<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; Responsible Travel</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/category/lifestyle/travel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>BaliSpirit 2012 – menjadi baik, bukan belajar aerobik</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/090412-balispirit-2012/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/090412-balispirit-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 09:56:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Virginie Noël</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Responsible Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Spirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[BaliSpirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud]]></category>
		<category><![CDATA[yoga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1856</guid>
		<description><![CDATA[Guru menjadi murid, murid menjadi guru. Lebih dari 1.000 orang berkumpul, meski partisipan pribumi masih kecil.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/BSF-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1857" title="BSF2012" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/BSF-1.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><strong></strong></p>
<p><strong>Guru menjadi murid, murid menjadi guru. Lebih dari 1.000 orang berkumpul, meski partisipan pribumi masih kecil.</strong></p>
<p>BaliSpirit Festival telah berakhir hari Minggu pekan lalu. Selama lima hari penuh beragam kegiatan, dari yoga dan tari, hingga musik dan workshop pengobatan holistik. Festival ini pada tahun ke-5 berhasil menarik jumlah penonton terbanyak dalam sejarahnya.</p>
<p>Selama festival ada workshop mengenai beragam gaya yoga, seperti Hatha, Anusara, Yin, Vinyasa Flow, Ashtanga, Acro dan Kundalini. Juga banyak workshop tarian dinamis, termasuk Nia, 5 Rhythms, dan Tarian Afrika Barat yang sangat populer. Ada banyak kesempatan untuk refleksi diri dan pengembangan diri, juga kesempatan untuk bisa menggerakkan tubuh secara asyik.</p>
<p>Festival tahun ini menyatukan guru yoga yang ahli, namun tetap terbuka untuk penganut yoga baru atau orang awam yang hanya penasaran. Susan, pelaku yoga dari America Serikat, menyimpulkan pengalamannya selama festival. “Ada banyak workshop dan hal-hal luar biasa yang bisa dicoba. Tetapi untuk saya sendiri, yang paling penting adalah bisa bertemu dengan banyak orang yang pikirannya sepaham dengan saya dan membangun koneksi dalam komunitas,” kata dia</p>
<p>Tahun ini BaliSpirit festival menarik lebih dari 1.000 orang yogi (penganut yoga), musisi, dan penari dari Amerika Serikat, India, Amerika Selatan, Australia, China, Jepang, Eropa, dan Afrika. John Ogilvie, presenter yoga, sponsor festival dan pendiri Byron Yoga Center di Australia, sadar dengan daya tarik festival ini. “Ada komunitas internasional yang bertemu di festival ini. Semua orang yang hadir akan membawa pulang ide dan inspirasi dari festival ini ke komunitasnya masing-masing,” kata Ogilvie.</p>
<p>Dengan cara ini, kesadaran global mengenai kesehatan dan isu lingkungan akan terus berkembang. Spiritualitas, menurut Ogilvie, haruslah praktis. Dengan membangun komunitas internasional, slogan ‘Berpikir Global, Bertindak Lokal’ bisa menjadi kenyataan.</p>
<p>Suasana selama festival mendorong saling berbagi, antara presenter dan penonton dapat menikmati hubungan dan pengalaman baru. John Ogilvie mengatakan sangat menikmati pengalaman bertukar tempat dari guru menjadi murid saat ia berpartisipasi dalam workshop oleh guru lain.</p>
<p>“Bagi saya, festival rasanya seperti tempat bermain bebas dan kami saling mengikuti kelas-kelasnya,” kata Michael Hallock, seorang guru Watsu (terapi pijat dalam air). “Biasanya, sebagai presenter, saya menjadi orang yang ‘istimewa’ dalam acara, tetapi di sini saya seperti satu dari banyak. Ini membuat saya merasa biasa saja karena melihat banyak hal yang luar biasa di sekitar, banyak bakat dan kreativitas. Saya melihat banyak orang sepenuhnya berekspresi. Ini sangan menginspirasi dan membuat saya membumi.”</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/533023_10150651981295197_248186520196_9145228_1085053963_n.jpg"><img title="BSF2012-2" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/533023_10150651981295197_248186520196_9145228_1085053963_n.jpg" alt="" width="601" height="317" /></a></p>
