<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; indonesia</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/tag/indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Bali Anti-Corruption Fest</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/bali-anti-corruption-fest/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/bali-anti-corruption-fest/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Apr 2013 04:31:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gede Robi Supriyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Anti-Corruption]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[geekssmile]]></category>
		<category><![CDATA[ICW]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Morfem]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=2012</guid>
		<description><![CDATA[Bali Anti-corruption Fest, 13 April 2013, Jam 16:00-23:00 di Gd. Sawaka Dharma, Lumintang, Denpasar, Bali. Free entry.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Anti-corruption Fest: Tur album kompilasi Frekuensi Perangkap Tikus (unduh gratis di <a href="http://beranijujur.net/" target="_blank">Beranijujur.net</a>)<br />
13 April 2013, Jam 16:00-23:00<br />
di Gd. Sawaka Dharma, Lumintang, Denpasar, Bali</p>
<p>Bands: Navicula, Geekssmile, Scared of Bums, Ripper Clown (Denpasar), Morfem (JKT), Iksan Skuter (JKT)</p>
<p>Teater Kini Berseri, Mural Komunitas Djamur – ISI Denpasar, Painting exhibition Made Bayak.</p>
<p>Free Entry!</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2013/04/x2_113f8083.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2013" alt="Bali Anti Corruption Fest" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2013/04/x2_113f8083.jpg" width="600" height="848" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/bali-anti-corruption-fest/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya Bali melarang tas plastik</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2012 09:13:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina Stockport</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Unduh]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah & Polusi]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Cantik Tanpa Plastik]]></category>
		<category><![CDATA[BCTP]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[plastic]]></category>
		<category><![CDATA[Plastic Free Bali]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<category><![CDATA[pollution]]></category>
		<category><![CDATA[Tolak Tas Kresek]]></category>
		<category><![CDATA[waste management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1959</guid>
		<description><![CDATA[Menggunakan tas plastik mudah terurai hanyalah solusi kosmetik yang berbahaya jangka panjang.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Menggunakan tas plastik mudah terurai hanyalah solusi kosmetik yang berbahaya jangka panjang.</strong></p>
<p>Tahun 2010 Pemerintah Provinsi Bali menjanjikan Bali akan bebas plastik tahun 2013.  Namun target ini masih mengawang-awang. Jumlah sampah plastik terus bertambah hingga 1600 ton per hari, meningkat lebih dari 200 persen dibanding statistik tahun lalu.</p>
<p>Desa-desa di Bali semakin terpolusi dan saluran air tersumbat akibat sampah plastik. Situasi sampah di Bali telah berubah dari sakit menjadi sekarat. Surfer papan atas Kelly Slater pernah mengritik pantai Bali yang kotor lewat akun twitternya pada tanggal 22 April 2012:</p>
<p><a><img class="aligncenter size-full wp-image-1964" title="KellySlater_tweet" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/KellySlater_tweet.png" alt="" width="476" height="75" /></a></p>
<p>Halaman depan Koran Bali Daily juga menampilkan foto tempat pembuangan akhir (TPA) sampah ilegal di kebun mangrove Nusa Dua dan mengutip para environmentalis yang melihat <a href="http://www.mongabay.co.id/2012/05/27/program-bali-bebas-plastik-2013-berjalan-lambat/" target="_blank"><span style="color: #008000;">program permerintah ‘tidak-efektif’.</span></a></p>
