<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; Desain</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/category/inspiration/design/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Nafka talks and responsible products presentation</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/170412-nafka-talks/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/170412-nafka-talks/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 04:02:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Little Tree]]></category>
		<category><![CDATA[nafka]]></category>
		<category><![CDATA[Patungan.net]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1894</guid>
		<description><![CDATA[Talks and responsible lifestyle products presentation by Nafka, Patungan.net and Wisnu Open Space. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Nafka-5X5-Talks.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-1895" style="border: 1px solid black;" title="Nafka_talks" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Nafka-5X5-Talks-1024x425.jpg" alt="" width="600" height="249" /></a><strong></strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Nafka – 2nd chance to be Better</strong><br />
<em><strong>Talks and responsible lifestyle products presentation</strong></em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Minggu 22 April 2012 | 2-4pm</strong><br />
di Little Tree Green Building Center<br />
Jl. Sunset Road No. 112x, Kuta &#8211; Bali</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Presentation and discussion sessions:</strong><br />
1. Responsible lifestyle product ideas by <a title="Kejutan visual Nafka" href="http://akarumput.com/environment/kejutan-nafka/"><span style="color: #008000;">NAFKA</span></a> | Ayip<br />
2. Financing creative and good projects by <a href="http://patungan.net" target="_blank"><span style="color: #008000;">Patungan.net</span></a> | Enrico Halim<br />
3. The making of Wisnu Open Space | Made Suarnatha</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/170412-nafka-talks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejutan visual Nafka</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/kejutan-nafka/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/kejutan-nafka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 08:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah & Polusi]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[nafka]]></category>
		<category><![CDATA[upcycle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1876</guid>
		<description><![CDATA[Produk upcycle sangat berpotensi menjadi aksesori-individual-tidak-ada-yang-punya-selain-saya.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Produk upcycle sangat berpotensi menjadi aksesori-individual-tidak-ada-yang-punya-selain-saya.</strong></p>
<p>Pekerjaan seorang desainer adalah memastikan sebuah model harus bisa dikonversi menjadi prototype kerja –cetak biru untuk manufaktur. Namun, sudah kodrat manusia untuk mengukir individualitas. Sejak tahun 1980an desainer mulai menyuntikkan “kromosom” identitas unik kepada produk berskala industri.</p>
<p>Masyarakat berpendapatan tinggi -yang merupakan target industri- mengisi lubang besar kebosanan hidup kesehariannya dengan membeli. Namun menjadi kebosanan baru apabila mereka memakai benda yang persis dengan orang lain. Era konsumsi seragam telah berlalu. Produksi massal terus dikonter oleh sesuatu yang benar-benar individual. Pseudo individual memang.</p>
<p>Pada periode 1980an juga, pertanyaan tentang kerusakan alam tidak lagi ekslusif dari para pejuang lingkungan. Seruan untuk menghentikan kehancuran hutan, polusi lingkungan, dan efek rumah kaca menjadi gerakan populer. Terminologi Eco, Green, dan Global Warming terus digemakan seiring pembicaraan pentingnya Penggunaan Ulang, Pengurangan dan Daur Ulang (Reuse – Reduce – Recycle).</p>
<p>Recycle dinilai terlalu mahal dan butuh energi besar. Maka merebak <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Upcycling" target="_blank"><span style="color: #339966;"><em>upcycle</em></span></a>, memanfaatkan barang tak terpakai menjadi memiliki kegunaan baru, seperti yang dilakukan <a title="Freitag (1): Sukses dengan terpal bekas" href="http://akarumput.com/featured/freitag-1-success-with-used-tarps/" target="_blank"><span style="color: #339966;">Freitag</span></a>. Di Bali digagas <a href="http://www.nafka.asia/" target="_blank"><span style="color: #339966;">Nafka</span></a>, sebuah laboratorium kreatif para desainer yang mengusung semangat menciptakan responsible lifestyle product. Pada Juni 2011, di Denpasar Nafka menggelar pameran perdana bertajuk Wonderground. Nafka kembali memamerkan kreasi para desainernya pada<a href="http://akarumput.com/environment/1889-sus-solutions-week/"> <span style="color: #339966;">Ecologically Sustainable Solutions Week 16 &#8211; 22 April 2012</span> </a>di Little Tree, Kuta Bali.</p>
<p>Penggunaan materi bekas membuat pekerjaan desainer Nafka terlokasi pada perancangan bentuk. Lalu sisanya, materi bekas memainkan perannya sebagai kejutan visual. Kita seperti melihat unsur karya montage atau kolase foto dari seniman Dadaisme pada aksesori seperti tas, sofa, partisi dan kap lampu dari bahan limbah reklame atau kemasan plastik bekas. Potongan gambar, nomor atau huruf terpotong, warna menumpuk.<br />
<a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Indah-Esjepe-Bungkisan-kupu.jpg"><img class="aligncenter" title="Indah-Esjepe-Bungkisan-kupu" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Indah-Esjepe-Bungkisan-kupu.jpg" alt="" width="600" height="379" /></a></p>
