<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; Alam</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/category/environment/nature/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Navicula membuka Borneo Tour di Medan</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/navicula-membuka-borneo-tour-di-medan/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/navicula-membuka-borneo-tour-di-medan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2012 15:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1981</guid>
		<description><![CDATA[Grup musik asal Bali, Navicula membuka rangkaian tur ke Kalimantan (Borneo Tour) untuk kampanye perlindungan orangutan dengan konser musik di Medan, 24 Juli mendatang<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1983" class="wp-caption aligncenter" style="width: 611px"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/Gembull_NVCL_orangutan-1_web.jpg"><img class="size-full wp-image-1983" title="Gembull_NVCL_orangutan-1_web" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/Gembull_NVCL_orangutan-1_web.jpg" alt="" width="601" height="402" /></a><p class="wp-caption-text">Gembull Navicula meets an orangutan</p></div>
<p>Grup musik asal Bali, Navicula membuka rangkaian tur ke Kalimantan (Borneo Tour) untuk kampanye perlindungan orangutan dengan konser musik di Medan, 24 Juli mendatang. Pertunjukan bertajuk “Road to Borneo Tour” itu digelar untuk menggemakan persoalan deforestasi yang mengancam habitat satwa langka di Sumatera, khususnya Hutan Rawa Tripa, Aceh.</p>
<p>“Konser di Medan adalah pemanasan sebelum kami tur ke Kalimantan, bulan September nanti. Di tengah persiapan menuju Borneo Tour mencuat banyak persoalan di Sumatera, seperti masalah hutan Rawa Tripa yang merupakan habitat orangutan. Didukung oleh beberapa lembaga yang concern pada konservasi lingkungan, kami pun hadir di Sumatera, pilihannya di kota Medan,” kata Gede Robi Supriyanto, vokalis Navicula di Bukit Lawang, Sumatra Utara, Jumat (20/7).</p>
<p>Robi berada di Bukit Lawang dalam rangka perjalanan menyusuri hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Perjalanan ini menjadi asupan pengalaman bagi Robi untuk mengampanyekan persoalan lingkungan lewat musik. Road to Borneo Tour di Medan didukung oleh <a href="http://www.yelweb.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Yayasan Ekosistem Lestari (YEL)</span></a>, <a href="http://www.sumatranorangutan.org/content-n31-sE.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">Sumateran Orangutan Conservation Programe (SOCP)</span></a>, <a href="http://www.paneco.ch/aktuelles-n111-sD.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">PanEco</span></a>, <a href="http://sawitwatch.or.id/" target="_blank">Sawit Watch</a>, dan <a href="http://www.walhi.or.id/id/home/eksekutif-daerah/114-walhi-sumatera-utara.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut.</span></a></p>
<p>Pada acara yang akan digelar di Rama Gardenia Café, 24 Juli itu Navicula yang berdiri sejak tahun 1996 akan tampil dalam format akustik. Acara juga diisi dengan diskusi tentang penyelamatan hutan rawa Tripa, serta pameran foto orangutan dan harimau Sumatera dari Komunitas Mata Kamera, Medan.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/poster_NVCL_medan-web.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1985" title="Navicula_Medan_24Juli" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/poster_NVCL_medan-web.jpg" alt="" width="600" height="437" /></a></p>
<p>Navicula yang konsisten menyuarakan isu lingkungan akan menggelar Borneo Tour di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, pertengahan September mendatang. Tur ini mengangkat tema persoalan orangutan sebagai dampak dari deforestasi dan ekspansi perkebunan kelapa sawit.</p>
<p>Tur Navicula dibiayai dengan proyek pendanaan oleh khalayak (crowdfunding) lewat portal <a href="http://www.kickstarter.com/projects/1637792006/golden-green-grunge-for-rare-red-apes-navicula-bor" target="_blank"><span style="color: #008000;">kickstarter.com</span></a> dan <a href="http://mari.patungan.net/project/navicula-borneo-tour" target="_blank"><span style="color: #008000;">patungan.net.</span></a> Di kicstarter.com Navicula memasang proyek dengan target AS$3.000, sementara di patungan.net target sebesar Rp5 juta. Proyek pada kedua portal tersebut sudah melebihi target, dan proyek di kickstarter.com masih berjalan hingga 29 Juli 2012. Sebagai kompensasi untuk pendukung proyek, Navicula menjanjikan unduh lagu gratis, kaos, CD, kerajinan tangan, show di rumah donatur, sampai ikut tur ke Kalimantan.</p>
