<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; navicula</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/tag/navicula/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Bali Anti-Corruption Fest</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/bali-anti-corruption-fest/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/bali-anti-corruption-fest/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Apr 2013 04:31:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gede Robi Supriyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Anti-Corruption]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[geekssmile]]></category>
		<category><![CDATA[ICW]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Morfem]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=2012</guid>
		<description><![CDATA[Bali Anti-corruption Fest, 13 April 2013, Jam 16:00-23:00 di Gd. Sawaka Dharma, Lumintang, Denpasar, Bali. Free entry.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Anti-corruption Fest: Tur album kompilasi Frekuensi Perangkap Tikus (unduh gratis di <a href="http://beranijujur.net/" target="_blank">Beranijujur.net</a>)<br />
13 April 2013, Jam 16:00-23:00<br />
di Gd. Sawaka Dharma, Lumintang, Denpasar, Bali</p>
<p>Bands: Navicula, Geekssmile, Scared of Bums, Ripper Clown (Denpasar), Morfem (JKT), Iksan Skuter (JKT)</p>
<p>Teater Kini Berseri, Mural Komunitas Djamur – ISI Denpasar, Painting exhibition Made Bayak.</p>
<p>Free Entry!</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2013/04/x2_113f8083.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2013" alt="Bali Anti Corruption Fest" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2013/04/x2_113f8083.jpg" width="600" height="848" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/bali-anti-corruption-fest/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Navicula membuka Borneo Tour di Medan</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/navicula-membuka-borneo-tour-di-medan/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/navicula-membuka-borneo-tour-di-medan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2012 15:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1981</guid>
		<description><![CDATA[Grup musik asal Bali, Navicula membuka rangkaian tur ke Kalimantan (Borneo Tour) untuk kampanye perlindungan orangutan dengan konser musik di Medan, 24 Juli mendatang<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1983" class="wp-caption aligncenter" style="width: 611px"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/Gembull_NVCL_orangutan-1_web.jpg"><img class="size-full wp-image-1983" title="Gembull_NVCL_orangutan-1_web" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/Gembull_NVCL_orangutan-1_web.jpg" alt="" width="601" height="402" /></a><p class="wp-caption-text">Gembull Navicula meets an orangutan</p></div>
<p>Grup musik asal Bali, Navicula membuka rangkaian tur ke Kalimantan (Borneo Tour) untuk kampanye perlindungan orangutan dengan konser musik di Medan, 24 Juli mendatang. Pertunjukan bertajuk “Road to Borneo Tour” itu digelar untuk menggemakan persoalan deforestasi yang mengancam habitat satwa langka di Sumatera, khususnya Hutan Rawa Tripa, Aceh.</p>
<p>“Konser di Medan adalah pemanasan sebelum kami tur ke Kalimantan, bulan September nanti. Di tengah persiapan menuju Borneo Tour mencuat banyak persoalan di Sumatera, seperti masalah hutan Rawa Tripa yang merupakan habitat orangutan. Didukung oleh beberapa lembaga yang concern pada konservasi lingkungan, kami pun hadir di Sumatera, pilihannya di kota Medan,” kata Gede Robi Supriyanto, vokalis Navicula di Bukit Lawang, Sumatra Utara, Jumat (20/7).</p>
<p>Robi berada di Bukit Lawang dalam rangka perjalanan menyusuri hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Perjalanan ini menjadi asupan pengalaman bagi Robi untuk mengampanyekan persoalan lingkungan lewat musik. Road to Borneo Tour di Medan didukung oleh <a href="http://www.yelweb.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Yayasan Ekosistem Lestari (YEL)</span></a>, <a href="http://www.sumatranorangutan.org/content-n31-sE.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">Sumateran Orangutan Conservation Programe (SOCP)</span></a>, <a href="http://www.paneco.ch/aktuelles-n111-sD.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">PanEco</span></a>, <a href="http://sawitwatch.or.id/" target="_blank">Sawit Watch</a>, dan <a href="http://www.walhi.or.id/id/home/eksekutif-daerah/114-walhi-sumatera-utara.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut.</span></a></p>
<p>Pada acara yang akan digelar di Rama Gardenia Café, 24 Juli itu Navicula yang berdiri sejak tahun 1996 akan tampil dalam format akustik. Acara juga diisi dengan diskusi tentang penyelamatan hutan rawa Tripa, serta pameran foto orangutan dan harimau Sumatera dari Komunitas Mata Kamera, Medan.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/poster_NVCL_medan-web.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1985" title="Navicula_Medan_24Juli" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/poster_NVCL_medan-web.jpg" alt="" width="600" height="437" /></a></p>
<p>Navicula yang konsisten menyuarakan isu lingkungan akan menggelar Borneo Tour di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, pertengahan September mendatang. Tur ini mengangkat tema persoalan orangutan sebagai dampak dari deforestasi dan ekspansi perkebunan kelapa sawit.</p>
<p>Tur Navicula dibiayai dengan proyek pendanaan oleh khalayak (crowdfunding) lewat portal <a href="http://www.kickstarter.com/projects/1637792006/golden-green-grunge-for-rare-red-apes-navicula-bor" target="_blank"><span style="color: #008000;">kickstarter.com</span></a> dan <a href="http://mari.patungan.net/project/navicula-borneo-tour" target="_blank"><span style="color: #008000;">patungan.net.</span></a> Di kicstarter.com Navicula memasang proyek dengan target AS$3.000, sementara di patungan.net target sebesar Rp5 juta. Proyek pada kedua portal tersebut sudah melebihi target, dan proyek di kickstarter.com masih berjalan hingga 29 Juli 2012. Sebagai kompensasi untuk pendukung proyek, Navicula menjanjikan unduh lagu gratis, kaos, CD, kerajinan tangan, show di rumah donatur, sampai ikut tur ke Kalimantan.</p>
<p>“Kami sangat senang proyek crowdfunding untuk <em>Borneo Tour</em> berhasil mengajak orang mendukung gerakan kami membawa musik sebagai media kampanye lingkungan. Ini juga menjadi pembuktian kami sebagai band independen tapi dapat menggelar tur mandiri yang panjang tanpa dibiayai oleh sponsor atau promotor,” kata Robi.</p>
