<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; akanoma</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/tag/akanoma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Akanoma, anomali sebuah biro arsitektur (2)</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/070412-akanoma-anomali-biro-arsitektur-2/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/070412-akanoma-anomali-biro-arsitektur-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 07:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Marsiela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[akanoma]]></category>
		<category><![CDATA[architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1842</guid>
		<description><![CDATA[Dari pinggiran kota Bandung, Akanoma membuat arsitektur tidak menjadi privilese bagi orang kaya.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1844" title="Tampak belakang studio." src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma2.jpg" alt="" width="601" height="401" /></a></p>
<p><strong>Dari pinggiran kota Bandung, Akanoma membuat arsitektur tidak menjadi privilese bagi orang kaya.</strong></p>
<p>Kebersahajaan Studio Akanoma tidak bisa dilepaskan dari idealisme Yu Sing sebagai seorang arsitek. Menurut dia, setiap orang berhak bertumbuh dan berkembang di dalam rumah yang inspiratif dan menyenangkan. Sayangnya, masyarakat masih memandang jasa arsitek hanya untuk mereka yang kaya.</p>
<p>Menurut dia, masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah juga berhak mendapatkan jasa arsitek dalam pembangunan rumahnya. “Peran arsitek bisa memberi pengaruh membentuk rumah itu jadi banyak sensasi ruang yang berbeda-beda,” kata pengagum mendiang Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, arsitek dan budayawan yang akrab dipanggil Romo Mangun itu.</p>
<p>Minat Yu Sing mendesain rumah murah berawal dari permintaan untuk merancang rumah paman dari seorang teman kerjanya. Dengan anggaran kurang dari Rp60 juta, Yu Sing memanfaatkan kembali bahan-bahan dari rumah yang dibongkar.</p>
<p>Rumah di daerah Caringin, Bandung itu dia desain sebagai rumah tumbuh, yang bisa dibangun bertahap sesuai dengan ketersediaan dana pemilik.</p>
<p>Rumah dibuat bertingkat dua, agar masih tersedia ruang terbuka hijau dan daerah resapan. Dinding dibangun dengan beton bertulang agar tahan gempa. Bahan fiber semen digunakan untuk atap, agar lebih murah. Atap pun didesain agar bisa menampung air hujan, yang melalui proses penyaringan sederhana, akan dapat digunakan lagi.</p>
<p>Yang membuat rumah ini unik, bekas genting rumah lama dipakai untuk menutupi dinding batu bata rumah bangunan baru. Karakter warna acak pada genting menciptakan pola yang menarik. “Saya mau membantu karena saya juga susah membangun rumah. Dana terbatas. Dari sana mulai bantu rumah murah dan buat tulisan eksplorasi rumah murah,” kata dia.</p>
<p>Di ujung tulisannya, Yu Sing menyebut cita-citanya untuk mendesain 100 rumah murah. “Banyak kalangan menengah bawah yang perlu peran arsitek tapi selama ini kurang terlayani. Saya ambil komitmen untuk membantu itu,” kata Yu Sing.</p>
<p>Ternyata tulisan itu mendapatkan respon luar biasa. “Pada tahun pertama saja ada 80 keluarga yang menghubungi saya,” ujar dia.</p>
<p>Calon kliennya datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Papua dan Kalimantan. Mereka menghubungi Yu Sing lewat telepon dan surat elektronik. “Dari 80 keluarga itu yang akhirnya dikerjakan sekitar 20 rumah, tapi tidak semuanya jadi juga. Alasannya uangnya terpakai, jadi ditunda (membangun rumah),” ujar dia.</p>
<p>Untuk membantu desain rumah murah ini, Yu Sing mematok fee jasa sebesar tiga persen dari nilai total proyek. Patokan harga itu berlaku buat mereka yang membangun rumah dengan kisaran biaya Rp 250 juta ke bawah. Kalau sudah lebih dari itu, dikenakan fee sebesar 5-7 persen sesuai dengan standar di Ikatan Arsitektur Indonesia.</p>