<p>“Kami sangat senang proyek crowdfunding untuk <em>Borneo Tour</em> berhasil mengajak orang mendukung gerakan kami membawa musik sebagai media kampanye lingkungan. Ini juga menjadi pembuktian kami sebagai band independen tapi dapat menggelar tur mandiri yang panjang tanpa dibiayai oleh sponsor atau promotor,” kata Robi.</p>
<p>Pada Desember 2011, <a href="http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula" target="_blank"><span style="color: #008000;">Navicula merilis lagu <em>Orangutan</em></span></a> yang disebarkan secara gratis dengan lisensi creative common. Vokalis Navicula, Gede Robi Supriyanto menulis lagu Orangutan pada April 2011. Lagu ini akan menjadi materi album ke-7 Navicula. Album ini juga akan memuat nomor Harimau! Harimau! yang didedikasikan untuk penyelamatan harimau Sumatra yang tersisa 400 ekor karena hutan rumahnya menipis.</p>
<p>Navicula telah memainkan <em>Orangutan</em> dari panggung ke panggung, bahkan di program musik siaran langsung di stasiun televisi nasional. Sejak saat itu banyak penggemar yang meminta Navicula untuk tampil di kota mereka, terutama di Kalimantan. “Sebagai musisi dari Bali, yang bukan pusat industri musik, ini kebanggaan buat kami bisa hadir di Kalimantan, hutan hujan tropis terakhir di muka bumi dan habitat orangutan yang terancam, membawakan langsung lagu Orangutan,” kata Robi.</p>
<div id="attachment_1988" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/NVCL_bukit_lawang_web.jpg"><img class="size-full wp-image-1988" title="Navicula in Bukit Lawang" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/NVCL_bukit_lawang_web.jpg" alt="" width="600" height="402" /></a><p class="wp-caption-text">Navicula visit the orangutan of Bukit Lawang, Sumatera</p></div>
<p><strong>Kampanye Internasional</strong></p>
<p>Lagu Orangutan pula yang membawa <a href="https://www.envoletmacadam.com/en/planetrox/indonesia/semi-finalists-videos/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Navicula memenangkan kompetisi band internasional Planetrox.</span> </a>Pemenang nasional kompetisi ini diongkosi untuk tampil di festival musik Envol et Macadam di Quebec, Kanada, 7-8 September mendatang. “Ini salah satu cara kami untuk membawa isu orangutan menjadi perhatian publik internasional. Masalah lingkungan entah itu di Kalimantan, Sumatera, atau Antartika adalah kepentingan seluruh penghuni bumi,” kata Robi.</p>
<p>Untuk berpartisipasi pada Planetrox, Navicula mengikutkan video musik Orangutan yang kemudian terpilih sebagai semi finalis. Ke-10 semi finalis Planetrox bertarung dalam voting online untuk diambil 5 finalis. Finalis lalu tampil dalam babak final penjurian di Bandung 7 Juli lalu. Juri pun memutuskan Navicula sebagai pemenang untuk dikirim mewakili Indonesia ke Kanada.</p>
<p>Selain tampil di Kanada, Navicula juga berpeluang untuk rekaman di Hollywood, Amerika Serikat. Navicula masuk sebagai salah satu dari <a href="http://www.rodemic.com/roderocks/navicula" target="_blank"><span style="color: #008000;">10 finalis kompetisi RØDE Rocks</span> </a>yang berhadiah rekaman tiga lagu di Record Plant Studio, Los Angeles. Finalis dipilih dari 500 video yang berasal dari 43 negara. Pemenang ditentukan lewat voting online, dan saat berita ini diturunkan Navicula memimpin perolehan vote.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/navicula-membuka-borneo-tour-di-medan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Bali untuk Borneo</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/140612-dari-bali-untuk-borneo/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/140612-dari-bali-untuk-borneo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 13:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Borneo]]></category>
		<category><![CDATA[deforestation]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1949</guid>
