<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; Inspirasi</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/category/inspiration/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Bali Anti-Corruption Fest</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/bali-anti-corruption-fest/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/bali-anti-corruption-fest/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Apr 2013 04:31:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gede Robi Supriyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Anti-Corruption]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[geekssmile]]></category>
		<category><![CDATA[ICW]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Morfem]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=2012</guid>
		<description><![CDATA[Bali Anti-corruption Fest, 13 April 2013, Jam 16:00-23:00 di Gd. Sawaka Dharma, Lumintang, Denpasar, Bali. Free entry.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Anti-corruption Fest: Tur album kompilasi Frekuensi Perangkap Tikus (unduh gratis di <a href="http://beranijujur.net/" target="_blank">Beranijujur.net</a>)<br />
13 April 2013, Jam 16:00-23:00<br />
di Gd. Sawaka Dharma, Lumintang, Denpasar, Bali</p>
<p>Bands: Navicula, Geekssmile, Scared of Bums, Ripper Clown (Denpasar), Morfem (JKT), Iksan Skuter (JKT)</p>
<p>Teater Kini Berseri, Mural Komunitas Djamur – ISI Denpasar, Painting exhibition Made Bayak.</p>
<p>Free Entry!</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2013/04/x2_113f8083.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2013" alt="Bali Anti Corruption Fest" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2013/04/x2_113f8083.jpg" width="600" height="848" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/bali-anti-corruption-fest/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Navicula membuka Borneo Tour di Medan</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/navicula-membuka-borneo-tour-di-medan/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/navicula-membuka-borneo-tour-di-medan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2012 15:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1981</guid>
		<description><![CDATA[Grup musik asal Bali, Navicula membuka rangkaian tur ke Kalimantan (Borneo Tour) untuk kampanye perlindungan orangutan dengan konser musik di Medan, 24 Juli mendatang<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1983" class="wp-caption aligncenter" style="width: 611px"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/Gembull_NVCL_orangutan-1_web.jpg"><img class="size-full wp-image-1983" title="Gembull_NVCL_orangutan-1_web" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/Gembull_NVCL_orangutan-1_web.jpg" alt="" width="601" height="402" /></a><p class="wp-caption-text">Gembull Navicula meets an orangutan</p></div>
<p>Grup musik asal Bali, Navicula membuka rangkaian tur ke Kalimantan (Borneo Tour) untuk kampanye perlindungan orangutan dengan konser musik di Medan, 24 Juli mendatang. Pertunjukan bertajuk “Road to Borneo Tour” itu digelar untuk menggemakan persoalan deforestasi yang mengancam habitat satwa langka di Sumatera, khususnya Hutan Rawa Tripa, Aceh.</p>
<p>“Konser di Medan adalah pemanasan sebelum kami tur ke Kalimantan, bulan September nanti. Di tengah persiapan menuju Borneo Tour mencuat banyak persoalan di Sumatera, seperti masalah hutan Rawa Tripa yang merupakan habitat orangutan. Didukung oleh beberapa lembaga yang concern pada konservasi lingkungan, kami pun hadir di Sumatera, pilihannya di kota Medan,” kata Gede Robi Supriyanto, vokalis Navicula di Bukit Lawang, Sumatra Utara, Jumat (20/7).</p>
<p>Robi berada di Bukit Lawang dalam rangka perjalanan menyusuri hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Perjalanan ini menjadi asupan pengalaman bagi Robi untuk mengampanyekan persoalan lingkungan lewat musik. Road to Borneo Tour di Medan didukung oleh <a href="http://www.yelweb.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Yayasan Ekosistem Lestari (YEL)</span></a>, <a href="http://www.sumatranorangutan.org/content-n31-sE.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">Sumateran Orangutan Conservation Programe (SOCP)</span></a>, <a href="http://www.paneco.ch/aktuelles-n111-sD.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">PanEco</span></a>, <a href="http://sawitwatch.or.id/" target="_blank">Sawit Watch</a>, dan <a href="http://www.walhi.or.id/id/home/eksekutif-daerah/114-walhi-sumatera-utara.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut.</span></a></p>
<p>Pada acara yang akan digelar di Rama Gardenia Café, 24 Juli itu Navicula yang berdiri sejak tahun 1996 akan tampil dalam format akustik. Acara juga diisi dengan diskusi tentang penyelamatan hutan rawa Tripa, serta pameran foto orangutan dan harimau Sumatera dari Komunitas Mata Kamera, Medan.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/poster_NVCL_medan-web.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1985" title="Navicula_Medan_24Juli" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/poster_NVCL_medan-web.jpg" alt="" width="600" height="437" /></a></p>
<p>Navicula yang konsisten menyuarakan isu lingkungan akan menggelar Borneo Tour di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, pertengahan September mendatang. Tur ini mengangkat tema persoalan orangutan sebagai dampak dari deforestasi dan ekspansi perkebunan kelapa sawit.</p>
<p>Tur Navicula dibiayai dengan proyek pendanaan oleh khalayak (crowdfunding) lewat portal <a href="http://www.kickstarter.com/projects/1637792006/golden-green-grunge-for-rare-red-apes-navicula-bor" target="_blank"><span style="color: #008000;">kickstarter.com</span></a> dan <a href="http://mari.patungan.net/project/navicula-borneo-tour" target="_blank"><span style="color: #008000;">patungan.net.</span></a> Di kicstarter.com Navicula memasang proyek dengan target AS$3.000, sementara di patungan.net target sebesar Rp5 juta. Proyek pada kedua portal tersebut sudah melebihi target, dan proyek di kickstarter.com masih berjalan hingga 29 Juli 2012. Sebagai kompensasi untuk pendukung proyek, Navicula menjanjikan unduh lagu gratis, kaos, CD, kerajinan tangan, show di rumah donatur, sampai ikut tur ke Kalimantan.</p>
<p>“Kami sangat senang proyek crowdfunding untuk <em>Borneo Tour</em> berhasil mengajak orang mendukung gerakan kami membawa musik sebagai media kampanye lingkungan. Ini juga menjadi pembuktian kami sebagai band independen tapi dapat menggelar tur mandiri yang panjang tanpa dibiayai oleh sponsor atau promotor,” kata Robi.</p>
<p>Pada Desember 2011, <a href="http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula" target="_blank"><span style="color: #008000;">Navicula merilis lagu <em>Orangutan</em></span></a> yang disebarkan secara gratis dengan lisensi creative common. Vokalis Navicula, Gede Robi Supriyanto menulis lagu Orangutan pada April 2011. Lagu ini akan menjadi materi album ke-7 Navicula. Album ini juga akan memuat nomor Harimau! Harimau! yang didedikasikan untuk penyelamatan harimau Sumatra yang tersisa 400 ekor karena hutan rumahnya menipis.</p>
<p>Navicula telah memainkan <em>Orangutan</em> dari panggung ke panggung, bahkan di program musik siaran langsung di stasiun televisi nasional. Sejak saat itu banyak penggemar yang meminta Navicula untuk tampil di kota mereka, terutama di Kalimantan. “Sebagai musisi dari Bali, yang bukan pusat industri musik, ini kebanggaan buat kami bisa hadir di Kalimantan, hutan hujan tropis terakhir di muka bumi dan habitat orangutan yang terancam, membawakan langsung lagu Orangutan,” kata Robi.</p>