<p>Tentu kita tidak lupa, majalah Time pernah menurunkan liputan <a href="http://www.time.com/time/world/article/0,8599,2062604,00.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">“Holiday in Hell: Bali’s Ongoing Woes&#8221;. </span></a> Dan ketika tulisan itu muncul, pemerintah daerah yang merasa tercoreng mukanya menurunkan dua alat berat pengangkut sampah di Pantai Kuta. Liputan seperti ini dapat mempengaruhi pariwisata di Bali. Namun, secara jangka panjang pemerintah terlihat belum punya solusi. Apa yang telah pemerintah Bali lakukan sejak 2010 untuk membuat Bali bebas plastik?</p>
<p>Perda (peraturan daerah) untuk melaksanakan visi pemerintah tahun 2010 menjelaskan program yang akan menfasilitasi dan melibatkan masyarakat untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang (3R – <em>reduce, reuse, recycle</em>) plastik, termasuk ‘menghentikan plastik pada asalnya.’ Perencanaan mereka termasuk membantuk tim untuk mengawasi daur ulang, dan infrastruktur untuk mengumpulkan sampah dan teknologi untuk menciptakan tenaga dari plastik. Sekarang sudah tiga tahun lewat, dan hasil dari inisiatif ini, yang berkaitan dengan menggunakan kembali dan mendaur ulang, kurang kelihatan.</p>
<p>Jadi, bagaimana dengan mengurangi sampah? Tentunya ‘menghentikan sampah pada sumbernya’, daripada menciptakan sampah, bisa menjadi cara yang efektif untuk mengatasi masalah sampah. Daripada meneruskan ide ini, pemerintah memberikan insentif untuk toko menyediakan tas plastik yang mudah terurai (<em>degradable bags</em>). Namun, mempromosikan tas plastik yang mudah terurai sebenarnya akan meningkatkan jumlah sampah plastik karena pelanggan berpikir tas-tas ini ramah lingkungan, sehingga mereka tidak perlu mengurangi penggunaannya. Atau masyarakat akan merasa ringan saja membuang sampah plastik karena mereka berpikir akan terurai dalam beberapa saat.</p>
<p>Tas plastik yang mudah terurai tidak hancur secara keseluruhan, apa lagi dalam iklim dengan kelembapan tinggi seperti Indonesia. Pada iklim ideal untuk hancur pun, tas plastik jenis ini hanya terurai menjadi fragmen-fragmen plastik yang sangat kecil dan tetap berada dalam lingkungan. Menggunakan tas plastik mudah terurai hanyalah solusi kosmetik yang berbahaya jangka panjang dan membawa risiko bagi kesehatan manusia dan lingkungan.</p>
<p>Tas plastik mudah terurai mengandung logam berat untuk mempercepat proses hancurnya. Toksin ini masuk ke bahan makanan kita melalui saluran irigasi pertanian dan juga meracuni hewan atau kehidupan laut yang mengonsumsinya.</p>
<p>Tahun lalu ide untuk melarang tas plastik di Bali menambah momentum melalui Responsible Retailer Roundtable. Koalisi ini terbentuk dari pemerintah, pemilik toko dan kelompok peduli lingkungan. Pemilik toko ingin mengikuti peraturan melarang penggunaan tas plastik, asal pemerintah melaksanakannya. Namun, ide ini juga tidak ada lanjutan karena pemerintah belum menerapkan larangan terhadap tas plastik.</p>
<p>Melarang tas plastik bisa menjadi langkah pertama yang jelas dalam mengatasi masalah sampah di Bali. Tetapi peraturan yang begitu luas pastinya akan memerlukan komitmen pemerintah untuk penerapannya, bersama dengan dukungan publik. Saat ini kedua hal ini belum ada. Sebaliknya, pulau dengan populasi 3,5 juta ini telah tergantung dengan tas plastik sekali pakai (<em>single use</em>), dan mengharapkan pemerintah akan membuat sampah mereka hilang begitu saja.</p>
<p>Untuk menerapkan larangan terhadap tas plastik di seluruh pulau Bali, pastinya perlu dukungan kebijakan yang progresif. Misalnya dengan mulai menerapkan pajak tas plastik, dan regulasi ketat atau denda untuk pembuangan sampah ilegal, disertai dengan pendidikan publik mengenai pentingnya menjaga kebersihan pulau Bali.</p>
<p>Tas plastik sekali-guna adalah produk konsumer nomor satu di dunia. Tas plastik sering hanya digunakan selama beberapa menit saja, namun dapat meracuni lingkungan selama lebih dari 1000 tahun. Sudah saatnya Bali melarang tas plastik.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/BCTP-kids.jpg"><img class="aligncenter" title="BCTP-kids" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/BCTP-kids.jpg" alt="" width="600" height="490" /></a></p>