		<description><![CDATA[Navicula tak berhenti sampai membuat lagu tentang orangutan. Tanpa sponsor dan promotor, Navicula membuat proyek tur ke hutan hujan tropis yang terus terkikis, Kalimantan.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Navicula tak berhenti sampai <a href="http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/" target="_blank"><span style="color: #008000;">membuat lagu tentang orangutan.</span></a> Tanpa sponsor dan promotor, Navicula membuat proyek tur ke hutan hujan tropis yang terus terkikis, Kalimantan.</strong></p>
<p>Coba sebutkan karya lagu dengan pesan tentang lingkungan. Banyak. Bahkan sebuah majalah (berbahan kertas yang berasal dari pohon) musik nasional pada bulan Hari Bumi merilis cerita sampul tentang 100 lagu bertema bumi.</p>
<p>Tapi apa yang sebenarnya dibutuhkan bumi yang tengah dirundung rusak parah ini? Segerombolan orang yang mengaku seniman dan berlagu tentang alam seperti suara-suara yang berseru di padang gurun?</p>
<p>Kerja praksis kesenian musik yang ingin mengetuk hati dan menggedor akal membutuhkan upaya ekstra dari sekadar mencipta-memproduksi lagu-membawakannya di panggung.  Terutama dalam konteks perjuangan bagi lingkungan. Apalagi di tengah demam media jejaring sosial saat ini, ketika orang sudah merasa puas sebagai aktivis tagar (hashtag): ulang-ulang kicauan (tweet) tentang satu isu dan selesai. Sementara degradasi bahkan perusakan lingkungan secara sistematis terus terjadi.</p>
<p>Sempat terjadi demam isu penyelamatan orangutan pada penghujung tahun lalu. Tagar #SaveOrangutans gencar di jagat twitter. Pemicunya karena merebak kabar sayembara yang digelar perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Mereka menjanjikan ganjaran sejumlah uang bagi warga yang menyetorkan jasad orangutan yang dianggap musuh tanaman sawit. Keji. Namun minyak kelapa sawit lebih dianggap sebagai kebutuhan global, daripada keberlangsungan hidup primata merah yang berbagi 97% DNA dengan manusia.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Green-042.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1957" title="Green-042" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Green-042.jpg" alt="" width="600" height="337" /></a></p>
<p>Pada Desember 2011, Navicula merilis lagu Orangutan yang bisa diunduh secara gratis. Sejumlah musisi lain seperti Shaggydog pun membuat lagu tentang Orangutan yang terancam punah. Robi Navicula – yang memiliki akun twitter namun sangat jarang menggunakannya – menulis lagu Orangutan pada April 2011. Lagu ini akan menjadi materi album ke-7 Navicula yang sedang dalam negosiasi kontrak untuk dirilis di Amerika Serikat. Selain Orangutan, album ini juga akan memuat nomor <em>Harimau! Harimau!</em> yang didedikasikan untuk penyelamatan harimau Sumatra yang tersisa 400 ekor karena hutan rumahnya menipis.</p>
<p>Navicula telah memainkan <em>Orangutan</em> dari panggung ke panggung, bahkan di program musik siaran langsung di stasiun televisi nasional. Sejak saat itu banyak pendengar yang meminta Navicula untuk tampil di kota mereka, terutama di Kalimantan. Hadir di Kalimantan, hutan hujan tropis terakhir di muka bumi dan habitat orangutan yang terancam, membawakan langsung lagu <em>Orangutan</em> adalah harapan yang menyalakan api di dada Navicula.</p>
<p>Namun sebagai band yang sering dituduh <em>legend</em> namun masih rindu order panggung, punya basis fans menyebar-mengakar namun masih pra-sejahtera, tur mandiri ke Kalimantan bagi Navicula jauh lebih sulit daripada memproduksi lagu pembuat hits. Berharap pada sponsor atau promotor membawa tur ke Kalimantan, jelas Navicula bukan band ideal bagi brand rokok yang bisa mengguyur duit ke konser musik.</p>
<p>Kendala dana tak menghalangi rencana Navicula ke Kalimantan. Ada peluang pendanaan khalayak (<em>crowdfunding</em>) untuk proyek-proyek kreatif lewat Kickstarter.com. Pendanaan khalayak menjadi fenomena bisnis yang memukau di tengah resesi ekonomi Amerika yang belum selesai dan bangkrutnya ekonomi sebuah negara seperti Yunani. Massalution, firma riset khusus <em>crowdfunding </em>dan <em>crowdsourcing</em> awal bulan ini merilis laporan Crowdfunding Industry Report. Firma ini mengumpulkan data dari lebih 170 (38 persen dari total) platform pendanaan khalayak.</p>
<p>Massalution menemukan, selama tahun 2011 portal-portal pendanaan khalayak mengumpulkan dana 1,5 miliar dollar AS dan mendanai sekitar 1 juta proyek. Angka itu memang memukau. Tapi sebelum berpikir tentang menembus target dana proyek, tidak semua orang bisa membuat proyek yang menarik minat orang banyak untuk ikut mendanai. Pengaju proyek juga harus melewati seleksi awal, persetujuan dari pengelola portal. Navicula telah melewati ini, <a href="http://www.kickstarter.com/projects/1637792006/golden-green-grunge-for-rare-red-apes-navicula-bor" target="_blank"><span style="color: #008000;">proyek tur Borneo Orangutan</span> </a>sudah diluluskan oleh Kickstarter.com.</p>
