<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; Dialog Dini Hari</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/tag/dialog-dini-hari/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>52 Wednesdays &#8211; pameran foto</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/040412-52-wednesdays/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/040412-52-wednesdays/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2012 04:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>OliviaKS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[52 Wednesdays]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Dini Hari]]></category>
		<category><![CDATA[Lioni Beatrik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1820</guid>
		<description><![CDATA[Pameran foto yang dikirimkan kepada seseorang selama 52 rabu. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kamu duduk bersebelahan dengan orang yang tidak kamu kenal dalam suatu perjalanan panjang di dalam pesawat, lalu mengobrol bersama mereka? Mungkin kamu akan menceritakan hal-hal yang tidak kamu beritahukan pada orang terdekat sekalipun, karena kemungkinan kamu tidak akan bertemu mereka lagi. Ini juga karena mereka mungkin bisa memberi pencerahan yang lebih obyektif. Orang asing tidak akan peduli jika mereka melukai perasaan kamu. Kamu lebih mungkin tidak tersinggung dengan apa yang kamu bahas karena kalian tidak saling kenal. Hanya kebetulan duduk bersebelahan.</p>
<p>Lioni Beatrik jatuh cinta dengan seseorang yang dia kenal dalam sebuah pekerjaan. Namanya Alex. Dia menceritakan padanya mengenai perasaannya. Namun, Alex menolaknya. Setelah pertemuan singkat mereka, Alex terbang ke negaranya. Lioni, merindukannya, lalu dia mulai mengirimkan foto pada Alex. Suatu hari Rabu, dan Rabu berikutnya. Setelah beberapa Rabu, dia memutuskan untuk menjadikan kegiatan ini sebagai sebuah proyek. Selama satu tahun dia mengirim foto ke Alex setiap hari Rabu lewat email. Proyek 52 Rabu, atau 52 Wednesdays.</p>
<p>Pameran foto Lioni Beatrik, 52wednesdays, telah dipamerkan di dua kota. Pameran pertama tanggal 14 Januari di Bandung, kota di mana Lioni berasal. Malam itu, orang berkumpul di Common Room, Jalan Kyai Gede Utama, tempat pameran diadakan. Di acara ini juga diadakan Stand Up Tragedy, kebalikan Stand Up Comedy yang sedang tren. Alih-alih menyampaikan lelucon pada penonton, di sini siapa pun bisa berbagi ceritanya, menyanyi, memberi pertunjukkan, atau hanya menangis di depan penonton.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/52W-BDG.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1827" title="52W-BDG" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/52W-BDG.jpg" alt="" width="600" height="403" /></a></p>
<p>Pameran berikutnya diadakan sebulan kemudian di Teaspoon, cafe baru di Jalan Benda 54J, Kemang, Jakarta. Pameran kali ini tidak terbuka seperti pameran yang di Bandung. Puncak acaranya adalah pada hari penutupan, pas di hari Valentine.</p>
<p>52wednesdays adalah pameran cinta dalam bentuknya sendiri. Kamu mungkin berpikir ini terdengar klise. Cinta itu untuk dibagi, jika bukan dengan seorang bisa dengan orang lain bahkan orang yang tidak dikenal.</p>
<p>Keinginan untuk berbagi perasaan kadang lebih sulit jika dibagi dengan teman. Teman yang sudah terlalu dekat dengan kita cenderung ingin melindungi dan menjaga agar kamu tidak disakiti, atau mungkin sebenarnya kamu tidak ingin dihakimi oleh mereka. Jadi pilihan terakhirnya, yang sering tidak dipikirkan, adalah membagi bersama orang yang tidak dikenal. Lioni memulai Artist Talk, tempat diskusi di mana dia berbagi cerita, dan memberi kesempatan untuk penonton bertanya mengenai 52Wednesdays. Manusia adalah makhluk sosial. Tempatkan mereka bersama dan kemungkinan besar mereka akan berkomunikasi. Orang suka ngobrol. Orang suka saat diberi perhatian. Dan suka mendengar cerita. Stand Up Tragedy sekali lagi diadakan. Orang-orang yang hadir dalam penutupan pameran ini ikut serta, berbagi cerita, membaca puisi, dan bermain musik.