<p><a href="http://plasticfreebaliheroes.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Bali Cantik Tanpa Plastik</span></a> mendorong tujuan ini dengan pendekatan edukasi dan kesenian. Salah stunya dengan merilis lagu &#8220;Tolak Tas Kresek&#8221; ciptaan Gede Robi Supriyanto (<span style="color: #008000;"><a href="http://twitter.com/robinavicula" target="_blank"><span style="color: #008000;">Robi Navicula</span></a></span>).  Lagu ini bisa dimanfaatkan seluas-luasnya untuk tujuan Bali tanpa plastik. &#8220;Tolak Tas Kresek&#8221; bisa diunduh di sini:</p>
<p><iframe src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F51769159&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=true&amp;color=ff7700" frameborder="no" scrolling="no" width="100%" height="166"></iframe></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/saatnya-bali-melarang-tas-plastik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imajinasi kota dalam taman</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/120505-imajinasi-kota-dalam-taman/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/120505-imajinasi-kota-dalam-taman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 23:15:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Errik Irwan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1916</guid>
		<description><![CDATA[Berkumpul, bermain, memanfaatkan barang bekas di taman. Mewujudkan imajinasi tentang sebuah kota.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/Imaginasi_kota.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1918" title="Imaginasi_kota" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/Imaginasi_kota.jpg" alt="" width="600" height="424" /></a></p>
<p><strong>Berkumpul, bermain, memanfaatkan barang bekas di taman. Mewujudkan imajinasi tentang sebuah kota.</strong></p>
<p>Kardus-kardus dan kotak-kotak bekas makanan bisa ikut tampil dalam sebuah panggung taman hijau. Mereka memperkenalkan diri sebagai sebuah kota yang padat. Kota dalam taman.</p>
<p>Lalu bagaimana jika robot, monster, dan berbagai mainan ikut hadir? Entahlah.<br />
Tapi yang pasti sebuah cerita dan peristiwa bisa terjadi.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/taman_1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1920" title="taman_1" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/taman_1.jpg" alt="" width="300" height="399" /></a>Kegiatan ini bertolak dari ide yang sederhana. Errik Irwan Wibowo, seorang arsitek muda, saat sedang bercengkerama di Lapangan Puputan Renon melihat kardus-kardus dan kotak makanan yang mau dibuang. “Rasanya sayang betul. Lalu tiba-tiba saja muncul imajinasi seolah yang saya pandangi bukanlah dus-dus dan kotak-kotak tak berguna, tapi tumpukan bangunan,” kata Errik.</p>
<p>Errik mengatakan ada banyak benda terbuang lain yang masih bisa diberi kesempatan tampil di taman. Mereka didandani layaknya bangunan yang gemar bersolek. “Menarik juga kalau orang-orang tak dikenal, yang malu-malu tapi ikut terlibat mendandani dus-dus dan kotak itu,” kata Errik.</p>
<p>Kegiatan ini merupakan pengembangan dari apa yang terjadi pada Minggu (29/4) sore lalu di Lapangan Renon. Errik dan kawan-kawannya mengumpulkan sejumlah barang bekas dan semua orang diajak merespons barang-barang yang disajikan: tusuk sate, robot, piring kertas. Beberapa orang menggunakan cat air di atas lembaran kertas.</p>
<p>Semuanya terjadi tanpa penulis cerita dan sutradara. Entah apa skenarionya, tak jadi soal. Tanpa komando, orang merayakan ruang (dan waktu) terbuka. Merasakan jadi manusia yang manusiawi di kota. “Pasti sesuatu akan terjadi dan kita tinggal mengikuti,” kata Errik.</p>
<p>Errik dan kawan-kawan merencanakan aktivitas kedua, Minggu sore berikutnya di Lapangan Renon. Bagi partisipan diharapkan membawa bahan-bahan yang bisa digunakan untuk meramaikan suasana. “Bisa bawa dus-dus, boleh cat air, kertas lipat, alat musik, camilan, kamera, mainan, apa saja. Bagus juga kalau barang-barang tak terduga yang baru ditemukan di sekitar itu bisa ikut digunakan” kata ia.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/taman_2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1919" title="taman_2" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/taman_2.jpg" alt="" width="300" height="401" /></a>Menurut Errik dalam kegiatan ini setiap orang akan merespons dengan caranya masing-masing. Mungkin akan ada yang bermusik, menari, bermain, atau membuat instalasi. “Silakan untuk menggambar atau menggunakan cat air di media kotak, lalu menata atau menempatkan. Ini seperti bermain dalam arsitektur atau susun massa,” kata Errik yang komik-komiknya sering menghiasi halaman akarumput.</p>