<p>Bali adalah lokasi ideal untuk festival yoga. “Kami, warga Bali melakukan yoga selama kehidupan. Kami melakukan yoga setiap kali membuat banten dan setiap kali sembahyang di pura. Kami selalu berusaha untuk meningkatkan kesadaran,” kata Kadek Gunarta, salah satu pendiri festival.</p>
<p>Perlu usaha besar untuk terus menjaga hubungan dengan dunia di bawah kesadaran. Ini juga yang membuat Bali sangat magis dan menjadi inspirasi untuk orang dari luar negeri. Suasana ini teramplifikasi selama festival dengan banyak workshop yang mendorong partisipan untuk melihat ke dalam, menjadi lebih sadar, dan membuka hati. Seperti yang dikatakan instruktur dari Peace and Love Yoga di Los Angeles: “Kamu melakukan yoga untuk menjadi manusia yang lebih baik. Jika bukan karena itu – keluarlah dari kelasku dan belajar arobik saja!”</p>
<p>Tahun ini festival berusaha memberi perhatian lebih pada penonton lokal dengan mengundang beberapa presenter lokal. Jane Chen, Indrawati Widjanarko dan Dewi Asmarani menjadi warna baru dalam <em>line-up </em>yang mayoritas bekulit putih. Tetapi festival ini masih perlu usaha lebih untuk benar-benar melibatkan semua pihak, terutama memberi akses untuk penonton pribumi. Festival membuka satu hari gratis untuk semua orang, terutama keluarga Bali, dengan workshop khusus bagi anak-anak, kelas yoga untuk ketua-ketua desa Bali. Tetapi harga tiket festival tidak berbeda untuk peserta lokal, sehingga jumlah penonton Indonesia di empat hari pertama festival masih kecil.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/548500_10150650240445197_248186520196_9139060_1244114597_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1859" title="BSF2012-3" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/548500_10150650240445197_248186520196_9139060_1244114597_n-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Memberi balik ke komunitas, sebagai prinsip yoga, adalah tema utama selama festival. Ini menjadi menarik di tengah arus kehidupan yang materialistis dan individualistis. BaliSpirit Festival mungin hanya bagian kecil dari gerakan yang sedang berkembang di seluruh dunia yang diikuti oleh orang yang mencari komunitas dan gaya hidup holistik. Namun pengaruhnya bisa meluas lebih jauh daripada festivalnya sendiri. “Jika lebih banyak orang di seluruh dunia mempraktekkan yoga, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik,” kata Ogilvie.</p>
<p>Salah satu pengaruh festival adalah menginspirasikan festival bertema yoga dan kesehatan holistik di tempat lain, misalnya Namaste Spirit Festival di Jakarta, Byron Bay Spirit Festival di Australia dan Hawaii Spirit Festival. “Yoga bukan tentang kompetisi, tetapi tentang bersatu dan bekerja sama. Kami ingin kerja lebih dekat dengan BaliSpirit Festival,” kata Pendiri Namaste Festival di Jakarta, Anita Boentarman.</p>
<p>Salah satu aspek penting dari misi festival berhubungan dengan lingkungan. BaliSpirit menjalankan kemitraan dengan beberapa organisasi yang bergerak di bidang lingkungan hidup di Bali, seperti Bali Cantik Tanpa Plastik, Bali ReGreen, dan the Environmental Bamboo Foundation. Festival tahun ini juga bekerja sama dengan East Bali Poverty Project dan seluruh sumbangan yang terkumpul pada hari Cinta Keluarga disalurkan untuk program Ayo! Kita Bicara HIV/AIDS, yang dibentuk oleh BaliSpirit untuk melibatkan masyarakat setempat dalam dialog dan pendidikan mengenai HIV &amp; AIDS.</p>
<p>Pau Castellsague, presenter yoga dan pendiri Barcelona Yoga Conference, menyinggung pentingnya aksi positif. “Saya merasa di Bali hubungan orang dengan alam sangat menginspirasi. Yang telah kita lakukan pada alam sangat menyedihkan, sangat jelek. Sudah waktunya berubah. Dan bukan tentang saat untuk ingin berubah. Sudah terlambat untuk keinginan. Kita harus membuat perubahan, sekarang.”</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/526777_10150650240285197_248186520196_9139058_588817674_n.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1860" title="BSF-2012-4" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/526777_10150650240285197_248186520196_9139058_588817674_n.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a></p>