<p>Produk Nafka terlihat melebur batasan antara seni dan kerajinan dan mewujud sebagai aksesori kehidupan sehari-hari. Mereka atraktif bagi mata yang terlatih secara visual. Produk Nafka adalah kejutan menyenangkan di tengah dunia keseharian yang dipenuhi produk massal yang standar. Karena sumber daya bahan limbah terbatas, maka jumlah produksi pun tidak massal. Produk Nafka sangat berpotensi menjadi aksesori-individual-tidak-ada-yang-punya-selain-saya.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/5856923660_810a016e44.jpg"><img class="alignleft" title="Nafka design" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/5856923660_810a016e44.jpg" alt="" width="218" height="256" /></a>Produknya untuk ekspresi individualitas. Tapi produksinya dijalankan dengan semangat pengembangan komunitas. Nafka menjanjikan pengerjaan produknya kepada mitra kelompok-kelompok perajin. Perajin, seperti juga produsen tradisional lainnya kerap dimarjinalkan dalam belantara ekonomi distribusi.</p>
<p>Pada sistem perdagangan modern, tidak bisa dipungkiri kehadiran perantara atau pemasar. Ketika produsen dan konsumen terlalu berjarak hingga sulit mengakses satu sama lain, peran pemasar kian besar. Namun pihak perantara dagang kerap mendikte harga untuk memaksimalkan keuntungan. Produsen tidak punya daya tawar lebih untuk menjual dengan harga yang lebih menguntungkannya.</p>
<p>Ketidakadilan pemasaran ini hanya menguntungkan perantara dagang dan eksploitatif terhadap produsen. Di Bali, gejala ini telah berlangsung lama misalnya pada perdagangan barang seni atau kerajinan. Art shop menetapkan marjin keuntungan yang sangat tinggi, bisa mencapai 60 persen, atas produk perajin. Sampai ke tangan konsumen, kerajinan bisa menjadi mahal, namun nilai yang dinikmati produsen tak sebanding.<br />
Kemitraan Nafka dengan perajin dijalankan dengan semangat perdagangan yang adil (fair trade). Ini menjadi saluran cita-cita keberlanjutan (sustainability) yang tidak semata-mata untuk memurnikan lingkungan, tapi demi manusia.</p>
<p>Butuh kerja keras untuk memelihara prinsip fair trade sebagai aktivitas ekonomi murni. Sehingga tidak menjadi “asal fair trade.” Dibeli karena kualitas bukan karena dikasihani.</p>
<p>Bila upcycling menjadi kegemaran yang mewabah, apakah benda-benda upcycle akan memiliki nilai ekonomi yang spesial? Setiap orang pasti bisa melihat benda-benda tidak terpakai di sekitarnya dan mentransformasinya ke bentuk dan kegunaan lain. Lantas akan adakah pasar bagi produk Nafka?</p>
<p>Di sini lah sebuah sistem bernama brand –yang kerap misterus- bekerja. Benda tidak sekadar diukur dalam perspektif utilitarian atau manfaat semata. Masyarakat urban tetap ingin berkomunikasi meski membutuhkan deklarasi individualitas di tengah perasaan disorientasi kesendirian hidupnya. Brand adalah tawarannya.</p>
<p>Brand menjadi alat interaksi, sebuah perayaan kebersamaan meski tanpa komunikasi. Tanpa bertukar pesan. Sebab brand adalah pesan itu sendiri.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Nafka-5X5.jpg"><img class="size-full wp-image-1880 aligncenter" style="border: 0.1px solid black;" title="Nafka-poster" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Nafka-5X5.jpg" alt="" width="600" height="852" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/kejutan-nafka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akanoma, anomali sebuah biro arsitektur (2)</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/070412-akanoma-anomali-biro-arsitektur-2/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/070412-akanoma-anomali-biro-arsitektur-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 07:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Marsiela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[akanoma]]></category>
		<category><![CDATA[architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1842</guid>
		<description><![CDATA[Dari pinggiran kota Bandung, Akanoma membuat arsitektur tidak menjadi privilese bagi orang kaya.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1844" title="Tampak belakang studio." src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma2.jpg" alt="" width="601" height="401" /></a></p>
<p><strong>Dari pinggiran kota Bandung, Akanoma membuat arsitektur tidak menjadi privilese bagi orang kaya.</strong></p>
<p>Kebersahajaan Studio Akanoma tidak bisa dilepaskan dari idealisme Yu Sing sebagai seorang arsitek. Menurut dia, setiap orang berhak bertumbuh dan berkembang di dalam rumah yang inspiratif dan menyenangkan. Sayangnya, masyarakat masih memandang jasa arsitek hanya untuk mereka yang kaya.</p>
<p>Menurut dia, masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah juga berhak mendapatkan jasa arsitek dalam pembangunan rumahnya. “Peran arsitek bisa memberi pengaruh membentuk rumah itu jadi banyak sensasi ruang yang berbeda-beda,” kata pengagum mendiang Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, arsitek dan budayawan yang akrab dipanggil Romo Mangun itu.</p>
<p>Minat Yu Sing mendesain rumah murah berawal dari permintaan untuk merancang rumah paman dari seorang teman kerjanya. Dengan anggaran kurang dari Rp60 juta, Yu Sing memanfaatkan kembali bahan-bahan dari rumah yang dibongkar.</p>
<p>Rumah di daerah Caringin, Bandung itu dia desain sebagai rumah tumbuh, yang bisa dibangun bertahap sesuai dengan ketersediaan dana pemilik.</p>
<p>Rumah dibuat bertingkat dua, agar masih tersedia ruang terbuka hijau dan daerah resapan. Dinding dibangun dengan beton bertulang agar tahan gempa. Bahan fiber semen digunakan untuk atap, agar lebih murah. Atap pun didesain agar bisa menampung air hujan, yang melalui proses penyaringan sederhana, akan dapat digunakan lagi.</p>
<p>Yang membuat rumah ini unik, bekas genting rumah lama dipakai untuk menutupi dinding batu bata rumah bangunan baru. Karakter warna acak pada genting menciptakan pola yang menarik. “Saya mau membantu karena saya juga susah membangun rumah. Dana terbatas. Dari sana mulai bantu rumah murah dan buat tulisan eksplorasi rumah murah,” kata dia.</p>