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/52W-JKT.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1828" title="52W-JKT" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/52W-JKT.jpg" alt="" width="331" height="442" /></a>Karena inilah 52wednesdays menyegarkan. Isu pribadimu mungkin membebani diri kamu, bahkan berapa pun banyaknya teman yang kamu milliki terkadang kamu merasa tidak bisa berbagi dengan mereka. Pameran ini memberi wadah untuk berbagi di depan penonton. Artist talk memberi kesempatan bagi Lioni untuk berkomunikasi dengan orang yang beragam, dari teman hingga orang yang tidak dikenali.</p>
<p>Banyak orang tidak tahu sebenarnya pameran 52wednesdays itu bentuknya seperti apa. Tetapi berkumpul bersama di sebuah tempat yang tidak terlalu besar dengan beberapa orang yang datang pada penutupan pameran, membuat acara ini menjadi lebih dekat, hangat dan menyenangkan mengingat itu diadakan tepat di hari Valentine dan pameran ini bisa menjadi alternatif terutama bagi yang tidak berencana untuk kencan romantis.</p>
<p>Sebuah kota terkadang terlalu besar dan terbagi menjadi banyak ruang publik yang cenderung eksklusif atau terlihat eksklusif untuk orang-orang yang merasa tempat itu tidak cocok dirinya. Banyak acara untuk orang kreatif, blogger, dll. 52wednesdays menyediakan ruang yang lebih besar untuk tema universal yang pernah dialami dalam hidup semua orang. Cinta, patah hati, melepaskan.</p>
<p>Berbeda dengan pameran foto kebanyakan yang menunjukkan keterampilan fotografer dan kesempurnaan gambar yang diambil, foto-foto Lioni terlihat lebih berwarna dan ringan, seperti bermain. Tetapi urutan 52 foto yang dikirim selama 52 rabu, selama satu tahun, juga menyentuh hal-hal religi dan hari raya nasional. Sekilas, foto-foto ini memberikan kesan lucu dan jahil, tetapi jika kamu melihat lebih lama tersembunyi perasaan sedih, putus asa, dan rindu.</p>
<p>Pada hari Valentine tanpa bunga, coklat, atau warna merah muda; 52wednesdays membuat banyak orang yang hadir merasa berada di rumah. Mereka merasa boleh membagi putus hati bersama orang yang tidak mereka kenal. Merasa boleh membagi apa yang mereka rasakan, walaupun hanya untuk satu malam. Malam itu tidak memalukan untuk ditolak. Bacalah ceritamu, bagi pengalamanmu, bernyanyilah, main musik, baca puisi, apa sajalah. Jika kamu hanya ingin berdiri dan menangis di depan penonton, tidak akan ada yang menghakimimu.</p>
<p>Rasanya mirip dengan membagi perasaanmu dengan orang yang kamu taksir, menakutkan untuk berdiri dan bicara di depan banyak orang. Namun, seperti membagi cerita hidupmu dengan orang yang kamu tidak kenal di pesawat, rasanya juga melegakan.</p>
<p>Bagi kita yang terlalu biasa berkomunikasi melalui jejaring sosial, dialog tatap muka adalah sesuatu yang langka dan berharga. Melihat orang menghabiskan waktu bersama di sebuah kafe atau restoran dan tidak terpaku pada perangkat mobile merupakan hal yang tak ternilai harganya sekarang.</p>
<p>Seni milik semua orang. Bisa diaplikasikan dalam bentuk apapun, termasuk fotografi. Seringkali orang tidak memperhatikan seni karena mereka merasa itu di luar pemahamannya atau terlalu mahal untuk diakses. 52wednesdays menunjukkan bahwa seni bisa menyentuh orang melalui tema universal, cinta, melalui visual yang bisa dinikmati semua orang, fotografi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/52W.jpg"><img class="size-full wp-image-1822 alignright" title="52W Bali" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/52W.jpg" alt="" width="364" height="374" /></a><strong>52 Wednesdays is coming to Bali!</strong></p>
<p>Featuring artist talk, stand up tragedy, dan live musik oleh <a href="http://dialogdinihari.com/" target="_blank">Dialog Dini Hari</a>.</p>