<p>Walaupun festival menganggap kesadaran lingkungan penting, pada praktiknya tidaklah sempurna. Di lokasi festival masih terlihat sendok atau cangkir plastik yang bisa menodai citra festival yang ramah lingkungan. Namun, ada kesadaran dan keinginan untuk mengurangi pengaruh negatif festival pada lingkungan hidup. Dan cara festival menangani sampah dan pengaruh lainnya menjadi semakin baik sejak awal festival lima tahun yang lalu.</p>
<p>Selain aspirasi besarnya, festival ini sangat menyenangkan, seperti yang dikatakan Cheri Rae: “Yoga harusnya membuat kita merasa baik.” Dan festivalnya memang tentang ini, merasa baik, dan melakukan hal baik.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/090412-balispirit-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bali Spirit Festival in photos</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/310311_bsf_photos/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/310311_bsf_photos/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2012 03:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Virginie Noël</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Responsible Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Spirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Purnati]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud]]></category>
		<category><![CDATA[yoga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1796</guid>
		<description><![CDATA[Bali Spirit Festival daytime workshops feature yoga, dance, and healing with teachers from across the globe.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.balispiritfestival.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Bali Spirit Festival</span></a> is the most popular yoga festival in the region. Set in the spectacular grounds of the Purnati Center for the Arts in Batuan, just 10 minutes south of Ubud, the daytime workshops feature yoga, dance, and healing with teachers from across the globe. This years Bali Spirit Festival will continue until April 1st, 2012.<br />
<div><p>SimpleViewer Gallery Id 17 has been deleted.</p></div></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/310311_bsf_photos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>OBRAL: illustrations around the world</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/140312-illustrations-around-the-world/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/140312-illustrations-around-the-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 04:17:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Responsible Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[motion graphic design]]></category>
		<category><![CDATA[Obral]]></category>
		<category><![CDATA[Pablo Ientile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1771</guid>
		<description><![CDATA[Proyek "Illustration around the world" adalah misi Pablo Ientile untuk melakukan perjalanan, merekam lewat gambar dan sketsa.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Unknown.jpeg"><img class="size-full wp-image-1773 aligncenter" title="Unknown" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Unknown.jpeg" alt="" width="600" height="454" /></a></p>
<p><a href="http://www.pabloientile.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Pablo Ientile</span></a>, adalah seorang Illustrator dan motion graphic designer yang tinggal dan bekerja di Madrid dan berlin. Dia studi Graphic Design di the FH, Trier, Jerman. Secara spesifik ia mendalami ilustrasi dan animasi dan saat ini bekerja sebagai freelance designer untuk perusahaan periklanan dan majalah.</p>