<p>Pada Desember 2011, <a href="http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula" target="_blank"><span style="color: #008000;">Navicula merilis lagu <em>Orangutan</em></span></a> yang disebarkan secara gratis dengan lisensi creative common. Vokalis Navicula, Gede Robi Supriyanto menulis lagu Orangutan pada April 2011. Lagu ini akan menjadi materi album ke-7 Navicula. Album ini juga akan memuat nomor Harimau! Harimau! yang didedikasikan untuk penyelamatan harimau Sumatra yang tersisa 400 ekor karena hutan rumahnya menipis.</p>
<p>Navicula telah memainkan <em>Orangutan</em> dari panggung ke panggung, bahkan di program musik siaran langsung di stasiun televisi nasional. Sejak saat itu banyak penggemar yang meminta Navicula untuk tampil di kota mereka, terutama di Kalimantan. “Sebagai musisi dari Bali, yang bukan pusat industri musik, ini kebanggaan buat kami bisa hadir di Kalimantan, hutan hujan tropis terakhir di muka bumi dan habitat orangutan yang terancam, membawakan langsung lagu Orangutan,” kata Robi.</p>
<div id="attachment_1988" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/NVCL_bukit_lawang_web.jpg"><img class="size-full wp-image-1988" title="Navicula in Bukit Lawang" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/NVCL_bukit_lawang_web.jpg" alt="" width="600" height="402" /></a><p class="wp-caption-text">Navicula visit the orangutan of Bukit Lawang, Sumatera</p></div>
<p><strong>Kampanye Internasional</strong></p>
<p>Lagu Orangutan pula yang membawa <a href="https://www.envoletmacadam.com/en/planetrox/indonesia/semi-finalists-videos/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Navicula memenangkan kompetisi band internasional Planetrox.</span> </a>Pemenang nasional kompetisi ini diongkosi untuk tampil di festival musik Envol et Macadam di Quebec, Kanada, 7-8 September mendatang. “Ini salah satu cara kami untuk membawa isu orangutan menjadi perhatian publik internasional. Masalah lingkungan entah itu di Kalimantan, Sumatera, atau Antartika adalah kepentingan seluruh penghuni bumi,” kata Robi.</p>
<p>Untuk berpartisipasi pada Planetrox, Navicula mengikutkan video musik Orangutan yang kemudian terpilih sebagai semi finalis. Ke-10 semi finalis Planetrox bertarung dalam voting online untuk diambil 5 finalis. Finalis lalu tampil dalam babak final penjurian di Bandung 7 Juli lalu. Juri pun memutuskan Navicula sebagai pemenang untuk dikirim mewakili Indonesia ke Kanada.</p>
<p>Selain tampil di Kanada, Navicula juga berpeluang untuk rekaman di Hollywood, Amerika Serikat. Navicula masuk sebagai salah satu dari <a href="http://www.rodemic.com/roderocks/navicula" target="_blank"><span style="color: #008000;">10 finalis kompetisi RØDE Rocks</span> </a>yang berhadiah rekaman tiga lagu di Record Plant Studio, Los Angeles. Finalis dipilih dari 500 video yang berasal dari 43 negara. Pemenang ditentukan lewat voting online, dan saat berita ini diturunkan Navicula memimpin perolehan vote.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/navicula-membuka-borneo-tour-di-medan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya Bali melarang tas plastik</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2012 09:13:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina Stockport</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Unduh]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah & Polusi]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Cantik Tanpa Plastik]]></category>
		<category><![CDATA[BCTP]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[plastic]]></category>
		<category><![CDATA[Plastic Free Bali]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<category><![CDATA[pollution]]></category>
		<category><![CDATA[Tolak Tas Kresek]]></category>
		<category><![CDATA[waste management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1959</guid>
		<description><![CDATA[Menggunakan tas plastik mudah terurai hanyalah solusi kosmetik yang berbahaya jangka panjang.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Menggunakan tas plastik mudah terurai hanyalah solusi kosmetik yang berbahaya jangka panjang.</strong></p>
<p>Tahun 2010 Pemerintah Provinsi Bali menjanjikan Bali akan bebas plastik tahun 2013.  Namun target ini masih mengawang-awang. Jumlah sampah plastik terus bertambah hingga 1600 ton per hari, meningkat lebih dari 200 persen dibanding statistik tahun lalu.</p>
<p>Desa-desa di Bali semakin terpolusi dan saluran air tersumbat akibat sampah plastik. Situasi sampah di Bali telah berubah dari sakit menjadi sekarat. Surfer papan atas Kelly Slater pernah mengritik pantai Bali yang kotor lewat akun twitternya pada tanggal 22 April 2012:</p>
<p><a><img class="aligncenter size-full wp-image-1964" title="KellySlater_tweet" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/KellySlater_tweet.png" alt="" width="476" height="75" /></a></p>
<p>Halaman depan Koran Bali Daily juga menampilkan foto tempat pembuangan akhir (TPA) sampah ilegal di kebun mangrove Nusa Dua dan mengutip para environmentalis yang melihat <a href="http://www.mongabay.co.id/2012/05/27/program-bali-bebas-plastik-2013-berjalan-lambat/" target="_blank"><span style="color: #008000;">program permerintah ‘tidak-efektif’.</span></a></p>
<p>Tentu kita tidak lupa, majalah Time pernah menurunkan liputan <a href="http://www.time.com/time/world/article/0,8599,2062604,00.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">“Holiday in Hell: Bali’s Ongoing Woes&#8221;. </span></a> Dan ketika tulisan itu muncul, pemerintah daerah yang merasa tercoreng mukanya menurunkan dua alat berat pengangkut sampah di Pantai Kuta. Liputan seperti ini dapat mempengaruhi pariwisata di Bali. Namun, secara jangka panjang pemerintah terlihat belum punya solusi. Apa yang telah pemerintah Bali lakukan sejak 2010 untuk membuat Bali bebas plastik?</p>
<p>Perda (peraturan daerah) untuk melaksanakan visi pemerintah tahun 2010 menjelaskan program yang akan menfasilitasi dan melibatkan masyarakat untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang (3R – <em>reduce, reuse, recycle</em>) plastik, termasuk ‘menghentikan plastik pada asalnya.’ Perencanaan mereka termasuk membantuk tim untuk mengawasi daur ulang, dan infrastruktur untuk mengumpulkan sampah dan teknologi untuk menciptakan tenaga dari plastik. Sekarang sudah tiga tahun lewat, dan hasil dari inisiatif ini, yang berkaitan dengan menggunakan kembali dan mendaur ulang, kurang kelihatan.</p>
<p>Jadi, bagaimana dengan mengurangi sampah? Tentunya ‘menghentikan sampah pada sumbernya’, daripada menciptakan sampah, bisa menjadi cara yang efektif untuk mengatasi masalah sampah. Daripada meneruskan ide ini, pemerintah memberikan insentif untuk toko menyediakan tas plastik yang mudah terurai (<em>degradable bags</em>). Namun, mempromosikan tas plastik yang mudah terurai sebenarnya akan meningkatkan jumlah sampah plastik karena pelanggan berpikir tas-tas ini ramah lingkungan, sehingga mereka tidak perlu mengurangi penggunaannya. Atau masyarakat akan merasa ringan saja membuang sampah plastik karena mereka berpikir akan terurai dalam beberapa saat.</p>