<p>Di ujung tulisannya, Yu Sing menyebut cita-citanya untuk mendesain 100 rumah murah. “Banyak kalangan menengah bawah yang perlu peran arsitek tapi selama ini kurang terlayani. Saya ambil komitmen untuk membantu itu,” kata Yu Sing.</p>
<p>Ternyata tulisan itu mendapatkan respon luar biasa. “Pada tahun pertama saja ada 80 keluarga yang menghubungi saya,” ujar dia.</p>
<p>Calon kliennya datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Papua dan Kalimantan. Mereka menghubungi Yu Sing lewat telepon dan surat elektronik. “Dari 80 keluarga itu yang akhirnya dikerjakan sekitar 20 rumah, tapi tidak semuanya jadi juga. Alasannya uangnya terpakai, jadi ditunda (membangun rumah),” ujar dia.</p>
<p>Untuk membantu desain rumah murah ini, Yu Sing mematok fee jasa sebesar tiga persen dari nilai total proyek. Patokan harga itu berlaku buat mereka yang membangun rumah dengan kisaran biaya Rp 250 juta ke bawah. Kalau sudah lebih dari itu, dikenakan fee sebesar 5-7 persen sesuai dengan standar di Ikatan Arsitektur Indonesia.</p>
<p>“Selama ini, mereka yang mampu saja tidak semuanya menggunakan jasa arsitektur, jadi wajar kalau buat rumah murah harus bisa menjangkau kalangan bawah.”</p>
<p>Para arsitek di Studio Akanoma juga punya konsep lain untuk membantu desain rumah murah seperti yang mereka kerjakan sekarang ini di daerah Dago Giri, Kabupaten Bandung. Rumah murah itu milik Uway, seorang tukang ojek. Pembangunan rumah itu diproyeksikan menelan dana Rp27 juta. Untuk desain rumah Uway ini, Studio Akanoma tidak menarik biaya jasa. “Komitmen kami untuk yang kemampuan dananya kurang dari Rp40 juta, kita buatkan desain secara gratis,” kata dia.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/rumah_yu_sing.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1854" title="rumah_yu_sing" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/rumah_yu_sing.jpg" alt="" width="600" height="258" /></a></p>
<p>Namun Uway tidak memiliki uang untuk membangun rumahnya yang sudah tidak layak huni itu. Bersama kawan-kawannya, Yu Sing mengagas konsep donasi untuk membantu Uway membangun rumah tumbuh yang lantai satunya berukuran 4 x 6 meter.</p>
<p>“Kami membantunya mencari donatur dengan cara menjual desain di jejaring sosial. Sampai sekarang donasinya masih berjalan. Dari kebutuhan Rp27 juta, Uway bisa menyediakan sendiri sekitar Rp10 juta, jadi tinggal dicari sisanya, Rp17 juta,” kata Yu Sing.</p>
<p>Apabila seluruh donasi itu sudah terkumpul dan pembangunan rumah selesai, maka Uway harus menggantinya dengan cara mencicil. Harapannya, donasi itu bisa digunakan untuk orang lain yang membutuhkan dana untuk membangun rumah murah dengan cara serupa.</p>
<p>Yu Sing mendapatkan kepuasan tersendiri apabila berhasil membantu orang lain untuk membuat rumah yang sesuai dengan kepribadiannya. Karena desain rumah untuk satu orang belum tentu cocok untuk orang lain. “Desain rumah harus kuat, sesuai konteks. Harus dieksplorasi agar rumahnya inspiratif dan menyenangkan. Ekstrimnya kalau tempat hidup sumpek itu akan pengaruh ke mental dan pikiran,” kata ia.</p>
<p>Untuk menularkan ide serupa, Yu Sing mencoba membuat jaringan dengan mengajak arsitek lain dari luar Bandung. Pembentukan jaringan ini tidak lain untuk memenuhi harapan masyarakat di luar Bandung yang ingin membangun rumah murah. “Sekarang sudah ada teman dari Jakarta, Depok, Balikpapan, dan juga di Semarang yang saya ajak kolaborasi. Idealnya di setiap daerah ada, sehingga arsiteknya bisa bertemu dengan klien, melihat lokasi dan membantu pengawasan saat pembangunan,” kata Yu Sing.</p>
<p>Jaringan arsitek di daerah-daerah dikelola lewat internet. Sehingga, nantinya setiap arsitek yang bersedia membantu desain dan membangun rumah murah itu bisa terpantau dengan mudah. “Kalau ada arsitek senior yang mau membantu dan setahun hanya mau mengambil tiga rumah saja, dia tinggal buka statusnya bisa membantu,” terangnya</p>
<p>Yu Sing optimis konsep ini bisa berjalan karena dia meyakini dalam diri setiap orang ada semangat untuk berbagi. Setidaknya semangat itu yang dia gunakan untuk menjalankan keberpihakan dalam profesinya. Tetap mengakar dan bersikap berbeda atau menjadi anomali justru bisa lebih memberi manfaat bagi orang lain.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/070412-akanoma-anomali-biro-arsitektur-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akanoma, anomali sebuah biro arsitektur (1)</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/0604212-akanoma-anomali-biro-arsitektur-1/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/0604212-akanoma-anomali-biro-arsitektur-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 06:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Marsiela</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[akanoma]]></category>
		<category><![CDATA[architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Yu Sing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1831</guid>
		<description><![CDATA[Yu Sing memberi contoh efektif arsitektur yang memanfaatkan material bekas dan ramah lingkungan. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yu Sing memberi contoh efektif arsitektur yang memanfaatkan material bekas dan ramah lingkungan.</strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1833" title="Dapur yang juga warung" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma3.jpg" alt="" width="598" height="399" /></a></p>
<p>“Cintai Produk Indonesia Kalau Bisa 100 %”</p>
<p>Pesan itu tertulis dengan kapur pada sebidang papan tulis di sisi luar sebuah dapur. Jendela lipatnya membuat dapur itu tampak seperti warung. Gelas-gelas, panci, talenan, katel, dan irus atau alat untuk mengaduk masakan dari tempurung kelapa tampak tergantung di sana.</p>