<p>Proyek<a href="http://illustrationaroundtheworld.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;"> &#8220;Illustration around the world&#8221;</span> </a>adalah misi Pablo Ientile untuk melakukan perjalanan, merekam lewat gambar dan sketsa dan berjumpa artis serta desainer di negara-negara atau tempat yang disinggahinya. Pablo berencana akan membukukan perjalanannya ini pada pertengahan tahun ini.</p>
<p>Proyek ini membuatnya sangat bersemangat dan Bali adalah salah satu tempat yang menjadi favorit dalam perjalanannya. Sebelum kembali ke Jerman akhir pekan ini Pablo ingin berbagi dan berjumpa dengan insan kreatif di Bali sekaligus bertukar pengalaman dan cerita.</p>
<p><strong>Obral 15 Maret 2012</strong><br />
<strong>Tempat: Danes Art Veranda, Jl Hayam Wuruk no 159 Denpasar</strong><br />
<strong>Waktu: 19.00 WITA</strong></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/140312-illustrations-around-the-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi pelancong yang bertanggung jawab</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/080311-responsible-travel-tibet/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/080311-responsible-travel-tibet/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2012 08:25:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Responsible Travel]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Lhasa]]></category>
		<category><![CDATA[responsible travel]]></category>
		<category><![CDATA[Tibet]]></category>
		<category><![CDATA[tourism]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1748</guid>
		<description><![CDATA[Berwisata tidak selamanya baik, apalagi membagikan ceritanya.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Tibet_Alfred1.jpg"><img class="size-full wp-image-1756 aligncenter" title="Tibet_Alfred" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Tibet_Alfred1.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a>Manusia punya hasrat alami untuk menguasai informasi atau pengetahuan lebih cepat daripada manusia lainnya. Hasrat ini yang dikelola oleh industri informasi seperti media massa. Sehingga medan perang teknologi informasi media adalah berlomba cepat mengabarkan.</p>
<p>Kenapa manusia ingin lebih tahu atau lebih cepat tahu daripada sesamanya? Karena dengan begitu dia merasa berkuasa atas orang yang belum tahu. Berbagi pengetahuan menjadi sebentuk penundukan. Kekuasaan bukan lagi bagian inheren dan didominasi subjek yang otoritatif seperti negara. Kekuasaan bisa ada dimana-mana, tidak selamanya bersifat represif. Pengetahuan adalah kuasa.</p>
<p>Salah satu bentuk klaim kuasa pengetahuan adalah penjelajahan atau minimal pelancongan, ke tempat-tempat asing. Di Indonesia akhir-akhir ini, tulisan perjalanan (<em>travel writing</em>) berkembang pesat. Begitu banyak buku bertema kisah perjalanan diterbitkan dan menjadi kategori baru di toko buku.</p>
<p>Pesawat terbang bukan lagi moda transportasi yang mahal untuk diakses. Seperti slogan sebuah maskapai penerbangan murah, sekarang semua orang bisa terbang. Turisme juga terus didongkrak sebagai industri. Saat ini 8 persen produk domestik bruto dunia berasal dari industri pelancongan. Tempat mana di dunia ini yang belum dijelajahi manusia. Pelosok dunia yang citra-citranya mengisi halaman media massa sewaktu-waktu bisa menjadi destinasi wisata paling diincar.</p>
<p>Komodifikasi petualangan sebagai gaya hidup menghadirkan hiperealitas tentang tempat-tempat baru yang menantang untuk ditundukkan. Sementara itu dampak degradasi ekologi, budaya dan pergeseran sikap sosial masyarakat setempat, menjadi konsekwensi logis dari kehadiran turisme.</p>
<p>Belakangan ini sedang gencar dipromosikan pemahaman <em>responsible travel</em>. Setiap pelancong harus menyadari apa dampak kehadirannya pada tempat yang ia datangi, baik secara kultural maupun ekologi. Bentuk perjalanan yang paling bertanggung jawab adalah dengan tidak melakukan perjalanan. Karena kehadiran manusia baru di suatu tempat selain bisa menguntungkan, juga bisa menjadi racun.</p>
