<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; Reviews</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/category/events/reviews/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>BaliSpirit 2012 – menjadi baik, bukan belajar aerobik</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/090412-balispirit-2012/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/090412-balispirit-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 09:56:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Virginie Noël</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Responsible Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Spirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[BaliSpirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud]]></category>
		<category><![CDATA[yoga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1856</guid>
		<description><![CDATA[Guru menjadi murid, murid menjadi guru. Lebih dari 1.000 orang berkumpul, meski partisipan pribumi masih kecil.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/BSF-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1857" title="BSF2012" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/BSF-1.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><strong></strong></p>
<p><strong>Guru menjadi murid, murid menjadi guru. Lebih dari 1.000 orang berkumpul, meski partisipan pribumi masih kecil.</strong></p>
<p>BaliSpirit Festival telah berakhir hari Minggu pekan lalu. Selama lima hari penuh beragam kegiatan, dari yoga dan tari, hingga musik dan workshop pengobatan holistik. Festival ini pada tahun ke-5 berhasil menarik jumlah penonton terbanyak dalam sejarahnya.</p>
<p>Selama festival ada workshop mengenai beragam gaya yoga, seperti Hatha, Anusara, Yin, Vinyasa Flow, Ashtanga, Acro dan Kundalini. Juga banyak workshop tarian dinamis, termasuk Nia, 5 Rhythms, dan Tarian Afrika Barat yang sangat populer. Ada banyak kesempatan untuk refleksi diri dan pengembangan diri, juga kesempatan untuk bisa menggerakkan tubuh secara asyik.</p>
<p>Festival tahun ini menyatukan guru yoga yang ahli, namun tetap terbuka untuk penganut yoga baru atau orang awam yang hanya penasaran. Susan, pelaku yoga dari America Serikat, menyimpulkan pengalamannya selama festival. “Ada banyak workshop dan hal-hal luar biasa yang bisa dicoba. Tetapi untuk saya sendiri, yang paling penting adalah bisa bertemu dengan banyak orang yang pikirannya sepaham dengan saya dan membangun koneksi dalam komunitas,” kata dia</p>
<p>Tahun ini BaliSpirit festival menarik lebih dari 1.000 orang yogi (penganut yoga), musisi, dan penari dari Amerika Serikat, India, Amerika Selatan, Australia, China, Jepang, Eropa, dan Afrika. John Ogilvie, presenter yoga, sponsor festival dan pendiri Byron Yoga Center di Australia, sadar dengan daya tarik festival ini. “Ada komunitas internasional yang bertemu di festival ini. Semua orang yang hadir akan membawa pulang ide dan inspirasi dari festival ini ke komunitasnya masing-masing,” kata Ogilvie.</p>
<p>Dengan cara ini, kesadaran global mengenai kesehatan dan isu lingkungan akan terus berkembang. Spiritualitas, menurut Ogilvie, haruslah praktis. Dengan membangun komunitas internasional, slogan ‘Berpikir Global, Bertindak Lokal’ bisa menjadi kenyataan.</p>
<p>Suasana selama festival mendorong saling berbagi, antara presenter dan penonton dapat menikmati hubungan dan pengalaman baru. John Ogilvie mengatakan sangat menikmati pengalaman bertukar tempat dari guru menjadi murid saat ia berpartisipasi dalam workshop oleh guru lain.</p>
<p>“Bagi saya, festival rasanya seperti tempat bermain bebas dan kami saling mengikuti kelas-kelasnya,” kata Michael Hallock, seorang guru Watsu (terapi pijat dalam air). “Biasanya, sebagai presenter, saya menjadi orang yang ‘istimewa’ dalam acara, tetapi di sini saya seperti satu dari banyak. Ini membuat saya merasa biasa saja karena melihat banyak hal yang luar biasa di sekitar, banyak bakat dan kreativitas. Saya melihat banyak orang sepenuhnya berekspresi. Ini sangan menginspirasi dan membuat saya membumi.”</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/533023_10150651981295197_248186520196_9145228_1085053963_n.jpg"><img title="BSF2012-2" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/533023_10150651981295197_248186520196_9145228_1085053963_n.jpg" alt="" width="601" height="317" /></a></p>
<p>Bali adalah lokasi ideal untuk festival yoga. “Kami, warga Bali melakukan yoga selama kehidupan. Kami melakukan yoga setiap kali membuat banten dan setiap kali sembahyang di pura. Kami selalu berusaha untuk meningkatkan kesadaran,” kata Kadek Gunarta, salah satu pendiri festival.</p>
<p>Perlu usaha besar untuk terus menjaga hubungan dengan dunia di bawah kesadaran. Ini juga yang membuat Bali sangat magis dan menjadi inspirasi untuk orang dari luar negeri. Suasana ini teramplifikasi selama festival dengan banyak workshop yang mendorong partisipan untuk melihat ke dalam, menjadi lebih sadar, dan membuka hati. Seperti yang dikatakan instruktur dari Peace and Love Yoga di Los Angeles: “Kamu melakukan yoga untuk menjadi manusia yang lebih baik. Jika bukan karena itu – keluarlah dari kelasku dan belajar arobik saja!”</p>
<p>Tahun ini festival berusaha memberi perhatian lebih pada penonton lokal dengan mengundang beberapa presenter lokal. Jane Chen, Indrawati Widjanarko dan Dewi Asmarani menjadi warna baru dalam <em>line-up </em>yang mayoritas bekulit putih. Tetapi festival ini masih perlu usaha lebih untuk benar-benar melibatkan semua pihak, terutama memberi akses untuk penonton pribumi. Festival membuka satu hari gratis untuk semua orang, terutama keluarga Bali, dengan workshop khusus bagi anak-anak, kelas yoga untuk ketua-ketua desa Bali. Tetapi harga tiket festival tidak berbeda untuk peserta lokal, sehingga jumlah penonton Indonesia di empat hari pertama festival masih kecil.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/548500_10150650240445197_248186520196_9139060_1244114597_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1859" title="BSF2012-3" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/548500_10150650240445197_248186520196_9139060_1244114597_n-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Memberi balik ke komunitas, sebagai prinsip yoga, adalah tema utama selama festival. Ini menjadi menarik di tengah arus kehidupan yang materialistis dan individualistis. BaliSpirit Festival mungin hanya bagian kecil dari gerakan yang sedang berkembang di seluruh dunia yang diikuti oleh orang yang mencari komunitas dan gaya hidup holistik. Namun pengaruhnya bisa meluas lebih jauh daripada festivalnya sendiri. “Jika lebih banyak orang di seluruh dunia mempraktekkan yoga, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik,” kata Ogilvie.</p>
