<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; Serambi Arts Antida</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/tag/serambi-arts-antida/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Foto: Hip Hop Beats 4Life Drum Clinic</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/photos-hip-hop-beats-1052/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/photos-hip-hop-beats-1052/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 06:47:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Galeri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[BaliSpirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Native Deen]]></category>
		<category><![CDATA[Serambi Arts Antida]]></category>
		<category><![CDATA[Tariq Snare]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1641</guid>
		<description><![CDATA[On Sunday, 12 February “Hip Hop Beats 4Life,” a drum workshop and evening of hip hop performances was lead by Tariq Snare, resident drummer for the Muslim hip hop group Native Deen.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>On Sunday, 12 February the <span style="color: #008000;"><a href="http://www.balispiritfestival.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">BaliSpirit Festival </span></a></span>hosted the first in a series of community outreach events scheduled for 2012: “Hip Hop Beats 4Life,” a drum workshop and evening of hip hop performances was lead by Tariq Snare, resident drummer for the Muslim hip hop group <a href="http://www.nativedeen.com/ns/index.php" target="_blank"><span style="color: #008000;">Native Deen</span></a> and former backing musician for such legendary artists as Queen Latifah, Cool and the Gang, Bell Biv DeVoe, and many others. Over 100 people—local amateur and professional musicians, as well as several young aspiring drummers aged 8-16—participated in the workshop. Members of the community organization Bali Extreme Drummers and the local hip hop collective Aerial Crew were among those in attendance. The workshop was followed by performances with Tariq, American Hip Hop artist PitchBlackGold (aka Kamau Abayomi), and SnapBack, as well as breakdancing performances by members of Bali-based Dewata Hip Hop. The event was sponsored by the Embassy of the United States and <a href="http://serambi-arts-antida.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Serambi Arts Antida</span></a>, Denpasar.</p>
<div><p>SimpleViewer Gallery Id 15 has been deleted.</p></div>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/photos-hip-hop-beats-1052/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Insinyur suara tempaan Swiss</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/french-fanatic-sound-craftsman/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/french-fanatic-sound-craftsman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 11:52:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Dini Hari]]></category>
		<category><![CDATA[Live Music Venue]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[Nosstress]]></category>
		<category><![CDATA[Serambi Arts Antida]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[Guru bahasa Prancis gagal yang menjadi arsitek suara untuk studio rekaman terbaik di Bali.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Guru bahasa Prancis gagal yang menjadi arsitek suara untuk studio rekaman terbaik di Bali.</strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_FLYING.jpg"><img class="aligncenter" title="Anom Darsana" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_FLYING.jpg" alt="" width="600" height="195" /></a>Bila diibaratkan seorang bayi, Serambi Arts Antida seharusnya baru belajar berjalan. Atau mungkin masih merangkak. Tapi bayi yang satu ini meski baru berusia setahun, sudah melesat lari.</p>
<p>Sabtu (29/10), Serambi merayakan ulang tahun yang pertama dengan pertunjukan yang mencerminkan visinya. Pementasan diisi oleh penyair Cok Sawitri, grup folk Nosstress dan Dialog Dini Hari, Geekssmile, band grunge rock Navicula. Kamau, penyanyi hip-hop yang sudah lama tinggal di Bali serta kakek blues dan soul Jim Larkin yang sedang berkunjung dari Amerika Serikat, ikut meramaikan Serambi.</p>
<p>Setahun yang lalu Serambi membuka pintunya bagi seniman pentas dan visual lokal, nasional, juga internasional. Dalam tahun pertama, Serambi menjadi wadah bagi para insan kreatif melalui pameran fotografi dan lukisan, peluncuran album, lokakarya pendidikan, jam session, dan <em>poetry slam</em>.</p>
<p>Venue yang semi-terbuka ini terbagi dua bagian. Ada bar dengan panggung dan kebun yang terletak di belakang studio rekaman dan produksi yang saat ini dianggap terbaik di Pulau Dewata. Dan nama harum Antida dengan kualitas suara pertunjukan live dan mixing rekamannya tidak bisa dilepaskan dari peran arsitek di belakangnya: Gung Anom.</p>
<p>Kelahiran Antida punya jejak di sebuah negara yang ratusan ribu kilometer jauhnya dari Bali: Swiss. Anom pindah ke Swiss mengikuti ayahnya yang pindah tugas kerja. Di Jenewa dia belajar bahasa Prancis karena berencana menjadi guru bahasa Prancis saat pulang ke Bali.</p>
<p>Namun, sebelum pindah ke Eropa, Anom hanya kursus bahasa Prancis di Alliance Francaise sebelum selama tiga bulan. Akibatnya dia mengalami kesulitan diterima di sistem sekolah Swiss yang sangat kompetitif. Setelah berbulan-bulan mendalami bahasa Prancis, Anom diterima di suatu sekolah di Jenewa. Selama sekolah, ia mendalami kecintaannya terhadap bahasa Prancis dan bertemu perempuan yang menjadi istrinya di masa depan.</p>