<p>Tas plastik yang mudah terurai tidak hancur secara keseluruhan, apa lagi dalam iklim dengan kelembapan tinggi seperti Indonesia. Pada iklim ideal untuk hancur pun, tas plastik jenis ini hanya terurai menjadi fragmen-fragmen plastik yang sangat kecil dan tetap berada dalam lingkungan. Menggunakan tas plastik mudah terurai hanyalah solusi kosmetik yang berbahaya jangka panjang dan membawa risiko bagi kesehatan manusia dan lingkungan.</p>
<p>Tas plastik mudah terurai mengandung logam berat untuk mempercepat proses hancurnya. Toksin ini masuk ke bahan makanan kita melalui saluran irigasi pertanian dan juga meracuni hewan atau kehidupan laut yang mengonsumsinya.</p>
<p>Tahun lalu ide untuk melarang tas plastik di Bali menambah momentum melalui Responsible Retailer Roundtable. Koalisi ini terbentuk dari pemerintah, pemilik toko dan kelompok peduli lingkungan. Pemilik toko ingin mengikuti peraturan melarang penggunaan tas plastik, asal pemerintah melaksanakannya. Namun, ide ini juga tidak ada lanjutan karena pemerintah belum menerapkan larangan terhadap tas plastik.</p>
<p>Melarang tas plastik bisa menjadi langkah pertama yang jelas dalam mengatasi masalah sampah di Bali. Tetapi peraturan yang begitu luas pastinya akan memerlukan komitmen pemerintah untuk penerapannya, bersama dengan dukungan publik. Saat ini kedua hal ini belum ada. Sebaliknya, pulau dengan populasi 3,5 juta ini telah tergantung dengan tas plastik sekali pakai (<em>single use</em>), dan mengharapkan pemerintah akan membuat sampah mereka hilang begitu saja.</p>
<p>Untuk menerapkan larangan terhadap tas plastik di seluruh pulau Bali, pastinya perlu dukungan kebijakan yang progresif. Misalnya dengan mulai menerapkan pajak tas plastik, dan regulasi ketat atau denda untuk pembuangan sampah ilegal, disertai dengan pendidikan publik mengenai pentingnya menjaga kebersihan pulau Bali.</p>
<p>Tas plastik sekali-guna adalah produk konsumer nomor satu di dunia. Tas plastik sering hanya digunakan selama beberapa menit saja, namun dapat meracuni lingkungan selama lebih dari 1000 tahun. Sudah saatnya Bali melarang tas plastik.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/BCTP-kids.jpg"><img class="aligncenter" title="BCTP-kids" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/BCTP-kids.jpg" alt="" width="600" height="490" /></a></p>
<p><a href="http://plasticfreebaliheroes.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Bali Cantik Tanpa Plastik</span></a> mendorong tujuan ini dengan pendekatan edukasi dan kesenian. Salah stunya dengan merilis lagu &#8220;Tolak Tas Kresek&#8221; ciptaan Gede Robi Supriyanto (<span style="color: #008000;"><a href="http://twitter.com/robinavicula" target="_blank"><span style="color: #008000;">Robi Navicula</span></a></span>).  Lagu ini bisa dimanfaatkan seluas-luasnya untuk tujuan Bali tanpa plastik. &#8220;Tolak Tas Kresek&#8221; bisa diunduh di sini:</p>
<p><iframe src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F51769159&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=true&amp;color=ff7700" frameborder="no" scrolling="no" width="100%" height="166"></iframe></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Bali untuk Borneo</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/140612-dari-bali-untuk-borneo/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/140612-dari-bali-untuk-borneo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 13:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Borneo]]></category>
		<category><![CDATA[deforestation]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1949</guid>
		<description><![CDATA[Navicula tak berhenti sampai membuat lagu tentang orangutan. Tanpa sponsor dan promotor, Navicula membuat proyek tur ke hutan hujan tropis yang terus terkikis, Kalimantan.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Navicula tak berhenti sampai <a href="http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/" target="_blank"><span style="color: #008000;">membuat lagu tentang orangutan.</span></a> Tanpa sponsor dan promotor, Navicula membuat proyek tur ke hutan hujan tropis yang terus terkikis, Kalimantan.</strong></p>
<p>Coba sebutkan karya lagu dengan pesan tentang lingkungan. Banyak. Bahkan sebuah majalah (berbahan kertas yang berasal dari pohon) musik nasional pada bulan Hari Bumi merilis cerita sampul tentang 100 lagu bertema bumi.</p>
<p>Tapi apa yang sebenarnya dibutuhkan bumi yang tengah dirundung rusak parah ini? Segerombolan orang yang mengaku seniman dan berlagu tentang alam seperti suara-suara yang berseru di padang gurun?</p>
<p>Kerja praksis kesenian musik yang ingin mengetuk hati dan menggedor akal membutuhkan upaya ekstra dari sekadar mencipta-memproduksi lagu-membawakannya di panggung.  Terutama dalam konteks perjuangan bagi lingkungan. Apalagi di tengah demam media jejaring sosial saat ini, ketika orang sudah merasa puas sebagai aktivis tagar (hashtag): ulang-ulang kicauan (tweet) tentang satu isu dan selesai. Sementara degradasi bahkan perusakan lingkungan secara sistematis terus terjadi.</p>
<p>Sempat terjadi demam isu penyelamatan orangutan pada penghujung tahun lalu. Tagar #SaveOrangutans gencar di jagat twitter. Pemicunya karena merebak kabar sayembara yang digelar perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Mereka menjanjikan ganjaran sejumlah uang bagi warga yang menyetorkan jasad orangutan yang dianggap musuh tanaman sawit. Keji. Namun minyak kelapa sawit lebih dianggap sebagai kebutuhan global, daripada keberlangsungan hidup primata merah yang berbagi 97% DNA dengan manusia.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Green-042.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1957" title="Green-042" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Green-042.jpg" alt="" width="600" height="337" /></a></p>
<p>Pada Desember 2011, Navicula merilis lagu Orangutan yang bisa diunduh secara gratis. Sejumlah musisi lain seperti Shaggydog pun membuat lagu tentang Orangutan yang terancam punah. Robi Navicula – yang memiliki akun twitter namun sangat jarang menggunakannya – menulis lagu Orangutan pada April 2011. Lagu ini akan menjadi materi album ke-7 Navicula yang sedang dalam negosiasi kontrak untuk dirilis di Amerika Serikat. Selain Orangutan, album ini juga akan memuat nomor <em>Harimau! Harimau!</em> yang didedikasikan untuk penyelamatan harimau Sumatra yang tersisa 400 ekor karena hutan rumahnya menipis.</p>
