<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; Bali Spirit Festival</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/tag/bali-spirit-festival/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>BaliSpirit 2012 – menjadi baik, bukan belajar aerobik</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/090412-balispirit-2012/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/090412-balispirit-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 09:56:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Virginie Noël</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Responsible Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Spirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[BaliSpirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud]]></category>
		<category><![CDATA[yoga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1856</guid>
		<description><![CDATA[Guru menjadi murid, murid menjadi guru. Lebih dari 1.000 orang berkumpul, meski partisipan pribumi masih kecil.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/BSF-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1857" title="BSF2012" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/BSF-1.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><strong></strong></p>
<p><strong>Guru menjadi murid, murid menjadi guru. Lebih dari 1.000 orang berkumpul, meski partisipan pribumi masih kecil.</strong></p>
<p>BaliSpirit Festival telah berakhir hari Minggu pekan lalu. Selama lima hari penuh beragam kegiatan, dari yoga dan tari, hingga musik dan workshop pengobatan holistik. Festival ini pada tahun ke-5 berhasil menarik jumlah penonton terbanyak dalam sejarahnya.</p>
<p>Selama festival ada workshop mengenai beragam gaya yoga, seperti Hatha, Anusara, Yin, Vinyasa Flow, Ashtanga, Acro dan Kundalini. Juga banyak workshop tarian dinamis, termasuk Nia, 5 Rhythms, dan Tarian Afrika Barat yang sangat populer. Ada banyak kesempatan untuk refleksi diri dan pengembangan diri, juga kesempatan untuk bisa menggerakkan tubuh secara asyik.</p>
<p>Festival tahun ini menyatukan guru yoga yang ahli, namun tetap terbuka untuk penganut yoga baru atau orang awam yang hanya penasaran. Susan, pelaku yoga dari America Serikat, menyimpulkan pengalamannya selama festival. “Ada banyak workshop dan hal-hal luar biasa yang bisa dicoba. Tetapi untuk saya sendiri, yang paling penting adalah bisa bertemu dengan banyak orang yang pikirannya sepaham dengan saya dan membangun koneksi dalam komunitas,” kata dia</p>
<p>Tahun ini BaliSpirit festival menarik lebih dari 1.000 orang yogi (penganut yoga), musisi, dan penari dari Amerika Serikat, India, Amerika Selatan, Australia, China, Jepang, Eropa, dan Afrika. John Ogilvie, presenter yoga, sponsor festival dan pendiri Byron Yoga Center di Australia, sadar dengan daya tarik festival ini. “Ada komunitas internasional yang bertemu di festival ini. Semua orang yang hadir akan membawa pulang ide dan inspirasi dari festival ini ke komunitasnya masing-masing,” kata Ogilvie.</p>
<p>Dengan cara ini, kesadaran global mengenai kesehatan dan isu lingkungan akan terus berkembang. Spiritualitas, menurut Ogilvie, haruslah praktis. Dengan membangun komunitas internasional, slogan ‘Berpikir Global, Bertindak Lokal’ bisa menjadi kenyataan.</p>
<p>Suasana selama festival mendorong saling berbagi, antara presenter dan penonton dapat menikmati hubungan dan pengalaman baru. John Ogilvie mengatakan sangat menikmati pengalaman bertukar tempat dari guru menjadi murid saat ia berpartisipasi dalam workshop oleh guru lain.</p>
<p>“Bagi saya, festival rasanya seperti tempat bermain bebas dan kami saling mengikuti kelas-kelasnya,” kata Michael Hallock, seorang guru Watsu (terapi pijat dalam air). “Biasanya, sebagai presenter, saya menjadi orang yang ‘istimewa’ dalam acara, tetapi di sini saya seperti satu dari banyak. Ini membuat saya merasa biasa saja karena melihat banyak hal yang luar biasa di sekitar, banyak bakat dan kreativitas. Saya melihat banyak orang sepenuhnya berekspresi. Ini sangan menginspirasi dan membuat saya membumi.”</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/533023_10150651981295197_248186520196_9145228_1085053963_n.jpg"><img title="BSF2012-2" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/533023_10150651981295197_248186520196_9145228_1085053963_n.jpg" alt="" width="601" height="317" /></a></p>