<p>Salah satu pengaruh festival adalah menginspirasikan festival bertema yoga dan kesehatan holistik di tempat lain, misalnya Namaste Spirit Festival di Jakarta, Byron Bay Spirit Festival di Australia dan Hawaii Spirit Festival. “Yoga bukan tentang kompetisi, tetapi tentang bersatu dan bekerja sama. Kami ingin kerja lebih dekat dengan BaliSpirit Festival,” kata Pendiri Namaste Festival di Jakarta, Anita Boentarman.</p>
<p>Salah satu aspek penting dari misi festival berhubungan dengan lingkungan. BaliSpirit menjalankan kemitraan dengan beberapa organisasi yang bergerak di bidang lingkungan hidup di Bali, seperti Bali Cantik Tanpa Plastik, Bali ReGreen, dan the Environmental Bamboo Foundation. Festival tahun ini juga bekerja sama dengan East Bali Poverty Project dan seluruh sumbangan yang terkumpul pada hari Cinta Keluarga disalurkan untuk program Ayo! Kita Bicara HIV/AIDS, yang dibentuk oleh BaliSpirit untuk melibatkan masyarakat setempat dalam dialog dan pendidikan mengenai HIV &amp; AIDS.</p>
<p>Pau Castellsague, presenter yoga dan pendiri Barcelona Yoga Conference, menyinggung pentingnya aksi positif. “Saya merasa di Bali hubungan orang dengan alam sangat menginspirasi. Yang telah kita lakukan pada alam sangat menyedihkan, sangat jelek. Sudah waktunya berubah. Dan bukan tentang saat untuk ingin berubah. Sudah terlambat untuk keinginan. Kita harus membuat perubahan, sekarang.”</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/526777_10150650240285197_248186520196_9139058_588817674_n.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1860" title="BSF-2012-4" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/526777_10150650240285197_248186520196_9139058_588817674_n.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a></p>
<p>Walaupun festival menganggap kesadaran lingkungan penting, pada praktiknya tidaklah sempurna. Di lokasi festival masih terlihat sendok atau cangkir plastik yang bisa menodai citra festival yang ramah lingkungan. Namun, ada kesadaran dan keinginan untuk mengurangi pengaruh negatif festival pada lingkungan hidup. Dan cara festival menangani sampah dan pengaruh lainnya menjadi semakin baik sejak awal festival lima tahun yang lalu.</p>
<p>Selain aspirasi besarnya, festival ini sangat menyenangkan, seperti yang dikatakan Cheri Rae: “Yoga harusnya membuat kita merasa baik.” Dan festivalnya memang tentang ini, merasa baik, dan melakukan hal baik.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/090412-balispirit-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bali Spirit Festival in photos</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/310311_bsf_photos/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/310311_bsf_photos/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2012 03:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Virginie Noël</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Responsible Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Spirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Purnati]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud]]></category>
		<category><![CDATA[yoga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1796</guid>
		<description><![CDATA[Bali Spirit Festival daytime workshops feature yoga, dance, and healing with teachers from across the globe.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.balispiritfestival.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Bali Spirit Festival</span></a> is the most popular yoga festival in the region. Set in the spectacular grounds of the Purnati Center for the Arts in Batuan, just 10 minutes south of Ubud, the daytime workshops feature yoga, dance, and healing with teachers from across the globe. This years Bali Spirit Festival will continue until April 1st, 2012.<br />
<div><p>SimpleViewer Gallery Id 17 has been deleted.</p></div></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/310311_bsf_photos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video klip &#8220;Orangutan&#8221; oleh Navicula</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/video-orangutan-oleh-navicula/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/video-orangutan-oleh-navicula/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 10:25:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>
		<category><![CDATA[sawit watch]]></category>
		<category><![CDATA[Walhi Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1334</guid>
		<description><![CDATA[Tidak hanya merilis lagu untuk diunduh publik, Navicula juga merilis video musik “Orangutan”. Gambar video ini diselipi dengan potongan gambar dari Green, the Film. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/B4m5b5DJtBU" frameborder="0" width="600" height="335"></iframe></p>
<p>Kita hidup di dunia yang tunggang langgang. Isu, persoalan, kekhawatiran, semuanya cepat hilang, secepat mereka datang. Suatu isu bisa terasa gawat, hanya ketika masih hangat.</p>
<p>Masih di penghujung tahun 2011, jejaring media sosial di Indonesia riuh dengan isu pembantaian orangutan. Tapi dalam hitungan minggu, isu itu seperti berlalu. Nasib orangutan masih riskan. Sementara deforestasi terus melaju, dan ekspansi lahan perkebunan sawit tak terhambat.</p>
<p>Perusahaan perkebunan kelapa sawit pun dengan lincah menempuh pola greenwashing untuk <a href="http://news.mongabay.com/2011/1207-orangutan_policy.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">memoles citranya sebagai musuh utama orangutan.</span></a> Ini upaya lapis kedua setelah bergincu membangun logika kehadiran <a href="http://akarumput.com/environment/the-unashamed-business-of-indonesia-green-awards/" target="_blank"><span style="color: #008000;">perkebunan kelapa sawit sebagai upaya “menghijaukan hutan kembali”.</span></a></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/press-conf-2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1346" style="margin: 8px 12px;" title="discussion Suara untuk Alam II" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/press-conf-2-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Dari Bali, sebagai media alternatif yang partisipatif, akarumput.com menggelar “Orangutan” – Suara untuk Alam II, bekerja sama dengan <a href="http://sawitwatch.or.id/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Sawit Watch</span></a> dan <a href="http://walhibali.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Walhi Bali</span> </a>di Seaman’s Sanur, 17 Desember lalu. Acara ini diawali dengan diskusi “Refleksi Lingkungan Hidup Akhir Tahun” bersama Albert Nego Tarigan (direktur eksekutif Sawit Watch), Wayan Suardana atau Gendo (WALHI Bali), dan Gede Robi Supriyanto (vokalis Navicula).</p>