<div id="attachment_1988" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/NVCL_bukit_lawang_web.jpg"><img class="size-full wp-image-1988" title="Navicula in Bukit Lawang" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/NVCL_bukit_lawang_web.jpg" alt="" width="600" height="402" /></a><p class="wp-caption-text">Navicula visit the orangutan of Bukit Lawang, Sumatera</p></div>
<p><strong>Kampanye Internasional</strong></p>
<p>Lagu Orangutan pula yang membawa <a href="https://www.envoletmacadam.com/en/planetrox/indonesia/semi-finalists-videos/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Navicula memenangkan kompetisi band internasional Planetrox.</span> </a>Pemenang nasional kompetisi ini diongkosi untuk tampil di festival musik Envol et Macadam di Quebec, Kanada, 7-8 September mendatang. “Ini salah satu cara kami untuk membawa isu orangutan menjadi perhatian publik internasional. Masalah lingkungan entah itu di Kalimantan, Sumatera, atau Antartika adalah kepentingan seluruh penghuni bumi,” kata Robi.</p>
<p>Untuk berpartisipasi pada Planetrox, Navicula mengikutkan video musik Orangutan yang kemudian terpilih sebagai semi finalis. Ke-10 semi finalis Planetrox bertarung dalam voting online untuk diambil 5 finalis. Finalis lalu tampil dalam babak final penjurian di Bandung 7 Juli lalu. Juri pun memutuskan Navicula sebagai pemenang untuk dikirim mewakili Indonesia ke Kanada.</p>
<p>Selain tampil di Kanada, Navicula juga berpeluang untuk rekaman di Hollywood, Amerika Serikat. Navicula masuk sebagai salah satu dari <a href="http://www.rodemic.com/roderocks/navicula" target="_blank"><span style="color: #008000;">10 finalis kompetisi RØDE Rocks</span> </a>yang berhadiah rekaman tiga lagu di Record Plant Studio, Los Angeles. Finalis dipilih dari 500 video yang berasal dari 43 negara. Pemenang ditentukan lewat voting online, dan saat berita ini diturunkan Navicula memimpin perolehan vote.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/navicula-membuka-borneo-tour-di-medan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Bali untuk Borneo</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/140612-dari-bali-untuk-borneo/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/140612-dari-bali-untuk-borneo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 13:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Borneo]]></category>
		<category><![CDATA[deforestation]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1949</guid>
		<description><![CDATA[Navicula tak berhenti sampai membuat lagu tentang orangutan. Tanpa sponsor dan promotor, Navicula membuat proyek tur ke hutan hujan tropis yang terus terkikis, Kalimantan.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Navicula tak berhenti sampai <a href="http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/" target="_blank"><span style="color: #008000;">membuat lagu tentang orangutan.</span></a> Tanpa sponsor dan promotor, Navicula membuat proyek tur ke hutan hujan tropis yang terus terkikis, Kalimantan.</strong></p>
<p>Coba sebutkan karya lagu dengan pesan tentang lingkungan. Banyak. Bahkan sebuah majalah (berbahan kertas yang berasal dari pohon) musik nasional pada bulan Hari Bumi merilis cerita sampul tentang 100 lagu bertema bumi.</p>
<p>Tapi apa yang sebenarnya dibutuhkan bumi yang tengah dirundung rusak parah ini? Segerombolan orang yang mengaku seniman dan berlagu tentang alam seperti suara-suara yang berseru di padang gurun?</p>
<p>Kerja praksis kesenian musik yang ingin mengetuk hati dan menggedor akal membutuhkan upaya ekstra dari sekadar mencipta-memproduksi lagu-membawakannya di panggung.  Terutama dalam konteks perjuangan bagi lingkungan. Apalagi di tengah demam media jejaring sosial saat ini, ketika orang sudah merasa puas sebagai aktivis tagar (hashtag): ulang-ulang kicauan (tweet) tentang satu isu dan selesai. Sementara degradasi bahkan perusakan lingkungan secara sistematis terus terjadi.</p>
<p>Sempat terjadi demam isu penyelamatan orangutan pada penghujung tahun lalu. Tagar #SaveOrangutans gencar di jagat twitter. Pemicunya karena merebak kabar sayembara yang digelar perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Mereka menjanjikan ganjaran sejumlah uang bagi warga yang menyetorkan jasad orangutan yang dianggap musuh tanaman sawit. Keji. Namun minyak kelapa sawit lebih dianggap sebagai kebutuhan global, daripada keberlangsungan hidup primata merah yang berbagi 97% DNA dengan manusia.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Green-042.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1957" title="Green-042" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Green-042.jpg" alt="" width="600" height="337" /></a></p>
<p>Pada Desember 2011, Navicula merilis lagu Orangutan yang bisa diunduh secara gratis. Sejumlah musisi lain seperti Shaggydog pun membuat lagu tentang Orangutan yang terancam punah. Robi Navicula – yang memiliki akun twitter namun sangat jarang menggunakannya – menulis lagu Orangutan pada April 2011. Lagu ini akan menjadi materi album ke-7 Navicula yang sedang dalam negosiasi kontrak untuk dirilis di Amerika Serikat. Selain Orangutan, album ini juga akan memuat nomor <em>Harimau! Harimau!</em> yang didedikasikan untuk penyelamatan harimau Sumatra yang tersisa 400 ekor karena hutan rumahnya menipis.</p>
<p>Navicula telah memainkan <em>Orangutan</em> dari panggung ke panggung, bahkan di program musik siaran langsung di stasiun televisi nasional. Sejak saat itu banyak pendengar yang meminta Navicula untuk tampil di kota mereka, terutama di Kalimantan. Hadir di Kalimantan, hutan hujan tropis terakhir di muka bumi dan habitat orangutan yang terancam, membawakan langsung lagu <em>Orangutan</em> adalah harapan yang menyalakan api di dada Navicula.</p>
<p>Namun sebagai band yang sering dituduh <em>legend</em> namun masih rindu order panggung, punya basis fans menyebar-mengakar namun masih pra-sejahtera, tur mandiri ke Kalimantan bagi Navicula jauh lebih sulit daripada memproduksi lagu pembuat hits. Berharap pada sponsor atau promotor membawa tur ke Kalimantan, jelas Navicula bukan band ideal bagi brand rokok yang bisa mengguyur duit ke konser musik.</p>
<p>Kendala dana tak menghalangi rencana Navicula ke Kalimantan. Ada peluang pendanaan khalayak (<em>crowdfunding</em>) untuk proyek-proyek kreatif lewat Kickstarter.com. Pendanaan khalayak menjadi fenomena bisnis yang memukau di tengah resesi ekonomi Amerika yang belum selesai dan bangkrutnya ekonomi sebuah negara seperti Yunani. Massalution, firma riset khusus <em>crowdfunding </em>dan <em>crowdsourcing</em> awal bulan ini merilis laporan Crowdfunding Industry Report. Firma ini mengumpulkan data dari lebih 170 (38 persen dari total) platform pendanaan khalayak.</p>
<p>Massalution menemukan, selama tahun 2011 portal-portal pendanaan khalayak mengumpulkan dana 1,5 miliar dollar AS dan mendanai sekitar 1 juta proyek. Angka itu memang memukau. Tapi sebelum berpikir tentang menembus target dana proyek, tidak semua orang bisa membuat proyek yang menarik minat orang banyak untuk ikut mendanai. Pengaju proyek juga harus melewati seleksi awal, persetujuan dari pengelola portal. Navicula telah melewati ini, <a href="http://www.kickstarter.com/projects/1637792006/golden-green-grunge-for-rare-red-apes-navicula-bor" target="_blank"><span style="color: #008000;">proyek tur Borneo Orangutan</span> </a>sudah diluluskan oleh Kickstarter.com.</p>