<p><strong>Rabu, 4 April 2012</strong><br />
pk. 19.00 &#8211; selesai<br />
di Art Cafe Seminyak Bali<br />
jalan saridewi 17 seminyak 80361<br />
email: info@iloveartcafecom<br />
phone: +62 361 736750</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/040412-52-wednesdays/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BaliSpirit’s annual HIV &amp; AIDS charity concert</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/1673-hiv-aids-charity-concert/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/1673-hiv-aids-charity-concert/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 07:28:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Spirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[BaliSpirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Dini Hari]]></category>
		<category><![CDATA[Ganjil]]></category>
		<category><![CDATA[Mr. Botax]]></category>
		<category><![CDATA[Nymphea]]></category>
		<category><![CDATA[Ras Muhamad]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1673</guid>
		<description><![CDATA[Hari Sabtu ini, Feb 18, BaliSpirit Festival akan mengadakan konser amal tahunan penggalian dana untuk inisatif EduSpirit AYO! Kita Bicara HIV &#038; AIDS.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Sabtu ini <a href="http://www.balispiritfestival.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">BaliSpirit Festival</span> </a>akan mengadakan konser amal tahunan penggalian dana untuk inisatif EduSpirit <em>AYO! </em><span><em>Kita Bicara HIV &amp; AIDS</em>.</span><strong></strong></p>
<p><strong>Tanggal/waktu:</strong> Sabtu, 18 Feb 2012, 17:00-23:00<strong><br />
Tempat:</strong> Lapangan Astina Ubud, Bali<br />
<a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/02/Konser-AYO_Poster-WEB_BSF2012.jpg"><img class="size-full wp-image-1674 alignleft" title="Konser-AYO!" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/02/Konser-AYO_Poster-WEB_BSF2012.jpg" alt="" width="369" height="521" /></a>Konser ini diadakan untuk menunjukkan dukungan musisi terhadap <a href="http://www.balispiritfestival.com/ayobicarahivaids.html" target="_blank">pendidikan HIV &amp; AIDS</a> di Bali, termasuk pertunjukan dari: Mr. Botax, Ganjil, Dialog Dini Hari, Nymphea, Kita Art Community (penari api), Ras Muhamad dan Kis Band.</p>
<p><em>AYO! Kita Bicara &amp; AIDS</em> adalah gerakan oleh BaliSpirit Festival untuk melibatkan masyarakat – khususnya pemuda Bali – dalam pembahasan dan pendidikan mengenai HIV &amp; AIDS. Program ini mendukung pemuda sebagai agen perubahan di Indonesia dan harapan bagi negeri ini untuk mencegah penyebaran HIV &amp; AIDS.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/1673-hiv-aids-charity-concert/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Insinyur suara tempaan Swiss</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/french-fanatic-sound-craftsman/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/french-fanatic-sound-craftsman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 11:52:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Dini Hari]]></category>
		<category><![CDATA[Live Music Venue]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[Nosstress]]></category>
		<category><![CDATA[Serambi Arts Antida]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[Guru bahasa Prancis gagal yang menjadi arsitek suara untuk studio rekaman terbaik di Bali.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Guru bahasa Prancis gagal yang menjadi arsitek suara untuk studio rekaman terbaik di Bali.</strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_FLYING.jpg"><img class="aligncenter" title="Anom Darsana" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_FLYING.jpg" alt="" width="600" height="195" /></a>Bila diibaratkan seorang bayi, Serambi Arts Antida seharusnya baru belajar berjalan. Atau mungkin masih merangkak. Tapi bayi yang satu ini meski baru berusia setahun, sudah melesat lari.</p>