<p>Albert menyerukan penghentian ekspansi perkebunan sawit. “Kebun sawit merebut ruang hidup masyarakat lokal dan hewan langka seperti orangutan. Di Aceh, Riau, dan Kalimantan Timur, semua terjadi pembunuhan orangutan,” kata Albert.</p>
<p>Albert juga menyoroti kasus kekerasan di Kabupaten Mesuji, Lampung yang berkaitan dengan kehadiran perkebunan kelapa sawit. Lima orang tewas pada peristiwa bentrok antara masyarakat dengan pengamanan perusahaan sawit. Menurut Abert masih ada kasus serupa yang terjadi di daerah lain. “Di Riau, seorang ibu tewas karena dituduh menduduki kebun perusahaan sawit besar. Di Jambi, tujuh orang diberondong peluru, dan kami punya rekaman videonya,&#8221; kata Albert.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Balian_live.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1349" title="Balian_live" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Balian_live.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Nosstress_live.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1356" style="margin-top: 10px; margin-bottom: 10px;" title="Nosstress_live" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Nosstress_live.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Geekssmile_live.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1350" title="Geekssmile_live" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Geekssmile_live.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a>Setelah diskusi, acara beralih ke panggung musik dengan penampilan band The Listen, Balian, Nosstress, Geekssmile, dan Navicula.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/woodcut-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1362" title="woodcut-2" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/woodcut-2.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/auction_art.jpg"><img class="aligncenter" style="margin-top: 10px; margin-bottom: 10px;" title="auction_art" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/auction_art.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Acara diselingi dengan lelang karya bertema orangutan karya seniman Bali seperti Made Bayak dan mahasiswa ISI yang tergabung dalam Komunitas Djamur. Dana yang terkumpul dari lelang sekitar Rp. 6,000,000 disalurkan ke WALHI Bali untuk perjuangan lingkungan hidup.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/NAVICULA_LIVE.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1351" title="NAVICULA_LIVE" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/NAVICULA_LIVE.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Momen yang paling ditunggu dari acara ini adalah peluncuran single terbaru Navicula berjudul “Orangutan”. Navicula mendedikasikan lagu ini untuk melipatgandakan kepedulian pada keselamatan dan kelestarian orangutan sebagai spesies langka. Robi menciptakan lagu ini pada April 2011 sebagai salah satu materi album baru Navicula yang direncanakan rilis tahun depan. <a href="http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/" target="_blank"><span style="color: #008000;">“Orangutan” bisa diunduh secara gratis di sini.</span></a></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Green-072.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1352" style="margin: 8px 12px;" title="Green-072" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Green-072-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a>Tidak hanya merilis lagu untuk diunduh publik, Navicula juga merilis video musik “Orangutan”. Gambar video ini diselipi dengan potongan gambar dari <a href="http://www.greenthefilm.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Green, the Film.</span></a> Film dokumenter karya Patrick Rouxel ini berkisah tentang Green, seekor orangutan betina yang meregang nyawa. Film ini tanpa narasi, hanya gambar-gambar yang indah dan menyedihkan.</p>
<p>Green adalah korban deforestasi dan eksploitasi sumber daya alam. Film ini adalah perjalanan emosional seekor primata langka dalam kesendiriannya di dunia yang tak berpihak padanya.<strong></strong></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><strong></strong><em>Foto oleh Vifick Bolang dan Green the Film.</em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/video-orangutan-oleh-navicula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Insinyur suara tempaan Swiss</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/french-fanatic-sound-craftsman/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/french-fanatic-sound-craftsman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 11:52:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[Dialog Dini Hari]]></category>
		<category><![CDATA[Live Music Venue]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[Nosstress]]></category>
		<category><![CDATA[Serambi Arts Antida]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[Guru bahasa Prancis gagal yang menjadi arsitek suara untuk studio rekaman terbaik di Bali.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Guru bahasa Prancis gagal yang menjadi arsitek suara untuk studio rekaman terbaik di Bali.</strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_FLYING.jpg"><img class="aligncenter" title="Anom Darsana" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_FLYING.jpg" alt="" width="600" height="195" /></a>Bila diibaratkan seorang bayi, Serambi Arts Antida seharusnya baru belajar berjalan. Atau mungkin masih merangkak. Tapi bayi yang satu ini meski baru berusia setahun, sudah melesat lari.</p>
<p>Sabtu (29/10), Serambi merayakan ulang tahun yang pertama dengan pertunjukan yang mencerminkan visinya. Pementasan diisi oleh penyair Cok Sawitri, grup folk Nosstress dan Dialog Dini Hari, Geekssmile, band grunge rock Navicula. Kamau, penyanyi hip-hop yang sudah lama tinggal di Bali serta kakek blues dan soul Jim Larkin yang sedang berkunjung dari Amerika Serikat, ikut meramaikan Serambi.</p>
<p>Setahun yang lalu Serambi membuka pintunya bagi seniman pentas dan visual lokal, nasional, juga internasional. Dalam tahun pertama, Serambi menjadi wadah bagi para insan kreatif melalui pameran fotografi dan lukisan, peluncuran album, lokakarya pendidikan, jam session, dan <em>poetry slam</em>.</p>