<p>Setelah tamat sekolah, Anom tidak berkeinginan pulang ke Bali. Dia merasa sangat nyaman hidup di Swiss, terutama di komunitas kreatif di Jenewa. Dia tidak bisa membayangkan kembali ke Bali yang menurutnya masih kekurangan komunitas musik dan seni.</p>
<p>Anom sudah menikah di Swis dan mengantongi dokumen kerja. Tapi dia harus menghadapi kenyataan tidak banyak yang bisa ia lakukan dengan sertifikat mengajar bahasa Prancis di Swiss. Apalagi bahasa Prancis bukan bahasa ibunya. “Saya masih mau tinggal di sana, tetapi tidak bisa bekerja sebagai guru bahasa,” kata Anom.</p>
<p>Ia mulai bekerja dengan gaji kecil di sebuah studio sound engineer. “Awalnya pekerjaan saya buat kopi untuk <em>engineer</em> dan bersih-bersih studio. Dan mulai belajar sedikit-sedikit,” kata Anom.</p>
<p>Tanpa prospek bagus menjadi pengajar bahasa, Anom mengalihkan perhatiannya: ia mendaftar di sekolah <em>sound engineering</em>. Dia pun mulai bekerja lepas sebagai <em>sound engineer</em> untuk program televisi, produksi acara non siaran, dan teater. Setiap hari dia bekerja dan sekali seminggu selama dua tahun dia mengikuti kursus teori suara. Dia pun mengantongi sertifikat dan mulai bekerja penuh sebagai <em>sound engineer</em>.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/tout-un-monde-anom-et-pouney.jpg"><img class="alignright" style="margin: 4px 8px;" title="tout un monde" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/tout-un-monde-anom-et-pouney.jpg" alt="" width="161" height="158" /></a>Di Jenewa Anom sempat membuka studio underground kecil bernama Antida. Inilah cikal-bakal Antida Studio di Jl Waribang Denpasar. Tak hanya bekerja di belakang layar, Anom juga menjalankan duo hip-hop Tout un Monde (Seluruh Dunia) bersama temannya, Pouney. Anom berbaik hati memberi satu ocehannya yang berbahasa Prancis untuk dirilis di akarumput.com.</p>
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F26811223&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;color=ff7700"></iframe><br />
<a href="http://snd.sc/vgNmBh">Klik di sini untuk mengunduh</a></p>
<p>Setelah 13 tahun di Eropa, romantismenya tentang tempat itu mulai menipis dan dia ingin kembali ke suasana damai yang diingat di Bali. “Hidup di sana tidak segampang yang kita kira. Jangan kira di luar negeri enak. Di sana susah sekali, harus sangat kerja keras,” kata Anom. Dia pun memboyong keluarganya ke Denpasar. “Saya jauh lebih senang di Bali sekarang daripada di Swis, lebih nyaman di sini.”</p>
<p>Tahun 2004, Anom membuka studio kecil di depan Taman 65, Jalan WR Supratman. Studio ini dia lengkapi dengan perangkat audio yang dia bawa dari Swiss. Anom masih bekerja secara lepas sebagai <em>sound engineer</em> untuk acara musik dan studionya disewakan untuk rekaman.</p>
<p>Tahun 2007, dengan bantuan beberapa investor, Anom memindahkan Antida Studio ke Jalan Waribang. Antida cepat dikenal karena kualitas alat dan teknik rekaman berstandar internasional. Kemampuan <em>sound engineer</em> juga faktor penentu. “Cara mengatur suara tak bisa dipelajari secara teori saja. Dan tidak bisa dipelajari dalam satu minggu, tapi lewat pengalaman,” kata Anom.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_MiXING.jpg"><img class="aligncenter" title="Anom at Antida" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_MiXING.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Kini Anom sudah mengantongi 15 tahun pengalaman sebagai <em>sound engineer</em> untuk panggung. Untuk rekaman dia menangani musisi Bali, nasional, dan internasional beragam aliran, dari hard rock, grunge, jazz, pop, <em>world music</em>, hingga tradisional seperti gamelan. “Hanya dangdut yang belum pernah” kata Anom sambil ketawa.</p>
<p>Anom juga pernah menjadi sponsor dan produser untuk beberapa grup musik, termasuk Dialog Dini Hari dan Nosstress. “Impian saya adalah memulai label rekaman di bawah nama Serambi. Aku ingin mendukung band yang potensinya bagus,” kata Anom.</p>
<p>Setiap tahun Anom ke Swiss untuk menjadi sound engineer di beberapa konferensi dan festival. Penghasilan tambahan yang didapat di luar negeri memungkinkan Anom untuk terus menjalankan studionya di Bali.</p>
<p>Sejak lama Anom memendam keinginan untuk memberi pengaruh lebih langsung pada komunitas kreatif di Bali. Karena itu dia mendirikan venue Serambi Arts Antida. “Serambi Arts Antida berdedikasi mengembangkan dan mempromosikan seni dan budaya kontemporer dari komunitas Bali.”</p>
<p>Serambi bukan hanya bar lokal yang menampilkan musik. Anom berharap Serambi dapat memberi konteks bagi seni dan musik lokal agar bisa terus bekembang dan mekar. Dia juga berharap komunitas lokal punya rasa memiliki terhadap tempat itu. Anom cukup bangga, dalam setahun venue ini telah menjadi salah satu lokasi tempat yang orang suka ngumpul, terutama bagi musisi setempat dan teman dan penggemar mereka.</p>
<p>Anom ingin Serambi lebih bisa memfasilitasi pengalaman seni yang beragam dan lebih luas. “Bali memiliki scene rock yang kuat, dan itu bagus. Namun saya juga berharap anak muda akan mendengarkan sesuatu yang baru.”</p>
<p>Visi itu dijalankan Anom lewat seri pertunjukan World Musik, yang merupakan salah satu event yang sangat sukses di Serambi. “Saya berharap musik seperti ini bisa memiliki tempat di Denpasar, sama seperti musik rock. Aku ingin mendorong anak muda untuk mendengar dan menghargai berbagai jenis musik dalam forum yang terbuka dan kreatif.”</p>
<p>Sepertinya komunitas kreatif yang Anom nikmati di Jenewa kini bisa ditemukan di rumahnya sendiri.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><em>Foto oleh <a href="http://twitter.com/13Rudi" target="_blank">Rudi Waisnawa.</a></em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/french-fanatic-sound-craftsman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
