<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Songan, sunshine farms to light the way</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/environment/songan-dian-yang-menjelang-padam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com/en/environment/songan-dian-yang-menjelang-padam/</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jan 2018 11:14:00 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
	<item>
		<title>By: Sakti Soediro</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/songan-dian-yang-menjelang-padam/#comment-157</link>
		<dc:creator>Sakti Soediro</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 11:20:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1444#comment-157</guid>
		<description><![CDATA[Dear Abdi,

Sorry for the late reply ya and thank you for your genuine thought. 
Jadi? kapan ikut saya nyangkul di Tegal Matanai? saya butuh banyak pasukan berani optimis :P

Liat sendiri, ngerasain sendiri mungkin nanti kamu bisa cerita lagi dengan cara kamu sendiri. Saya tunggu ya, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :*]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Abdi,</p>
<p>Sorry for the late reply ya and thank you for your genuine thought.<br />
Jadi? kapan ikut saya nyangkul di Tegal Matanai? saya butuh banyak pasukan berani optimis :P</p>
<p>Liat sendiri, ngerasain sendiri mungkin nanti kamu bisa cerita lagi dengan cara kamu sendiri. Saya tunggu ya, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sakti Soediro</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/songan-dian-yang-menjelang-padam/#comment-158</link>
		<dc:creator>Sakti Soediro</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 11:20:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1444#comment-158</guid>
		<description><![CDATA[Dear Abdi,

Sorry for the late reply ya and thank you for your genuine thought. 
Jadi? kapan ikut saya nyangkul di Tegal Matanai? saya butuh banyak pasukan berani optimis :P

Liat sendiri, ngerasain sendiri mungkin nanti kamu bisa cerita lagi dengan cara kamu sendiri. Saya tunggu ya, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :*]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Abdi,</p>
<p>Sorry for the late reply ya and thank you for your genuine thought.<br />
Jadi? kapan ikut saya nyangkul di Tegal Matanai? saya butuh banyak pasukan berani optimis :P</p>
<p>Liat sendiri, ngerasain sendiri mungkin nanti kamu bisa cerita lagi dengan cara kamu sendiri. Saya tunggu ya, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sakti Soediro</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/songan-dian-yang-menjelang-padam/#comment-155</link>
		<dc:creator>Sakti Soediro</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 11:19:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1444#comment-155</guid>
		<description><![CDATA[Dear Abdi,

Sorry for the late reply ya and thank you for your genuine thought. 
Jadi? kapan ikut saya nyangkul di  Tegal Matanai? saya butuh banyak pasukan berani optimis :P

Liat sendiri, ngerasain sendiri mungkin nanti kamu bisa cerita lagi dengan cara kamu sendiri. Saya tunggu ya, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :*]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Abdi,</p>
<p>Sorry for the late reply ya and thank you for your genuine thought.<br />
Jadi? kapan ikut saya nyangkul di  Tegal Matanai? saya butuh banyak pasukan berani optimis :P</p>
<p>Liat sendiri, ngerasain sendiri mungkin nanti kamu bisa cerita lagi dengan cara kamu sendiri. Saya tunggu ya, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sakti Soediro</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/songan-dian-yang-menjelang-padam/#comment-156</link>
		<dc:creator>Sakti Soediro</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 11:19:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1444#comment-156</guid>
		<description><![CDATA[Dear Abdi,

Sorry for the late reply ya and thank you for your genuine thought. 
Jadi? kapan ikut saya nyangkul di  Tegal Matanai? saya butuh banyak pasukan berani optimis :P