<p>Venue yang semi-terbuka ini terbagi dua bagian. Ada bar dengan panggung dan kebun yang terletak di belakang studio rekaman dan produksi yang saat ini dianggap terbaik di Pulau Dewata. Dan nama harum Antida dengan kualitas suara pertunjukan live dan mixing rekamannya tidak bisa dilepaskan dari peran arsitek di belakangnya: Gung Anom.</p>
<p>Kelahiran Antida punya jejak di sebuah negara yang ratusan ribu kilometer jauhnya dari Bali: Swiss. Anom pindah ke Swiss mengikuti ayahnya yang pindah tugas kerja. Di Jenewa dia belajar bahasa Prancis karena berencana menjadi guru bahasa Prancis saat pulang ke Bali.</p>
<p>Namun, sebelum pindah ke Eropa, Anom hanya kursus bahasa Prancis di Alliance Francaise sebelum selama tiga bulan. Akibatnya dia mengalami kesulitan diterima di sistem sekolah Swiss yang sangat kompetitif. Setelah berbulan-bulan mendalami bahasa Prancis, Anom diterima di suatu sekolah di Jenewa. Selama sekolah, ia mendalami kecintaannya terhadap bahasa Prancis dan bertemu perempuan yang menjadi istrinya di masa depan.</p>
<p>Setelah tamat sekolah, Anom tidak berkeinginan pulang ke Bali. Dia merasa sangat nyaman hidup di Swiss, terutama di komunitas kreatif di Jenewa. Dia tidak bisa membayangkan kembali ke Bali yang menurutnya masih kekurangan komunitas musik dan seni.</p>
<p>Anom sudah menikah di Swis dan mengantongi dokumen kerja. Tapi dia harus menghadapi kenyataan tidak banyak yang bisa ia lakukan dengan sertifikat mengajar bahasa Prancis di Swiss. Apalagi bahasa Prancis bukan bahasa ibunya. “Saya masih mau tinggal di sana, tetapi tidak bisa bekerja sebagai guru bahasa,” kata Anom.</p>
<p>Ia mulai bekerja dengan gaji kecil di sebuah studio sound engineer. “Awalnya pekerjaan saya buat kopi untuk <em>engineer</em> dan bersih-bersih studio. Dan mulai belajar sedikit-sedikit,” kata Anom.</p>
<p>Tanpa prospek bagus menjadi pengajar bahasa, Anom mengalihkan perhatiannya: ia mendaftar di sekolah <em>sound engineering</em>. Dia pun mulai bekerja lepas sebagai <em>sound engineer</em> untuk program televisi, produksi acara non siaran, dan teater. Setiap hari dia bekerja dan sekali seminggu selama dua tahun dia mengikuti kursus teori suara. Dia pun mengantongi sertifikat dan mulai bekerja penuh sebagai <em>sound engineer</em>.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/tout-un-monde-anom-et-pouney.jpg"><img class="alignright" style="margin: 4px 8px;" title="tout un monde" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/tout-un-monde-anom-et-pouney.jpg" alt="" width="161" height="158" /></a>Di Jenewa Anom sempat membuka studio underground kecil bernama Antida. Inilah cikal-bakal Antida Studio di Jl Waribang Denpasar. Tak hanya bekerja di belakang layar, Anom juga menjalankan duo hip-hop Tout un Monde (Seluruh Dunia) bersama temannya, Pouney. Anom berbaik hati memberi satu ocehannya yang berbahasa Prancis untuk dirilis di akarumput.com.</p>
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F26811223&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;color=ff7700"></iframe><br />
<a href="http://snd.sc/vgNmBh">Klik di sini untuk mengunduh</a></p>
<p>Setelah 13 tahun di Eropa, romantismenya tentang tempat itu mulai menipis dan dia ingin kembali ke suasana damai yang diingat di Bali. “Hidup di sana tidak segampang yang kita kira. Jangan kira di luar negeri enak. Di sana susah sekali, harus sangat kerja keras,” kata Anom. Dia pun memboyong keluarganya ke Denpasar. “Saya jauh lebih senang di Bali sekarang daripada di Swis, lebih nyaman di sini.”</p>
<p>Tahun 2004, Anom membuka studio kecil di depan Taman 65, Jalan WR Supratman. Studio ini dia lengkapi dengan perangkat audio yang dia bawa dari Swiss. Anom masih bekerja secara lepas sebagai <em>sound engineer</em> untuk acara musik dan studionya disewakan untuk rekaman.</p>
<p>Tahun 2007, dengan bantuan beberapa investor, Anom memindahkan Antida Studio ke Jalan Waribang. Antida cepat dikenal karena kualitas alat dan teknik rekaman berstandar internasional. Kemampuan <em>sound engineer</em> juga faktor penentu. “Cara mengatur suara tak bisa dipelajari secara teori saja. Dan tidak bisa dipelajari dalam satu minggu, tapi lewat pengalaman,” kata Anom.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_MiXING.jpg"><img class="aligncenter" title="Anom at Antida" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Anom_MiXING.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Kini Anom sudah mengantongi 15 tahun pengalaman sebagai <em>sound engineer</em> untuk panggung. Untuk rekaman dia menangani musisi Bali, nasional, dan internasional beragam aliran, dari hard rock, grunge, jazz, pop, <em>world music</em>, hingga tradisional seperti gamelan. “Hanya dangdut yang belum pernah” kata Anom sambil ketawa.</p>
<p>Anom juga pernah menjadi sponsor dan produser untuk beberapa grup musik, termasuk Dialog Dini Hari dan Nosstress. “Impian saya adalah memulai label rekaman di bawah nama Serambi. Aku ingin mendukung band yang potensinya bagus,” kata Anom.</p>
<p>Setiap tahun Anom ke Swiss untuk menjadi sound engineer di beberapa konferensi dan festival. Penghasilan tambahan yang didapat di luar negeri memungkinkan Anom untuk terus menjalankan studionya di Bali.</p>
<p>Sejak lama Anom memendam keinginan untuk memberi pengaruh lebih langsung pada komunitas kreatif di Bali. Karena itu dia mendirikan venue Serambi Arts Antida. “Serambi Arts Antida berdedikasi mengembangkan dan mempromosikan seni dan budaya kontemporer dari komunitas Bali.”</p>
<p>Serambi bukan hanya bar lokal yang menampilkan musik. Anom berharap Serambi dapat memberi konteks bagi seni dan musik lokal agar bisa terus bekembang dan mekar. Dia juga berharap komunitas lokal punya rasa memiliki terhadap tempat itu. Anom cukup bangga, dalam setahun venue ini telah menjadi salah satu lokasi tempat yang orang suka ngumpul, terutama bagi musisi setempat dan teman dan penggemar mereka.</p>
<p>Anom ingin Serambi lebih bisa memfasilitasi pengalaman seni yang beragam dan lebih luas. “Bali memiliki scene rock yang kuat, dan itu bagus. Namun saya juga berharap anak muda akan mendengarkan sesuatu yang baru.”</p>
<p>Visi itu dijalankan Anom lewat seri pertunjukan World Musik, yang merupakan salah satu event yang sangat sukses di Serambi. “Saya berharap musik seperti ini bisa memiliki tempat di Denpasar, sama seperti musik rock. Aku ingin mendorong anak muda untuk mendengar dan menghargai berbagai jenis musik dalam forum yang terbuka dan kreatif.”</p>