<p>“Selama ini, mereka yang mampu saja tidak semuanya menggunakan jasa arsitektur, jadi wajar kalau buat rumah murah harus bisa menjangkau kalangan bawah.”</p>
<p>Para arsitek di Studio Akanoma juga punya konsep lain untuk membantu desain rumah murah seperti yang mereka kerjakan sekarang ini di daerah Dago Giri, Kabupaten Bandung. Rumah murah itu milik Uway, seorang tukang ojek. Pembangunan rumah itu diproyeksikan menelan dana Rp27 juta. Untuk desain rumah Uway ini, Studio Akanoma tidak menarik biaya jasa. “Komitmen kami untuk yang kemampuan dananya kurang dari Rp40 juta, kita buatkan desain secara gratis,” kata dia.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/rumah_yu_sing.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1854" title="rumah_yu_sing" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/rumah_yu_sing.jpg" alt="" width="600" height="258" /></a></p>
<p>Namun Uway tidak memiliki uang untuk membangun rumahnya yang sudah tidak layak huni itu. Bersama kawan-kawannya, Yu Sing mengagas konsep donasi untuk membantu Uway membangun rumah tumbuh yang lantai satunya berukuran 4 x 6 meter.</p>
<p>“Kami membantunya mencari donatur dengan cara menjual desain di jejaring sosial. Sampai sekarang donasinya masih berjalan. Dari kebutuhan Rp27 juta, Uway bisa menyediakan sendiri sekitar Rp10 juta, jadi tinggal dicari sisanya, Rp17 juta,” kata Yu Sing.</p>
<p>Apabila seluruh donasi itu sudah terkumpul dan pembangunan rumah selesai, maka Uway harus menggantinya dengan cara mencicil. Harapannya, donasi itu bisa digunakan untuk orang lain yang membutuhkan dana untuk membangun rumah murah dengan cara serupa.</p>
<p>Yu Sing mendapatkan kepuasan tersendiri apabila berhasil membantu orang lain untuk membuat rumah yang sesuai dengan kepribadiannya. Karena desain rumah untuk satu orang belum tentu cocok untuk orang lain. “Desain rumah harus kuat, sesuai konteks. Harus dieksplorasi agar rumahnya inspiratif dan menyenangkan. Ekstrimnya kalau tempat hidup sumpek itu akan pengaruh ke mental dan pikiran,” kata ia.</p>
<p>Untuk menularkan ide serupa, Yu Sing mencoba membuat jaringan dengan mengajak arsitek lain dari luar Bandung. Pembentukan jaringan ini tidak lain untuk memenuhi harapan masyarakat di luar Bandung yang ingin membangun rumah murah. “Sekarang sudah ada teman dari Jakarta, Depok, Balikpapan, dan juga di Semarang yang saya ajak kolaborasi. Idealnya di setiap daerah ada, sehingga arsiteknya bisa bertemu dengan klien, melihat lokasi dan membantu pengawasan saat pembangunan,” kata Yu Sing.</p>
<p>Jaringan arsitek di daerah-daerah dikelola lewat internet. Sehingga, nantinya setiap arsitek yang bersedia membantu desain dan membangun rumah murah itu bisa terpantau dengan mudah. “Kalau ada arsitek senior yang mau membantu dan setahun hanya mau mengambil tiga rumah saja, dia tinggal buka statusnya bisa membantu,” terangnya</p>
<p>Yu Sing optimis konsep ini bisa berjalan karena dia meyakini dalam diri setiap orang ada semangat untuk berbagi. Setidaknya semangat itu yang dia gunakan untuk menjalankan keberpihakan dalam profesinya. Tetap mengakar dan bersikap berbeda atau menjadi anomali justru bisa lebih memberi manfaat bagi orang lain.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/070412-akanoma-anomali-biro-arsitektur-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akanoma, anomali sebuah biro arsitektur (1)</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/0604212-akanoma-anomali-biro-arsitektur-1/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/0604212-akanoma-anomali-biro-arsitektur-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 06:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Marsiela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[akanoma]]></category>