<p>Navicula telah memainkan <em>Orangutan</em> dari panggung ke panggung, bahkan di program musik siaran langsung di stasiun televisi nasional. Sejak saat itu banyak pendengar yang meminta Navicula untuk tampil di kota mereka, terutama di Kalimantan. Hadir di Kalimantan, hutan hujan tropis terakhir di muka bumi dan habitat orangutan yang terancam, membawakan langsung lagu <em>Orangutan</em> adalah harapan yang menyalakan api di dada Navicula.</p>
<p>Namun sebagai band yang sering dituduh <em>legend</em> namun masih rindu order panggung, punya basis fans menyebar-mengakar namun masih pra-sejahtera, tur mandiri ke Kalimantan bagi Navicula jauh lebih sulit daripada memproduksi lagu pembuat hits. Berharap pada sponsor atau promotor membawa tur ke Kalimantan, jelas Navicula bukan band ideal bagi brand rokok yang bisa mengguyur duit ke konser musik.</p>
<p>Kendala dana tak menghalangi rencana Navicula ke Kalimantan. Ada peluang pendanaan khalayak (<em>crowdfunding</em>) untuk proyek-proyek kreatif lewat Kickstarter.com. Pendanaan khalayak menjadi fenomena bisnis yang memukau di tengah resesi ekonomi Amerika yang belum selesai dan bangkrutnya ekonomi sebuah negara seperti Yunani. Massalution, firma riset khusus <em>crowdfunding </em>dan <em>crowdsourcing</em> awal bulan ini merilis laporan Crowdfunding Industry Report. Firma ini mengumpulkan data dari lebih 170 (38 persen dari total) platform pendanaan khalayak.</p>
<p>Massalution menemukan, selama tahun 2011 portal-portal pendanaan khalayak mengumpulkan dana 1,5 miliar dollar AS dan mendanai sekitar 1 juta proyek. Angka itu memang memukau. Tapi sebelum berpikir tentang menembus target dana proyek, tidak semua orang bisa membuat proyek yang menarik minat orang banyak untuk ikut mendanai. Pengaju proyek juga harus melewati seleksi awal, persetujuan dari pengelola portal. Navicula telah melewati ini, <a href="http://www.kickstarter.com/projects/1637792006/golden-green-grunge-for-rare-red-apes-navicula-bor" target="_blank"><span style="color: #008000;">proyek tur Borneo Orangutan</span> </a>sudah diluluskan oleh Kickstarter.com.</p>
<p>Proyek tur Navicula ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah ini menargetkan dana 3000 dollar AS, dengan masa pendanaan 45 hari. Sebagai kompensasi untuk donatur, Navicula menjanjikan download lagu gratis, kaos, CD, kerajinan tangan, show di rumah donatur, sampai ikut tur ke Kalimantan.</p>
<p><iframe src="http://www.kickstarter.com/projects/1637792006/golden-green-grunge-for-rare-red-apes-navicula-bor/widget/video.html" frameborder="0" width="480px" height="360px"></iframe></p>
<p>Navicula adalah musisi atau band pertama dari Indonesia yang menjalankan proyek di Kickstarter. Sudah ada beberapa proyek tentang musisi Indonesia di kickstarter, tapi itu dilakukan oleh orang dari luar (negeri), bukan oleh musisi langsung. Misalnya <a href="http://www.kickstarter.com/projects/157803924/jakarta-punk-the-marjinal-story" target="_blank"><span style="color: #008000;">proyek film dokumenter tentang kolektif punk</span></a> paling berwibawa di Indonesia, Marjinal. Proyek dengan target 16.000 dollar AS, massa penggalangan dana 45 hari ini berhasil mengumpulkan 16.450 dollar AS. Proyek ini diajukan oleh 3 filmaker dari AS, Cina dan Malaysia.</p>
<p>Donatur proyek di Kickstarter adalah orang yang memilik kartu kredit di Amerika Serikat. Jelas dengan begitu, partisipasi donatur dari Indonesia sangat kecil di Kickstarter. Untuk itu Navicula juga meluncurkan proyek pendukung lewat patungan.net, dengan target dana Rp5 juta.</p>
<p>Seakan tak berhenti meresonansi suara primata merah, Navicula juga membawa lagu Orangutan untuk kompetisi band internasional Planetrox. Pemenang nasional kompetisi ini akan diongkosi untuk tampil di festival musik Envol et Macadam di Quebec, Kanada. <span style="color: #008000;"><a href="http://www.envoletmacadam.com/en/planetrox/indonesia/semi-finalists-videos/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Tahap voting online berlangsung</span></a></span> hingga 24 Juni, dan akan diambil 5 finalis yang akan berlaga di depan juri pada final di Bandung 8 Juli.</p>
<p>Navicula satu-satunya dari 10 semifinalis pada kompetisi ini dengan lagu berbahasa Indonesia. Ketika band Indonesia lain menghadapi kompetisi internasional Planetrox dengan lagu berbahasa Inggris, Navicula percaya diri dengan lagu berbahasa sendiri: Orangutan. Sebab ini tentang pesan, bukan tentang bahasa.</p>
<p><strong>Navicula mengundang Anda pada show akustik sekaligus launching Orangutan Borneo Tour:</strong><br />
Sabtu, 16 Juni<br />
Pukul 18.00 WIB<br />
Di Café Tjikini Jl Cikini Raya no 17 Jakarta Pusat<br />
Penampil: Navicula, Adrian Aditeotomo, Balian</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Navicula_e_poster.jpg"><img class="size-full wp-image-1950 aligncenter" title="Navicula_e_poster" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Navicula_e_poster.jpg" alt="" width="389" height="750" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/140612-dari-bali-untuk-borneo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto: Suara untuk Alam II</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/foto-suara-untuk-alam-ii/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/foto-suara-untuk-alam-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 13:11:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lakota Moira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Galeri]]></category>
		<category><![CDATA[akarumput]]></category>
		<category><![CDATA[Balian]]></category>
		<category><![CDATA[geekssmile]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[Nosstress]]></category>
		<category><![CDATA[sawit watch]]></category>
		<category><![CDATA[Walhi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1376</guid>
		<description><![CDATA[Acara "Orangutan – Suara untuk Alam II" dalam gambar. Live musik, diskusi, lelang karya dan workshop cukil kayu. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div><p>SimpleViewer Gallery Id 13 has been deleted.</p></div>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/foto-suara-untuk-alam-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video klip &#8220;Orangutan&#8221; oleh Navicula</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/video-orangutan-oleh-navicula/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/video-orangutan-oleh-navicula/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 10:25:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>
		<category><![CDATA[sawit watch]]></category>
		<category><![CDATA[Walhi Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1334</guid>
		<description><![CDATA[Tidak hanya merilis lagu untuk diunduh publik, Navicula juga merilis video musik “Orangutan”. Gambar video ini diselipi dengan potongan gambar dari Green, the Film. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/B4m5b5DJtBU" frameborder="0" width="600" height="335"></iframe></p>