<p>Bali adalah lokasi ideal untuk festival yoga. “Kami, warga Bali melakukan yoga selama kehidupan. Kami melakukan yoga setiap kali membuat banten dan setiap kali sembahyang di pura. Kami selalu berusaha untuk meningkatkan kesadaran,” kata Kadek Gunarta, salah satu pendiri festival.</p>
<p>Perlu usaha besar untuk terus menjaga hubungan dengan dunia di bawah kesadaran. Ini juga yang membuat Bali sangat magis dan menjadi inspirasi untuk orang dari luar negeri. Suasana ini teramplifikasi selama festival dengan banyak workshop yang mendorong partisipan untuk melihat ke dalam, menjadi lebih sadar, dan membuka hati. Seperti yang dikatakan instruktur dari Peace and Love Yoga di Los Angeles: “Kamu melakukan yoga untuk menjadi manusia yang lebih baik. Jika bukan karena itu – keluarlah dari kelasku dan belajar arobik saja!”</p>
<p>Tahun ini festival berusaha memberi perhatian lebih pada penonton lokal dengan mengundang beberapa presenter lokal. Jane Chen, Indrawati Widjanarko dan Dewi Asmarani menjadi warna baru dalam <em>line-up </em>yang mayoritas bekulit putih. Tetapi festival ini masih perlu usaha lebih untuk benar-benar melibatkan semua pihak, terutama memberi akses untuk penonton pribumi. Festival membuka satu hari gratis untuk semua orang, terutama keluarga Bali, dengan workshop khusus bagi anak-anak, kelas yoga untuk ketua-ketua desa Bali. Tetapi harga tiket festival tidak berbeda untuk peserta lokal, sehingga jumlah penonton Indonesia di empat hari pertama festival masih kecil.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/548500_10150650240445197_248186520196_9139060_1244114597_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1859" title="BSF2012-3" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/548500_10150650240445197_248186520196_9139060_1244114597_n-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Memberi balik ke komunitas, sebagai prinsip yoga, adalah tema utama selama festival. Ini menjadi menarik di tengah arus kehidupan yang materialistis dan individualistis. BaliSpirit Festival mungin hanya bagian kecil dari gerakan yang sedang berkembang di seluruh dunia yang diikuti oleh orang yang mencari komunitas dan gaya hidup holistik. Namun pengaruhnya bisa meluas lebih jauh daripada festivalnya sendiri. “Jika lebih banyak orang di seluruh dunia mempraktekkan yoga, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik,” kata Ogilvie.</p>
<p>Salah satu pengaruh festival adalah menginspirasikan festival bertema yoga dan kesehatan holistik di tempat lain, misalnya Namaste Spirit Festival di Jakarta, Byron Bay Spirit Festival di Australia dan Hawaii Spirit Festival. “Yoga bukan tentang kompetisi, tetapi tentang bersatu dan bekerja sama. Kami ingin kerja lebih dekat dengan BaliSpirit Festival,” kata Pendiri Namaste Festival di Jakarta, Anita Boentarman.</p>
<p>Salah satu aspek penting dari misi festival berhubungan dengan lingkungan. BaliSpirit menjalankan kemitraan dengan beberapa organisasi yang bergerak di bidang lingkungan hidup di Bali, seperti Bali Cantik Tanpa Plastik, Bali ReGreen, dan the Environmental Bamboo Foundation. Festival tahun ini juga bekerja sama dengan East Bali Poverty Project dan seluruh sumbangan yang terkumpul pada hari Cinta Keluarga disalurkan untuk program Ayo! Kita Bicara HIV/AIDS, yang dibentuk oleh BaliSpirit untuk melibatkan masyarakat setempat dalam dialog dan pendidikan mengenai HIV &amp; AIDS.</p>
<p>Pau Castellsague, presenter yoga dan pendiri Barcelona Yoga Conference, menyinggung pentingnya aksi positif. “Saya merasa di Bali hubungan orang dengan alam sangat menginspirasi. Yang telah kita lakukan pada alam sangat menyedihkan, sangat jelek. Sudah waktunya berubah. Dan bukan tentang saat untuk ingin berubah. Sudah terlambat untuk keinginan. Kita harus membuat perubahan, sekarang.”</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/526777_10150650240285197_248186520196_9139058_588817674_n.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1860" title="BSF-2012-4" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/526777_10150650240285197_248186520196_9139058_588817674_n.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a></p>