<p>Sepertinya komunitas kreatif yang Anom nikmati di Jenewa kini bisa ditemukan di rumahnya sendiri.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><em>Foto oleh <a href="http://twitter.com/13Rudi" target="_blank">Rudi Waisnawa.</a></em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/french-fanatic-sound-craftsman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia di balik kamera kaleng</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/message-in-a-can/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/message-in-a-can/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 18:46:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Rio Helmi]]></category>
		<category><![CDATA[Sanggar Anak Tangguh]]></category>
		<category><![CDATA[Semut Ireng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=992</guid>
		<description><![CDATA[Selama tiga minggu tembok Bar Luna, Ubud, penuh dihiasi foto banten (sesajen), selokan di pinggir jalan ataupun potret diri anak-anak dalam hitam putih. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/19_cerita_kaleng.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-995" title="Bar Luna" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/19_cerita_kaleng.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a> Selama tiga minggu tembok Bar Luna, Ubud, penuh dihiasi foto banten (sesajen), selokan di pinggir jalan ataupun potret diri anak-anak dalam hitam putih. Namun kondisi itu harus berakhir karena pameran “Cerita dalam kaleng” <strong>Sanggar Anak Tangguh dan Komunitas Fotografi Semut Ireng</strong> harus berakhir Rabu (19/10).</p>
<p><strong><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/19_cerita_kaleng61.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1001" style="margin: 4px 12px;" title="19_cerita_kaleng6" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/19_cerita_kaleng61.jpg" alt="" width="198" height="265" /></a>Pameran fotografi lubang jarum yang berlangsung </strong>sejak <strong>Selasa (27/9) itu </strong>semuanya hasil karya anak muda dari Sanggar Anak Tangguh. Sanggar seni untuk anak-anak ini didirikan oleh I Komang Adiarta dan beberapa pengajar lain di Banjar Wangbung, Guwang, Sukawati.</p>
<p>Kelompok fotografi Semut Ireng memberikan pelatihan kepada anak-anak sanggar mengenai teknik pengambilan foto yang tertua di dunia: kamera lubang jarum. Kamera lubang jarum adalah alat sederhana yang terbuat dari kotak atau wadah yang tidak tembus cahaya. Wadah ini menjadi badan kamera dengan lubang kecil di satu sisi sebagai jalan masuk cahaya (diafragma).</p>
<p>Cahaya melewati lubang dan memproyeksi gambar secara terbalik pada film atau kertas foto yang ditempatkan di dalam kotak. Kamera lubang jarum adalah alat tertua untuk memperbanyak gambar dan alat ini menjadi leluhur dari semua kamera modern yang kita gunakan sekarang.</p>
<p>Alhazen (Ibn Al-Haytham, yang lahir di abad ke 10 di daerah yang kita kini sebut Irak) dihargai sebagai orang pertama yang menjelaskan cara bekerja kamera lubang jarum. Namun sebelumnya filsuf dari Cina dan Yunani pernah mengamati dan mendokumentasikan “kamera” yang mencul secara alami saat cahaya melalui lubang pada keranjang anyaman.</p>
<p>Komunitas lubang jarum pertama dari Indonesia terbentuk tahun 2002 di Jawa Timur. Fotografer lubang jarum dari Sanggar Anak Tangguh membuat kamera mereka dari kaleng bekas. Semut Ireng menyediakan kertas foto dan selotip hitam yang digunakan sebagai rana untuk menutupi lubang cahaya pada kamera kaleng.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/19_cerita_kaleng2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-996" title="19_cerita_kaleng2" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/19_cerita_kaleng2.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p>Saat ditanya apakah anak-anak menikmati mengambil foto menggunakan kamera lubang jarum, satu anak menjawab, “Suka karena seru, tetapi kadang tidak suka kalau berpanas-panasan dan mengganggu jam makan siang.” Saat mendengar komentar tersebut, para penonton yang hadir pada acara pembukaan tertawa. Alasan teknik fotografi ini mengganggu jam makan fotografer adalah karena kamera lubang jarum paling efektif digunakan saat tengah hari.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/19_cerita_kaleng5.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-999" style="margin: 4px 12px;" title="19_cerita_kaleng5" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/19_cerita_kaleng5.jpg" alt="" width="272" height="184" /></a>Rio Helmi, fotografer ternama dari Indonesia, juga menghadiri acara ini dan membagi nasehat bijak kepada fotografer muda tentang sejarah fotografi. Rio menekankan pentingnya mereka terus mendalami aliran seni tersebut.</p>
<p>Judul pamerannya, “Cerita dalam kaleng”, terinspirasi dari konsep mengirim pesan dalam botol. Untuk pengambilan foto, Semut Ireng menggunakan kertas foto yang akan menghasilkan gambar negatif, daripada menggunakan film yang harus diproses lagi sebelum dicetak. “Para murid belajar kesabaran dan dapat merasa bangga dari proses membuat sesuatu menjadi milik mereka sendiri,” kata Vifick Bolang dari Semut Ireng.</p>
<p>Sanggar Anak Tangguh didirikan tahun 2007 oleh kelompok pengajar di Sukawati. “Kami merasa pendidikan yang anak-anak mendapatkan di sekolah masih kurang,” jelas Adiarta saat bicara di pembukaan pameran. “Kami ingin memberikan mereka ketrampilan tambahan.”</p>
<p>Komentar serupa juga pernah diucapkan oleh Made Bayak, guru di Sanggar Anak Tangguh, saat pameran mereka dua bulan lalu di Art Café, Seminyak. “Sekolah di daerah kita tidak menyediakan pendidikan seni yang memadai, jadi kita berusaha memberikan kursus tambahan bagi anak-anak untuk lebih membuka wawasan mereka,” kata Bayak.</p>
<p>Sanggar Anak Tangguh beraktivitas setiap hari minggu. Saat ini ada tujuh relawan di sana yang mengajar seni lukis, musik, tari, bahasa, matematika, dan fotografi. Selain pameran ini, murid tersebut baru selesai membuat mural (lukis tembok) besar di desa mereka.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/message-in-a-can/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bergembira dengan teknik grafis purba</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/having-fun-with-ancient-graphic-techniques/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/having-fun-with-ancient-graphic-techniques/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 16:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[taman 65]]></category>
		<category><![CDATA[taring padi]]></category>
		<category><![CDATA[woodcut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=789</guid>
		<description><![CDATA[Di era seni grafis komputer, teknik grafis kuno menjadi kejutan yang menyenangkan. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_14.jpg"><img title="Taring Padi woodcut workshop" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_14.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><strong>Di era seni grafis komputer, teknik grafis kuno menjadi kejutan yang menyenangkan. </strong></p>