<p>Proyek tur Navicula ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah ini menargetkan dana 3000 dollar AS, dengan masa pendanaan 45 hari. Sebagai kompensasi untuk donatur, Navicula menjanjikan download lagu gratis, kaos, CD, kerajinan tangan, show di rumah donatur, sampai ikut tur ke Kalimantan.</p>
<p><iframe src="http://www.kickstarter.com/projects/1637792006/golden-green-grunge-for-rare-red-apes-navicula-bor/widget/video.html" frameborder="0" width="480px" height="360px"></iframe></p>
<p>Navicula adalah musisi atau band pertama dari Indonesia yang menjalankan proyek di Kickstarter. Sudah ada beberapa proyek tentang musisi Indonesia di kickstarter, tapi itu dilakukan oleh orang dari luar (negeri), bukan oleh musisi langsung. Misalnya <a href="http://www.kickstarter.com/projects/157803924/jakarta-punk-the-marjinal-story" target="_blank"><span style="color: #008000;">proyek film dokumenter tentang kolektif punk</span></a> paling berwibawa di Indonesia, Marjinal. Proyek dengan target 16.000 dollar AS, massa penggalangan dana 45 hari ini berhasil mengumpulkan 16.450 dollar AS. Proyek ini diajukan oleh 3 filmaker dari AS, Cina dan Malaysia.</p>
<p>Donatur proyek di Kickstarter adalah orang yang memilik kartu kredit di Amerika Serikat. Jelas dengan begitu, partisipasi donatur dari Indonesia sangat kecil di Kickstarter. Untuk itu Navicula juga meluncurkan proyek pendukung lewat patungan.net, dengan target dana Rp5 juta.</p>
<p>Seakan tak berhenti meresonansi suara primata merah, Navicula juga membawa lagu Orangutan untuk kompetisi band internasional Planetrox. Pemenang nasional kompetisi ini akan diongkosi untuk tampil di festival musik Envol et Macadam di Quebec, Kanada. <span style="color: #008000;"><a href="http://www.envoletmacadam.com/en/planetrox/indonesia/semi-finalists-videos/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Tahap voting online berlangsung</span></a></span> hingga 24 Juni, dan akan diambil 5 finalis yang akan berlaga di depan juri pada final di Bandung 8 Juli.</p>
<p>Navicula satu-satunya dari 10 semifinalis pada kompetisi ini dengan lagu berbahasa Indonesia. Ketika band Indonesia lain menghadapi kompetisi internasional Planetrox dengan lagu berbahasa Inggris, Navicula percaya diri dengan lagu berbahasa sendiri: Orangutan. Sebab ini tentang pesan, bukan tentang bahasa.</p>
<p><strong>Navicula mengundang Anda pada show akustik sekaligus launching Orangutan Borneo Tour:</strong><br />
Sabtu, 16 Juni<br />
Pukul 18.00 WIB<br />
Di Café Tjikini Jl Cikini Raya no 17 Jakarta Pusat<br />
Penampil: Navicula, Adrian Aditeotomo, Balian</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Navicula_e_poster.jpg"><img class="size-full wp-image-1950 aligncenter" title="Navicula_e_poster" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Navicula_e_poster.jpg" alt="" width="389" height="750" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/140612-dari-bali-untuk-borneo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ecologically Sustainable Solutions Week</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/1889-sus-solutions-week/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/1889-sus-solutions-week/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 09:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lakota Moira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Little Tree]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1889</guid>
		<description><![CDATA[Agenda Ecological Sustainability Solutions Week di Little Tree Bali tanggal 16-22 April 2012.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Little_tree_inside.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1890" title="Little_tree_inside" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Little_tree_inside.jpg" alt="" width="598" height="448" /></a></p>
<p><strong>Ecological Sustainability Solutions Week at <a href="http://littletreebali.com/en" target="_blank">Little Tree Bali<br />
</a>Tanggal: </strong>April 16-22, 2012<strong><br />