<p>Kesan warung itu semakin lengkap dengan bangku panjang dari bambu yang ditemoatkan di luar dapur. Di dalam, kerat-kerat minuman bekas berwarna kuning dan merah, disusun untuk menyimpan bumbu dapur dan bahan-bahan masakan.</p>
<p>Dapur itu terletak di samping pintu masuk Studio Akanoma. Yu Sing Lim (35 tahun) bersama Benyamin Narkan, Anjar Primasetra, Peter Antonius, Iwan Gunawan, Wilfrid, dan Yopie Herdiansyah menggunakan joglo sebagai bangunan utama studionya. Mereka memperlakukannya dengan cara yang berbeda, menjadikan joglo sebagai rumah panggung, seperti rumah tradisional di Kalimantan.</p>
<p>Bangunan khas Jawa ini sudah dimodifikasi pada bagian dinding-dindingnya. Sebagai pengganti dinding kayu, mereka memasang daun jendela yang bilah-bilahnya diisi triplek berwarna-warni dan kaca nako. Pemandangan ini terlihat mengelilingi joglo.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1834" title="Suasana kerja" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma7.jpg" alt="" width="600" height="384" /></a></p>
<p>Di bagian dalamnya, tidak ada sekat. Meja-meja disusun berdampingan dengan komputer di atasnya. Para arsitek itu bekerja di dalam studio dengan suasana rumahan. Empat pilar di dalam joglo berfungsi ganda sebagai rak buku. Untuk penyimpanan dokumen, digunakan keranjang plastik bekas yang biasanya dipakai untuk menyimpan sayuran di pasar-pasar.</p>
<p>Kehadiran bambu di studio ini tampak mendominasi. Perancangnya seperti mengoptimalkan kelebihan dari bambu yang elastis sekaligus kuat. Selain menjadi alas studio, bambu-bambu berukuran besar dipakai sebagai kolom pada bangunan.</p>
<p>Optimalisasi bambu itu juga terlihat pada bagian dinding ruangan yang di bagian belakang studio. Di situ ada ruangan untuk bertemu dengan klien dan kamar tidur untuk staf serta tamu yang ditutup dengan bambu-bambu yang dipasang vertikal dan horizontal. Untuk pemasangan horizontal, menggunakan bambu berbagai ukuran, dari yang diameternya sebesar kelingking sampai yang sebesar kepalan tangan orang dewasa.</p>
<p>Penggunaan barang bekas juga tampak di kamar mandi. Dia membuat kombinasi botol-botol kaca yang sudah tidak terpakai dengan dinding bata yang terekspos teksturnya. Selain berfungsi sebagai gantungan baju, botol-botol itu bisa merefleksikan cahaya alami ke dalam kamar mandi.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma10.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1835" title="Kaca belakang mobil" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/akanoma10.jpg" alt="" width="265" height="398" /></a>Untuk tangga, Yu Sing juga memakai bambu. “Murah dan itu alternatif yang sangat baik,” kata dia. Bagian tangga yang ada di sisi kanan depan bangunan itu ditutupi dengan kaca bekas mobil. Kaca-kaca cembung itu dijepit dan diikat dengan kawat ke tiang-tiang bambu. “Kita perlu area itu transparan. Ternyata di kampung sini ada pengepul (penampung) kaca mobil bekas, jadi kita foya-foya dengan itu. Lumayan murah harganya,” kata arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung ini.</p>
<p>Bangunan dua lantai yang posisinya berada pada ketinggian 700 meter dari permukaan air laut ini terlihat menjulang di tengah-tengah perkampungan.</p>
<p>Studio di atas lahan 650 meter persegi ini jauh dari suasana perkotaan, tepatnya di Jalan Tipar Timur, Desa Laksana Mekar, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Lokasinya lebih dekat ke ruas tol Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi) daripada ke Kota Bandung. “Karena dana kita terbatas,” kata Yu Sing.</p>
<p>Sebelumnya, Yu Sing mengontrak rumah sebagai studionya. Namun biaya kontrak itu dirasakan cukup membebani. Pada saat bersamaan, Iwan, drafter Akanoma yang mencari tanah buat membangun rumah menawarkan sebidang lahan di sebelah barat Kota Bandung. “Dia cari tanah dan kebetulan tanahnya besar. Akhirnya <em>sharing</em> dibagi tiga dan (studio) dibangun semurah mungkin,” ungkap dia.</p>
<p>Komponen utama studio, joglo yang pada bagian puncaknya ada dua patung ayam itu dibeli dari Solo. “Joglo kita angkut setelah berbulan-bulan dibeli. Karena dulu belum ada uang untuk membangun kantor. Waktu beli joglo, kantor ini malah belum dirancang,” terang penulis buku Mimpi Rumah Murah ini.</p>
<p>Studio Akanoma menjadi representasi dari misi Yu Sing sebagai seorang arsitek. Dia percaya, arsitektur harus mengakar. Bagi Yu Sing, joglo sebagai komponen utama bangunan dengan modifikasi bambu menggambarkan peranan arsitektur Nusantara pada masa kini.</p>
<p>“Saya punya harapan mewujudkan kampung kota lestari. Supaya perkampungan tidak tergusur dan menjadi korban pembangunan. Sudah seharusnya perkampungan tetap ada dan masyarakatnya bisa hidup sejahtera dan nyaman. Studio kami ada di kampung sehingga kami menyediakan perpustakaan dan ruang sosial buat warga,” kata Yu Sing merujuk pada selasar dan perpustakaan umum di bawah studionya.</p>
<p>Sayangnya, kata Yu Sing, masyarakat di sekitar studio itu belum pernah menggunakan ruang sosial itu untuk pertemuan. “Kalau mereka butuh, silakan memakai tempatnya. Yang sudah berjalan itu perpustakaan, hampir setiap sore ada anak-anak yang membaca buku di sana. Buku-bukunya itu sumbangan dari orang-orang,” ungkap dia.</p>
<p>Yu Sing juga berupaya menyesuaikan bangunannya menjadi ramah lingkungan. Arsitek yang membiarkan rambut panjangnya terurai ini sengaja memperpanjang tritisan atap joglo, kemudian memasang beberapa batang pipa besi secara miring membentuk huruf V sebagai penyangganya.</p>
<p>Pipa-pipa ini menyambung pada talang di sekeliling atap. Fungsinya sebagai penyangga sekaligus pipa untuk mengalirkan air hujan ke sumur resapan.</p>
