<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; mural</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/tag/mural/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Cat dan pesan memperindah jalanan</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/eco-mural-denpasar/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/eco-mural-denpasar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 04:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[mural]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[Eco-mural menjadi aktivitas offline pertama Akarumput.com. Warna-warni pada dinding merangsang kesadaran lingkungan dan kebanggaan masyakat kota.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Eco-mural menjadi aktivitas offline pertama Akarumput.com. Warna-warni pada dinding merangsang kesadaran lingkungan dan kebanggaan masyakat kota.</strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/upload-47.jpg"><img class="aligncenter" title="Eco-mural in Denpasar" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/upload-47.jpg" alt="" width="600" height="366" /></a>Kota Denpasar yang kekurangan sistem penanganan masalah lingkungan yang memadai memerlukan aksi lingkungan di tingkat akar rumput. Banyak pilihan untuk menyampaikan seruan kesadaran lingkungan kepada masyarakat. Salah satunya lewat seni rupa, dengan karya yang menjadikan jalanan sebagai ruang pamernya: mural.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/lagi-9.jpg"><img class="aligncenter" title="Akarumput eco-mural in progress" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/lagi-9.jpg" alt="" width="600" height="381" /></a>Akarumput bersama beberapa kelompok turun ke jalan membawa ember dan cat. Sejumlah mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang bernaung dalam Komunitas Djamur, dan murid Bali International School (BIS) ikut menggoreskan warna-warna cerah dan pesan ramah lingkungan pada tembok jalan yang biasanya kotor.</p>
<p>Kegiatan yang dinamai eco-mural ini dilakukan selama tiga hari di tembok sepanjang 55 meter di Jalan Pakisaji, dekat Hayam Wuruk, Denpasar Selatan. Aktivitas ini mungkin terjadi karena dukungan pemuda-pemudi Pakisaji yang selama ini ingin lingkungannya lebih bersih.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Hutan-tamat.jpg"><img class="aligncenter" title="Pemerintah lambat... hutan tamat..." src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Hutan-tamat.jpg" alt="" width="600" height="309" /></a> Mural yang dihasilkan antara lain gambar hutan yang gundul terbakar dengan keong membawa selang air, dan tertulis kata-kata, “Pemerintah Lambat, Hutan Tamat.” Gambar lainnya merepresentasikan ibu pertiwi secara modern, bermahkota gedung tinggi yang mengepung pohon-pohon tersisa. Sang ibu pertiwi dipeluk oleh dua perempuan yang memakai masker gas. Sebagian mural menyelipkan humor. Seperti lukisan tampak belakang tiga orang sedang mengencingi pot tanaman, dengan slogan di atasnya, “Save Water”. Bisa jadi, tidak kencing di kloset mengurangi konsumsi air bersih, dan mengalihkan urine ke tanaman yang lebih membutuhkannya.</p>
<p>BIS mendukung kebutuhan dana karena menganggap kegiatan ini efektif merangsang jiwa seni anak-anak, sekaligus menanamkan kesadaran lingkungan mereka. “Lucu sekali, saat aku mengajar di kelas, tidak pernah melihat murid-murid seantusias ini,” kata Kayti Denham, guru BIS, sambil tertawa. “Mereka sepertinya mengerti tujuan aksi masyarakat.”</p>
<p>Made Bayak, gitaris band hard rock Geekssmile, ikut berpartisipasi melukis bersama Damar, putranya yang berumur lima tahun. Bayak adalah muralis yang cukup berpengalaman. Guru seni di Sanggar Anak Tangguh Sukawati ini baru saja menyelesaikan proyek mural bersama Sumatran Orangutan Society yang berbasis di Ubud.</p>
<p>Pemuda Pakisaji adalah kunci utama dalam penyelesaian mural ini. Mereka membantu saat pelukis menggambar, mengatur lalu lintas, dan menyiapkan makan dan minuman bagi semua pendukung kegiatan. Selama tiga hari sebelum kegiatan mural, mereka membersihkan semua sampah di sekitar jalan Pakisaji dan membersihkan tembok agar siap dilukis.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/upload-1.jpg"><img class="aligncenter" title="upload-1" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/upload-1.jpg" alt="" width="600" height="378" /></a>Rasa memiliki pada lingkungan itu yang ingin dibidik Akarumput. “Tujuan utama dari kegiatan sini adalah membuat tetangga kami bangga dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Perasaan memiliki juga akan mendorong masyarakat untuk menjaga lingkungan sekitar,” kata Gede Robi Supriyanto, koordinator acara yang ikut aktif melukis mural. “Ini adalah aksi berbasis masyarakat yang sebenarnya karena semua elemen dan sumber daya setempat saling mengisi satu sama lain,” kata vokalis Navicula ini.