<p>Walaupun festival menganggap kesadaran lingkungan penting, pada praktiknya tidaklah sempurna. Di lokasi festival masih terlihat sendok atau cangkir plastik yang bisa menodai citra festival yang ramah lingkungan. Namun, ada kesadaran dan keinginan untuk mengurangi pengaruh negatif festival pada lingkungan hidup. Dan cara festival menangani sampah dan pengaruh lainnya menjadi semakin baik sejak awal festival lima tahun yang lalu.</p>
<p>Selain aspirasi besarnya, festival ini sangat menyenangkan, seperti yang dikatakan Cheri Rae: “Yoga harusnya membuat kita merasa baik.” Dan festivalnya memang tentang ini, merasa baik, dan melakukan hal baik.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/090412-balispirit-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bali Spirit Festival in photos</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/310311_bsf_photos/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/310311_bsf_photos/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2012 03:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Virginie Noël</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Responsible Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Spirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Purnati]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud]]></category>
		<category><![CDATA[yoga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1796</guid>
		<description><![CDATA[Bali Spirit Festival daytime workshops feature yoga, dance, and healing with teachers from across the globe.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.balispiritfestival.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Bali Spirit Festival</span></a> is the most popular yoga festival in the region. Set in the spectacular grounds of the Purnati Center for the Arts in Batuan, just 10 minutes south of Ubud, the daytime workshops feature yoga, dance, and healing with teachers from across the globe. This years Bali Spirit Festival will continue until April 1st, 2012.<br />
<div><p>SimpleViewer Gallery Id 17 has been deleted.</p></div></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/310311_bsf_photos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BaliSpirit’s annual HIV &amp; AIDS charity concert</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/1673-hiv-aids-charity-concert/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/1673-hiv-aids-charity-concert/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 07:28:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Spirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[BaliSpirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Dini Hari]]></category>
		<category><![CDATA[Ganjil]]></category>
		<category><![CDATA[Mr. Botax]]></category>
		<category><![CDATA[Nymphea]]></category>
		<category><![CDATA[Ras Muhamad]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1673</guid>
		<description><![CDATA[Hari Sabtu ini, Feb 18, BaliSpirit Festival akan mengadakan konser amal tahunan penggalian dana untuk inisatif EduSpirit AYO! Kita Bicara HIV &#038; AIDS.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Sabtu ini <a href="http://www.balispiritfestival.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">BaliSpirit Festival</span> </a>akan mengadakan konser amal tahunan penggalian dana untuk inisatif EduSpirit <em>AYO! </em><span><em>Kita Bicara HIV &amp; AIDS</em>.</span><strong></strong></p>
<p><strong>Tanggal/waktu:</strong> Sabtu, 18 Feb 2012, 17:00-23:00<strong><br />
Tempat:</strong> Lapangan Astina Ubud, Bali<br />
<a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/02/Konser-AYO_Poster-WEB_BSF2012.jpg"><img class="size-full wp-image-1674 alignleft" title="Konser-AYO!" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/02/Konser-AYO_Poster-WEB_BSF2012.jpg" alt="" width="369" height="521" /></a>Konser ini diadakan untuk menunjukkan dukungan musisi terhadap <a href="http://www.balispiritfestival.com/ayobicarahivaids.html" target="_blank">pendidikan HIV &amp; AIDS</a> di Bali, termasuk pertunjukan dari: Mr. Botax, Ganjil, Dialog Dini Hari, Nymphea, Kita Art Community (penari api), Ras Muhamad dan Kis Band.</p>