<p>Hasrat melancong dan membagikan kisah perjalanan menemukan saluran yang tepat dengan adanya media jaringan sosial seperti facebook atau twitter. Seperti dua hari lalu, seorang warga negara Indonesia membagikan foto-foto dan kisahnya melancong ke Tibet<a href="http://twitter.com/debmaha" target="_blank"> <span style="color: #008000;">lewat akun twitternya</span></a>.</p>
<p>Ada kepingan cerita maksimal 140 karakter yang umum tentang Tibet itu memuat kekeliruan informasi. Dia menyebut Dalai Lama sudah tidak tinggal di Tibet sejak tahun 1995. Padahal tahun sebenarnya 1959, dan pemimpin spiritual itu bukan sekadar “tidak tinggal” tapi mengungsi ke Dharmsala, India.</p>
<p>Dia juga bercerita tentang istana Potala dan Norbulingka, juga foto-foto panoramanya yang memikat secara visual. Tapi dia lupa bercerita tentang kondisi para rahib di Potala yang jumlahnya tinggal segelintir dan posisi mereka seperti petugas kebersihan dengan seragam (bukan berjubah khas rahib). Dia juga mengingatkan waktu terbaik ke Tibet pada bulan Agustus, September, April dan Mei, saat dia sedang berada di Tibet pada bulan Januari.</p>
<p>Lalu <span style="color: #008000;"><a href="https://twitter.com/tibettruth" target="_blank"><span style="color: #008000;">@tibettruth</span></a></span> menyebutkan akun itu sebagai turis yang menyebarkan ilusi propaganda China tentang Tibet yang terjajah. @tibettruth adalah akun gerakan internasional yang menghimpun simpat bagi perjuangan kemerdekaan Tibet. Warga Indonesia pelancong itu membalas kalau dia tidak sedang menyebarkan propaganda, intensinya hanya membagikan apa yang dia lihat dan rasakan ke teman-temannya. Respons itu menunjukkan kegagalan menangkap realitas yang telanjang tentang Tibet sebagai tanah terjajah. Padahal di Lhasa setiap 100 meter ada pos tentara China dan mereka tidak berhenti patroli.</p>
<p>Sekitar setahun silam, fotografer <a href="http://www.timurangin.com/home/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Timur Angin</span></a> melakukan hal serupa lewat twitter. Beberapa saat setelah dari Tibet, Timur mempromosikan rencananya membentuk kelompok tur bersama sebuah majalah fotografi ke Tibet pada bulan terbaik melancong ke Tibet. Rencana ini kandas, karena selama 2011 China tidak mengeluarkan izin masuk [<em>permit</em>] bagi warga asing untuk melancong ke wilayah aneksasi yang disebut Tibet Autonomous Region.</p>
<p>Saya pernah ke Tibet selama 15 hari. Saya menyaksikan Tibet menjadi halaman belakang bagi China yang membutuhkan lokasi piknik bagi warganya yang sedang menikmati lonjakan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia. Saya menyaksikan raut wajah kusam para rahib di kuil atau istana yang dibatasi geraknya pasca aksi perlawanan tahun 2008 yang berujung represi tentara China.</p>
<p>Saya menyaksikan, sektor ekonomi di wilayah Tibet yang dikuasi warga dari daratan China. Hampir seluruh toko souvenir dan kebutuhan turis di Lhasa milik orang China. Orang Tibet yang bahasa Inggrisnya lebih mudah dipahami daripada orang China cukup puas berjualan souvenir di kaki lima Barkhor. Pedagang kaki lima di sana selalu jujur menunjukkan mana barang otentik buatan orang Tibet dan mana souvenir buatan China yang sebenarnya kentara seperti barang China pada umumnya.</p>
<p>Saya menyaksikan jalur kereta ke yang diklaim China sebagai infrastruktur untuk kemajuan Tibet, sebagai moda untuk memobilisasi orang China ke Tibet. Dari penguasaan ekonomi, ruang gerak orang Tibet asli akan kian dikekang. Upaya menancapkan kuku dengan memobilisasi warga di wilayah aneksasi merupakan pengulangan dari yang dilakukan China di Uyghur. Bahkan di Uyghur yang pribuminya mayoritas muslim terjadi upaya pembersihan etnis (ethnic cleansing).</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Lonely-Planet-Tibet1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1758" title="Lonely-Planet-Tibet" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Lonely-Planet-Tibet1.jpg" alt="" width="200" height="309" /></a>Saya menyaksikan tentara China menahan buku <em>Lonely Planet</em> Tibet yang digeledah dari ransel seorang turis di pos perbatasan dengan Nepal. China mengharamkan Lonely Planet masuk Tibet karena buku panduan itu memuat peta wilayah Tibet dengan warna terpisah dari China dan foto Dalai Lama yang eksil di India.</p>