<p>Sabtu (29/10), Serambi merayakan ulang tahun yang pertama dengan pertunjukan yang mencerminkan visinya. Pementasan diisi oleh penyair Cok Sawitri, grup folk Nosstress dan Dialog Dini Hari, Geekssmile, band grunge rock Navicula. Kamau, penyanyi hip-hop yang sudah lama tinggal di Bali serta kakek blues dan soul Jim Larkin yang sedang berkunjung dari Amerika Serikat, ikut meramaikan Serambi.</p>
<p>Setahun yang lalu Serambi membuka pintunya bagi seniman pentas dan visual lokal, nasional, juga internasional. Dalam tahun pertama, Serambi menjadi wadah bagi para insan kreatif melalui pameran fotografi dan lukisan, peluncuran album, lokakarya pendidikan, jam session, dan <em>poetry slam</em>.</p>
<p>Venue yang semi-terbuka ini terbagi dua bagian. Ada bar dengan panggung dan kebun yang terletak di belakang studio rekaman dan produksi yang saat ini dianggap terbaik di Pulau Dewata. Dan nama harum Antida dengan kualitas suara pertunjukan live dan mixing rekamannya tidak bisa dilepaskan dari peran arsitek di belakangnya: Gung Anom.</p>
<p>Kelahiran Antida punya jejak di sebuah negara yang ratusan ribu kilometer jauhnya dari Bali: Swiss. Anom pindah ke Swiss mengikuti ayahnya yang pindah tugas kerja. Di Jenewa dia belajar bahasa Prancis karena berencana menjadi guru bahasa Prancis saat pulang ke Bali.</p>
<p>Namun, sebelum pindah ke Eropa, Anom hanya kursus bahasa Prancis di Alliance Francaise sebelum selama tiga bulan. Akibatnya dia mengalami kesulitan diterima di sistem sekolah Swiss yang sangat kompetitif. Setelah berbulan-bulan mendalami bahasa Prancis, Anom diterima di suatu sekolah di Jenewa. Selama sekolah, ia mendalami kecintaannya terhadap bahasa Prancis dan bertemu perempuan yang menjadi istrinya di masa depan.</p>
<p>Setelah tamat sekolah, Anom tidak berkeinginan pulang ke Bali. Dia merasa sangat nyaman hidup di Swiss, terutama di komunitas kreatif di Jenewa. Dia tidak bisa membayangkan kembali ke Bali yang menurutnya masih kekurangan komunitas musik dan seni.</p>
<p>Anom sudah menikah di Swis dan mengantongi dokumen kerja. Tapi dia harus menghadapi kenyataan tidak banyak yang bisa ia lakukan dengan sertifikat mengajar bahasa Prancis di Swiss. Apalagi bahasa Prancis bukan bahasa ibunya. “Saya masih mau tinggal di sana, tetapi tidak bisa bekerja sebagai guru bahasa,” kata Anom.</p>
<p>Ia mulai bekerja dengan gaji kecil di sebuah studio sound engineer. “Awalnya pekerjaan saya buat kopi untuk <em>engineer</em> dan bersih-bersih studio. Dan mulai belajar sedikit-sedikit,” kata Anom.</p>
<p>Tanpa prospek bagus menjadi pengajar bahasa, Anom mengalihkan perhatiannya: ia mendaftar di sekolah <em>sound engineering</em>. Dia pun mulai bekerja lepas sebagai <em>sound engineer</em> untuk program televisi, produksi acara non siaran, dan teater. Setiap hari dia bekerja dan sekali seminggu selama dua tahun dia mengikuti kursus teori suara. Dia pun mengantongi sertifikat dan mulai bekerja penuh sebagai <em>sound engineer</em>.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/tout-un-monde-anom-et-pouney.jpg"><img class="alignright" style="margin: 4px 8px;" title="tout un monde" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/tout-un-monde-anom-et-pouney.jpg" alt="" width="161" height="158" /></a>Di Jenewa Anom sempat membuka studio underground kecil bernama Antida. Inilah cikal-bakal Antida Studio di Jl Waribang Denpasar. Tak hanya bekerja di belakang layar, Anom juga menjalankan duo hip-hop Tout un Monde (Seluruh Dunia) bersama temannya, Pouney. Anom berbaik hati memberi satu ocehannya yang berbahasa Prancis untuk dirilis di akarumput.com.</p>
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F26811223&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;color=ff7700"></iframe><br />