<p>Kota-kotaan dari kardus ini adalah sebuah peristiwa yang dibangun. “Harapannya akan ada orang-orang penasaran yang akhirnya kenalan, terlibat dan ikut berkreasi. Untuk yang sudah kenal bisa lebih akrab lagi. Selama proses itu bisa terjadi diskusi-diskusi menarik pula. Setidaknya ada hal aneh baru yang terjadi di lapangan itu. Kira-kira selesai ketika matahari menghilang,” kata Errik.</p>
<p><strong>Sebuah ajakan yang menggoda. Mari rayakan kota dalam taman.</strong><br />
<strong>Waktu:</strong> Minggu, 6 Mei 2012 mulai pukul 15 WITA<br />
<strong>Tempat:</strong> Lapangan Puputan Niti Mandala Renon. Berkumpul di Circle K depan Museum.<br />
<em>*Bawalah kardus bekas yang bisa diolah</em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/120505-imajinasi-kota-dalam-taman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akanoma, anomali sebuah biro arsitektur (1)</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/0604212-akanoma-anomali-biro-arsitektur-1/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/0604212-akanoma-anomali-biro-arsitektur-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 06:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Marsiela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[akanoma]]></category>
		<category><![CDATA[architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Yu Sing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1831</guid>
		<description><![CDATA[Yu Sing memberi contoh efektif arsitektur yang memanfaatkan material bekas dan ramah lingkungan. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yu Sing memberi contoh efektif arsitektur yang memanfaatkan material bekas dan ramah lingkungan.</strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1833" title="Dapur yang juga warung" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma3.jpg" alt="" width="598" height="399" /></a></p>
<p>“Cintai Produk Indonesia Kalau Bisa 100 %”</p>
<p>Pesan itu tertulis dengan kapur pada sebidang papan tulis di sisi luar sebuah dapur. Jendela lipatnya membuat dapur itu tampak seperti warung. Gelas-gelas, panci, talenan, katel, dan irus atau alat untuk mengaduk masakan dari tempurung kelapa tampak tergantung di sana.</p>
<p>Kesan warung itu semakin lengkap dengan bangku panjang dari bambu yang ditemoatkan di luar dapur. Di dalam, kerat-kerat minuman bekas berwarna kuning dan merah, disusun untuk menyimpan bumbu dapur dan bahan-bahan masakan.</p>
<p>Dapur itu terletak di samping pintu masuk Studio Akanoma. Yu Sing Lim (35 tahun) bersama Benyamin Narkan, Anjar Primasetra, Peter Antonius, Iwan Gunawan, Wilfrid, dan Yopie Herdiansyah menggunakan joglo sebagai bangunan utama studionya. Mereka memperlakukannya dengan cara yang berbeda, menjadikan joglo sebagai rumah panggung, seperti rumah tradisional di Kalimantan.</p>
<p>Bangunan khas Jawa ini sudah dimodifikasi pada bagian dinding-dindingnya. Sebagai pengganti dinding kayu, mereka memasang daun jendela yang bilah-bilahnya diisi triplek berwarna-warni dan kaca nako. Pemandangan ini terlihat mengelilingi joglo.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1834" title="Suasana kerja" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma7.jpg" alt="" width="600" height="384" /></a></p>
<p>Di bagian dalamnya, tidak ada sekat. Meja-meja disusun berdampingan dengan komputer di atasnya. Para arsitek itu bekerja di dalam studio dengan suasana rumahan. Empat pilar di dalam joglo berfungsi ganda sebagai rak buku. Untuk penyimpanan dokumen, digunakan keranjang plastik bekas yang biasanya dipakai untuk menyimpan sayuran di pasar-pasar.</p>