<p>Saya menyadari perjalanan saya ke Tibet sebuah kekeliruan. Berwisata ke sebuah wilayah yang terjajah berarti menyalurkan devisa bagi penjajah. Meski di awal perjalanan saya sudah berusaha menekan dampak itu dengan memakai biro perjalanan milik orang Tibet asli, bukan perusahaan China.</p>
<p>Satu-satunya kebanggaan tentang Tibet yang saya simpan adalah kaos dengan bendera dan teks “Free Tibet”. Itupun saya dapatkan di Kathmandu, Nepal, setelah membujuk pedagang kaos untuk membordir simbol legendaris itu. Bendera “Free Tibet” memang populer di Nepal, tapi tidak satu pun pedagang yang berani menyimpan stoknya di toko mereka. Mereka membuat bila ada yang memesan, untuk terhindar dari resiko razia aparat pemerintah Nepal yang sesekali ingin menunjukkan persahabatannya ke China.</p>
<p>Saya menulis beberapa kisah, membuat ribuan foto dan dan puluhan gambar video di Tibet. Tapi saya tidak menyebarkan kisah dan dokumentasi itu sebagai portofolio kebanggaan. Saya tidak ingin menyebarkan pengalaman ke Tibet secara luas sehingga membuat orang lain jadi ingin ke Tibet. Salah satu tulisan saya tentang Tibet saya sematkan menjadi sub judul tulisan ini.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Tibet_Lockdown_Dec2008_by_RyanGauvin.jpg"><img class="size-full wp-image-1751 aligncenter" title="Tibet_Lockdown_Dec-2008" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Tibet_Lockdown_Dec2008_by_RyanGauvin.jpg" alt="" width="608" height="224" /></a></p>
<p><strong>Penjara di Atap Dunia</strong></p>
<p>Di dalam pesawat yang menjelang mendarat, sambutan bentangan alam Tibet membuat mata tak kuasa berkedip. Everest dan puncak-puncak satelitnya seperti pulau di laut awan, menjulang ke langit biru kobal. Salju bertiup seperti bendera yang berkibar dari kejauhan.</p>
<p>Pemandangan yang tak mungkin ditemui di negeri lain. Negeri ini memang atap dunia. Negeri yang sangat istimewa, dengan sejarahnya berselimut tebal spiritualitas, devosi pada Buddha, invasi, penundukan dan penindasan. Negeri yang menjadi mimpi para petualang. Namun mereka harus menghadapi syarat masuk yang cukup ketat, tapi sangat mudah bagi ribuan turis China yang datang setiap musim panas. Tibet ibarat “taman bermain di pekarangan rumah” China.</p>
<p>Dengan pemandu wisata yang menjelaskan dengan perspektif penguasa Tibet, para turis China memenuhi kuil dan biara. Mereka terpesona, dan seharusnya mereka akan lebih terpesona kalau saja tentara China tidak <a href="http://www.freetibet.org/about/10-facts-about-tibet" target="_blank"><span style="color: #008000;">menghancurkan sekitar 6000 biara ketika mengokupasi Tibet tahun 1951</span></a>. Identitas religius Tibet dilucuti secara brutal ketika itu, dan ribuan orang sipil terbunuh.</p>
<p>Tahun 1959, Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14, “sang Buddha yang hidup”, meninggalkan Lhasa dan mengungsi ke India untuk meneruskan perjuangan pembebasan tanah airnya.</p>
<p>Di sejumlah kuil dan biara terpajang lengkap lukisan atau foto semua Dalai Lama, kecuali yang ke-14. Sosok itu sangat diharamkan untuk dibicarakan atau terpajang fotonya di Tibet. Pemandu wisata pun dilarang bicara tentangnya. Turis juga dilarang membawa Lonely Planet masuk atau keluar dari Tibet. Sebab “buku suci” para petualang itu memuat foto Dalai Lama dan peta Tibet sebagai negara yang terpisah dari China. China mewajibkan pemakaian istilah Tibet Autonomous Region (TAR) atau agar lebih eksotis: Tibetan Plateau.</p>
<p>Di Potala Palace, istana Dalai Lama, para biarawan tidak diperbolehkan memakai jubah merah khas mereka. Mereka memakai seragam seperti pekerja, dan bertugas seperti di museum. Sejak aksi protes para biarawan tahun 2008 yang berujung pada kekerasan tentara, menjadi biarawan semakin sulit. Jumlah biara pun berkurang drastis. Populasi biarawan di Potala Palace yang sebelumnya sekitar 600 orang, kini tak sampai 200 orang.</p>