<p>Proyek tur Navicula ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah ini menargetkan dana 3000 dollar AS, dengan masa pendanaan 45 hari. Sebagai kompensasi untuk donatur, Navicula menjanjikan download lagu gratis, kaos, CD, kerajinan tangan, show di rumah donatur, sampai ikut tur ke Kalimantan.</p>
<p><iframe src="http://www.kickstarter.com/projects/1637792006/golden-green-grunge-for-rare-red-apes-navicula-bor/widget/video.html" frameborder="0" width="480px" height="360px"></iframe></p>
<p>Navicula adalah musisi atau band pertama dari Indonesia yang menjalankan proyek di Kickstarter. Sudah ada beberapa proyek tentang musisi Indonesia di kickstarter, tapi itu dilakukan oleh orang dari luar (negeri), bukan oleh musisi langsung. Misalnya <a href="http://www.kickstarter.com/projects/157803924/jakarta-punk-the-marjinal-story" target="_blank"><span style="color: #008000;">proyek film dokumenter tentang kolektif punk</span></a> paling berwibawa di Indonesia, Marjinal. Proyek dengan target 16.000 dollar AS, massa penggalangan dana 45 hari ini berhasil mengumpulkan 16.450 dollar AS. Proyek ini diajukan oleh 3 filmaker dari AS, Cina dan Malaysia.</p>
<p>Donatur proyek di Kickstarter adalah orang yang memilik kartu kredit di Amerika Serikat. Jelas dengan begitu, partisipasi donatur dari Indonesia sangat kecil di Kickstarter. Untuk itu Navicula juga meluncurkan proyek pendukung lewat patungan.net, dengan target dana Rp5 juta.</p>
<p>Seakan tak berhenti meresonansi suara primata merah, Navicula juga membawa lagu Orangutan untuk kompetisi band internasional Planetrox. Pemenang nasional kompetisi ini akan diongkosi untuk tampil di festival musik Envol et Macadam di Quebec, Kanada. <span style="color: #008000;"><a href="http://www.envoletmacadam.com/en/planetrox/indonesia/semi-finalists-videos/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Tahap voting online berlangsung</span></a></span> hingga 24 Juni, dan akan diambil 5 finalis yang akan berlaga di depan juri pada final di Bandung 8 Juli.</p>
<p>Navicula satu-satunya dari 10 semifinalis pada kompetisi ini dengan lagu berbahasa Indonesia. Ketika band Indonesia lain menghadapi kompetisi internasional Planetrox dengan lagu berbahasa Inggris, Navicula percaya diri dengan lagu berbahasa sendiri: Orangutan. Sebab ini tentang pesan, bukan tentang bahasa.</p>
<p><strong>Navicula mengundang Anda pada show akustik sekaligus launching Orangutan Borneo Tour:</strong><br />
Sabtu, 16 Juni<br />
Pukul 18.00 WIB<br />
Di Café Tjikini Jl Cikini Raya no 17 Jakarta Pusat<br />
Penampil: Navicula, Adrian Aditeotomo, Balian</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Navicula_e_poster.jpg"><img class="size-full wp-image-1950 aligncenter" title="Navicula_e_poster" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Navicula_e_poster.jpg" alt="" width="389" height="750" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/140612-dari-bali-untuk-borneo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eceran Kaimsasikun tiap tanggal 11</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/110612-kaimsasikun-tiap-tanggal-11/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/110612-kaimsasikun-tiap-tanggal-11/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2012 13:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gede Robi Supriyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Unduh]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kaimsasikun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1935</guid>
		<description><![CDATA[Pernah bersinar dari Bali, nama Kaimsasikun sempat meredup. Kini, tanpa banyak basa-basi mereka berkomitmen merilis satu lagu tanggal 11 tiap bulan.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pernah bersinar dari Bali, nama Kaimsasikun sempat meredup. Kini, tanpa banyak basa-basi mereka berkomitmen merilis satu lagu tanggal 11 tiap bulan.</strong></p>
<p>Bagi yang rajin membedah band-band cutting edge Indonesia, pasti sudah tak asing lagi mendengar nama Kaimsasikun. Band pop alternatif asal Bali yang berdiri di tahun 1999 ini, pernah meluncurkan single perdana yang video klipnya sempat nangkring di TV-TV nasional. Single yang berjudul “Pria Dijajah Wanita” dari album perdana mereka ini sering menjadi link ke memori seseorang yang lupa-lupa ingat. Lagu-lagu mereka yang menurut saya jauh lebih memikat sangat banyak, cuma tetap saja, yang lebih nge-pop yang dijadikan single.</p>
<p>Sempat menetap di Jakarta, dalam format satu band utuh, tapi jenuh karena harapan mereka belum tercapai. Promosi kurang begitu lancar dan publik kebanyakan saat itu masih belum terbiasa untuk menerima musik dan gaya mereka yang cenderung geeky. Sayang sekali untuk band rekaman dan live sebaik mereka.</p>
<p>Band ini pun vakum beberapa tahun. Sebagian personilnya mudik ke Bali dan sebagian menetap di Jakarta. Tapi, mereka tidak berhenti bermusik. Ian (vokalis, gitaris) membangun sebuah studio rekaman dan aktif sebagai pencipta beberapa hits lagu pop nasional dengan bermacam nama samaran. Sani (Bassis) juga laris mencipta berbagai hits pop lagu nasional yang dinyanyikan oleh sederet artis pop. Begitu pula Pandu (gitaris) yang kesana-kemari mengiring beberapa selebritas dan aktif sebagai session guitarist di Palu Studio, Jakarta, salah satu pabrik hits tanah air.</p>
<p>Drummer awal mereka, Rendra, sempat hengkang dari band dan membentuk band lain, tapi tetap sering ngumpul sebagai seorang sahabat. Posisi Rendra sempat diganti oleh Mark, yang akhirnya dua tahun lalu juga hijrah ke Australia untuk mengantungi sertifikat pilot. Ah, kebetulan saja, logo band ini adalah gambar pesawat, Mark akhirnya terobsesi terbang sesungguhnya. Mengisi kekosongan di sektor drum, Rendra balik lagi.</p>
<p>Hanya satu personil, Aldino, yang sempat minggat dari dunia musik. Saat ini dia menjadi surfer dan pewaris bisnis keluarga yang sukses. Tapi belakangan dia punya hobi baru yaitu membuat video. Hal ini berbuah sebuah video klip baru Kaimsaikun, sebagai pelampiasan hobinya. Tidak ada yang namanya mantan musisi karena pasti akan gatal untuk bermain nada lagi. Dan Aldino berkomitmen untuk terlibat lagi di proyek Kaimsasikun yang unik.</p>
<p style="text-align: center;"><iframe src="http://player.vimeo.com/video/25453741" frameborder="0" width="560" height="315"></iframe></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #008000;"><em><a href="http://vimeo.com/25453741"><span style="color: #008000;">Euforia, ku hampa &#8211; Zat Kimia</span></a> from <a href="http://vimeo.com/user5364071"><span style="color: #008000;">Aldino Tayeb</span></a> on <a href="http://vimeo.com"><span style="color: #008000;">Vimeo</span></a>.</em></span></p>
<p>Mereka terus berkarya. Ya…sebagai Kaimsasikun, dengan karya-karya yang inovatif, yang mengeksplorasi selera, skill, dan fasilitas yang dimiliki oleh tiap-tiap personilnya.</p>
<p>Kaimsasikun sepakat merilis lagu baru setiap tanggal 11 tiap bulannya. Lagu-lagu Kaimsasikun bisa <a href="http://soundcloud.com/kaimsasikun" target="_blank"><span style="color: #008000;">didengar secara gratis di sini</span></a>.</p>
<p>Setengah di Jakarta setengah di Bali, jarak bukanlah masalah bagi sebuah band yang mampu memberdayakan internet dan teknologi rekaman digital untuk berkomunikasi. Produksi lagu, kreativitas, dan kecintaan mereka terhadap musik tidak akan bisa dibendung oleh situasi industri musik tanah air yang terombang-ambing.</p>