<p>Kita hidup di dunia yang tunggang langgang. Isu, persoalan, kekhawatiran, semuanya cepat hilang, secepat mereka datang. Suatu isu bisa terasa gawat, hanya ketika masih hangat.</p>
<p>Masih di penghujung tahun 2011, jejaring media sosial di Indonesia riuh dengan isu pembantaian orangutan. Tapi dalam hitungan minggu, isu itu seperti berlalu. Nasib orangutan masih riskan. Sementara deforestasi terus melaju, dan ekspansi lahan perkebunan sawit tak terhambat.</p>
<p>Perusahaan perkebunan kelapa sawit pun dengan lincah menempuh pola greenwashing untuk <a href="http://news.mongabay.com/2011/1207-orangutan_policy.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">memoles citranya sebagai musuh utama orangutan.</span></a> Ini upaya lapis kedua setelah bergincu membangun logika kehadiran <a href="http://akarumput.com/environment/the-unashamed-business-of-indonesia-green-awards/" target="_blank"><span style="color: #008000;">perkebunan kelapa sawit sebagai upaya “menghijaukan hutan kembali”.</span></a></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/press-conf-2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1346" style="margin: 8px 12px;" title="discussion Suara untuk Alam II" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/press-conf-2-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Dari Bali, sebagai media alternatif yang partisipatif, akarumput.com menggelar “Orangutan” – Suara untuk Alam II, bekerja sama dengan <a href="http://sawitwatch.or.id/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Sawit Watch</span></a> dan <a href="http://walhibali.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Walhi Bali</span> </a>di Seaman’s Sanur, 17 Desember lalu. Acara ini diawali dengan diskusi “Refleksi Lingkungan Hidup Akhir Tahun” bersama Albert Nego Tarigan (direktur eksekutif Sawit Watch), Wayan Suardana atau Gendo (WALHI Bali), dan Gede Robi Supriyanto (vokalis Navicula).</p>
<p>Albert menyerukan penghentian ekspansi perkebunan sawit. “Kebun sawit merebut ruang hidup masyarakat lokal dan hewan langka seperti orangutan. Di Aceh, Riau, dan Kalimantan Timur, semua terjadi pembunuhan orangutan,” kata Albert.</p>
<p>Albert juga menyoroti kasus kekerasan di Kabupaten Mesuji, Lampung yang berkaitan dengan kehadiran perkebunan kelapa sawit. Lima orang tewas pada peristiwa bentrok antara masyarakat dengan pengamanan perusahaan sawit. Menurut Abert masih ada kasus serupa yang terjadi di daerah lain. “Di Riau, seorang ibu tewas karena dituduh menduduki kebun perusahaan sawit besar. Di Jambi, tujuh orang diberondong peluru, dan kami punya rekaman videonya,&#8221; kata Albert.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Balian_live.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1349" title="Balian_live" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Balian_live.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Nosstress_live.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1356" style="margin-top: 10px; margin-bottom: 10px;" title="Nosstress_live" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Nosstress_live.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Geekssmile_live.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1350" title="Geekssmile_live" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Geekssmile_live.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a>Setelah diskusi, acara beralih ke panggung musik dengan penampilan band The Listen, Balian, Nosstress, Geekssmile, dan Navicula.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/woodcut-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1362" title="woodcut-2" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/woodcut-2.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/auction_art.jpg"><img class="aligncenter" style="margin-top: 10px; margin-bottom: 10px;" title="auction_art" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/auction_art.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Acara diselingi dengan lelang karya bertema orangutan karya seniman Bali seperti Made Bayak dan mahasiswa ISI yang tergabung dalam Komunitas Djamur. Dana yang terkumpul dari lelang sekitar Rp. 6,000,000 disalurkan ke WALHI Bali untuk perjuangan lingkungan hidup.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/NAVICULA_LIVE.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1351" title="NAVICULA_LIVE" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/NAVICULA_LIVE.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Momen yang paling ditunggu dari acara ini adalah peluncuran single terbaru Navicula berjudul “Orangutan”. Navicula mendedikasikan lagu ini untuk melipatgandakan kepedulian pada keselamatan dan kelestarian orangutan sebagai spesies langka. Robi menciptakan lagu ini pada April 2011 sebagai salah satu materi album baru Navicula yang direncanakan rilis tahun depan. <a href="http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/" target="_blank"><span style="color: #008000;">“Orangutan” bisa diunduh secara gratis di sini.</span></a></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Green-072.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1352" style="margin: 8px 12px;" title="Green-072" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Green-072-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a>Tidak hanya merilis lagu untuk diunduh publik, Navicula juga merilis video musik “Orangutan”. Gambar video ini diselipi dengan potongan gambar dari <a href="http://www.greenthefilm.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Green, the Film.</span></a> Film dokumenter karya Patrick Rouxel ini berkisah tentang Green, seekor orangutan betina yang meregang nyawa. Film ini tanpa narasi, hanya gambar-gambar yang indah dan menyedihkan.</p>
<p>Green adalah korban deforestasi dan eksploitasi sumber daya alam. Film ini adalah perjalanan emosional seekor primata langka dalam kesendiriannya di dunia yang tak berpihak padanya.<strong></strong></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><strong></strong><em>Foto oleh Vifick Bolang dan Green the Film.</em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/video-orangutan-oleh-navicula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unduh gratis: Lagu Orangutan oleh Navicula</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 14:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lakota Moira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Unduh]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1306</guid>
		<description><![CDATA[Unduh gratis lagu "Orangutan", single terbaru dari Navicula.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><iframe src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F30855119&amp;auto_play=true&amp;show_artwork=true&amp;color=ff7700" frameborder="no" scrolling="no" width="100%" height="166"></iframe></p>