<p>Selain ramah lingkungan, Akanoma juga berusaha mencukupi kebutuhan pangan sendiri dengan menanam tanaman sayuran di sekililing studio.</p>
<p>“Sudah ada kemangi, kacang panjang, terong, leunca, <em>cengek</em> (cabe rawit), timun suri, singkong, kenikir, dan lain-lain. Ada juga kolam buat merendam bambu yang sekarang jadi tempat ternak ikan nila. Sudah sering dimakan juga. Karena kalau mau keluar agak jauh, akhirnya masak sendiri” kata dia.</p>
<p><iframe src="http://player.vimeo.com/video/33729773?byline=0&amp;portrait=0" frameborder="0" width="601" height="338"></iframe></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/0604212-akanoma-anomali-biro-arsitektur-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bergembira dengan teknik grafis purba</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/having-fun-with-ancient-graphic-techniques/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/having-fun-with-ancient-graphic-techniques/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 16:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[taman 65]]></category>
		<category><![CDATA[taring padi]]></category>
		<category><![CDATA[woodcut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=789</guid>
		<description><![CDATA[Di era seni grafis komputer, teknik grafis kuno menjadi kejutan yang menyenangkan. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_14.jpg"><img title="Taring Padi woodcut workshop" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_14.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><strong>Di era seni grafis komputer, teknik grafis kuno menjadi kejutan yang menyenangkan. </strong></p>
<p><em>What you see is what you get. </em>Ungkapan seni grafis ini tidak selamanya menarik. Hasil cetak grafis yang tidak bisa ditebak bisa menjadi kejutan yang menyenangkan.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_Alfred_1.jpg"><img title="Taring Padi launch" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_Alfred_1.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a>Itulah yang terjadi saat workshop cukil kayu bersama Taring Padi di Taman 65, Kesiman, Denpasar, 8 Oktober lalu. Semua partisipan workshop tampak bergembira. Bagian paling menyenangkan adalah ketika mengangkat lembar papan cukilan dari atas media cetak yaitu kaos dan kertas.</p>
<p>“Wow!” begitu umumnya ekspresi orang saat melihat hasil cetak pertama kali. Padahal cetakannya hanya mengggunakan satu warna cat, hitam. Dan hasil cetakan satu cukilan di atas dua kaos bisa sangat berbeda, tergantung ketebalan cat yang dilumuri pada papan cukilan. Cara menekan papan cukilan ke atas media cetak juga sangat berpengaruh.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Ucup_Alfred_Taring_padi.jpg"><img class="alignleft" style="margin: 4px 12px;" title="Ucup_Alfred_Taring_padi" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Ucup_Alfred_Taring_padi.jpg" alt="" width="209" height="278" /></a>Papan cukilan ditekan dengan cara berdiri di atasnya. Bila menginjak kurang lama, cat yang tercetak ke atas media bisa tipis atau ketebalan bervariasi karena ada bagian yang kurang mendapat tekanan.</p>
<p>Workshop dibuka oleh M Yusuf dari Taring Padi menjelaskan kelebihan teknik grafis yang telah dilakukan di peradaban kuno ini sebagai media propaganda. Untuk membuat poster misalnya, teknik cetak cukil kayu tidak punya kendala dengan variabel jumlah cetakan. Sementara teknik cetak modern harus dalam jumlah relatif banyak agar bisa murah. Dan teknik cukil sangat swadaya, semua bisa dilakukan sendiri. Tangan manusia dan kayu adalah mesin cetaknya.</p>
<p>Untuk kolektif gerakan masyarakat seperti Taring Padi, cetak swadaya juga lebih aman. Karena tidak melibatkan pihak lain untuk mencetakkan media propaganda yang sama saja dengan membocorkan informasi sebelum tersebar. “Secara visual, cetak cukil kayu sangat terasa sentuhan manusianya. Dan bisa dikembangkan untuk media cetak yang beragam. Ukurannya pun tidak terbatas pada kemampuan mesin cetak,” kata Yusuf yang biasa disapa Ucup.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_8.jpg"><img title="TP_woodcut_8" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_8.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Proses cetak cukil kayu dimulai dari membuat gambar cetakan di atas papan MDF (medium density fibreboard) atau papan kayu lainnya. Melukis harus dilakukan secara refleksi horizontal cermin, kanan menjadi kiri dan sebaliknya kiri menjadi kanan. Setelah itu gambar dicukil dengan pisau pahat kecil. Ada beragam jenis mata pisau yang menghasilkan efek goresan berbeda. Bagian yang tidak tercukil yang akan mencetakkan cat ke atas media, dan bagian cukilan membuat media tidak tersentuh cat.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_12.jpg"><img title="TP_woodcut_12" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_12.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a>Bila papan cukilan selesai, tuang cat ke atas media yang rata dan licin seperti cermin. Lalu ratakan cat dengan roller. Setelah itu roller digelindingkan ke atas papan cukilan. Bila sudah rata, kayu cukilan diletakkan di atas media pada posisi yang diinginkan. Media cetak sebaiknya diletakkan di atas bidang rata seperti kardus bekas.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_9.jpg"><img title="TP_woodcut_9" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_9.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Tutupi kayu cukilan dengan kertas bekas pakai agar tidak mengotori media. Maka mulailah menginjak cukilan sampai rata. Bila dirasa sudah cukup, angkat kayu cukilan perlahan. Voila! Saksikan kejutan yang menyenangkan pada hasil cetak cukil kayu.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_7.jpg"><img title="woodcut art" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_7.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/having-fun-with-ancient-graphic-techniques/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Freitag (2): Deklarasi individualitas ratusan euro</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/freitag-2-declaring-individuality-with-hundreds-of-euro/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/freitag-2-declaring-individuality-with-hundreds-of-euro/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 10:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Freitag]]></category>