		<category><![CDATA[architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Yu Sing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1831</guid>
		<description><![CDATA[Yu Sing memberi contoh efektif arsitektur yang memanfaatkan material bekas dan ramah lingkungan. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yu Sing memberi contoh efektif arsitektur yang memanfaatkan material bekas dan ramah lingkungan.</strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1833" title="Dapur yang juga warung" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma3.jpg" alt="" width="598" height="399" /></a></p>
<p>“Cintai Produk Indonesia Kalau Bisa 100 %”</p>
<p>Pesan itu tertulis dengan kapur pada sebidang papan tulis di sisi luar sebuah dapur. Jendela lipatnya membuat dapur itu tampak seperti warung. Gelas-gelas, panci, talenan, katel, dan irus atau alat untuk mengaduk masakan dari tempurung kelapa tampak tergantung di sana.</p>
<p>Kesan warung itu semakin lengkap dengan bangku panjang dari bambu yang ditemoatkan di luar dapur. Di dalam, kerat-kerat minuman bekas berwarna kuning dan merah, disusun untuk menyimpan bumbu dapur dan bahan-bahan masakan.</p>
<p>Dapur itu terletak di samping pintu masuk Studio Akanoma. Yu Sing Lim (35 tahun) bersama Benyamin Narkan, Anjar Primasetra, Peter Antonius, Iwan Gunawan, Wilfrid, dan Yopie Herdiansyah menggunakan joglo sebagai bangunan utama studionya. Mereka memperlakukannya dengan cara yang berbeda, menjadikan joglo sebagai rumah panggung, seperti rumah tradisional di Kalimantan.</p>
<p>Bangunan khas Jawa ini sudah dimodifikasi pada bagian dinding-dindingnya. Sebagai pengganti dinding kayu, mereka memasang daun jendela yang bilah-bilahnya diisi triplek berwarna-warni dan kaca nako. Pemandangan ini terlihat mengelilingi joglo.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1834" title="Suasana kerja" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma7.jpg" alt="" width="600" height="384" /></a></p>
<p>Di bagian dalamnya, tidak ada sekat. Meja-meja disusun berdampingan dengan komputer di atasnya. Para arsitek itu bekerja di dalam studio dengan suasana rumahan. Empat pilar di dalam joglo berfungsi ganda sebagai rak buku. Untuk penyimpanan dokumen, digunakan keranjang plastik bekas yang biasanya dipakai untuk menyimpan sayuran di pasar-pasar.</p>
<p>Kehadiran bambu di studio ini tampak mendominasi. Perancangnya seperti mengoptimalkan kelebihan dari bambu yang elastis sekaligus kuat. Selain menjadi alas studio, bambu-bambu berukuran besar dipakai sebagai kolom pada bangunan.</p>
<p>Optimalisasi bambu itu juga terlihat pada bagian dinding ruangan yang di bagian belakang studio. Di situ ada ruangan untuk bertemu dengan klien dan kamar tidur untuk staf serta tamu yang ditutup dengan bambu-bambu yang dipasang vertikal dan horizontal. Untuk pemasangan horizontal, menggunakan bambu berbagai ukuran, dari yang diameternya sebesar kelingking sampai yang sebesar kepalan tangan orang dewasa.</p>
<p>Penggunaan barang bekas juga tampak di kamar mandi. Dia membuat kombinasi botol-botol kaca yang sudah tidak terpakai dengan dinding bata yang terekspos teksturnya. Selain berfungsi sebagai gantungan baju, botol-botol itu bisa merefleksikan cahaya alami ke dalam kamar mandi.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma10.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1835" title="Kaca belakang mobil" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma10.jpg" alt="" width="265" height="398" /></a>Untuk tangga, Yu Sing juga memakai bambu. “Murah dan itu alternatif yang sangat baik,” kata dia. Bagian tangga yang ada di sisi kanan depan bangunan itu ditutupi dengan kaca bekas mobil. Kaca-kaca cembung itu dijepit dan diikat dengan kawat ke tiang-tiang bambu. “Kita perlu area itu transparan. Ternyata di kampung sini ada pengepul (penampung) kaca mobil bekas, jadi kita foya-foya dengan itu. Lumayan murah harganya,” kata arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung ini.</p>