<p>Saat ini, industri musik Indonesia kehabisan ide apa lagi yang bisa dijual setelah bisnis RBT merosot. Tapi, musisi idealis yang cerdas dan melek industri akan tetap bertahan, dan akan lebih bersinar jika ditopang oleh kemampuan penampilan panggung yang mumpuni. Ini adalah spekulasi sederhana yang selalu menghiasi meja kopi sesama musisi non mainstream, yang anehnya tak pernah bosan dibahas. Mungkin karena ada ‘harapan’ yang menghibur di situ.</p>
<p>Kaimsasikun telah memiliki semua itu; bakat, waktu, dan fasilitas. Tunggu apa lagi? Mereka sadar bahwa karya-karya mereka harus dirilis. Tak peduli akrab di telinga pasar atau tidak, toh tujuannya untuk menikmati proses berkarya dan mengeluarkan sesuatu yang sudah mendesak, seperti sperma yang sudah memenuhi kantungnya.</p>
<p>Belum jelas apa target Kaimsasikun dengan merilis satu lagu tiap bulan. Dalam setahun tentu bisa jadi materi satu album. Namun pilihan ini cukup cerdas, daripada terburu-buru mengumumkan niat untuk aktif nge-band lagi dengan memoles nama lama, mereka melatih saja intuisi mereka memproduksi karya lagu. Ini sembari memelihara fans lama seperti saya yang merasa bergairah.</p>
<p>Ada kejutan unik yang pantas dinikmati setiap tanggal 11, sesuai dengan arti nama band ini. Kaimsasikun berarti 11.<br />
<iframe src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F49328062&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=true&amp;color=ff7700" frameborder="no" scrolling="no" width="100%" height="166"></iframe></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/110612-kaimsasikun-tiap-tanggal-11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imajinasi kota dalam taman</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/120505-imajinasi-kota-dalam-taman/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/120505-imajinasi-kota-dalam-taman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 23:15:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Errik Irwan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1916</guid>
		<description><![CDATA[Berkumpul, bermain, memanfaatkan barang bekas di taman. Mewujudkan imajinasi tentang sebuah kota.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/Imaginasi_kota.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1918" title="Imaginasi_kota" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/Imaginasi_kota.jpg" alt="" width="600" height="424" /></a></p>
<p><strong>Berkumpul, bermain, memanfaatkan barang bekas di taman. Mewujudkan imajinasi tentang sebuah kota.</strong></p>
<p>Kardus-kardus dan kotak-kotak bekas makanan bisa ikut tampil dalam sebuah panggung taman hijau. Mereka memperkenalkan diri sebagai sebuah kota yang padat. Kota dalam taman.</p>
<p>Lalu bagaimana jika robot, monster, dan berbagai mainan ikut hadir? Entahlah.<br />
Tapi yang pasti sebuah cerita dan peristiwa bisa terjadi.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/taman_1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1920" title="taman_1" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/taman_1.jpg" alt="" width="300" height="399" /></a>Kegiatan ini bertolak dari ide yang sederhana. Errik Irwan Wibowo, seorang arsitek muda, saat sedang bercengkerama di Lapangan Puputan Renon melihat kardus-kardus dan kotak makanan yang mau dibuang. “Rasanya sayang betul. Lalu tiba-tiba saja muncul imajinasi seolah yang saya pandangi bukanlah dus-dus dan kotak-kotak tak berguna, tapi tumpukan bangunan,” kata Errik.</p>
<p>Errik mengatakan ada banyak benda terbuang lain yang masih bisa diberi kesempatan tampil di taman. Mereka didandani layaknya bangunan yang gemar bersolek. “Menarik juga kalau orang-orang tak dikenal, yang malu-malu tapi ikut terlibat mendandani dus-dus dan kotak itu,” kata Errik.</p>
<p>Kegiatan ini merupakan pengembangan dari apa yang terjadi pada Minggu (29/4) sore lalu di Lapangan Renon. Errik dan kawan-kawannya mengumpulkan sejumlah barang bekas dan semua orang diajak merespons barang-barang yang disajikan: tusuk sate, robot, piring kertas. Beberapa orang menggunakan cat air di atas lembaran kertas.</p>
<p>Semuanya terjadi tanpa penulis cerita dan sutradara. Entah apa skenarionya, tak jadi soal. Tanpa komando, orang merayakan ruang (dan waktu) terbuka. Merasakan jadi manusia yang manusiawi di kota. “Pasti sesuatu akan terjadi dan kita tinggal mengikuti,” kata Errik.</p>
<p>Errik dan kawan-kawan merencanakan aktivitas kedua, Minggu sore berikutnya di Lapangan Renon. Bagi partisipan diharapkan membawa bahan-bahan yang bisa digunakan untuk meramaikan suasana. “Bisa bawa dus-dus, boleh cat air, kertas lipat, alat musik, camilan, kamera, mainan, apa saja. Bagus juga kalau barang-barang tak terduga yang baru ditemukan di sekitar itu bisa ikut digunakan” kata ia.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/taman_2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1919" title="taman_2" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/taman_2.jpg" alt="" width="300" height="401" /></a>Menurut Errik dalam kegiatan ini setiap orang akan merespons dengan caranya masing-masing. Mungkin akan ada yang bermusik, menari, bermain, atau membuat instalasi. “Silakan untuk menggambar atau menggunakan cat air di media kotak, lalu menata atau menempatkan. Ini seperti bermain dalam arsitektur atau susun massa,” kata Errik yang komik-komiknya sering menghiasi halaman akarumput.</p>
<p>Kota-kotaan dari kardus ini adalah sebuah peristiwa yang dibangun. “Harapannya akan ada orang-orang penasaran yang akhirnya kenalan, terlibat dan ikut berkreasi. Untuk yang sudah kenal bisa lebih akrab lagi. Selama proses itu bisa terjadi diskusi-diskusi menarik pula. Setidaknya ada hal aneh baru yang terjadi di lapangan itu. Kira-kira selesai ketika matahari menghilang,” kata Errik.</p>
<p><strong>Sebuah ajakan yang menggoda. Mari rayakan kota dalam taman.</strong><br />
<strong>Waktu:</strong> Minggu, 6 Mei 2012 mulai pukul 15 WITA<br />
<strong>Tempat:</strong> Lapangan Puputan Niti Mandala Renon. Berkumpul di Circle K depan Museum.<br />
<em>*Bawalah kardus bekas yang bisa diolah</em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/120505-imajinasi-kota-dalam-taman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nafka talks and responsible products presentation</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/170412-nafka-talks/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/170412-nafka-talks/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 04:02:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Little Tree]]></category>
		<category><![CDATA[nafka]]></category>
		<category><![CDATA[Patungan.net]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1894</guid>
		<description><![CDATA[Talks and responsible lifestyle products presentation by Nafka, Patungan.net and Wisnu Open Space. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Nafka-5X5-Talks.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-1895" style="border: 1px solid black;" title="Nafka_talks" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Nafka-5X5-Talks-1024x425.jpg" alt="" width="600" height="249" /></a><strong></strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Nafka – 2nd chance to be Better</strong><br />
<em><strong>Talks and responsible lifestyle products presentation</strong></em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Minggu 22 April 2012 | 2-4pm</strong><br />
di Little Tree Green Building Center<br />
Jl. Sunset Road No. 112x, Kuta &#8211; Bali</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Presentation and discussion sessions:</strong><br />