		<category><![CDATA[upcycle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=571</guid>
		<description><![CDATA[Freitag adalah sebuah pernyataan yang membuat pemakainya merasa berbeda. Kuat, unik dan otentik adalah tiga kata yang pantas mewakili tas Freitag.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/freitag2-shop.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-573" title="Freitag shop" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/freitag2-shop.jpg" alt="" width="600" height="272" /></a></p>
<p><strong>Freitag adalah sebuah pernyataan yang membuat pemakainya merasa berbeda.</strong></p>
<p>Kuat, unik dan otentik adalah tiga kata yang pantas mewakili tas Freitag. “Sangat atraktif bagi mata yang terlatih secara visual. Freitag adalah kejutan menyenangkan di tengah dunia keseharian yang dipenuhi produk massal dan terstandarisasi,” kata Windelin Hess (33), seorang desainer yang pertama kali membeli Freitag tahun 1994.</p>
<p>Freitag menjauhkan dirinya dari trend imitatif hasil produksi massal. Semboyan &#8220;Each bag is unique&#8221; bukan sekadar tagline Freitag. Freitag adalah deklarasi individualitas kaum urban dengan “perasaan disorientasi dan ingin berkomunikasi di tengah keterputusan dan kesendirian hidup di perkotaan,” sebut buku Freitag: Individual Recycled Freeway Bags.</p>
<p>Buku itu dicetak dengan semangat yang sama: 10.000 eksemplarnya dicetak unik dengan bahan sampul yang berbeda-beda. Dalam buku setebal 500 halaman yang miskin tulisan itu ditampilkan konteks ekologi, ekonomi dan sosiokultural kelahiran Freitag, serta 3.000 tas Freitag dan pemiliknya. Mereka adalah anggota generasi metropolis neurotik, yang dikepung konsumerisme namun ingin tampil beda.</p>
<p>Untuk memahami konteks kesuksesan Freitag, harus disadari Swiss adalah sebuah negara kecil yang kaya. Negara yang sering digambarkan dalam kartu pos dengan danau berwarna biru dan angsa itu berpopulasi hanya 360.000 jiwa dengan pendapatan per kapita 58.7000 dolar AS. Dalam buku tadi disebutkan, “Orang Swiss siap, bersedia dan mampu mengisi lubang besar kebosanan di tengah hidup kesehariannya dengan membeli.”</p>
<p>Kesuksesan Freitag didukung oleh kehadirannya yang mulus dalam kancah underground di Swiss. Freitag juga menjadi sebuah aksesori wajib bagi sebagian kaum muda di Eropa ke club atau rave party.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/F-shop-night.jpg"><img class="alignleft" style="margin: 4px 12px;" title="Freitag shop at night" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/F-shop-night.jpg" alt="" width="266" height="359" /></a>Pada tahun 1999 Freitag membuka outlet utama di Davos, sebuah kota kecil di jantung Swiss. Dua tahun kemudian toko utama lain dibuka di Hamburg. Tahun 2006, Freitag membuka toko lagi di Zurich yang sangat menarik perhatian. Toko ini dibangun dari tumpukan 17 kontainer yang berkarat. Dengan tinggi 26 meter, toko itu menjadi gedung pencakar langit bonsai di kota Zurich yang sangat ketat dalam mengatur pembangunan gedung tinggi.</p>
<p>Freitag bisa dibeli online lewat <a href="http://www.freitag.ch/" target="_blank"><span style="color: #008000;"><span style="color: #008000;">www.freitag.ch</span></span></a>. Sejak Oktober 2002, Freitag menyediakan fitur F-cut yang memungkinkan calon pembeli mendesain sendiri tasnya secara online. Aplikasi Flash akan mempresentasikan beragam terpal yang bisa dipilih. Jika kurang sreg dengan yang tersedia, bisa kembali mengunjungi situ situ beberapa hari kemudian dan pilihan terpal baru tersedia. Calon pembeli tinggal menempatkan pola tas pada bentangan terpal yang dia pilih. Di pabrik, terpal akan dipotong sesuai spesifikasi yang diinginkan pembeli. Dan dua minggu kemudian, tas itu tiba di depan pintu.</p>
<p>Tas Freitag model Top Cat menjadi salah satu koleksi <span style="color: #008000;"><a href="http://www.moma.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Museum of Modern Art [MOMA] </span></a></span>di New York pada galeri desain. Masuk MOMA termasuk pencapaian terbesar seorang seniman [sampai saat ini belum ada karya seniman Indonesia yang menembus MOMA].</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/red-bag-tall.jpg"><img class="alignright" style="margin: 4px 12px;" title="red-bag-tall" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/red-bag-tall.jpg" alt="" width="240" height="319" /></a>Sejak dekade 80an , pertanyaan tentang kerusakan alam tidak lagi ekslusif dari para pejuang lingkungan. Seruan untuk menghentikan kehancuran hutan, polusi lingkungan, dan efek rumah kaca menjadi gerakan populer. Terminologi Eco, Green, dan Global Warming terus digemakan seiring pembicaraan pentingnya Penggunaan Ulang, Pengurangan dan Daur Ulang (Reuse – Reduce – Recycle).</p>
<p>Recycle dinilai terlalu mahal dan butuh energi besar. Maka merebak upcycle, memanfaatkan barang tak terpakai menjadi memiliki kegunaan baru, seperti yang dilakukan Freitag. Semua orang bisa menemukan benda-benda tidak terpakai di sekitarnya dan mentransformasinya ke bentuk dan kegunaan lain.</p>