<p><em>What you see is what you get. </em>Ungkapan seni grafis ini tidak selamanya menarik. Hasil cetak grafis yang tidak bisa ditebak bisa menjadi kejutan yang menyenangkan.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_Alfred_1.jpg"><img title="Taring Padi launch" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_Alfred_1.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a>Itulah yang terjadi saat workshop cukil kayu bersama Taring Padi di Taman 65, Kesiman, Denpasar, 8 Oktober lalu. Semua partisipan workshop tampak bergembira. Bagian paling menyenangkan adalah ketika mengangkat lembar papan cukilan dari atas media cetak yaitu kaos dan kertas.</p>
<p>“Wow!” begitu umumnya ekspresi orang saat melihat hasil cetak pertama kali. Padahal cetakannya hanya mengggunakan satu warna cat, hitam. Dan hasil cetakan satu cukilan di atas dua kaos bisa sangat berbeda, tergantung ketebalan cat yang dilumuri pada papan cukilan. Cara menekan papan cukilan ke atas media cetak juga sangat berpengaruh.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Ucup_Alfred_Taring_padi.jpg"><img class="alignleft" style="margin: 4px 12px;" title="Ucup_Alfred_Taring_padi" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Ucup_Alfred_Taring_padi.jpg" alt="" width="209" height="278" /></a>Papan cukilan ditekan dengan cara berdiri di atasnya. Bila menginjak kurang lama, cat yang tercetak ke atas media bisa tipis atau ketebalan bervariasi karena ada bagian yang kurang mendapat tekanan.</p>
<p>Workshop dibuka oleh M Yusuf dari Taring Padi menjelaskan kelebihan teknik grafis yang telah dilakukan di peradaban kuno ini sebagai media propaganda. Untuk membuat poster misalnya, teknik cetak cukil kayu tidak punya kendala dengan variabel jumlah cetakan. Sementara teknik cetak modern harus dalam jumlah relatif banyak agar bisa murah. Dan teknik cukil sangat swadaya, semua bisa dilakukan sendiri. Tangan manusia dan kayu adalah mesin cetaknya.</p>
<p>Untuk kolektif gerakan masyarakat seperti Taring Padi, cetak swadaya juga lebih aman. Karena tidak melibatkan pihak lain untuk mencetakkan media propaganda yang sama saja dengan membocorkan informasi sebelum tersebar. “Secara visual, cetak cukil kayu sangat terasa sentuhan manusianya. Dan bisa dikembangkan untuk media cetak yang beragam. Ukurannya pun tidak terbatas pada kemampuan mesin cetak,” kata Yusuf yang biasa disapa Ucup.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_8.jpg"><img title="TP_woodcut_8" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_8.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Proses cetak cukil kayu dimulai dari membuat gambar cetakan di atas papan MDF (medium density fibreboard) atau papan kayu lainnya. Melukis harus dilakukan secara refleksi horizontal cermin, kanan menjadi kiri dan sebaliknya kiri menjadi kanan. Setelah itu gambar dicukil dengan pisau pahat kecil. Ada beragam jenis mata pisau yang menghasilkan efek goresan berbeda. Bagian yang tidak tercukil yang akan mencetakkan cat ke atas media, dan bagian cukilan membuat media tidak tersentuh cat.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_12.jpg"><img title="TP_woodcut_12" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_12.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a>Bila papan cukilan selesai, tuang cat ke atas media yang rata dan licin seperti cermin. Lalu ratakan cat dengan roller. Setelah itu roller digelindingkan ke atas papan cukilan. Bila sudah rata, kayu cukilan diletakkan di atas media pada posisi yang diinginkan. Media cetak sebaiknya diletakkan di atas bidang rata seperti kardus bekas.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_9.jpg"><img title="TP_woodcut_9" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_9.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Tutupi kayu cukilan dengan kertas bekas pakai agar tidak mengotori media. Maka mulailah menginjak cukilan sampai rata. Bila dirasa sudah cukup, angkat kayu cukilan perlahan. Voila! Saksikan kejutan yang menyenangkan pada hasil cetak cukil kayu.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_7.jpg"><img title="woodcut art" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/TP_woodcut_7.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/having-fun-with-ancient-graphic-techniques/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cat dan pesan memperindah jalanan</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/eco-mural-denpasar/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/eco-mural-denpasar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 04:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[mural]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[Eco-mural menjadi aktivitas offline pertama Akarumput.com. Warna-warni pada dinding merangsang kesadaran lingkungan dan kebanggaan masyakat kota.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Eco-mural menjadi aktivitas offline pertama Akarumput.com. Warna-warni pada dinding merangsang kesadaran lingkungan dan kebanggaan masyakat kota.</strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/upload-47.jpg"><img class="aligncenter" title="Eco-mural in Denpasar" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/upload-47.jpg" alt="" width="600" height="366" /></a>Kota Denpasar yang kekurangan sistem penanganan masalah lingkungan yang memadai memerlukan aksi lingkungan di tingkat akar rumput. Banyak pilihan untuk menyampaikan seruan kesadaran lingkungan kepada masyarakat. Salah satunya lewat seni rupa, dengan karya yang menjadikan jalanan sebagai ruang pamernya: mural.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/lagi-9.jpg"><img class="aligncenter" title="Akarumput eco-mural in progress" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/lagi-9.jpg" alt="" width="600" height="381" /></a>Akarumput bersama beberapa kelompok turun ke jalan membawa ember dan cat. Sejumlah mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang bernaung dalam Komunitas Djamur, dan murid Bali International School (BIS) ikut menggoreskan warna-warna cerah dan pesan ramah lingkungan pada tembok jalan yang biasanya kotor.</p>