<p>Kehadiran bambu di studio ini tampak mendominasi. Perancangnya seperti mengoptimalkan kelebihan dari bambu yang elastis sekaligus kuat. Selain menjadi alas studio, bambu-bambu berukuran besar dipakai sebagai kolom pada bangunan.</p>
<p>Optimalisasi bambu itu juga terlihat pada bagian dinding ruangan yang di bagian belakang studio. Di situ ada ruangan untuk bertemu dengan klien dan kamar tidur untuk staf serta tamu yang ditutup dengan bambu-bambu yang dipasang vertikal dan horizontal. Untuk pemasangan horizontal, menggunakan bambu berbagai ukuran, dari yang diameternya sebesar kelingking sampai yang sebesar kepalan tangan orang dewasa.</p>
<p>Penggunaan barang bekas juga tampak di kamar mandi. Dia membuat kombinasi botol-botol kaca yang sudah tidak terpakai dengan dinding bata yang terekspos teksturnya. Selain berfungsi sebagai gantungan baju, botol-botol itu bisa merefleksikan cahaya alami ke dalam kamar mandi.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma10.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1835" title="Kaca belakang mobil" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma10.jpg" alt="" width="265" height="398" /></a>Untuk tangga, Yu Sing juga memakai bambu. “Murah dan itu alternatif yang sangat baik,” kata dia. Bagian tangga yang ada di sisi kanan depan bangunan itu ditutupi dengan kaca bekas mobil. Kaca-kaca cembung itu dijepit dan diikat dengan kawat ke tiang-tiang bambu. “Kita perlu area itu transparan. Ternyata di kampung sini ada pengepul (penampung) kaca mobil bekas, jadi kita foya-foya dengan itu. Lumayan murah harganya,” kata arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung ini.</p>
<p>Bangunan dua lantai yang posisinya berada pada ketinggian 700 meter dari permukaan air laut ini terlihat menjulang di tengah-tengah perkampungan.</p>
<p>Studio di atas lahan 650 meter persegi ini jauh dari suasana perkotaan, tepatnya di Jalan Tipar Timur, Desa Laksana Mekar, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Lokasinya lebih dekat ke ruas tol Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi) daripada ke Kota Bandung. “Karena dana kita terbatas,” kata Yu Sing.</p>
<p>Sebelumnya, Yu Sing mengontrak rumah sebagai studionya. Namun biaya kontrak itu dirasakan cukup membebani. Pada saat bersamaan, Iwan, drafter Akanoma yang mencari tanah buat membangun rumah menawarkan sebidang lahan di sebelah barat Kota Bandung. “Dia cari tanah dan kebetulan tanahnya besar. Akhirnya <em>sharing</em> dibagi tiga dan (studio) dibangun semurah mungkin,” ungkap dia.</p>
<p>Komponen utama studio, joglo yang pada bagian puncaknya ada dua patung ayam itu dibeli dari Solo. “Joglo kita angkut setelah berbulan-bulan dibeli. Karena dulu belum ada uang untuk membangun kantor. Waktu beli joglo, kantor ini malah belum dirancang,” terang penulis buku Mimpi Rumah Murah ini.</p>
<p>Studio Akanoma menjadi representasi dari misi Yu Sing sebagai seorang arsitek. Dia percaya, arsitektur harus mengakar. Bagi Yu Sing, joglo sebagai komponen utama bangunan dengan modifikasi bambu menggambarkan peranan arsitektur Nusantara pada masa kini.</p>
<p>“Saya punya harapan mewujudkan kampung kota lestari. Supaya perkampungan tidak tergusur dan menjadi korban pembangunan. Sudah seharusnya perkampungan tetap ada dan masyarakatnya bisa hidup sejahtera dan nyaman. Studio kami ada di kampung sehingga kami menyediakan perpustakaan dan ruang sosial buat warga,” kata Yu Sing merujuk pada selasar dan perpustakaan umum di bawah studionya.</p>
<p>Sayangnya, kata Yu Sing, masyarakat di sekitar studio itu belum pernah menggunakan ruang sosial itu untuk pertemuan. “Kalau mereka butuh, silakan memakai tempatnya. Yang sudah berjalan itu perpustakaan, hampir setiap sore ada anak-anak yang membaca buku di sana. Buku-bukunya itu sumbangan dari orang-orang,” ungkap dia.</p>
<p>Yu Sing juga berupaya menyesuaikan bangunannya menjadi ramah lingkungan. Arsitek yang membiarkan rambut panjangnya terurai ini sengaja memperpanjang tritisan atap joglo, kemudian memasang beberapa batang pipa besi secara miring membentuk huruf V sebagai penyangganya.</p>
<p>Pipa-pipa ini menyambung pada talang di sekeliling atap. Fungsinya sebagai penyangga sekaligus pipa untuk mengalirkan air hujan ke sumur resapan.</p>