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/lagi-3.jpg"><img class="aligncenter" title="eco-mural" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/lagi-3.jpg" alt="" width="600" height="347" /></a>Sumber daya setempat yang dimaksud Robi salah satunya adalah Sekolah Farabi Musik yang berlokasi di Jalan Pakisaji. Lembaga ini mendukung eco-mural dengan menyediakan sound system dan penggung untuk acara musik penutupan eco-mural pada Minggu petang. Navicula, Geekssmile, Qupitt dari Nosstress dan sejumlah band siswa Farabi tampil pada acara penutupan yang terasa hangat. Kehangatan yang diharapkan ke tempat lain di Denpasar agar terpicu membuat kegiatan serupa secara sporadis.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><em>Foto oleh <a href="http://twitter.com/13Rudi" target="_blank">Rudi Waisnawa.</a></em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/eco-mural-denpasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto: Kegiatan eco-mural</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/photos-ecomural-day-1/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/photos-ecomural-day-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 00:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lakota Moira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Galeri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[BIS]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[mural]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=594</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah jalan di Denpasar, sekitar 30 seniman bergabung dalam kegiatan mural yang bertemakan lingkungan. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div><p>SimpleViewer Gallery Id 5 has been deleted.</p></div>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/photos-ecomural-day-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni Kiri Kini</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/seni-kiri-kini/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/seni-kiri-kini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 11:18:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[geekssmile]]></category>
		<category><![CDATA[Jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas pojok]]></category>
		<category><![CDATA[mural]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[taman 65]]></category>
		<category><![CDATA[taring padi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=545</guid>
		<description><![CDATA[Kerja politik dan propaganda lewat karya seni adalah reproduksi ideologi. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kerja politik dan propaganda lewat karya seni adalah reproduksi ideologi. </strong></p>
<p>Decak kagum terlontar dari mulut saya ketika pertama kali memegang buku “Taring Padi Seni Membongkar Tirani” kiriman dari Jogjakarta. Wujud buku yang berkesan, sampulnya dari bahan kain blacu bungkus tepung dan isinya dicetak dengan kertas daur ulang.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/taring-padi.jpg"><img title="Buku Taring Padi" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/taring-padi.jpg" alt="" width="600" height="337" /></a></p>
<p>Sampul buku dicetak dengan teknik cukil kayu (<em>wood cut</em>) yang merupakan karakter menonjol dari poster atau banner yang diproduksi Taring Padi. Teknik cukil kayu menunjukkan Taring Padi ingin mewarisi semangat kerakyatan seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Cukil kayu memudahkan reproduksi karya seni sehingga efektif untuk tujuan propaganda.</p>
<p>Harga jual buku yang di atas Rp200 ribu ini bisa kontras dengan citra Taring Padi sebagai kolektif seniman yang mengusung ide-ide kerakyatan, anarkisme, dan seni untuk perubahan. Karena harganya, buku ini akan sulit terjangkau oleh rakyat biasa. Tapi kerja budaya dan kerja politik Taring Padi masih berjalan, masih ada peluang untuk menyebarkan gagasan dalam buku ini dengan lebih murah.</p>
<p>Buku ini dimaksudkan untuk menandai 10 tahun usia Lembaga Budaya Kerakyatan Taring Padi, meski terbit setelah 13 tahun. Reproduksi karya kolektif seperti poster, banner atau mural yang tercecer dikumpulkan dengan susah payah untuk dimuat di buku ini.</p>