Liat sendiri, ngerasain sendiri mungkin nanti kamu bisa cerita lagi dengan cara kamu sendiri. Saya tunggu ya, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :*]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Abdi,</p>
<p>Sorry for the late reply ya and thank you for your genuine thought.<br />
Jadi? kapan ikut saya nyangkul di  Tegal Matanai? saya butuh banyak pasukan berani optimis :P</p>
<p>Liat sendiri, ngerasain sendiri mungkin nanti kamu bisa cerita lagi dengan cara kamu sendiri. Saya tunggu ya, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abdi Wirajaya</title>
		<link>http://akarumput.com/en/environment/songan-dian-yang-menjelang-padam/#comment-151</link>
		<dc:creator>Abdi Wirajaya</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 09:40:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1444#comment-151</guid>
		<description><![CDATA[Harian Kompas sempat membahas ini di edisi tahun 2010an yang lau. Saya lupa tepatnya kapan. Namun saya ingat beberapa hal penting yang terus menjadi keresahan saya sebagai seorang perantauan di tanah Jawa yang sudah &#039;rusak&#039; lebih dulu karena intensifikasi pertanian di jaman Orde Baru.
Saya tidak ingin menunjuk kesalahan berada di pihak siapa, karena ini memang ketidak tahuan kita atau ketidak mau tahuan bahkan mungkin ketidak acuhan kita terhadap dampak penggunaan masif bahan kimia bagi tanah.
Ibarat candu pada manusia seperti itulah pupuk kimia bagi tanah pertanian/perkebunan. Pertiwi yang merupakan raga dari tempat tinggal kita pun mendapat dampak yang sama seperti bagaimana raga manusia rusak akibat candu. Hei, tunggu sebentar. Kita belum terlambat :)
Optimisme itu selalu ada kawan, seyakin saya bahwa masih ada generasi muda Indonesia dewasa kini di tengah - ketidak acuhan yang mereka ciptakan sendiri - yang peduli pada nasib Orangutan. Begitu pula di Jawa, tepatnya di Jogjakarta ada mereka (para petani tradisional) yang memasyarakatkan kembali pertanian organik.
Perubahan itu tak datang dengan drastis, (saya lupa nama si Bapak di koran itu) Beliau saat jaman Orde baru menentang penyeragaman bibit dan pupuk saat bangsa ini mengejar kuantitas (materi) dari hasil pertanian tanpa mengacuhkan dampak jangka panjang dari pola pertanian yang merusak tanah ini. Seperti para penentang tirani lainnya, hidup beliau dulu menjadi susah saat menjadi sedikit dari sekian petani yang menentang cara bangsa ini meraih swasembada pangan waktu itu.
Beliau membasmi hama menggunakan predator alami, membuat pupuk organik sendiri, menyelamatkan berbagai macam jenis bibit padi asli Indonesia yang dulu ditinggalkan demi lancarnya program Pelita di bidang pertanian yang semasa duduk di bangku sekolah diajarkan sebagai &quot;the coolest thing&#039;s&quot; nya Orde itu. Dan sekarang semakin banyak yang mengikuti jejaknya :)
Mari kita mulai lagi membangun pertanian Bali dari Songan. Saya tahu masih banyak lagi &quot;Songan&quot; lain di tempat lain di Bali yang perlu kita perbaiki. Termasuk kampung saya sendiri di Banjar Penaka, Tampaksiring, Gianyar-Bali. Sedikit banyaknya saya mulai meracuni paman dan tetangga saya dengan pola pikir yang masih baru bagi mereka yang telah lama tercuci otaknya oleh candu &quot;hasil melimpah&quot; yang ditawarkan &quot;candu&quot; tanah itu.
Abdi Wirajaya (pandangan pribadi dari pemikiran yang masih dangkal :p )]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Harian Kompas sempat membahas ini di edisi tahun 2010an yang lau. Saya lupa tepatnya kapan. Namun saya ingat beberapa hal penting yang terus menjadi keresahan saya sebagai seorang perantauan di tanah Jawa yang sudah &#8216;rusak&#8217; lebih dulu karena intensifikasi pertanian di jaman Orde Baru.<br />
Saya tidak ingin menunjuk kesalahan berada di pihak siapa, karena ini memang ketidak tahuan kita atau ketidak mau tahuan bahkan mungkin ketidak acuhan kita terhadap dampak penggunaan masif bahan kimia bagi tanah.<br />
Ibarat candu pada manusia seperti itulah pupuk kimia bagi tanah pertanian/perkebunan. Pertiwi yang merupakan raga dari tempat tinggal kita pun mendapat dampak yang sama seperti bagaimana raga manusia rusak akibat candu. Hei, tunggu sebentar. Kita belum terlambat :)<br />
Optimisme itu selalu ada kawan, seyakin saya bahwa masih ada generasi muda Indonesia dewasa kini di tengah &#8211; ketidak acuhan yang mereka ciptakan sendiri &#8211; yang peduli pada nasib Orangutan. Begitu pula di Jawa, tepatnya di Jogjakarta ada mereka (para petani tradisional) yang memasyarakatkan kembali pertanian organik.<br />
Perubahan itu tak datang dengan drastis, (saya lupa nama si Bapak di koran itu) Beliau saat jaman Orde baru menentang penyeragaman bibit dan pupuk saat bangsa ini mengejar kuantitas (materi) dari hasil pertanian tanpa mengacuhkan dampak jangka panjang dari pola pertanian yang merusak tanah ini. Seperti para penentang tirani lainnya, hidup beliau dulu menjadi susah saat menjadi sedikit dari sekian petani yang menentang cara bangsa ini meraih swasembada pangan waktu itu.<br />
Beliau membasmi hama menggunakan predator alami, membuat pupuk organik sendiri, menyelamatkan berbagai macam jenis bibit padi asli Indonesia yang dulu ditinggalkan demi lancarnya program Pelita di bidang pertanian yang semasa duduk di bangku sekolah diajarkan sebagai &#8220;the coolest thing&#8217;s&#8221; nya Orde itu. Dan sekarang semakin banyak yang mengikuti jejaknya :)<br />
Mari kita mulai lagi membangun pertanian Bali dari Songan. Saya tahu masih banyak lagi &#8220;Songan&#8221; lain di tempat lain di Bali yang perlu kita perbaiki. Termasuk kampung saya sendiri di Banjar Penaka, Tampaksiring, Gianyar-Bali. Sedikit banyaknya saya mulai meracuni paman dan tetangga saya dengan pola pikir yang masih baru bagi mereka yang telah lama tercuci otaknya oleh candu &#8220;hasil melimpah&#8221; yang ditawarkan &#8220;candu&#8221; tanah itu.<br />
Abdi Wirajaya (pandangan pribadi dari pemikiran yang masih dangkal :p )</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