1. Responsible lifestyle product ideas by <a title="Kejutan visual Nafka" href="http://akarumput.com/environment/kejutan-nafka/"><span style="color: #008000;">NAFKA</span></a> | Ayip<br />
2. Financing creative and good projects by <a href="http://patungan.net" target="_blank"><span style="color: #008000;">Patungan.net</span></a> | Enrico Halim<br />
3. The making of Wisnu Open Space | Made Suarnatha</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/170412-nafka-talks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejutan visual Nafka</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/kejutan-nafka/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/kejutan-nafka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 08:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah & Polusi]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[nafka]]></category>
		<category><![CDATA[upcycle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1876</guid>
		<description><![CDATA[Produk upcycle sangat berpotensi menjadi aksesori-individual-tidak-ada-yang-punya-selain-saya.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Produk upcycle sangat berpotensi menjadi aksesori-individual-tidak-ada-yang-punya-selain-saya.</strong></p>
<p>Pekerjaan seorang desainer adalah memastikan sebuah model harus bisa dikonversi menjadi prototype kerja –cetak biru untuk manufaktur. Namun, sudah kodrat manusia untuk mengukir individualitas. Sejak tahun 1980an desainer mulai menyuntikkan “kromosom” identitas unik kepada produk berskala industri.</p>
<p>Masyarakat berpendapatan tinggi -yang merupakan target industri- mengisi lubang besar kebosanan hidup kesehariannya dengan membeli. Namun menjadi kebosanan baru apabila mereka memakai benda yang persis dengan orang lain. Era konsumsi seragam telah berlalu. Produksi massal terus dikonter oleh sesuatu yang benar-benar individual. Pseudo individual memang.</p>
<p>Pada periode 1980an juga, pertanyaan tentang kerusakan alam tidak lagi ekslusif dari para pejuang lingkungan. Seruan untuk menghentikan kehancuran hutan, polusi lingkungan, dan efek rumah kaca menjadi gerakan populer. Terminologi Eco, Green, dan Global Warming terus digemakan seiring pembicaraan pentingnya Penggunaan Ulang, Pengurangan dan Daur Ulang (Reuse – Reduce – Recycle).</p>
<p>Recycle dinilai terlalu mahal dan butuh energi besar. Maka merebak <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Upcycling" target="_blank"><span style="color: #339966;"><em>upcycle</em></span></a>, memanfaatkan barang tak terpakai menjadi memiliki kegunaan baru, seperti yang dilakukan <a title="Freitag (1): Sukses dengan terpal bekas" href="http://akarumput.com/featured/freitag-1-success-with-used-tarps/" target="_blank"><span style="color: #339966;">Freitag</span></a>. Di Bali digagas <a href="http://www.nafka.asia/" target="_blank"><span style="color: #339966;">Nafka</span></a>, sebuah laboratorium kreatif para desainer yang mengusung semangat menciptakan responsible lifestyle product. Pada Juni 2011, di Denpasar Nafka menggelar pameran perdana bertajuk Wonderground. Nafka kembali memamerkan kreasi para desainernya pada<a href="http://akarumput.com/environment/1889-sus-solutions-week/"> <span style="color: #339966;">Ecologically Sustainable Solutions Week 16 &#8211; 22 April 2012</span> </a>di Little Tree, Kuta Bali.</p>
<p>Penggunaan materi bekas membuat pekerjaan desainer Nafka terlokasi pada perancangan bentuk. Lalu sisanya, materi bekas memainkan perannya sebagai kejutan visual. Kita seperti melihat unsur karya montage atau kolase foto dari seniman Dadaisme pada aksesori seperti tas, sofa, partisi dan kap lampu dari bahan limbah reklame atau kemasan plastik bekas. Potongan gambar, nomor atau huruf terpotong, warna menumpuk.<br />
<a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Indah-Esjepe-Bungkisan-kupu.jpg"><img class="aligncenter" title="Indah-Esjepe-Bungkisan-kupu" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Indah-Esjepe-Bungkisan-kupu.jpg" alt="" width="600" height="379" /></a></p>
<p>Produk Nafka terlihat melebur batasan antara seni dan kerajinan dan mewujud sebagai aksesori kehidupan sehari-hari. Mereka atraktif bagi mata yang terlatih secara visual. Produk Nafka adalah kejutan menyenangkan di tengah dunia keseharian yang dipenuhi produk massal yang standar. Karena sumber daya bahan limbah terbatas, maka jumlah produksi pun tidak massal. Produk Nafka sangat berpotensi menjadi aksesori-individual-tidak-ada-yang-punya-selain-saya.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/5856923660_810a016e44.jpg"><img class="alignleft" title="Nafka design" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/5856923660_810a016e44.jpg" alt="" width="218" height="256" /></a>Produknya untuk ekspresi individualitas. Tapi produksinya dijalankan dengan semangat pengembangan komunitas. Nafka menjanjikan pengerjaan produknya kepada mitra kelompok-kelompok perajin. Perajin, seperti juga produsen tradisional lainnya kerap dimarjinalkan dalam belantara ekonomi distribusi.</p>
<p>Pada sistem perdagangan modern, tidak bisa dipungkiri kehadiran perantara atau pemasar. Ketika produsen dan konsumen terlalu berjarak hingga sulit mengakses satu sama lain, peran pemasar kian besar. Namun pihak perantara dagang kerap mendikte harga untuk memaksimalkan keuntungan. Produsen tidak punya daya tawar lebih untuk menjual dengan harga yang lebih menguntungkannya.</p>
<p>Ketidakadilan pemasaran ini hanya menguntungkan perantara dagang dan eksploitatif terhadap produsen. Di Bali, gejala ini telah berlangsung lama misalnya pada perdagangan barang seni atau kerajinan. Art shop menetapkan marjin keuntungan yang sangat tinggi, bisa mencapai 60 persen, atas produk perajin. Sampai ke tangan konsumen, kerajinan bisa menjadi mahal, namun nilai yang dinikmati produsen tak sebanding.<br />
Kemitraan Nafka dengan perajin dijalankan dengan semangat perdagangan yang adil (fair trade). Ini menjadi saluran cita-cita keberlanjutan (sustainability) yang tidak semata-mata untuk memurnikan lingkungan, tapi demi manusia.</p>
<p>Butuh kerja keras untuk memelihara prinsip fair trade sebagai aktivitas ekonomi murni. Sehingga tidak menjadi “asal fair trade.” Dibeli karena kualitas bukan karena dikasihani.</p>
<p>Bila upcycling menjadi kegemaran yang mewabah, apakah benda-benda upcycle akan memiliki nilai ekonomi yang spesial? Setiap orang pasti bisa melihat benda-benda tidak terpakai di sekitarnya dan mentransformasinya ke bentuk dan kegunaan lain. Lantas akan adakah pasar bagi produk Nafka?</p>
<p>Di sini lah sebuah sistem bernama brand –yang kerap misterus- bekerja. Benda tidak sekadar diukur dalam perspektif utilitarian atau manfaat semata. Masyarakat urban tetap ingin berkomunikasi meski membutuhkan deklarasi individualitas di tengah perasaan disorientasi kesendirian hidupnya. Brand adalah tawarannya.</p>
<p>Brand menjadi alat interaksi, sebuah perayaan kebersamaan meski tanpa komunikasi. Tanpa bertukar pesan. Sebab brand adalah pesan itu sendiri.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Nafka-5X5.jpg"><img class="size-full wp-image-1880 aligncenter" style="border: 0.1px solid black;" title="Nafka-poster" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Nafka-5X5.jpg" alt="" width="600" height="852" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/kejutan-nafka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akanoma, anomali sebuah biro arsitektur (2)</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/070412-akanoma-anomali-biro-arsitektur-2/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/070412-akanoma-anomali-biro-arsitektur-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 07:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Marsiela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[akanoma]]></category>