<p><strong>Lagu: Orangutan</strong><br />
<strong>Musik: Navicula </strong><br />
<strong>Lirik: Gede Roby Supriyanto</strong></p>
<p>Orangutan muda, rumahnya di belantara,<br />
Dijaga papa dan mama yang kemarin masih ada<br />
Kini tiada…</p>
<p>Orangutan muda diculik perambah rimba<br />
Dibawa paksa ke kota, jadi hiburan manusia<br />
Terpenjara…</p>
<p>Orangutan (6x)<br />
Orangutan akan jadi legenda</p>
<p>Orangutan gila karena manusia gila<br />
Tak betah tinggal di kota, dia rindu habitatnya<br />
Di rimba…</p>
<p>Orangutan murka mengamuk serang manusia<br />
Manusia bawa senjata, orangutan tertawa<br />
Terbang ke surga…</p>
<p>Orangutan (6x)<br />
Orangutan akan jadi legenda</p>
<p>Orangutan (6x)<br />
Orangutan akan jadi legenda</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk orangutan yang akan jadi legenda</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/untuk-orangutan-yang-akan-jadi-legenda/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/untuk-orangutan-yang-akan-jadi-legenda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 06:54:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>
		<category><![CDATA[sawit watch]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[Walhi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1288</guid>
		<description><![CDATA[Dari Bali, Navicula menyuarakan keprihatinan tentang orangutan. Hewan langka ini bisa menjadi legenda karena dianggap musuh perkebunan sawit serakah. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dari Bali, Navicula menyuarakan keprihatinan tentang orangutan. Hewan langka ini bisa menjadi legenda karena dianggap musuh perkebunan sawit serakah. </strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Navicula-by-CPMB_1107-web.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1295" style="margin: 8px 12px;" title="Navicula" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Navicula-by-CPMB_1107-web.jpg" alt="" width="300" height="450" /></a>Band grunge psychedelic Navicula tidak berhenti mengangkat tema lingkungan. Kebanyakan lagu di album ke-6 Navicula <em>Salto</em> didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan. “Over Konsumsi” ingin mengetuk konsumen yang harusnya ikut bertanggung jawab atas krisis lingkungan global. Lagu “Pantai Mimpi” ditulis sebagai bentuk perlawanan terhadap privatisasi dan hancurnya pantai-pantai di Bali, terutama untuk memboikot pengembangan Pantai Dreamland di daerah Bukit, Jimbaran.</p>
<p>“Metropolutan” yang dirilis sebagai single tahun 2010 mengkritik degradasi lingkungan di Indonesia dan krisis polusi di Jakarta. Lagu ini kerap menjadi anthem pada penampilan Navicula di atas panggung. Akhir tahun ini, Navicula kembali menggebrak dengan merilis single “Orangutan”.</p>
<p>“Orangutan” salah satu materi untuk album ke-7 Navicula yang dikerjakan sejak pertengahan tahun ini dan dirilis tahun 2012.</p>
<p>Banyak topik satwa muncul di lagu-lagu baru Navicula. Selain “Orangutan” ada “Harimau! Harimau!” Lagu “Orangutan” bercerita tentang anak orangutan yang ditangkap dan dibawa ke kota setelah orangtuanya dibunuh. Orangutan muda ini murka pada lingkungan barunya dan ingin kembali ke rimba. Dia mengamuk di kota. “Orangutan adalah satu dari sekian banyak fauna yang terancam akibat alih fungsi hutan di Indonesia. Orangutan akan jadi legenda,” kata vokalis Navicula, Gede Roby Supriyanto.</p>
<p>Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang kaya; rumah untuk lebih dari 12 persen spesies flora dan fauna di bumi. Namun, akibat hilangnya habitat dan perburuan, beberapa satwa Indonesia telah punah, termasuk Harimau Jawa dan Bali. Ahli lingkungan sudah memprediksi tidak lama lagi badak Jawa, harimau Sumatra, dan orangutan Sumatra akan ikut punah.</p>
<p>Tahun 2008, jumlah orangutan Sumatra tinggal 6.600, turun dari angka 7.300 tahun 2004. Menurut <a href="http://www.orangutans-sos.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Sumatran Orangutan Society</span></a>, turunnya jumlah orangutan di Borneo dan Sumatra dalam tahun-tahun terakhir menjadi simbol hancurnya keanekaragaman hayati di salah satu tempat terkaya di dunia – hutan di Asia Tenggara”.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Green-122.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1299" title="Green-122" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Green-122.jpg" alt="" width="600" height="337" /></a>Penurunan jumlah orangutan yang drastis berkaitan langsung dengan hilangnya habitat mereka akibat penebangan hutan dan<a href="http://akarumput.com/environment/the-unashamed-business-of-indonesia-green-awards/"> <span style="color: #008000;">alhi fungsi hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit</span></a>. Dalam dekade terkahir lebih dari <a href="http://news.mongabay.com/2011/0225-indonesia_sumatra_borneo.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">9 persen hutan Kalimantan dan Sumatra telah  hilang</span></a>.</p>
<p>Erik Meijaard, ekolog yang bekerja di Indonesia sejak tahun 1993, memperingatkan bahwa<a href="http://news.mongabay.com/2011/0110-indonesia_meijaard_hunting.html" target="_blank"><span style="color: #008000;"> perburuan yang sering tidak dapat pengawasan dari pihak konservasi maupun pemerintah, adalah salah satu penyebab utama spesies satwa Indonesia menjadi langka</span></a>. Populasi orangutan terancam akibat perdagangan satwa ilegal dan konflik antara manusia dan orangutan, dua masalah yang diangkat oleh Navicula dalam lirik “Orangutan”.</p>
<p>“Tidak banyak band lokal yang benar-benar menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan hidup, tapi Navicula merupakan band yang aktif dengan isu-isu lingkungan hidup. Termasuk tentang orangutan sebagai hewan yang nyaris punah kalau kita tidak mencegahnya. Lagu ini juga menyuarakan kemarahan terhadap keadaan orangutan sekarang yang kian menyedihkan: dibunuh manusia, sebuah genosida,” komentar Arian13 vokalis band Seringai, setelah mendengar “Orangutan”. Arian13 juga aktif dalam advokasi konservasi orangutan lewat twitter.</p>