<p>Bangunan dua lantai yang posisinya berada pada ketinggian 700 meter dari permukaan air laut ini terlihat menjulang di tengah-tengah perkampungan.</p>
<p>Studio di atas lahan 650 meter persegi ini jauh dari suasana perkotaan, tepatnya di Jalan Tipar Timur, Desa Laksana Mekar, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Lokasinya lebih dekat ke ruas tol Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi) daripada ke Kota Bandung. “Karena dana kita terbatas,” kata Yu Sing.</p>
<p>Sebelumnya, Yu Sing mengontrak rumah sebagai studionya. Namun biaya kontrak itu dirasakan cukup membebani. Pada saat bersamaan, Iwan, drafter Akanoma yang mencari tanah buat membangun rumah menawarkan sebidang lahan di sebelah barat Kota Bandung. “Dia cari tanah dan kebetulan tanahnya besar. Akhirnya <em>sharing</em> dibagi tiga dan (studio) dibangun semurah mungkin,” ungkap dia.</p>
<p>Komponen utama studio, joglo yang pada bagian puncaknya ada dua patung ayam itu dibeli dari Solo. “Joglo kita angkut setelah berbulan-bulan dibeli. Karena dulu belum ada uang untuk membangun kantor. Waktu beli joglo, kantor ini malah belum dirancang,” terang penulis buku Mimpi Rumah Murah ini.</p>
<p>Studio Akanoma menjadi representasi dari misi Yu Sing sebagai seorang arsitek. Dia percaya, arsitektur harus mengakar. Bagi Yu Sing, joglo sebagai komponen utama bangunan dengan modifikasi bambu menggambarkan peranan arsitektur Nusantara pada masa kini.</p>
<p>“Saya punya harapan mewujudkan kampung kota lestari. Supaya perkampungan tidak tergusur dan menjadi korban pembangunan. Sudah seharusnya perkampungan tetap ada dan masyarakatnya bisa hidup sejahtera dan nyaman. Studio kami ada di kampung sehingga kami menyediakan perpustakaan dan ruang sosial buat warga,” kata Yu Sing merujuk pada selasar dan perpustakaan umum di bawah studionya.</p>
<p>Sayangnya, kata Yu Sing, masyarakat di sekitar studio itu belum pernah menggunakan ruang sosial itu untuk pertemuan. “Kalau mereka butuh, silakan memakai tempatnya. Yang sudah berjalan itu perpustakaan, hampir setiap sore ada anak-anak yang membaca buku di sana. Buku-bukunya itu sumbangan dari orang-orang,” ungkap dia.</p>
<p>Yu Sing juga berupaya menyesuaikan bangunannya menjadi ramah lingkungan. Arsitek yang membiarkan rambut panjangnya terurai ini sengaja memperpanjang tritisan atap joglo, kemudian memasang beberapa batang pipa besi secara miring membentuk huruf V sebagai penyangganya.</p>
<p>Pipa-pipa ini menyambung pada talang di sekeliling atap. Fungsinya sebagai penyangga sekaligus pipa untuk mengalirkan air hujan ke sumur resapan.</p>
<p>Selain ramah lingkungan, Akanoma juga berusaha mencukupi kebutuhan pangan sendiri dengan menanam tanaman sayuran di sekililing studio.</p>
<p>“Sudah ada kemangi, kacang panjang, terong, leunca, <em>cengek</em> (cabe rawit), timun suri, singkong, kenikir, dan lain-lain. Ada juga kolam buat merendam bambu yang sekarang jadi tempat ternak ikan nila. Sudah sering dimakan juga. Karena kalau mau keluar agak jauh, akhirnya masak sendiri” kata dia.</p>
<p><iframe src="http://player.vimeo.com/video/33729773?byline=0&amp;portrait=0" frameborder="0" width="601" height="338"></iframe></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/0604212-akanoma-anomali-biro-arsitektur-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