		<category><![CDATA[architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1842</guid>
		<description><![CDATA[Dari pinggiran kota Bandung, Akanoma membuat arsitektur tidak menjadi privilese bagi orang kaya.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1844" title="Tampak belakang studio." src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma2.jpg" alt="" width="601" height="401" /></a></p>
<p><strong>Dari pinggiran kota Bandung, Akanoma membuat arsitektur tidak menjadi privilese bagi orang kaya.</strong></p>
<p>Kebersahajaan Studio Akanoma tidak bisa dilepaskan dari idealisme Yu Sing sebagai seorang arsitek. Menurut dia, setiap orang berhak bertumbuh dan berkembang di dalam rumah yang inspiratif dan menyenangkan. Sayangnya, masyarakat masih memandang jasa arsitek hanya untuk mereka yang kaya.</p>
<p>Menurut dia, masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah juga berhak mendapatkan jasa arsitek dalam pembangunan rumahnya. “Peran arsitek bisa memberi pengaruh membentuk rumah itu jadi banyak sensasi ruang yang berbeda-beda,” kata pengagum mendiang Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, arsitek dan budayawan yang akrab dipanggil Romo Mangun itu.</p>
<p>Minat Yu Sing mendesain rumah murah berawal dari permintaan untuk merancang rumah paman dari seorang teman kerjanya. Dengan anggaran kurang dari Rp60 juta, Yu Sing memanfaatkan kembali bahan-bahan dari rumah yang dibongkar.</p>
<p>Rumah di daerah Caringin, Bandung itu dia desain sebagai rumah tumbuh, yang bisa dibangun bertahap sesuai dengan ketersediaan dana pemilik.</p>
<p>Rumah dibuat bertingkat dua, agar masih tersedia ruang terbuka hijau dan daerah resapan. Dinding dibangun dengan beton bertulang agar tahan gempa. Bahan fiber semen digunakan untuk atap, agar lebih murah. Atap pun didesain agar bisa menampung air hujan, yang melalui proses penyaringan sederhana, akan dapat digunakan lagi.</p>
<p>Yang membuat rumah ini unik, bekas genting rumah lama dipakai untuk menutupi dinding batu bata rumah bangunan baru. Karakter warna acak pada genting menciptakan pola yang menarik. “Saya mau membantu karena saya juga susah membangun rumah. Dana terbatas. Dari sana mulai bantu rumah murah dan buat tulisan eksplorasi rumah murah,” kata dia.</p>
<p>Di ujung tulisannya, Yu Sing menyebut cita-citanya untuk mendesain 100 rumah murah. “Banyak kalangan menengah bawah yang perlu peran arsitek tapi selama ini kurang terlayani. Saya ambil komitmen untuk membantu itu,” kata Yu Sing.</p>
<p>Ternyata tulisan itu mendapatkan respon luar biasa. “Pada tahun pertama saja ada 80 keluarga yang menghubungi saya,” ujar dia.</p>
<p>Calon kliennya datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Papua dan Kalimantan. Mereka menghubungi Yu Sing lewat telepon dan surat elektronik. “Dari 80 keluarga itu yang akhirnya dikerjakan sekitar 20 rumah, tapi tidak semuanya jadi juga. Alasannya uangnya terpakai, jadi ditunda (membangun rumah),” ujar dia.</p>
<p>Untuk membantu desain rumah murah ini, Yu Sing mematok fee jasa sebesar tiga persen dari nilai total proyek. Patokan harga itu berlaku buat mereka yang membangun rumah dengan kisaran biaya Rp 250 juta ke bawah. Kalau sudah lebih dari itu, dikenakan fee sebesar 5-7 persen sesuai dengan standar di Ikatan Arsitektur Indonesia.</p>
<p>“Selama ini, mereka yang mampu saja tidak semuanya menggunakan jasa arsitektur, jadi wajar kalau buat rumah murah harus bisa menjangkau kalangan bawah.”</p>
<p>Para arsitek di Studio Akanoma juga punya konsep lain untuk membantu desain rumah murah seperti yang mereka kerjakan sekarang ini di daerah Dago Giri, Kabupaten Bandung. Rumah murah itu milik Uway, seorang tukang ojek. Pembangunan rumah itu diproyeksikan menelan dana Rp27 juta. Untuk desain rumah Uway ini, Studio Akanoma tidak menarik biaya jasa. “Komitmen kami untuk yang kemampuan dananya kurang dari Rp40 juta, kita buatkan desain secara gratis,” kata dia.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/rumah_yu_sing.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1854" title="rumah_yu_sing" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/rumah_yu_sing.jpg" alt="" width="600" height="258" /></a></p>
<p>Namun Uway tidak memiliki uang untuk membangun rumahnya yang sudah tidak layak huni itu. Bersama kawan-kawannya, Yu Sing mengagas konsep donasi untuk membantu Uway membangun rumah tumbuh yang lantai satunya berukuran 4 x 6 meter.</p>
<p>“Kami membantunya mencari donatur dengan cara menjual desain di jejaring sosial. Sampai sekarang donasinya masih berjalan. Dari kebutuhan Rp27 juta, Uway bisa menyediakan sendiri sekitar Rp10 juta, jadi tinggal dicari sisanya, Rp17 juta,” kata Yu Sing.</p>
<p>Apabila seluruh donasi itu sudah terkumpul dan pembangunan rumah selesai, maka Uway harus menggantinya dengan cara mencicil. Harapannya, donasi itu bisa digunakan untuk orang lain yang membutuhkan dana untuk membangun rumah murah dengan cara serupa.</p>
<p>Yu Sing mendapatkan kepuasan tersendiri apabila berhasil membantu orang lain untuk membuat rumah yang sesuai dengan kepribadiannya. Karena desain rumah untuk satu orang belum tentu cocok untuk orang lain. “Desain rumah harus kuat, sesuai konteks. Harus dieksplorasi agar rumahnya inspiratif dan menyenangkan. Ekstrimnya kalau tempat hidup sumpek itu akan pengaruh ke mental dan pikiran,” kata ia.</p>
<p>Untuk menularkan ide serupa, Yu Sing mencoba membuat jaringan dengan mengajak arsitek lain dari luar Bandung. Pembentukan jaringan ini tidak lain untuk memenuhi harapan masyarakat di luar Bandung yang ingin membangun rumah murah. “Sekarang sudah ada teman dari Jakarta, Depok, Balikpapan, dan juga di Semarang yang saya ajak kolaborasi. Idealnya di setiap daerah ada, sehingga arsiteknya bisa bertemu dengan klien, melihat lokasi dan membantu pengawasan saat pembangunan,” kata Yu Sing.</p>
<p>Jaringan arsitek di daerah-daerah dikelola lewat internet. Sehingga, nantinya setiap arsitek yang bersedia membantu desain dan membangun rumah murah itu bisa terpantau dengan mudah. “Kalau ada arsitek senior yang mau membantu dan setahun hanya mau mengambil tiga rumah saja, dia tinggal buka statusnya bisa membantu,” terangnya</p>
<p>Yu Sing optimis konsep ini bisa berjalan karena dia meyakini dalam diri setiap orang ada semangat untuk berbagi. Setidaknya semangat itu yang dia gunakan untuk menjalankan keberpihakan dalam profesinya. Tetap mengakar dan bersikap berbeda atau menjadi anomali justru bisa lebih memberi manfaat bagi orang lain.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/070412-akanoma-anomali-biro-arsitektur-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akanoma, anomali sebuah biro arsitektur (1)</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/0604212-akanoma-anomali-biro-arsitektur-1/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/0604212-akanoma-anomali-biro-arsitektur-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 06:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Marsiela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[akanoma]]></category>
		<category><![CDATA[architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Yu Sing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1831</guid>