<p>Kegiatan yang dinamai eco-mural ini dilakukan selama tiga hari di tembok sepanjang 55 meter di Jalan Pakisaji, dekat Hayam Wuruk, Denpasar Selatan. Aktivitas ini mungkin terjadi karena dukungan pemuda-pemudi Pakisaji yang selama ini ingin lingkungannya lebih bersih.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Hutan-tamat.jpg"><img class="aligncenter" title="Pemerintah lambat... hutan tamat..." src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Hutan-tamat.jpg" alt="" width="600" height="309" /></a> Mural yang dihasilkan antara lain gambar hutan yang gundul terbakar dengan keong membawa selang air, dan tertulis kata-kata, “Pemerintah Lambat, Hutan Tamat.” Gambar lainnya merepresentasikan ibu pertiwi secara modern, bermahkota gedung tinggi yang mengepung pohon-pohon tersisa. Sang ibu pertiwi dipeluk oleh dua perempuan yang memakai masker gas. Sebagian mural menyelipkan humor. Seperti lukisan tampak belakang tiga orang sedang mengencingi pot tanaman, dengan slogan di atasnya, “Save Water”. Bisa jadi, tidak kencing di kloset mengurangi konsumsi air bersih, dan mengalihkan urine ke tanaman yang lebih membutuhkannya.</p>
<p>BIS mendukung kebutuhan dana karena menganggap kegiatan ini efektif merangsang jiwa seni anak-anak, sekaligus menanamkan kesadaran lingkungan mereka. “Lucu sekali, saat aku mengajar di kelas, tidak pernah melihat murid-murid seantusias ini,” kata Kayti Denham, guru BIS, sambil tertawa. “Mereka sepertinya mengerti tujuan aksi masyarakat.”</p>
<p>Made Bayak, gitaris band hard rock Geekssmile, ikut berpartisipasi melukis bersama Damar, putranya yang berumur lima tahun. Bayak adalah muralis yang cukup berpengalaman. Guru seni di Sanggar Anak Tangguh Sukawati ini baru saja menyelesaikan proyek mural bersama Sumatran Orangutan Society yang berbasis di Ubud.</p>
<p>Pemuda Pakisaji adalah kunci utama dalam penyelesaian mural ini. Mereka membantu saat pelukis menggambar, mengatur lalu lintas, dan menyiapkan makan dan minuman bagi semua pendukung kegiatan. Selama tiga hari sebelum kegiatan mural, mereka membersihkan semua sampah di sekitar jalan Pakisaji dan membersihkan tembok agar siap dilukis.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/upload-1.jpg"><img class="aligncenter" title="upload-1" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/upload-1.jpg" alt="" width="600" height="378" /></a>Rasa memiliki pada lingkungan itu yang ingin dibidik Akarumput. “Tujuan utama dari kegiatan sini adalah membuat tetangga kami bangga dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Perasaan memiliki juga akan mendorong masyarakat untuk menjaga lingkungan sekitar,” kata Gede Robi Supriyanto, koordinator acara yang ikut aktif melukis mural. “Ini adalah aksi berbasis masyarakat yang sebenarnya karena semua elemen dan sumber daya setempat saling mengisi satu sama lain,” kata vokalis Navicula ini.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/lagi-3.jpg"><img class="aligncenter" title="eco-mural" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/lagi-3.jpg" alt="" width="600" height="347" /></a>Sumber daya setempat yang dimaksud Robi salah satunya adalah Sekolah Farabi Musik yang berlokasi di Jalan Pakisaji. Lembaga ini mendukung eco-mural dengan menyediakan sound system dan penggung untuk acara musik penutupan eco-mural pada Minggu petang. Navicula, Geekssmile, Qupitt dari Nosstress dan sejumlah band siswa Farabi tampil pada acara penutupan yang terasa hangat. Kehangatan yang diharapkan ke tempat lain di Denpasar agar terpicu membuat kegiatan serupa secara sporadis.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><em>Foto oleh <a href="http://twitter.com/13Rudi" target="_blank">Rudi Waisnawa.</a></em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/eco-mural-denpasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bermantra untuk program sosial</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/yoga-mala/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/yoga-mala/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 07:56:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[BaliSpirit Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[charity event]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud]]></category>
		<category><![CDATA[yoga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=732</guid>
		<description><![CDATA[Angka 108 bermakna sakral. Pada tasbih Hindu dan Buddha ada 108 mote untuk berdoa dan mengulang mantra yang disebut mala. Shiva Rea, instruktur yoga dari Amerika Serikat mengeksplorasi angka ini melalui program Global Yoga Mala.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Yoga-mala-intro2.jpg"><img title="Robin Lim at Yoga Mala" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/Yoga-mala-intro2.jpg" alt="" width="600" height="331" /></a><strong>Angka 108 bermakna sakral. Pada tasbih Hindu dan Buddha ada 108 mote untuk berdoa dan mengulang mantra yang disebut mala. Shiva Rea, instruktur yoga dari Amerika Serikat mengeksplorasi angka ini melalui program Global Yoga Mala.</strong></p>
<p>Program ini bertujuan menyatukan studio yoga, ashram, dan yayasan dari seluruh dunia demi berpraktek yoga dengan berpatokan pada angka 108. Pada 24 dan 25 September lalu hampir 300 orang <em>yogi</em> terlibat dalam Global Yoga Mala for Peace Project yang digelar di Yoga Barn dan Taksu Yoga Studio di Ubud, Bali.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/yoga-3_web.jpg"><img title="yoga-3_web" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/yoga-3_web.jpg" alt="" width="600" height="385" /></a>Partisipan Global Yoga Mala Project melakukan 108 mantra, <em>kriya</em> atau gerakan pembersihan, <em>suryanamaskar</em> atau pujian pada matahari (terbentuk dari 12 <em>asanas</em>, gerakan tubuh pada subuh hari dan senja hari sebagai tanda terima kasih pada matahari). Acara di Yoga Barn dibuka dengan doa Hindu yang dipimpin oleh Uma Inder, lalu ada 108 <em>suryanamaskar</em>, meditasi dengan Tibetan bowl yang dipimpin oleh Novara Soeharto.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/yoga-2_web.jpg"><img class="alignleft" style="margin: 4px 12px;" title="Yoga Mala" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/yoga-2_web.jpg" alt="" width="258" height="345" /></a>Juga ada yoga terbang (gerakan yoga ringan yang dilakukan berpasangan), dan yoga kesehatan yang rileks. Selain 108 gerakan suryanamaskar, acara di Taksu juga menjalankan doa bersama mengulang mantra Om 108 kali, tantra yoga, dan kursus meditasi.</p>
<p>Global Yoga Mala diadakan setiap tahun untuk mendukung suatu kegiatan sosial atau penggalian dana bagi organisasi nirlaba. Seluruh dana yang dikumpulkan dari acara ini disumbangkan pada kegiatan pendidikan “Ayo! Kita Bicara HIV dan AIDS” dari <a href="http://www.balispiritfestival.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Bali Sprit Festival</span></a> dan klinik bersalin Yayasan Bumi Sehat Ubud.</p>