<p><em>AYO! Kita Bicara &amp; AIDS</em> adalah gerakan oleh BaliSpirit Festival untuk melibatkan masyarakat – khususnya pemuda Bali – dalam pembahasan dan pendidikan mengenai HIV &amp; AIDS. Program ini mendukung pemuda sebagai agen perubahan di Indonesia dan harapan bagi negeri ini untuk mencegah penyebaran HIV &amp; AIDS.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/1673-hiv-aids-charity-concert/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertarungan adil world music di Nusa Dua</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/pertarungan-adil-world-music-di-nusa-dua/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/pertarungan-adil-world-music-di-nusa-dua/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 03:30:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Franki Raden, Ph.D.</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Spirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Franki Raden]]></category>
		<category><![CDATA[IMEX]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian Music Expo]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud Writers and Readers Festival]]></category>
		<category><![CDATA[world music]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1159</guid>
		<description><![CDATA[IMEX menjadi ajang bagi para musisi bertarung secara adil merebut hati para ‘pembeli’ di pasar musik.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dari perbincangan dengan beberapa tokoh musik Indonesia yang pernah berpentas di luar negeri, inti permasalahannya selalu sama. Mereka masih kesulitan mendapatkan dana agar bisa mendapat kesempatan manggung di luar neger.</p>
<p>Sebagian dari mereka malah mengatakan undangan yang mereka terima seringkali tidak dapat dipenuhi karena tidak ada sponsor. Padahal mereka bukanlah pemusik sembarangan. Di tangan mereka terletak peluang untuk menerobos pasar musik internasional. Merekalah ujung tombak promosi pasar musik Indonesia.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/11/IMEX_2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1160" style="margin: 4px 12px;" title="Riwin" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/11/IMEX_2.jpg" alt="" width="236" height="356" /></a>Tanpa adanya reputasi yang meyakinkan, dunia internasional tidak akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk dapat pentas. Penting untuk menelusuri seberapa besar potensi pasar musik Indonesia di dunia internasional yang dapat direbut oleh produk <em>world music/beat </em>nasional<em>.</em> Produk ini diwakili oleh kelompok seperti Krakatau, Simak Dialog, Samba Sunda, Gangsadewa, Debu, Jes Gamelan Fusion, Bona Alit, Discus, Svara Semesta, Tropical Transit, Altajaru, Balawan, Toba Ansambel, Sonoseni, DKSB, Ozenk Percussion, Indonesian National Orchestra (INO) dan lainnya.</p>
<p>Para musisi itu tekun menggarap elemen musik lokal secara kreatif sebagai materi ekspresi mereka. Ini penting ditelusuri bagi pengembangan sektor industri kreatif nasional yang bertumpu pada produk musik.</p>
<p>Beberapa dekade yang lalu, pasar musik internasional mulai tertarik oleh produk yang dikenal sebagai <em>world music</em>. Pada awalnya, <em>world music</em> dimengerti sebagai musik-musik asli dari negara-negara non-Barat, atau yang di Indonesia dikenal sebagai musik tradisional.</p>
<p>Produk <em>world music</em> pertama yang meledak di pasar dunia adalah musik Amerika Latin. Musik Latin ketika itu merangsang imajinasi para musisi jazz di Amerika Serikat, sehingga sejak awal sudah menguasai pangsa pasar <em>world music</em> di panggung internasional.</p>
<p>Keuntungan dari musisi-musisi Latin adalah letak geografis mereka yang berdekatan dengan pusat pasar musik dunia, yaitu Amerika Serikat. Selain itu, sejak awal musik Latin ini sudah merupakan paduan antara musik lokal negara-negara Amerika Latin dan musik Barat. Ini memudahkan para pemusik Amerika Serikat atau Eropa untuk menggarap mereka dalam konteks bahasa ekspresi musik tonal.</p>
<p>Pada dekade 80an, terjadi ledakan pasar <em>world music</em> yang kedua. Kali ini yang mendapat keberuntungan adalah musik-musik tradisional Afrika. Jika musik-musik Latin tiba-tiba menarik perhatian dunia karena dimanfaatkan oleh tokoh musik Jazz, musik-musik Afrika dimanfaatkan oleh tokoh musik pop seperti Paul Simon. Pada saat yang bersamaan tokoh musik rock seperti Peter Gabriel mulai melihat potensi pasar <em>world music</em> di panggung internasional. Gabriel menggelar sebuah festival <em>world music</em> berskala besar yakni WOMAD (World of Music Arts and Dance).</p>