		<description><![CDATA[Yu Sing memberi contoh efektif arsitektur yang memanfaatkan material bekas dan ramah lingkungan. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yu Sing memberi contoh efektif arsitektur yang memanfaatkan material bekas dan ramah lingkungan.</strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1833" title="Dapur yang juga warung" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma3.jpg" alt="" width="598" height="399" /></a></p>
<p>“Cintai Produk Indonesia Kalau Bisa 100 %”</p>
<p>Pesan itu tertulis dengan kapur pada sebidang papan tulis di sisi luar sebuah dapur. Jendela lipatnya membuat dapur itu tampak seperti warung. Gelas-gelas, panci, talenan, katel, dan irus atau alat untuk mengaduk masakan dari tempurung kelapa tampak tergantung di sana.</p>
<p>Kesan warung itu semakin lengkap dengan bangku panjang dari bambu yang ditemoatkan di luar dapur. Di dalam, kerat-kerat minuman bekas berwarna kuning dan merah, disusun untuk menyimpan bumbu dapur dan bahan-bahan masakan.</p>
<p>Dapur itu terletak di samping pintu masuk Studio Akanoma. Yu Sing Lim (35 tahun) bersama Benyamin Narkan, Anjar Primasetra, Peter Antonius, Iwan Gunawan, Wilfrid, dan Yopie Herdiansyah menggunakan joglo sebagai bangunan utama studionya. Mereka memperlakukannya dengan cara yang berbeda, menjadikan joglo sebagai rumah panggung, seperti rumah tradisional di Kalimantan.</p>
<p>Bangunan khas Jawa ini sudah dimodifikasi pada bagian dinding-dindingnya. Sebagai pengganti dinding kayu, mereka memasang daun jendela yang bilah-bilahnya diisi triplek berwarna-warni dan kaca nako. Pemandangan ini terlihat mengelilingi joglo.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1834" title="Suasana kerja" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma7.jpg" alt="" width="600" height="384" /></a></p>
<p>Di bagian dalamnya, tidak ada sekat. Meja-meja disusun berdampingan dengan komputer di atasnya. Para arsitek itu bekerja di dalam studio dengan suasana rumahan. Empat pilar di dalam joglo berfungsi ganda sebagai rak buku. Untuk penyimpanan dokumen, digunakan keranjang plastik bekas yang biasanya dipakai untuk menyimpan sayuran di pasar-pasar.</p>
<p>Kehadiran bambu di studio ini tampak mendominasi. Perancangnya seperti mengoptimalkan kelebihan dari bambu yang elastis sekaligus kuat. Selain menjadi alas studio, bambu-bambu berukuran besar dipakai sebagai kolom pada bangunan.</p>
<p>Optimalisasi bambu itu juga terlihat pada bagian dinding ruangan yang di bagian belakang studio. Di situ ada ruangan untuk bertemu dengan klien dan kamar tidur untuk staf serta tamu yang ditutup dengan bambu-bambu yang dipasang vertikal dan horizontal. Untuk pemasangan horizontal, menggunakan bambu berbagai ukuran, dari yang diameternya sebesar kelingking sampai yang sebesar kepalan tangan orang dewasa.</p>
<p>Penggunaan barang bekas juga tampak di kamar mandi. Dia membuat kombinasi botol-botol kaca yang sudah tidak terpakai dengan dinding bata yang terekspos teksturnya. Selain berfungsi sebagai gantungan baju, botol-botol itu bisa merefleksikan cahaya alami ke dalam kamar mandi.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma10.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1835" title="Kaca belakang mobil" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma10.jpg" alt="" width="265" height="398" /></a>Untuk tangga, Yu Sing juga memakai bambu. “Murah dan itu alternatif yang sangat baik,” kata dia. Bagian tangga yang ada di sisi kanan depan bangunan itu ditutupi dengan kaca bekas mobil. Kaca-kaca cembung itu dijepit dan diikat dengan kawat ke tiang-tiang bambu. “Kita perlu area itu transparan. Ternyata di kampung sini ada pengepul (penampung) kaca mobil bekas, jadi kita foya-foya dengan itu. Lumayan murah harganya,” kata arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung ini.</p>
<p>Bangunan dua lantai yang posisinya berada pada ketinggian 700 meter dari permukaan air laut ini terlihat menjulang di tengah-tengah perkampungan.</p>
<p>Studio di atas lahan 650 meter persegi ini jauh dari suasana perkotaan, tepatnya di Jalan Tipar Timur, Desa Laksana Mekar, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Lokasinya lebih dekat ke ruas tol Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi) daripada ke Kota Bandung. “Karena dana kita terbatas,” kata Yu Sing.</p>
<p>Sebelumnya, Yu Sing mengontrak rumah sebagai studionya. Namun biaya kontrak itu dirasakan cukup membebani. Pada saat bersamaan, Iwan, drafter Akanoma yang mencari tanah buat membangun rumah menawarkan sebidang lahan di sebelah barat Kota Bandung. “Dia cari tanah dan kebetulan tanahnya besar. Akhirnya <em>sharing</em> dibagi tiga dan (studio) dibangun semurah mungkin,” ungkap dia.</p>
<p>Komponen utama studio, joglo yang pada bagian puncaknya ada dua patung ayam itu dibeli dari Solo. “Joglo kita angkut setelah berbulan-bulan dibeli. Karena dulu belum ada uang untuk membangun kantor. Waktu beli joglo, kantor ini malah belum dirancang,” terang penulis buku Mimpi Rumah Murah ini.</p>
<p>Studio Akanoma menjadi representasi dari misi Yu Sing sebagai seorang arsitek. Dia percaya, arsitektur harus mengakar. Bagi Yu Sing, joglo sebagai komponen utama bangunan dengan modifikasi bambu menggambarkan peranan arsitektur Nusantara pada masa kini.</p>
<p>“Saya punya harapan mewujudkan kampung kota lestari. Supaya perkampungan tidak tergusur dan menjadi korban pembangunan. Sudah seharusnya perkampungan tetap ada dan masyarakatnya bisa hidup sejahtera dan nyaman. Studio kami ada di kampung sehingga kami menyediakan perpustakaan dan ruang sosial buat warga,” kata Yu Sing merujuk pada selasar dan perpustakaan umum di bawah studionya.</p>
<p>Sayangnya, kata Yu Sing, masyarakat di sekitar studio itu belum pernah menggunakan ruang sosial itu untuk pertemuan. “Kalau mereka butuh, silakan memakai tempatnya. Yang sudah berjalan itu perpustakaan, hampir setiap sore ada anak-anak yang membaca buku di sana. Buku-bukunya itu sumbangan dari orang-orang,” ungkap dia.</p>
<p>Yu Sing juga berupaya menyesuaikan bangunannya menjadi ramah lingkungan. Arsitek yang membiarkan rambut panjangnya terurai ini sengaja memperpanjang tritisan atap joglo, kemudian memasang beberapa batang pipa besi secara miring membentuk huruf V sebagai penyangganya.</p>
<p>Pipa-pipa ini menyambung pada talang di sekeliling atap. Fungsinya sebagai penyangga sekaligus pipa untuk mengalirkan air hujan ke sumur resapan.</p>
<p>Selain ramah lingkungan, Akanoma juga berusaha mencukupi kebutuhan pangan sendiri dengan menanam tanaman sayuran di sekililing studio.</p>
<p>“Sudah ada kemangi, kacang panjang, terong, leunca, <em>cengek</em> (cabe rawit), timun suri, singkong, kenikir, dan lain-lain. Ada juga kolam buat merendam bambu yang sekarang jadi tempat ternak ikan nila. Sudah sering dimakan juga. Karena kalau mau keluar agak jauh, akhirnya masak sendiri” kata dia.</p>
<p><iframe src="http://player.vimeo.com/video/33729773?byline=0&amp;portrait=0" frameborder="0" width="601" height="338"></iframe></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/0604212-akanoma-anomali-biro-arsitektur-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>52 Wednesdays &#8211; pameran foto</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/040412-52-wednesdays/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/040412-52-wednesdays/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2012 04:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>OliviaKS</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[52 Wednesdays]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Dini Hari]]></category>