<p>Bila upcycling menjadi kegemaran yang mewabah, apakah benda-benda upcycle akan memiliki nilai ekonomi yang spesial? Freitag melahirkan pertanyaan besar tentang hasrat konsumsi: kenapa orang rela menghabiskan 250 euro untuk sebuah tas terbuat dari terpal truk?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/freitag-2-declaring-individuality-with-hundreds-of-euro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Freitag (1): Sukses dengan terpal bekas</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/freitag-1-success-with-used-tarps/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/freitag-1-success-with-used-tarps/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 10:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Freitag]]></category>
		<category><![CDATA[upcycle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=555</guid>
		<description><![CDATA[Bahan bekas terpal truk, sabuk pengaman mobil dan ban dalam sepeda membuat Daniel dan Markus Freitag menjadi milyuner.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bahan bekas terpal truk, sabuk pengaman mobil dan ban dalam sepeda membuat Daniel dan Markus Freitag menjadi milyuner.</strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/tarps-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-560" title="Used Tarps" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/tarps-1.jpg" alt="" width="600" height="313" /></a></p>
<p>Tidak sulit menemui anak muda di Eropa yang berjalan menenteng tas berwarna-warna meriah, dengan potongan huruf atau gambar, dan berbahan sintetis seperti plastik yang tebal. Itulah tas Freitag.</p>
<p>Bila terlihat agak kotor, bukan berarti sang pemilik tas jarang mencucinya. Maklum saja, tas itu dibuat dari terpal untuk melapisi badan truk yang kotorannya sulit luruh meski pabrik telah mencucinya. Justru di situlah letak keistimewaan Freitag.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/F-Bros-2.jpg"><img class="alignleft" style="margin: 4px 12px;" title="Markus and Daniel Freitag" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/F-Bros-2.jpg" alt="" width="250" height="349" /></a>Awalnya, Daniel dan Markus sangat berhasrat memiliki tas seperti yang dipakai pengantar surat bersepeda di New York. Sebuah tas yang praktis, tahan air, berkapasitas besar, dan mudah ditenteng bila bersepeda. Dua bersaudara desainer grafis ini merasa terlalu mahal untuk membeli tas kurir.</p>
<p>Suatu pagi, di tahun 1993, Markus mencantelkan trailer ke sepedanya dan mengayuhnya ke sebuah kawasan industri. Dia kembali dengan beberapa lembar terpal bekas truk kargo, menggotongnya ke apartemennya yang terletak di lantai lima dan menyikatnya di bathtub kamar mandi. Setelah kering dia menggelarnya di ruangan, di antara matras dan perangkat stereo, dan menggunting pola. Sabuk pengaman bekas digunakan sebagai talinya dan potongan ban dalam memagari ujung bahan tas.</p>
<p>Sebuah konsep tas berkualitas dari bahan bekas pun lahir; tas bermateri tahan air, kuat, tersedia dalam beragam cetakan warna. Bahan baru yang mereka gunakan hanya kawat, velcro dan gesper.</p>
<p>Apartemen mereka pun sontak berubah radikal. “Selama berminggu-minggu, bathtub berisi air kotor dan berbau oleh terpal kotor. Apartemen penuh dengan bahan mentah, ban dalam sepeda dan sabuk pengaman,” kenang Oliver Gemperle, teman sekamar mereka yang tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya ketika itu.</p>
<p>Gemperle menambahkan, di meja dapur teronggok sebuah mesin jahit untuk industri garmen. Mesin bekas itu investasi pertama Freitag bersaudara, dibeli 500 dolar AS. Gemperle cukup senang ketika diberi dua buah tas Freitag versi awal. Sebuah tas berwarna abu-abu produksi awal Freitag kini disimpan di Zurich Museum for Gestaltung.</p>
<p>Kini Freitag bersaudara tidak lagi mengerjakan tasnya di apartemen. Tahun 2003 Freitag lab. (bisa berarti “Laboratory” atau “Label”) mengantungi pendapatan sebelum pajak sebesar 52 juta dolar AS. Freitag lab. berdiri tahun 1999 -untuk menggantikan Freitag retour Gebr yang didirikan tahun 1995- mempekerjakan 40 karyawan tetap. Freitag juga menggaji sekitar 1.760 karyawan secara outsource kepada perusahaan manufaktur yang mempekerjakan kaum cacat. Inilah aspek sosial –selain aspek ekologis penggunaan bahan bekas yang membuat Freitag unik.</p>
<p>Dari hanya memproduksi 40 buah tas pada tahun pertama produksi, pada 2007 Freitag memproduksi 160.000 item. Lini produk Freitag mencapai 40 model dari tas kurir, tas disc jockey (DJ), tas laptop, bungkus iPod, ransel, dompet, tas belanja, tas tangan wanita, samsak (punch bag) sampai bola kaki.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/bike-bag.jpg"><img class="alignright" style="margin: 4px 12px;" title="Freitag bag" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/bike-bag.jpg" alt="" width="250" height="375" /></a>Freitag tersedia di 350 toko di Swiss, Jerman, Austria, Inggris, Prancis, Belanda, Belgia, Italia, Spanyol, Portugal, Swedia, Denmark, Finlandia, Irlandia, Yunani, Turki, Amerika Serikat, Australia, Selandi Baru, Jepang, Kanada, China, dan Singapura. Di Swiss, Freitag lazim terlihat di keranjang sepeda anak perempuan yang ke sekolah.</p>
<p>Inovasi, kreativitas, ceruk pasar dan kata-kata lain yang sering digunakan untuk menggambarkan sistem produksi, mendapatkan tempatnya di sini. Tas Freitag seperti sebuah kelip di kegelapan yang ingin mengatakan, “Lihat, ada kemungkinan membuat produk bagus ketika orang membatasi kreativitasnya hanya dengan berinvestasi pada saham dan obligasi.”</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/freitag-1-success-with-used-tarps/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi karang di dasar laut Pemuteran</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/the-coral-goddess-of-pemuteran/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/the-coral-goddess-of-pemuteran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Sep 2011 13:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kayti Denham</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Responsible Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Buleleng]]></category>