<p>Tiket masuk yang cukup mahal ke biara atau kuil semua masuk ke pemerintah China. Kuil dan biara hidup dari derma warga. Karena itu tidak heran di dalam biara, ada peraturan memotret harus bayar, sebagai pemasukan untuk biara. Di Jokhang Temple, biarawan membuka toko dengan plakat “blessed souvernir” Sementara di luar kuil, di Bakhor Square, turis bisa mendapatkan barang yang hampir mirip dengan harga jauh lebih murah.</p>
<p>Di Lhasa, turis bisa didamprat oleh tentara atau polisi China bila memotret pengemis. China khawatir imaji tentang orang miskin akan merusak upaya pencitraan mereka mengenai kemajuan yang terjadi di Tibet. Jalur kereta tertinggi di dunia Qinghai – Lhasa yang beroperasi sejak 2007 diklaim membawa banyak kemajuan bagi Tibet. Padahal jalur kereta api ini justru untuk memudahkan arus barang dari China, juga mobilisasi militer karena China memiliki 3 situs misil nuklir dan penambangan uranium di Tibet.</p>
<p>Seperti juga di Uyghur, China mencengkeram daerah pendudukannya dengan mengontrol komposisi populasi. Semakin banyak suku Han (orang China) di Tibet dan banyak di antara mereka menguasai basis bisnis. Untuk memuluskan asimilasi, orang Tibet dipaksa untuk berbahasa Mandarin lewat sekolah. Sementara tidak ada satupun orang Han yang mau belajar bahasa Tibet.</p>
<p>Saat ini, orang Tibet tidak bisa ke luar negeri karena tidak bisa memiliki paspor. Sampai tiga tahun lalu, masih banyak orang Tibet yang lari ke Nepal melalui pegunungan Himalaya. Namun kini, penjagaan polisi dan tentara China di pegunungan kian ketat.<span style="color: #008000;"> <a href="http://www.freetibet.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Orang Tibet pun terpenjara di tanahnya sendiri.</span></a></span></p>
<p><iframe src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F39084493&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=true&amp;color=ff7700" frameborder="no" scrolling="no" width="100%" height="166"></iframe></p>
<p><em>&#8220;Tibet under lockdown&#8221; photo by <a href="http://www.ryangauvin.com">Ryan Gauvin</a> via <a href="http://www.freetibet.org/" target="_blank">Freetibet.org</a></em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/080311-responsible-travel-tibet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi karang di dasar laut Pemuteran</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/the-coral-goddess-of-pemuteran/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/the-coral-goddess-of-pemuteran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Sep 2011 13:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kayti Denham</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Responsible Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Buleleng]]></category>
		<category><![CDATA[coral reefs]]></category>
		<category><![CDATA[Eco-tourism]]></category>
		<category><![CDATA[eko-wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Karang Lestari]]></category>
		<category><![CDATA[nelayan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuteran]]></category>
		<category><![CDATA[responsible travel]]></category>
		<category><![CDATA[taman sari]]></category>
		<category><![CDATA[terumbu karang]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rc.akarumput.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Di dasar laut pesisir Bali Utara ada dewi jelita yang duduk dalam damai di taman hijau dan biru. Ikan dan tumbuhan laut berlindung mengelilinginya, dan secara pelan, dengan bantuan Dewi ini, terumbu karang yang telah hilang dari ekosistem tersebut kini menikmati proses bangkit kembali...<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><a href="http://rc.akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/coral-pic.jpg"><img class="aligncenter" title="coral-pic" src="http://rc.akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/coral-pic.jpg" alt="" width="520" height="390" /></a></p>
<p>Di dasar laut pesisir Bali Utara ada dewi jelita yang duduk dalam damai di taman hijau dan biru. Ikan dan tumbuhan laut berlindung mengelilinginya, dan secara pelan, dengan bantuan Dewi ini, terumbu karang yang telah hilang dari ekosistem tersebut kini menikmati proses bangkit kembali sebagai elemen yang vital kehidupan bawah laut.</p>