<p>Pada momentum itu musik-musik folk Eropa juga turut menerobos pasar, terutama yang berasal dari Irlandia (Celtic). Musik tradisional Asia yang berhasil ikut dalam gejolak pasar <em>world music</em> umumnya dari India karena mereka memiliki ‘pahlawan pasar’ seperti Ravi Shankar dan Zakir Husein. Sejak tahun 60an India memang sempat beruntung karena the Beatles memopulerkan musik mereka.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/11/INA_IMEX.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1165" style="margin: 4px 12px;" title="Indonesian National Orchestra" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/11/INA_IMEX.jpg" alt="" width="236" height="354" /></a>Untuk Indonesia, gamelan yang sering jadi unggulan di pasar dunia. Tidak banyak jenis <em>world music</em> di dunia yang berbentuk orkestra seperti gamelan. Karena itu, gamelan menjadi populer di lingkungan universitas yang memiliki program etnomusikologi.</p>
<p>Etnomusikologi adalah sebuah disiplin ilmu baru di bidang musik yang mempelajari musik-musik etnis dari seluruh dunia. Istilah <em>world music</em> menjadi populer justru karena digunakan secara luas di bidang etnomusikologi. Para sarjana di bidang ini bertanggung-jawab dalam menyebarluaskan pengetahuan umum tentang <em>world music</em> melalui publikasi mereka. Banyak etnomusikolog juga bekerja di perusahaan-perusahaan rekaman dan retail musik kecil maupun besar seperti Sony Music atau Virgin Record.</p>
<p>Berbarengan dengan perkembangan pasar <em>world music</em> dan bidang etnomusikologi, dunia musik kontemporer di Amerika juga semakin tertarik pada musik-musik non-Barat. Para komponis Amerika, terutama yang berasal dari Pantai Barat, pada tahun 60an sudah tidak lagi berkiblat ke Eropa, melainkan ke Asia dan Afrika. Akibatnya, lahirlah sebuah gerakan musik baru yang kemudian dikenal dengan nama minimalisme. Pelopornya seperti Terry Riley yang belajar gamelan dan musik-musik Timur Tengah, La Monte Young dan Philip Glass yang belajar musik India, dan Steve Reich yang belajar gamelan dan musik Afrika. Keempat orang ini yang bertanggung-jawab atas popularitas genre musik kontemporer yang sebelumnya memiliki pasar sangat terbatas.</p>
<p>Akibat dari akumulasi perkembangan populeritas <em>world music</em> tadi, pada tahun 90an pangsa pasar jenis musik ini sudah melebihi pasar musik jazz dan klasik yang telah terbentuk beberapa puluh tahun lebih awal. Pada tahun 80an, dari sesuatu yang tidak tercatat, pasar <em>world music</em> berhasil mencapai 3 persen dari pangsa pasar seluruh jenis musik di dunia. 10 tahun kemudian pangsa pasar jenis musik ini bergerak mencapai 10 persen.</p>
<p>Jika secara kasar, nilai pasar seluruh jenis musik yang ada berkisar sebesar 80 milyar dolar AS, maka pangsa pasar <em>world music</em> sudah mencapai 8 milyar dolar AS. Namun produk yang mendominasi pasar <em>world music</em> masih berasal dari Amerika Latin, Afrika dan Eropa. Produk <em>world music</em> Asia tertinggal sangat jauh.</p>
<p>Negara yang memiliki kekayaan <em>world music</em> terbesar di dunia, tidak lain adalah Indonesia. Jika dihitung ragamnya, kekayaan musik asli Indonesia dari Sabang hingga Marauke mungkin tidak kalah dengan benua Afrika, apalagi Amerika Latin dan Eropa. Dalam konteks inilah pembukaan tulisan ini terbaca sangat ironis. Di tengah-tengah munculnya kesadaran akan peluang tiap negara di dunia untuk mengembangkan industri kreatif, para pahlawan pasar musik kita justru tidak mendapat tempat di mata masyarakat dan pemerintah.</p>
<p>Indonesian Music Expo (IMEX) akan dilaksanakan 7-14 November di Nusa Dua, Bali. IMEX bertujuan untuk memberikan kesempatan yang luas kepada para pahlawan pasar musik kita bertarung secara adil merebut hati para ‘pembeli’. Bali adalah tempat yang sangat ideal untuk menguji pasar <em>world music</em> Indonesia karena wilayah ini paling internasional di seluruh negeri.</p>
<p>Ubud, misalnya, sudah menjadi pusat kesenian internasional dalam skala yang kecil.</p>
<p>Wilayah Ubud mungkin kecamatan yang paling pesat berkembang dan paling internasional di seluruh Indonesia. Saat ini, kecamatan sekecil Ubud sudah memiliki tiga festival seni internasional yang bergengsi yaitu Ubud Writers and Readers Festival, Bali Spirit Festival dan Bali Inter-Music Festival. Oleh sebab itu, usai di Nusa Dua, IMEX akan bergeser ke Ubud pada tanggal 15-16, khususnya untuk acara workshop dan seminar dengan topik “Mengenali Potensi Pasar Musik Indonesia”.</p>