		<category><![CDATA[Lioni Beatrik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1820</guid>
		<description><![CDATA[Pameran foto yang dikirimkan kepada seseorang selama 52 rabu. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kamu duduk bersebelahan dengan orang yang tidak kamu kenal dalam suatu perjalanan panjang di dalam pesawat, lalu mengobrol bersama mereka? Mungkin kamu akan menceritakan hal-hal yang tidak kamu beritahukan pada orang terdekat sekalipun, karena kemungkinan kamu tidak akan bertemu mereka lagi. Ini juga karena mereka mungkin bisa memberi pencerahan yang lebih obyektif. Orang asing tidak akan peduli jika mereka melukai perasaan kamu. Kamu lebih mungkin tidak tersinggung dengan apa yang kamu bahas karena kalian tidak saling kenal. Hanya kebetulan duduk bersebelahan.</p>
<p>Lioni Beatrik jatuh cinta dengan seseorang yang dia kenal dalam sebuah pekerjaan. Namanya Alex. Dia menceritakan padanya mengenai perasaannya. Namun, Alex menolaknya. Setelah pertemuan singkat mereka, Alex terbang ke negaranya. Lioni, merindukannya, lalu dia mulai mengirimkan foto pada Alex. Suatu hari Rabu, dan Rabu berikutnya. Setelah beberapa Rabu, dia memutuskan untuk menjadikan kegiatan ini sebagai sebuah proyek. Selama satu tahun dia mengirim foto ke Alex setiap hari Rabu lewat email. Proyek 52 Rabu, atau 52 Wednesdays.</p>
<p>Pameran foto Lioni Beatrik, 52wednesdays, telah dipamerkan di dua kota. Pameran pertama tanggal 14 Januari di Bandung, kota di mana Lioni berasal. Malam itu, orang berkumpul di Common Room, Jalan Kyai Gede Utama, tempat pameran diadakan. Di acara ini juga diadakan Stand Up Tragedy, kebalikan Stand Up Comedy yang sedang tren. Alih-alih menyampaikan lelucon pada penonton, di sini siapa pun bisa berbagi ceritanya, menyanyi, memberi pertunjukkan, atau hanya menangis di depan penonton.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/52W-BDG.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1827" title="52W-BDG" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/52W-BDG.jpg" alt="" width="600" height="403" /></a></p>
<p>Pameran berikutnya diadakan sebulan kemudian di Teaspoon, cafe baru di Jalan Benda 54J, Kemang, Jakarta. Pameran kali ini tidak terbuka seperti pameran yang di Bandung. Puncak acaranya adalah pada hari penutupan, pas di hari Valentine.</p>
<p>52wednesdays adalah pameran cinta dalam bentuknya sendiri. Kamu mungkin berpikir ini terdengar klise. Cinta itu untuk dibagi, jika bukan dengan seorang bisa dengan orang lain bahkan orang yang tidak dikenal.</p>
<p>Keinginan untuk berbagi perasaan kadang lebih sulit jika dibagi dengan teman. Teman yang sudah terlalu dekat dengan kita cenderung ingin melindungi dan menjaga agar kamu tidak disakiti, atau mungkin sebenarnya kamu tidak ingin dihakimi oleh mereka. Jadi pilihan terakhirnya, yang sering tidak dipikirkan, adalah membagi bersama orang yang tidak dikenal. Lioni memulai Artist Talk, tempat diskusi di mana dia berbagi cerita, dan memberi kesempatan untuk penonton bertanya mengenai 52Wednesdays. Manusia adalah makhluk sosial. Tempatkan mereka bersama dan kemungkinan besar mereka akan berkomunikasi. Orang suka ngobrol. Orang suka saat diberi perhatian. Dan suka mendengar cerita. Stand Up Tragedy sekali lagi diadakan. Orang-orang yang hadir dalam penutupan pameran ini ikut serta, berbagi cerita, membaca puisi, dan bermain musik.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/52W-JKT.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1828" title="52W-JKT" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/52W-JKT.jpg" alt="" width="331" height="442" /></a>Karena inilah 52wednesdays menyegarkan. Isu pribadimu mungkin membebani diri kamu, bahkan berapa pun banyaknya teman yang kamu milliki terkadang kamu merasa tidak bisa berbagi dengan mereka. Pameran ini memberi wadah untuk berbagi di depan penonton. Artist talk memberi kesempatan bagi Lioni untuk berkomunikasi dengan orang yang beragam, dari teman hingga orang yang tidak dikenali.</p>
<p>Banyak orang tidak tahu sebenarnya pameran 52wednesdays itu bentuknya seperti apa. Tetapi berkumpul bersama di sebuah tempat yang tidak terlalu besar dengan beberapa orang yang datang pada penutupan pameran, membuat acara ini menjadi lebih dekat, hangat dan menyenangkan mengingat itu diadakan tepat di hari Valentine dan pameran ini bisa menjadi alternatif terutama bagi yang tidak berencana untuk kencan romantis.</p>
<p>Sebuah kota terkadang terlalu besar dan terbagi menjadi banyak ruang publik yang cenderung eksklusif atau terlihat eksklusif untuk orang-orang yang merasa tempat itu tidak cocok dirinya. Banyak acara untuk orang kreatif, blogger, dll. 52wednesdays menyediakan ruang yang lebih besar untuk tema universal yang pernah dialami dalam hidup semua orang. Cinta, patah hati, melepaskan.</p>
<p>Berbeda dengan pameran foto kebanyakan yang menunjukkan keterampilan fotografer dan kesempurnaan gambar yang diambil, foto-foto Lioni terlihat lebih berwarna dan ringan, seperti bermain. Tetapi urutan 52 foto yang dikirim selama 52 rabu, selama satu tahun, juga menyentuh hal-hal religi dan hari raya nasional. Sekilas, foto-foto ini memberikan kesan lucu dan jahil, tetapi jika kamu melihat lebih lama tersembunyi perasaan sedih, putus asa, dan rindu.</p>
<p>Pada hari Valentine tanpa bunga, coklat, atau warna merah muda; 52wednesdays membuat banyak orang yang hadir merasa berada di rumah. Mereka merasa boleh membagi putus hati bersama orang yang tidak mereka kenal. Merasa boleh membagi apa yang mereka rasakan, walaupun hanya untuk satu malam. Malam itu tidak memalukan untuk ditolak. Bacalah ceritamu, bagi pengalamanmu, bernyanyilah, main musik, baca puisi, apa sajalah. Jika kamu hanya ingin berdiri dan menangis di depan penonton, tidak akan ada yang menghakimimu.</p>
<p>Rasanya mirip dengan membagi perasaanmu dengan orang yang kamu taksir, menakutkan untuk berdiri dan bicara di depan banyak orang. Namun, seperti membagi cerita hidupmu dengan orang yang kamu tidak kenal di pesawat, rasanya juga melegakan.</p>
<p>Bagi kita yang terlalu biasa berkomunikasi melalui jejaring sosial, dialog tatap muka adalah sesuatu yang langka dan berharga. Melihat orang menghabiskan waktu bersama di sebuah kafe atau restoran dan tidak terpaku pada perangkat mobile merupakan hal yang tak ternilai harganya sekarang.</p>
<p>Seni milik semua orang. Bisa diaplikasikan dalam bentuk apapun, termasuk fotografi. Seringkali orang tidak memperhatikan seni karena mereka merasa itu di luar pemahamannya atau terlalu mahal untuk diakses. 52wednesdays menunjukkan bahwa seni bisa menyentuh orang melalui tema universal, cinta, melalui visual yang bisa dinikmati semua orang, fotografi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/52W.jpg"><img class="size-full wp-image-1822 alignright" title="52W Bali" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/52W.jpg" alt="" width="364" height="374" /></a><strong>52 Wednesdays is coming to Bali!</strong></p>
<p>Featuring artist talk, stand up tragedy, dan live musik oleh <a href="http://dialogdinihari.com/" target="_blank">Dialog Dini Hari</a>.</p>
<p><strong>Rabu, 4 April 2012</strong><br />
pk. 19.00 &#8211; selesai<br />
di Art Cafe Seminyak Bali<br />
jalan saridewi 17 seminyak 80361<br />
email: info@iloveartcafecom<br />
phone: +62 361 736750</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/040412-52-wednesdays/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
