau retail2 24jam. Nanti berikutnya baru pasar atau kios tradisional. Masalahnya adalah TPA sudah penuh, mau dikemanakan lagi tuh sampah plastik? mau bikin TPA baru? cuma solusi jangka pendek&#8230; Aku jadi ingat tahun 80-an dulu sebelum kresek marak, nyokap tiap mau ke pasar selalu bawa keranjang belanjaan sendiri, sekarang hal ini udah langka, karena tas kresek dikasi gratis. kalau dulu nyokap bisa, kenapa sekarang ngga? :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ibu Lala</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/#comment-237</link>
		<dc:creator>Ibu Lala</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2012 04:06:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1959#comment-237</guid>
		<description><![CDATA[Makan di warung, lebih ramai/social. ]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Makan di warung, lebih ramai/social. </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: agung mahatma</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/#comment-236</link>
		<dc:creator>agung mahatma</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2012 03:40:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1959#comment-236</guid>
		<description><![CDATA[seperti contoh,, kita mau beli soto ayam 5 bungkus, sudah pasti pakek kresek,, kalo pakek daun pisang, nanti sotonya pada kececer di jalan. 
usul saya, yg lebih real : Bali butuh TONG SAMPAH minimal lah setiap 10-30 meter di jalan jalan,, jadi masyarakat lebih mudah membuang tas kresek bekas,,,
by : agung mahatma (bali)
FB : agung kustoms mahatma ]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>seperti contoh,, kita mau beli soto ayam 5 bungkus, sudah pasti pakek kresek,, kalo pakek daun pisang, nanti sotonya pada kececer di jalan.<br />
usul saya, yg lebih real : Bali butuh TONG SAMPAH minimal lah setiap 10-30 meter di jalan jalan,, jadi masyarakat lebih mudah membuang tas kresek bekas,,,<br />
by : agung mahatma (bali)<br />
FB : agung kustoms mahatma </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