<p>Para pembicara dalam seminar ini adalah para pahlawan pasar yang saya jejerkan tadi. Mereka diharapkan dapat menyumbangkan pengalaman mereka bergulat di panggung internasional kepada seluruh peserta IMEX, terutama yang belum memiliki kesempatan untuk tampil di luar Indonesia.</p>
<p>Acara workshop IMEX akan diisi oleh seorang ahli musik digital dari Australia, Profesor Greg Schiemer. Selama empat hari dari tanggal 10-14 beliau akan mengajarkan bagaimana menciptakan (bukan hanya menggunakan) teknologi yang dapat digunakan untuk membuat musik secara kreatif.</p>
<p>Profesor Schiemer adalah salah seorang ahli musik digital dari Universitas Wollongong yang banyak mendesain piranti elektronik baru untuk penciptaan musik. Perangkat elektronik ini nantinya akan bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan alat-alat musik tradisional Indonesia.</p>
<p>Karya-karya musik digital Prof. Schiemer banyak memanfaatkan konsep musik gamelan. Salah satunya yang luar biasa adalah “Pocket Gamelan” yang dirancang untuk 30 telepon seluler yang diprogram dengan frekuensi ketinggian nada-nada gamelan.</p>
<p>Workshop ini juga akan menjadi ajang kolaborasi antara Prof Greg Schiemer dengan para empu musik tradisional yang datang dari pelbagai penjuru Nusantara ke IMEX di Pantai Peninsula, Nusa Dua.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/featured/imex-2011-schedule/"><span style="color: #008000;">Jadwal lengkap Indonesian Music Expo bisa dilihat di sini.</span> </a></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/11/IMEX-flyer-full1.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-1170" title="IMEX poster" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/11/IMEX-flyer-full1-1024x768.jpg" alt="" width="600" height="449" /></a>__________</p>
<p><em>Franki Raden, Ph.D. adalah seorang komposer, etnomusikolog, dan pendiri Indonesian National Orchestra.</em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/pertarungan-adil-world-music-di-nusa-dua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penghijauan di Desa Ban</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/reforestation-in-desa-ban/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/reforestation-in-desa-ban/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 16:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Spirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[bambu]]></category>
		<category><![CDATA[East Bali Poverty Project]]></category>
		<category><![CDATA[Environmental Bamboo Foundation]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Karangasem]]></category>
		<category><![CDATA[reforestation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rc.akarumput.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Proyek ini tidak hanya berkontribusi untuk upaya pengurangan emisi karbon. Hutan baru akan melestarikan kembali ekosistem yang rusak pada lahan suci dan mendukung proyek reboisasi berbasis-masyarakat...<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Tiap tanggal 17 Agustus setiap rumah, desa, gedung pemerintah, bundaran jalan, dan toko berhiaskan warna merah putih, yang mewakili warna kemerdekaan Indonesia. Namun, di hari kemerdekaan tahun ini, tim pembuat film dari <a href="http://www.balispiritfestival.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Bali Spirit Festival</span></a> memilih warna hijau untuk menghiasi Ibu Pertiwi sebagai janji peremajaan dan vitalitas bumi.</p>
<p><a href="http://rc.akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/014-river-bed.jpg"><img title="014-river-bed" src="http://rc.akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/014-river-bed.jpg" alt="" width="603" height="452" /></a></p>
<p>Tim Bali Sprit Festival (BSF) mendatangi lereng utara Gunung Abang dan Gunung Agung, yang kini gundul dan kehilangan hutannya akibat penebangan dan letusan gunung. Mereka melakukan dokumentasi untuk menggali dana bagi proyek agro-hutan di Desa Ban yang secara administratif arealnya seluas 7.200 hektare. Proyek oleh <a href="http://www.bamboocentral.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Environmental Bamboo Foundation (EBF)</span></a> dan <a href="http://eastbalipovertyproject.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">East Bali Poverty Project (EBPP)</span></a> ini memanfaatkan tanaman peneduh yang pertumbuhannya paling cepat di bumi: bambu.</p>