<a href="http://snd.sc/vgNmBh">Klik di sini untuk mengunduh</a></p>
<p>Setelah 13 tahun di Eropa, romantismenya tentang tempat itu mulai menipis dan dia ingin kembali ke suasana damai yang diingat di Bali. “Hidup di sana tidak segampang yang kita kira. Jangan kira di luar negeri enak. Di sana susah sekali, harus sangat kerja keras,” kata Anom. Dia pun memboyong keluarganya ke Denpasar. “Saya jauh lebih senang di Bali sekarang daripada di Swis, lebih nyaman di sini.”</p>
<p>Tahun 2004, Anom membuka studio kecil di depan Taman 65, Jalan WR Supratman. Studio ini dia lengkapi dengan perangkat audio yang dia bawa dari Swiss. Anom masih bekerja secara lepas sebagai <em>sound engineer</em> untuk acara musik dan studionya disewakan untuk rekaman.</p>
<p>Tahun 2007, dengan bantuan beberapa investor, Anom memindahkan Antida Studio ke Jalan Waribang. Antida cepat dikenal karena kualitas alat dan teknik rekaman berstandar internasional. Kemampuan <em>sound engineer</em> juga faktor penentu. “Cara mengatur suara tak bisa dipelajari secara teori saja. Dan tidak bisa dipelajari dalam satu minggu, tapi lewat pengalaman,” kata Anom.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_MiXING.jpg"><img class="aligncenter" title="Anom at Antida" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_MiXING.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Kini Anom sudah mengantongi 15 tahun pengalaman sebagai <em>sound engineer</em> untuk panggung. Untuk rekaman dia menangani musisi Bali, nasional, dan internasional beragam aliran, dari hard rock, grunge, jazz, pop, <em>world music</em>, hingga tradisional seperti gamelan. “Hanya dangdut yang belum pernah” kata Anom sambil ketawa.</p>
<p>Anom juga pernah menjadi sponsor dan produser untuk beberapa grup musik, termasuk Dialog Dini Hari dan Nosstress. “Impian saya adalah memulai label rekaman di bawah nama Serambi. Aku ingin mendukung band yang potensinya bagus,” kata Anom.</p>
<p>Setiap tahun Anom ke Swiss untuk menjadi sound engineer di beberapa konferensi dan festival. Penghasilan tambahan yang didapat di luar negeri memungkinkan Anom untuk terus menjalankan studionya di Bali.</p>
<p>Sejak lama Anom memendam keinginan untuk memberi pengaruh lebih langsung pada komunitas kreatif di Bali. Karena itu dia mendirikan venue Serambi Arts Antida. “Serambi Arts Antida berdedikasi mengembangkan dan mempromosikan seni dan budaya kontemporer dari komunitas Bali.”</p>
<p>Serambi bukan hanya bar lokal yang menampilkan musik. Anom berharap Serambi dapat memberi konteks bagi seni dan musik lokal agar bisa terus bekembang dan mekar. Dia juga berharap komunitas lokal punya rasa memiliki terhadap tempat itu. Anom cukup bangga, dalam setahun venue ini telah menjadi salah satu lokasi tempat yang orang suka ngumpul, terutama bagi musisi setempat dan teman dan penggemar mereka.</p>
<p>Anom ingin Serambi lebih bisa memfasilitasi pengalaman seni yang beragam dan lebih luas. “Bali memiliki scene rock yang kuat, dan itu bagus. Namun saya juga berharap anak muda akan mendengarkan sesuatu yang baru.”</p>
<p>Visi itu dijalankan Anom lewat seri pertunjukan World Musik, yang merupakan salah satu event yang sangat sukses di Serambi. “Saya berharap musik seperti ini bisa memiliki tempat di Denpasar, sama seperti musik rock. Aku ingin mendorong anak muda untuk mendengar dan menghargai berbagai jenis musik dalam forum yang terbuka dan kreatif.”</p>
<p>Sepertinya komunitas kreatif yang Anom nikmati di Jenewa kini bisa ditemukan di rumahnya sendiri.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><em>Foto oleh <a href="http://twitter.com/13Rudi" target="_blank">Rudi Waisnawa.</a></em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/french-fanatic-sound-craftsman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