<p>“Ayo! Kita Bicara HIV dan AIDS” menjalankan program pendidikan di beberapa SMA di Bali. Dengan pendekatan yang interaktif dan komunikatif, fasilitator lokakarya Ayo! Kita Bicara membangun wadah diskusi bagi para murid SMA. Aktivitas ini menjadi wadah bagi mereka untuk bebas berekspresi tentang HIV/AIDS dan praktek seks aman, tanpa risiko stigma sosial.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/yoga-6_web.jpg"><img title="yoga-6_web" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/yoga-6_web.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a><a href="http://bumisehatbali.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Yayasan Bumi Sehat</span></a> sedang mendapat sorotan saat ini karena motornya, bidan Robin Lim menjadi kandidat untuk CNN Heroes 2011. Robin bersaing dengan sembilan kandidat lain untuk menjadi “CNN Hero of the Year.” Jika dia menang, Bumi Sehat akan menerima dana sebanyak US$250.000, yang akan dimanfaatkan untuk membangun klinik baru. Kamu bisa mendukung Robin Lim dengan <a href="http://edition.cnn.com/SPECIALS/cnn.heroes/archive11/robin.lim.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">menyumbang vote-mu di sini.</span></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/yoga-mala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tamparan di wajah yeah yeah yeah</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/geekssmile-single-a-lesson-in-critical-nationalism/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/geekssmile-single-a-lesson-in-critical-nationalism/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 04:27:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[geekssmile]]></category>
		<category><![CDATA[twice bar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=633</guid>
		<description><![CDATA[Geekssmile ingin menyadarkan orang tentang kondisi Indonesia sekarang. Seperti sebuah tamparan di wajah.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/geekssmile-launch-1.jpg"><img class="aligncenter" title="Geekssmile launch party" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/geekssmile-launch-1.jpg" alt="" width="601" height="274" /></a></p>
<p><strong>Geekssmile ingin menyadarkan orang tentang kondisi Indonesia sekarang. Seperti sebuah tamparan di wajah.</strong></p>
<p>Rasa cinta negeri atau nasionalisme sering menjadikan orang buta terhadap ketidakadilan sosial. Banyak band pop yang membuat lagu bertema nasionalisme untuk merayakan keindonesiaan secara berlebihan. Band asal Bali, Geekssmile merilis lagu bertema nasionalisme tapi dengan perspektif kritis berjudul <em>Yeah Yeah Yeah Indonesia</em>.</p>
<p>Single ini dirilis 19 Agustus lalu di Twice Bar, Jl Poppies Kuta. Acara ini didukung oleh band punk Devildice dan grup grunge/psychedelic rock, <a href="http://www.naviculamusic.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Navicula</span></a>. Venue kecil ini disesaki penontong hingga melebihi kapasitas. Saat giliran Geekssmile tampil, penonton memenuhi tempat di depan panggung dan hampir menjatuhkan mic dan amplifier saat membuat <em>mosh pit</em>.</p>
<p><em><img class="alignleft" style="margin: 4px 12px;" title="Geekssmile launching at Twice Bar" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/10/geekssmile-launch-2.jpg" alt="" width="270" height="377" /></em></p>
<p><em>Yeah Yeah Yeah Indonesia</em> langsung disukai penonton. Lagu ini menjadi tanda perubahan gaya bagi grup Geekssmile, yang kini tinggal satu frontman. Personel dan musik Geekssmile telah berubah sejak terbentuk tahun 2001, saat mereka lebih banyak memainkan lagu Rage Against the Machine dan cover lagu rap atau metal di festival rock lokal.</p>
<p>Setelah rilis album studio pertama, Jurnal untuk Perang Indonesia, tahun 2004, band ini semakin aktif dalam scene underground Bali. Sejak rekaman mereka mulai tersebar, Geekssmile dikenal untuk lirik yang kritis mengenai isu sosial, ekonomi, dan politik nasional dan global.</p>
<p>Tahun 2010 Geekssmile merilis album studio kedua berjudul <em>Upeti Untuk Macan Asia</em> yang diterima positif oleh scene underground nasional. Aliran musik mereka telah berkembang dari hardcore Indonesia (mengingatkan pada rap/rock Amerika Serikat), menjadi lebih mendekati heavy metal dan progressive rock.</p>
<p><em>Yeah Yeah Yeah Indonesia </em>mengkritik gejala patriotisme malas berpikir. “Kita tidak terlalu bangga dengan negara ini karena kita tidak pernah merasa aman dan damai dalam negara sendiri. Lagu ini adalah kritik kami terhadap orang-orang yang memimpin negara ini,” kata vokalis Geekssmile, Prima Yudhistira.</p>
<p>Prima berharap <em>Yeah Yeah Yeah Indonesia </em>dapat mencuri perhatian seperti tamparan di wajah. “Lagu lain berusaha membuat pendengar merasa nyaman, kami memukulmu. Kami berusaha membuat orang sadar tentang kondisi dunia, keadaan kehidupan sekarang,” kata Prima.</p>
<p>Acara rilis single ini didekasikan untuk<span style="color: #008000;"> <a href="http://walhibali.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali </span></a></span>yang sedang mengampanyekan penolakan terhadap rencana proyek Bali International Park (BIP). Walhi menolak proyek yang ditujukan untuk infrastruktur KTT APEC 2012 ini karena lokasi proyek di Bukit Jimbara adalah kawasan konservasi. Dana yang terkumpul pada acara ini diserahkan untuk perjuangan ekologi Bali.</p>
<p><em>Yeah Yeah Yeah Indonesia </em>dapat diunduh secara gratis, <a href="http://snd.sc/u9FyHj">di sini</a>:</p>
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F24562019&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;color=ff7700"></iframe></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><em><strong>Lirik &#8220;Indonesia&#8221; oleh Geekssmile:</strong></em></p>
<p>Lihat tanah ini lewat mataku; tak hanya merah dan putih<br />
Ada hitamnya aspal sejarah membungkam kerikil<br />
Berlari bertubrukan di realita, mulutmu kunyah stigma<br />
Jatuh tersandung pilihan pilihan yang diperas dari rahim kita<br />
Buka matamu</p>
<p>Bayar bankirmu, bayar lontemu, bayar bandarmu; mati lagi<br />
Gadaikan nyawa, gadai tanahmu, jual tipuan seolah komoditi<br />
Suara ini akan bergema sampai sangkakala tiba<br />
Kali ini pilihan milikmu, tebas batas batas itu<br />
Aku ababilmu</p>
<p>Mengejar bayang takdir yang bukan milikmu<br />
Berpacu menuju harapan yang bersandar di berhala bernama negara</p>
<p>Yeah yeah yeah Indonesia yeah yeah yeah</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/geekssmile-single-a-lesson-in-critical-nationalism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