<p>Selain ramah lingkungan, Akanoma juga berusaha mencukupi kebutuhan pangan sendiri dengan menanam tanaman sayuran di sekililing studio.</p>
<p>“Sudah ada kemangi, kacang panjang, terong, leunca, <em>cengek</em> (cabe rawit), timun suri, singkong, kenikir, dan lain-lain. Ada juga kolam buat merendam bambu yang sekarang jadi tempat ternak ikan nila. Sudah sering dimakan juga. Karena kalau mau keluar agak jauh, akhirnya masak sendiri” kata dia.</p>
<p><iframe src="http://player.vimeo.com/video/33729773?byline=0&amp;portrait=0" frameborder="0" width="601" height="338"></iframe></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/0604212-akanoma-anomali-biro-arsitektur-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setengah hewan amfibi di bumi belum ditemukan</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/half-the-world%e2%80%99s-amphibians-yet-to-be-discovered-2/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/half-the-world%e2%80%99s-amphibians-yet-to-be-discovered-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Sep 2011 11:38:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sunanda Creagh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[amphibians]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[the conversation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[Penelitian terbaru menyimpulkan sedikitnya 48 persen hewan amfibi dan 3 persen hewan mamalia di bumi belum ditemukan. Dan kemungkinan mereka bisa punah sebelum ditemukan...<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Penelitian terbaru menyimpulkan sedikitnya 48 persen hewan amfibi dan 3 persen hewan mamalia di bumi belum ditemukan. Dan kemungkinan mereka bisa punah sebelum ditemukan. </strong><strong></strong></p>
<p>Para peneliti dari Princeton University dan Standford University di Amerika Serikat, National University of Singapore dan Universidad Nacional Autonoma di Mexico menyimpulkan bahwa 3051 spesies binatang amfibi dan 163 spesies binatang mamalia darat belum ditemukan. Kesimpulan ini didapatkan dengan menggunakan model matematika.</p>
<div id="slot1">
<div>
<h1><img src="http://cdn.theconversation.edu.au/files/1141/width440/frog.jpg" alt="Frog" data-id="1141" /></h1>
<p>Kebanyakan spesies yang belum ditemukan ini kemungkinan berada di hutan hangat-basah di Neotropik (Amerika Selatan dan Tengah), Afrotropik (termasuk Basin Kongo dan Madagaskar), dan Indomalaya (meliputi beberapa daerah di Asia Tenggara dan India).</p>
<p>Menurut para peneliti, menetapkan daerah perlindungan baru dapat membantu menyelamatkan spesies yang belum ditemukan, yang terancam akibat ekspansi manusia ke daerah hutan yang belum tersentuh sebelumnya.</p>
<p>“Keanekaragaman hayati ‘tersembunyi’ di zaman sekarang jangan sampai hilang tanpa jejak. Merupakan tanggung jawab kita untuk mencegah musibah seperti ini,” sebut laporan penelitian yang diterbitkan di warta <em>Proceedings of the Royal Society: B</em>.<em></em></p>
<p>Melindungi spesies yang belum ditemukan sangatlah penting karena spesies tersebut mungkin berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.</p>
<p>“Ada banyak potensi untuk memperluas daerah yang dilindungi (tetapi dengan cara yang menghormati dan menghargai kepentingan masyarakat pribumi) melalui inisiatif kerja sama antarbangsa,” tertulis di laporan ini saat membahas rancangan kerja sama antara Norwegia dan Indonesia tahun 2010. Dalam rencana kerja sama itu,  Norwegia akan berinvestasi 1 milyar dolar jika Indonesia secara resmi menunda pengeluaran izin baru untuk menebang hutan alami.</p>
<p>Namun kerja sama dengan Norwegia ini belum bisa secara utuh diterapkan di Indonesia, dan penebangan hutan masih kerap terjadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Tulisan ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris di <a href="http://theconversation.edu.au/">The Conversation</a>.</em><br />
<em> Baca berita <span style="text-decoration: underline;">versi aslinya di sini.</span></em></p>
</div>
</div>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/half-the-world%e2%80%99s-amphibians-yet-to-be-discovered-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