<p>Robi berharap lagu ini dapat meningkatkan kesadaran orang tentang ancaman terhadap salah satu spesies unik di Indonesia. “Harapan kami adalah perbaikan kebijakan, kuasa, dan kontrol pemerintah terhadap industri kelapa sawit karena selama ini industri perkebunan kelapa sawit seolah memiliki “hukum” sendiri di luar hukum negara Indonesia. Juga kontrol yang lebih ketat untuk  mendukung pelestarian lingkungan dan ekonomi setempat, agar lebih sehat bagi lebih banyak masyarakat lokal, hutan, dan lebih berkelanjutan,” kata Roby.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Orangutan_Poster2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1296" style="margin: 8px 12px;" title="Orangutan_Poster" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Orangutan_Poster2.jpg" alt="" width="300" height="468" /></a>Navicula akan merilis lagu “Orangutan” di acara <a href="http://akarumput.com/environment/orangutan-suara-untuk-alam"><span style="color: #008000;">Suara untuk Alam II</span></a>, inisiatif WALHI Bali. Acara “Orangutan – Suara untuk Alam II” akan berlangsung di Seaman’s Club, Sanur, 17 Desember 2011. Sebagai bagian dari acara ini akan ada lelang seni bertema orangutan, workshop cukil kayu, dan penampilan band Nosstress, Geekssmile, Balian, dan Navicula. Dana yang terkumpul di acara ini akan disumbangkan ke WALHI Bali dan lembaga yang aktif di bidang konservasi orangutan.</p>
<p>Selama satu minggu, mulai tanggal 17 Desember, lagu “Orangutan” dapat diunduh secara gratis di Akarumput.com.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/untuk-orangutan-yang-akan-jadi-legenda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Orangutan” Suara untuk Alam II</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/orangutan-suara-untuk-alam/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/orangutan-suara-untuk-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 08:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[geekssmile]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>
		<category><![CDATA[sawit watch]]></category>
		<category><![CDATA[Walhi Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1266</guid>
		<description><![CDATA[Akarumput.com, WALHI Bali, dan musisi seperti Gede Robi (Navicula) dan Made Bayak (Geekssmile) ingin mengamplifikasi isu lingkungan dalam sebuah event kreatif di Bali tanggal 17 Desember, 2011.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Ada dua isu besar lingkungan di Indonesia yang mengemuka sepanjang tahun 2011, yaitu pembantaian orangutan dan perkebunan kelapa sawit.</p>
<p>Belum lama, kita dikejutkan oleh berita puluhan orangutan (pongo pygmaeus) menjadi bulan-bulanan warga Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara Ancalong, Kutai Kartanegara. Berdalih sebagai hama yang merusak dan menggagalkan panen tanaman kepala sawit, <a href="http://akarumput.com/environment/the-unashamed-business-of-indonesia-green-awards/"><span style="color: #008000;">warga menangkap dan menyiksa orangutan.</span></a></p>
<p>Akarumput.com, WALHI Bali, dan musisi seperti Gede Robi (Navicula) dan Made Bayak (Geekssmile) ingin mengamplifikasi dua isu lingkungan itu dalam sebuah event kreatif di Bali. Inisiatif ini disambut positif oleh Edi Sutrisno dari Sawit Watch dan menyatakan dukungannya. Penggagas event akan menggandeng lembaga lain, terutama yang concern pada penyelamatan orangutan.</p>
<p>Dari perbincangan awal, tercapai kesepakatan untuk kolaborasi dalam event Suara untuk Alam 2. Suara untuk Alam adalah inisiatif WALHI Bali yang pernah digelar di Twice Bar, Kuta, 19 Agustus lalu sekaligus peluncuran single <a href="http://akarumput.com/featured/geekssmile-single-a-lesson-in-critical-nationalism/">Yeah Yeah Yeah Indonesia dari grup hardcore Geekssmile</a>. Suara untuk Alam II direncanakan pada 17 Desember 2011 di Seamen&#8217;s Cafe, Sanur, Bali.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Orangutan_Poster1.jpg"><img class="size-full wp-image-1283 aligncenter" title="Orangutan_Poster" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Orangutan_Poster1.jpg" alt="" width="600" height="937" /></a><strong></strong></p>
<p><strong>Event Suara untuk Alam 2 akan diisi dengan:</strong></p>
<p><strong>Lelang artworks orangutan</strong>: Pada Bali Creative Festival di Grand Bali Beach, Sanur, 25-27 November lalu, sejumlah seniman rupa membuat beberapa karya seni bertema orangutan. Artworks itu berupa lukisan di atas media tripleks dan drawing di atas kertas dupleks. Tidak disangka, ada beberapa orang yang bertanya apakah karya-karya itu dijual. Pertanyaan itu memunculkan ide untuk melelang karya-karya itu untuk tujuan yang lebih besar. Sehingga kontribusi seniman pada isu pembantaian orangutan tidak sekadar membangun pesan kesenian. Hasil lelang akan disumbangkan untuk gerakan ekologi di Bali (Walhi Bali) dan lembaga yang bergerak dalam penyelamatan orangutan.</p>
<p><strong>Launching single Navicula “Orangutan”</strong>: Navicula mendedikasikan lagu Orangutan yang baru selesai proses mixing untuk gerakan lingkungan hidup di Indonesia. Single ini akan masuk dalam album Navicula yang akan rilis tahun depan. Selain Orangutan, Navicula juga mendedikasikan dua lagu baru lainnya yaitu Harimau Harimau untuk penyelamatan harimau sumatera dan Refuse to Forget untuk kampanye menolak lupa atas pembunuhan aktivis HAM Munir.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/orangutan-suara-untuk-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Insinyur suara tempaan Swiss</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/french-fanatic-sound-craftsman/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/french-fanatic-sound-craftsman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 11:52:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Dini Hari]]></category>
		<category><![CDATA[Live Music Venue]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[Nosstress]]></category>
		<category><![CDATA[Serambi Arts Antida]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[Guru bahasa Prancis gagal yang menjadi arsitek suara untuk studio rekaman terbaik di Bali.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Guru bahasa Prancis gagal yang menjadi arsitek suara untuk studio rekaman terbaik di Bali.</strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_FLYING.jpg"><img class="aligncenter" title="Anom Darsana" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_FLYING.jpg" alt="" width="600" height="195" /></a>Bila diibaratkan seorang bayi, Serambi Arts Antida seharusnya baru belajar berjalan. Atau mungkin masih merangkak. Tapi bayi yang satu ini meski baru berusia setahun, sudah melesat lari.</p>
<p>Sabtu (29/10), Serambi merayakan ulang tahun yang pertama dengan pertunjukan yang mencerminkan visinya. Pementasan diisi oleh penyair Cok Sawitri, grup folk Nosstress dan Dialog Dini Hari, Geekssmile, band grunge rock Navicula. Kamau, penyanyi hip-hop yang sudah lama tinggal di Bali serta kakek blues dan soul Jim Larkin yang sedang berkunjung dari Amerika Serikat, ikut meramaikan Serambi.</p>
<p>Setahun yang lalu Serambi membuka pintunya bagi seniman pentas dan visual lokal, nasional, juga internasional. Dalam tahun pertama, Serambi menjadi wadah bagi para insan kreatif melalui pameran fotografi dan lukisan, peluncuran album, lokakarya pendidikan, jam session, dan <em>poetry slam</em>.</p>