<p>Buku ini tidak bertendensi menjadi artifak puja-puji pada kekaryaan Taring Padi dan romantisisme pada gerakan kerakyatan. Ada 12 artikel di buku ini yang sebagian mengkritisi konstruksi makna pada karya rupa Taring Padi. Analisa kritis menambah bobot buku ini, menjadi penyeimbang bagi tampilan reproduksi karya Taring Padi yang memikat secara visual.</p>
<p>Wulan Dirgantoro, misalnya mengkritik cara Taring Padi mengkonstruksi citra perempuan yang berwatak ibuisme, seperti penggambaran perempuan berkebaya. Taring Padi tidak membongkar ideologi patriarki yang pernah dimanfaatkan Orde Baru untuk memelihara kekuasaan tirannya. Tanpa sadar, Taring Padi mereproduksi figur dengan cara yang sama dilakukan oleh rezim yang mereka lawan.</p>
<p>Antimiliterisme juga wacana langganan Taring Padi. Namun dalam mengkritik, Taring Padi menyempit ke militer, bukan militerisme yang sesungguhnya. Sejak Orde Baru tumbang dan Dwi Fungsi TNI dilucuti, justru kian banyak kelompok sipil dengan sifat militeristik, terutama underbouw partai politik dan organisasi massa.</p>
<p>Tak kalah menarik dalam buku ini, ada pembahasan tentang penggunaan jargon-jargon yang cenderung stereotip seperti dalam poster bertema konflik horisontal. Konflik SARA yang melejit pasca Orde Baru tumbang menunjukkan rezim itu telah gagal menanam imajinasi kerukunan. Ada poster Taring Padi dengan teks slogan kebangsaan yang banal seperti “Bangun kebersamaan dalam perbedaan” atau “Bersatu dalam perbedaan”. Persatuan adalah pernyataan semu yang pernah dipelihara lama, sementara banyak tesis menunjukkan konflik horisontal dipicu oleh ketidakadilan eknonomi.</p>
<p>Slogan “Bangun Nusantara tanpa tetes darah” juga terlihat seperti terjebak pada ideologi pembangunan ala Orde Baru. Ini agak mencolok dengan salah satu dari Lima Iblis Budaya yang dilawan Taring Padi sebagai manifesto pendiriannya pada 12 Desember 1998. Lima Iblis Budaya itu adalah individu atau lembaga yang menitikberatkan pada seni untuk seni, yang mensosialisasikan doktrin sesat untuk mempertahankan status quo, pemerintah, yang menjadikan seni sebagai komoditi, lembaga seni yang menjadi legimitator kesenian, sistem yang merusak moral pekerja seni karena melupakan seni dalam masyarakat akibat politik orde baru yang menjadikan ekonomi sebagai panglima.</p>
<p>Muhidin M Dahlan, kepala riset Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009 mencatat bagaimana para pelaku seni kerakyatan Taring Padi kompromi dengan galeri-galeri komersial. Surya Wirawan pada Desember 2008 menggelar pameran tunggal di Kedai Kebun Forum Jogjakarta (saudara sepupu Cemeti Art House yang dikecam Taring Padi habis-habisan sebagai salah satu iblis budaya). Arya Pandjalu tidak hanya berpameran di galeri komersial, tapi juga ikut dalam program residensi Landing Soon #1 yang diselenggarakan Cemeti Art House yang bekerja sama dengan Heden, Den Haag di Belanda, November 2006 hingga Januari 2007.</p>
<p><img class="alignleft" style="margin-left: 12px; margin-right: 12px;" title="Logo Taring Padi" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/img_2575.jpg" alt="" width="176" height="315" />Presiden pertama Taring Padi Yustoni Volunteero pada Juni 2008 menggelar 17 karyanya di Galeri Biasa. Galeri di Jogjakarta ini menurut Muhidin sama sekali tak punya rekam jejak mengongkosi gerakan-gerakan petani melawan angkara imperialisme global dengan jalan seni rupa.</p>
<p>Gejala itu adalah tantangan terbesar Taring Padi sebagai kolektif seni yang menekan individualisme seniman sebagai cara melawan pola kapitalisme di industri seni. Pertanyaan berikutnya, seberapa besar perolehan para seniman Taring Padi dari pameran untuk mengongkosi hidup gerakan kolektifnya. Bukan tak mungkin, mereka bisa semakin terseret ke pola seni sebagai komoditas yang mengisolasi karya seni di balik tembok galeri atau rumah para kolektor. Toh, kekirian bisa terlihat seksi dan laris.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><em></em>Taring Padi, Akarumput.com dan Taman 65 bekerja sama menggelar diskusi buku “Taring Padi Seni Membongkar Tirani”. Sebelum diskusi, akan diadakan workshop cukil kayu (<em>wood cut</em>) bersama Taring Padi dan Komunitas Pojok. Dua band asal Bali, Geekssmile dan Navicula, juga akan menunjukkan taringnya dalam format akustik.</p>
<blockquote><p><strong>Tempat: </strong>Taman 65, Jl WR Supratman, Kesiman, Denpasar<strong><br />
Waktu: </strong>Sabtu 8 Oktober 2011, jam 15.30 WITA</p></blockquote>
<p>Partisipan workshop disarankan untuk membawa kaos (T’shirt) polos berwarna cerah untuk disablon dengan teknik cukil kayu. Taring Padi juga menyediakan buku untuk dijual.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/seni-kiri-kini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