		<category><![CDATA[coral reefs]]></category>
		<category><![CDATA[Eco-tourism]]></category>
		<category><![CDATA[eko-wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Karang Lestari]]></category>
		<category><![CDATA[nelayan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuteran]]></category>
		<category><![CDATA[responsible travel]]></category>
		<category><![CDATA[taman sari]]></category>
		<category><![CDATA[terumbu karang]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rc.akarumput.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Di dasar laut pesisir Bali Utara ada dewi jelita yang duduk dalam damai di taman hijau dan biru. Ikan dan tumbuhan laut berlindung mengelilinginya, dan secara pelan, dengan bantuan Dewi ini, terumbu karang yang telah hilang dari ekosistem tersebut kini menikmati proses bangkit kembali...<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><a href="http://rc.akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/coral-pic.jpg"><img class="aligncenter" title="coral-pic" src="http://rc.akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/coral-pic.jpg" alt="" width="520" height="390" /></a></p>
<p>Di dasar laut pesisir Bali Utara ada dewi jelita yang duduk dalam damai di taman hijau dan biru. Ikan dan tumbuhan laut berlindung mengelilinginya, dan secara pelan, dengan bantuan Dewi ini, terumbu karang yang telah hilang dari ekosistem tersebut kini menikmati proses bangkit kembali sebagai elemen yang vital kehidupan bawah laut.</p>
<p>Akibat pengaruh krisis ekonomi dan ancaman kemiskinan telah memaksa masyarakat nelayan Pemuteran untuk menghancurkan terumbu karang di wilayah Barat-laut Bali. Nelayan menggunakan dinamit dan racun sianida untuk menangkap ikan yang akan dijual. Mereka melakukan praktik destruktif ini tanpa pengetahuan resikonya dapat menghancurkan dan membahayakan terumbu karang. Industri nelayan kecil ini bersaing dengan nelayan dari Jawa, pulau tetangga.</p>
<p>Saat suhu laut meningkat akibat pengaruh perubahan iklim, termasuk pengaruh <em>El Nino </em>tahun 1998, terumbu karang yang kritis menjadi semakin hancur dan mati. Lima belas tahun yang lalu kehidupan laut di daerah ini hampir punah, dan seluruh pesisir Utara terancam kepunahan terumbu karang.</p>
<p>Demi masa depan keanekaragaman hayati dan eksplorasi ilmiah, Yayasan Karang Lestari menjalankan Proyek Terumbu Karang Buatan untuk melestarikan lingkungan bawah laut di Pemuteran. Proyek Karang Lestari dimulai bulan Juni 2000 melalui inisiatif dari Yos Amerta, Dr. Tomas Goreau dan Profesor Hilbertz. Struktur terumbu karang pertama dipasang tahun 2000, dan sejak itu, proyek ini telah memperoleh dukungan dari pemilik Taman Sari Resort. Sekarang proyek ini semakin mekar, berkat dukungan dari tim penyelam, desainer, dan masyarakat setempat.</p>
<p>Pelestarian terumbu karang menggunakan proses <em>Biorock</em>, yang memungkinkan terumbu karang bertahan hidup dan pulih dari kerusakannya. Aliran listrik disalurkan melalui rangka besi, yang mendorong pengumpulan batu kapur. Batu kapur berperan mendorong pertumbuhan terumbu karang.</p>
<p>Terumbu karang yang dibangun menggunakan proses <em>Biorock</em>, kini telah tumbuh dengan sukses di wilayah negara Maladewa dan Papua Nugini. Yayasan Karang Lestari bersama The Marine Foundation menjalankan proyek terbaru bernama Dewi Terumbu Karang, atau <em>Coral Goddess</em>. Proyek ini memanfaatkan panel solar sebagai sumber energi yang diperlukan untuk menghidupi struktur yang mendorong pertumbuhan terumbu karang.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://rc.akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/Best-Batfish+Goddess.jpg"><img title="Best-Batfish+Goddess" src="http://rc.akarumput.com/wp-content/uploads/2011/09/Best-Batfish+Goddess.jpg" alt="" width="200" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">dewi karang</p></div>
<p>Dengan adanya program ini mendorong jumlah kunjungan wisatawan yang ingin melihat Dewi Terumbu Karang dan taman yang mengelilinginya. Kontribusi positif dari pertumbuhan terumbu karang di daerah ini membuka potensi eko-wisata dan wisata pendidikan.</p>
<p>Baru-baru ini, 30 siswa Bali International School mengunjungi Dewi Karang dan Pusat Pendidikan Bio Rock (<em>Bio Rock Education Centre</em>) dan bertemu dengan Rani, Celia dan Komang, koordinator proyek tersebut. Para siswa dikenalkan prinsip dasar lingkungan bawah laut, sekalian menikmati keindahan laut. Beberapa murid memilih untuk berenang dan <em>snorkeling</em> mengunjungi sang Dewi, murid lainnya menumpang di kapal berlantai kaca tembus pandang. Pariwisata seperti ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Pemuteran, yang juga bisa berbangga dengan kontribusi mereka terhadap Proyek Karang Lestari.</p>
<p>Taman Sari, The Marine Foundation dan Karang Lestari melayani diskusi pendidikan dan presentasi multi-media tentang kegiatan mereka. Selain itu, mereka juga dapat menciptakan struktur terumbu karang pesanan pribadi atau kelompok untuk mendorong pertumbuhan terumbu karang yang lebih banyak.</p>
<p>Dengan meningkatkan pertumbuhan terumbu karang kehidupan di bawah laut mulai kembali menjadi seimbang. Masyarakat Desa Pemuteran kini lebih memiliki apresiasi mendalam mengenai lingkungan hidup dan semangat untuk melestarikannya untuk mereka dan generasi mendatang. Mereka juga bisa memanen hasil laut dengan cara yang berkelanjutan.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/the-coral-goddess-of-pemuteran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