<p>Akibat pengaruh krisis ekonomi dan ancaman kemiskinan telah memaksa masyarakat nelayan Pemuteran untuk menghancurkan terumbu karang di wilayah Barat-laut Bali. Nelayan menggunakan dinamit dan racun sianida untuk menangkap ikan yang akan dijual. Mereka melakukan praktik destruktif ini tanpa pengetahuan resikonya dapat menghancurkan dan membahayakan terumbu karang. Industri nelayan kecil ini bersaing dengan nelayan dari Jawa, pulau tetangga.</p>
<p>Saat suhu laut meningkat akibat pengaruh perubahan iklim, termasuk pengaruh <em>El Nino </em>tahun 1998, terumbu karang yang kritis menjadi semakin hancur dan mati. Lima belas tahun yang lalu kehidupan laut di daerah ini hampir punah, dan seluruh pesisir Utara terancam kepunahan terumbu karang.</p>
<p>Demi masa depan keanekaragaman hayati dan eksplorasi ilmiah, Yayasan Karang Lestari menjalankan Proyek Terumbu Karang Buatan untuk melestarikan lingkungan bawah laut di Pemuteran. Proyek Karang Lestari dimulai bulan Juni 2000 melalui inisiatif dari Yos Amerta, Dr. Tomas Goreau dan Profesor Hilbertz. Struktur terumbu karang pertama dipasang tahun 2000, dan sejak itu, proyek ini telah memperoleh dukungan dari pemilik Taman Sari Resort. Sekarang proyek ini semakin mekar, berkat dukungan dari tim penyelam, desainer, dan masyarakat setempat.</p>
<p>Pelestarian terumbu karang menggunakan proses <em>Biorock</em>, yang memungkinkan terumbu karang bertahan hidup dan pulih dari kerusakannya. Aliran listrik disalurkan melalui rangka besi, yang mendorong pengumpulan batu kapur. Batu kapur berperan mendorong pertumbuhan terumbu karang.</p>
<p>Terumbu karang yang dibangun menggunakan proses <em>Biorock</em>, kini telah tumbuh dengan sukses di wilayah negara Maladewa dan Papua Nugini. Yayasan Karang Lestari bersama The Marine Foundation menjalankan proyek terbaru bernama Dewi Terumbu Karang, atau <em>Coral Goddess</em>. Proyek ini memanfaatkan panel solar sebagai sumber energi yang diperlukan untuk menghidupi struktur yang mendorong pertumbuhan terumbu karang.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://rc.akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/Best-Batfish+Goddess.jpg"><img title="Best-Batfish+Goddess" src="http://rc.akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/Best-Batfish+Goddess.jpg" alt="" width="200" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">dewi karang</p></div>
<p>Dengan adanya program ini mendorong jumlah kunjungan wisatawan yang ingin melihat Dewi Terumbu Karang dan taman yang mengelilinginya. Kontribusi positif dari pertumbuhan terumbu karang di daerah ini membuka potensi eko-wisata dan wisata pendidikan.</p>
<p>Baru-baru ini, 30 siswa Bali International School mengunjungi Dewi Karang dan Pusat Pendidikan Bio Rock (<em>Bio Rock Education Centre</em>) dan bertemu dengan Rani, Celia dan Komang, koordinator proyek tersebut. Para siswa dikenalkan prinsip dasar lingkungan bawah laut, sekalian menikmati keindahan laut. Beberapa murid memilih untuk berenang dan <em>snorkeling</em> mengunjungi sang Dewi, murid lainnya menumpang di kapal berlantai kaca tembus pandang. Pariwisata seperti ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Pemuteran, yang juga bisa berbangga dengan kontribusi mereka terhadap Proyek Karang Lestari.</p>
<p>Taman Sari, The Marine Foundation dan Karang Lestari melayani diskusi pendidikan dan presentasi multi-media tentang kegiatan mereka. Selain itu, mereka juga dapat menciptakan struktur terumbu karang pesanan pribadi atau kelompok untuk mendorong pertumbuhan terumbu karang yang lebih banyak.</p>
<p>Dengan meningkatkan pertumbuhan terumbu karang kehidupan di bawah laut mulai kembali menjadi seimbang. Masyarakat Desa Pemuteran kini lebih memiliki apresiasi mendalam mengenai lingkungan hidup dan semangat untuk melestarikannya untuk mereka dan generasi mendatang. Mereka juga bisa memanen hasil laut dengan cara yang berkelanjutan.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/the-coral-goddess-of-pemuteran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