<p>Kegiatan dimulai menjelang siang. Masyarakat Desa Ban telah berkumpul untuk acara pertunjukan oleh anak-anak desa, seperti musik tradisional dan modern, tari, dan teater. Semua pertunjukan membawa pesan mendidik sekaligus menghibur. Panggung didirikan di dasar lembah yang kering dan dihiasi spanduk merah putih.</p>
<p>Saat melintasi jalan setapak berdebu bekas sungai, sulit membayangkan lahan yang lebih mirip gurun ini dapat ditumbuhi hutan baru. “Sebenarnya ini lokasi ideal untuk reforestasi bamboo,” Kata Arief Rabik dari EBF.</p>
<p>EBF dan EBPP berencana untuk memperluas hutan yang tersisa dengan menanam bambu pada kawasan pendukungnya. Sepuluh persen dari setiap hektar lahan akan ditanami sebagai daerah pelindung dari matahari dan angin serta untuk mencegah erosi. Saat rebung bambu menumbuh tinggi, secara alami rerumputan dan jenis tanaman lainnya akan bertunas dan tumbuh subur di bawahnya. Hutan yang tumbuh akan dapat membalik efek kekeringan dan menghijaukan kembali pebukitan yang sudah menyerupaki gurun.</p>
<div id="attachment_215" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/014-arif-rabik.jpg"><img class="size-full wp-image-215" title="014-arif-rabik" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/014-arif-rabik.jpg" alt="" width="250" height="332" /></a><p class="wp-caption-text">Arief Rabik and team</p></div>
<p>Berlokasi di salah satu wilayah termiskin di Bali, proyek agro-hutan ini berjalan berkat dukungan masyarakat setempat. Akan ada sekolah bambu untuk mengajarkan masyarakat setempat cara menanam, mengelola, dan memanen hutan baru mereka. Tetapi sekolah ini sangat memerlukan dana tambahan untuk mengembangkan kurikulum dan menutup biaya operasi. “Tujuan utama kita sekarang,” kata David Booth, pendiri EBPP, “mengelola tunas yang telah ditanam. Tetapi kita masih perlu menanam sekitar 3,000 hektar lahan.”</p>
<p>Tim film menggunakan sisa waktu sore hari untuk meliput kegiatan menanam tunas baru bersama Rabik, manager lokal proyek agro-hutan Ketut Suwastika, dan tim peserta proyek di sebuah bukit terjal. Menggunakan tanah sekitar, kompos organik, dan dedaunan kering, setiap tunas bambu ditanam secara hati-hati. Sebotol air berisi rumput laut ditempatkan di dekat tunas untuk membasahi tanah selama beberapa minggu. Untuk tiga tahun pertama, masyarakat setempat harus merawat tanaman bambu ini hingga cukup kuat untuk bertahan di alam bebas.</p>
<p>Bambu merupakan bahan bangunan yang sangat berguna, serta memenuhi kebutuhan kegiatan upacara masyarakat Bali. Bambu juga dapat dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan. Suwastika yakin proyek bambu ini akan berhasil. Sebelumnya proyek reboisasi hutan pemerintah pernah gagal akibat penebangan hutan illegal. “Bambu hanya perlu ditanam sekali, dan walaupun dipanen oleh masyarakat, bambu akan tumbuh kembali.”</p>
<div id="attachment_217" class="wp-caption alignright" style="width: 260px"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/014-bekah-pak-ketut.jpg"><img class="size-full wp-image-217" title="014-bekah-pak-ketut" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/014-bekah-pak-ketut.jpg" alt="Rebekah with Pak Ketut Suwastika" width="250" height="357" /></a><p class="wp-caption-text">Rebekah with Pak Ketut Suwastika</p></div>
<p>Karena bambu tumbuh sangat cepat, masyarakat Desa Ban dapat memanennya tanpa menghabisi persediaan. “Tujuan proyek ini untuk mendukung reboisasi hutan, melestarikan lingkungan setempat, dan merangsang pertumbuhan ekonomi di Desa Ban,” kata Suwastika.</p>
<p>Kegiatan ini merupakan salah satu dari banyak proyek EBF di Indonesia sejak berdiri tahun 1993. EBF bertujuan melindungi hutan tropis dengan mendorong dan melakukan konservasi dengan pengembangan yang mungkin dilakukan dengan bambu. EBPP mulai beroperasi tahun 1998 dengan tujuan mengurangi kemiskinan dan mendukung perkembangan berkelanjutan sesuai dengan budaya di masyarakat perdesaan miskin.</p>
<p>BSF mendukung proyek agro-hutan ini dalam pendokumentasikan kegiatan proyek. BSF juga  akan menyumbang satu tunas bambu dari setiap tiket VIP atau Full Festival Pass yang terjual tahun 2012.</p>
<p>Proyek ini tidak hanya berkontribusi untuk upaya pengurangan emisi karbon. Hutan baru akan melestarikan kembali ekosistem yang rusak pada lahan suci dan mendukung proyek reboisasi berbasis-masyarakat.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/reforestation-in-desa-ban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