<p>Venue yang semi-terbuka ini terbagi dua bagian. Ada bar dengan panggung dan kebun yang terletak di belakang studio rekaman dan produksi yang saat ini dianggap terbaik di Pulau Dewata. Dan nama harum Antida dengan kualitas suara pertunjukan live dan mixing rekamannya tidak bisa dilepaskan dari peran arsitek di belakangnya: Gung Anom.</p>
<p>Kelahiran Antida punya jejak di sebuah negara yang ratusan ribu kilometer jauhnya dari Bali: Swiss. Anom pindah ke Swiss mengikuti ayahnya yang pindah tugas kerja. Di Jenewa dia belajar bahasa Prancis karena berencana menjadi guru bahasa Prancis saat pulang ke Bali.</p>
<p>Namun, sebelum pindah ke Eropa, Anom hanya kursus bahasa Prancis di Alliance Francaise sebelum selama tiga bulan. Akibatnya dia mengalami kesulitan diterima di sistem sekolah Swiss yang sangat kompetitif. Setelah berbulan-bulan mendalami bahasa Prancis, Anom diterima di suatu sekolah di Jenewa. Selama sekolah, ia mendalami kecintaannya terhadap bahasa Prancis dan bertemu perempuan yang menjadi istrinya di masa depan.</p>
<p>Setelah tamat sekolah, Anom tidak berkeinginan pulang ke Bali. Dia merasa sangat nyaman hidup di Swiss, terutama di komunitas kreatif di Jenewa. Dia tidak bisa membayangkan kembali ke Bali yang menurutnya masih kekurangan komunitas musik dan seni.</p>
<p>Anom sudah menikah di Swis dan mengantongi dokumen kerja. Tapi dia harus menghadapi kenyataan tidak banyak yang bisa ia lakukan dengan sertifikat mengajar bahasa Prancis di Swiss. Apalagi bahasa Prancis bukan bahasa ibunya. “Saya masih mau tinggal di sana, tetapi tidak bisa bekerja sebagai guru bahasa,” kata Anom.</p>
<p>Ia mulai bekerja dengan gaji kecil di sebuah studio sound engineer. “Awalnya pekerjaan saya buat kopi untuk <em>engineer</em> dan bersih-bersih studio. Dan mulai belajar sedikit-sedikit,” kata Anom.</p>
<p>Tanpa prospek bagus menjadi pengajar bahasa, Anom mengalihkan perhatiannya: ia mendaftar di sekolah <em>sound engineering</em>. Dia pun mulai bekerja lepas sebagai <em>sound engineer</em> untuk program televisi, produksi acara non siaran, dan teater. Setiap hari dia bekerja dan sekali seminggu selama dua tahun dia mengikuti kursus teori suara. Dia pun mengantongi sertifikat dan mulai bekerja penuh sebagai <em>sound engineer</em>.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/tout-un-monde-anom-et-pouney.jpg"><img class="alignright" style="margin: 4px 8px;" title="tout un monde" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/tout-un-monde-anom-et-pouney.jpg" alt="" width="161" height="158" /></a>Di Jenewa Anom sempat membuka studio underground kecil bernama Antida. Inilah cikal-bakal Antida Studio di Jl Waribang Denpasar. Tak hanya bekerja di belakang layar, Anom juga menjalankan duo hip-hop Tout un Monde (Seluruh Dunia) bersama temannya, Pouney. Anom berbaik hati memberi satu ocehannya yang berbahasa Prancis untuk dirilis di akarumput.com.</p>
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F26811223&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;color=ff7700"></iframe><br />
<a href="http://snd.sc/vgNmBh">Klik di sini untuk mengunduh</a></p>
<p>Setelah 13 tahun di Eropa, romantismenya tentang tempat itu mulai menipis dan dia ingin kembali ke suasana damai yang diingat di Bali. “Hidup di sana tidak segampang yang kita kira. Jangan kira di luar negeri enak. Di sana susah sekali, harus sangat kerja keras,” kata Anom. Dia pun memboyong keluarganya ke Denpasar. “Saya jauh lebih senang di Bali sekarang daripada di Swis, lebih nyaman di sini.”</p>
<p>Tahun 2004, Anom membuka studio kecil di depan Taman 65, Jalan WR Supratman. Studio ini dia lengkapi dengan perangkat audio yang dia bawa dari Swiss. Anom masih bekerja secara lepas sebagai <em>sound engineer</em> untuk acara musik dan studionya disewakan untuk rekaman.</p>
<p>Tahun 2007, dengan bantuan beberapa investor, Anom memindahkan Antida Studio ke Jalan Waribang. Antida cepat dikenal karena kualitas alat dan teknik rekaman berstandar internasional. Kemampuan <em>sound engineer</em> juga faktor penentu. “Cara mengatur suara tak bisa dipelajari secara teori saja. Dan tidak bisa dipelajari dalam satu minggu, tapi lewat pengalaman,” kata Anom.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_MiXING.jpg"><img class="aligncenter" title="Anom at Antida" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_MiXING.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Kini Anom sudah mengantongi 15 tahun pengalaman sebagai <em>sound engineer</em> untuk panggung. Untuk rekaman dia menangani musisi Bali, nasional, dan internasional beragam aliran, dari hard rock, grunge, jazz, pop, <em>world music</em>, hingga tradisional seperti gamelan. “Hanya dangdut yang belum pernah” kata Anom sambil ketawa.</p>
<p>Anom juga pernah menjadi sponsor dan produser untuk beberapa grup musik, termasuk Dialog Dini Hari dan Nosstress. “Impian saya adalah memulai label rekaman di bawah nama Serambi. Aku ingin mendukung band yang potensinya bagus,” kata Anom.</p>
<p>Setiap tahun Anom ke Swiss untuk menjadi sound engineer di beberapa konferensi dan festival. Penghasilan tambahan yang didapat di luar negeri memungkinkan Anom untuk terus menjalankan studionya di Bali.</p>
<p>Sejak lama Anom memendam keinginan untuk memberi pengaruh lebih langsung pada komunitas kreatif di Bali. Karena itu dia mendirikan venue Serambi Arts Antida. “Serambi Arts Antida berdedikasi mengembangkan dan mempromosikan seni dan budaya kontemporer dari komunitas Bali.”</p>
<p>Serambi bukan hanya bar lokal yang menampilkan musik. Anom berharap Serambi dapat memberi konteks bagi seni dan musik lokal agar bisa terus bekembang dan mekar. Dia juga berharap komunitas lokal punya rasa memiliki terhadap tempat itu. Anom cukup bangga, dalam setahun venue ini telah menjadi salah satu lokasi tempat yang orang suka ngumpul, terutama bagi musisi setempat dan teman dan penggemar mereka.</p>
<p>Anom ingin Serambi lebih bisa memfasilitasi pengalaman seni yang beragam dan lebih luas. “Bali memiliki scene rock yang kuat, dan itu bagus. Namun saya juga berharap anak muda akan mendengarkan sesuatu yang baru.”</p>
<p>Visi itu dijalankan Anom lewat seri pertunjukan World Musik, yang merupakan salah satu event yang sangat sukses di Serambi. “Saya berharap musik seperti ini bisa memiliki tempat di Denpasar, sama seperti musik rock. Aku ingin mendorong anak muda untuk mendengar dan menghargai berbagai jenis musik dalam forum yang terbuka dan kreatif.”</p>
<p>Sepertinya komunitas kreatif yang Anom nikmati di Jenewa kini bisa ditemukan di rumahnya sendiri.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><em>Foto oleh <a href="http://twitter.com/13Rudi" target="_blank">Rudi Waisnawa.</a></em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/french-fanatic-sound-craftsman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