Lokasi: </strong>Jl. Sunset Road 112x, Kuta, Bali<br />
<strong>Free entry!</strong></p>
<p><strong>Senin – April 16, 2012</strong><br />
14:00-15:00 &#8211; &#8220;Indonesia goes organic&#8221; presentation by Darsih<br />
16:00-17:00 &#8211; &#8220;Waste management&#8221; presentation Paola (EcoBali)<br />
17:00-18:00 &#8211; &#8220;Bali Urban Farming (BUF)&#8221; presentation by Akarumput</p>
<p><strong>Selasa &#8211; April 17, 2012</strong><br />
13:00-14:30 – Expert Discussion group about Energy<br />
15:00-16:30 – Expert Discussion group about Water<br />
17:00-18:30 – Expert Discussion group about Waste</p>
<p><strong>Rabu &#8211; April 18, 2012</strong><br />
13:00-14:00 – Sustainability in Architecture by Charlie Hearn<br />
14:00-15:00 – Sustainability in Construction by Marcus Bishop<br />
15:00-17:00 – Complementary Currency Systems, dealing with problems in times of monetary crisis<br />
17:00-18:00 – Waste composting by Rodney</p>
<p><strong>Kamis &#8211; April 19, 2012</strong><br />
9:00-12:00 – Towards a Sustainable Hospitality Industry<br />
15:00-17:00 – WIKA presentations<br />
17:00-18:00 – CLEAR (Comfortable Low Energy Architecture) presentation</p>
<p><strong>Jumat &#8211; April 20, 2012</strong><br />
9:00-12:00  – Towards a Sustainable Hospitality Industry<br />
13:00-14:00 – Options of sewage treatment in urban development by Florence Gattin<br />
14:00-15:00 – Big projects as agents of community development by Agus Mantik<br />
15:00-17:00 – WIKA presentations<br />
17:00-18:00 – Permaculture projects<br />
18:00-19:00 – 1000 Billionaires wanted by Alan Bywaters</p>
<p><strong>Sabtu – April 21, 2012</strong><br />
10:00-18:00 – Creativity Innovation Workshop by ROLE Eco Learning Center</p>
<p><strong>Minggu – April 22, 2012</strong><br />
9:00-12:00 – Mangrove planting for Earth Day<br />
14:00-18:00 – Responsible Lifestyle Ideas by NAFKA</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/1889-sus-solutions-week/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak sesat: Bali Urban Farming air strike</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/240312-anak-sesat-buf/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/240312-anak-sesat-buf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2012 10:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Errick Irwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Urban Farming]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Sesat]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Urban Farming]]></category>
		<category><![CDATA[comic]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1791</guid>
		<description><![CDATA[Anak sesat: Bali Urban Farming air strike <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Bali-Urban-Farming-Air-Strike_web.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1792" title="Bali Urban Farming - Air Strike" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Bali-Urban-Farming-Air-Strike_web.jpg" alt="" width="600" height="825" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/240312-anak-sesat-buf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di saat dunia bergerak semakin cepat, Bali berani berhenti</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/230312-nyepi-bali-silent-day/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/230312-nyepi-bali-silent-day/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2012 19:49:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gede Robi Supriyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Nyepi]]></category>
		<category><![CDATA[world silent day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1780</guid>
		<description><![CDATA[Alam kita tercinta bernapas lega dalam istirahat sehari penuh setelah kepayahan dirongrong perlombaan dan keserakahan manusia sepanjang tahun.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Bali-3_1.jpg"><img class="aligncenter" title="Bali nyepi day" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Bali-3_1.jpg" alt="" width="600" height="398" /></a></p>
<p>Nyepi adalah hari spesial di tahun baru dalam penanggalan Caka, sekitar bulan Maret di kalender yang biasa kita pakai.</p>
<p>Nyepi, berarti sepi atau hening, sesuai namanya memang satu hari dalam keheningan…Yap, benar satu pulau berpopulasi 3,5 juta jiwa ini patuh menenangkan seisi pulau.  Selama 24 jam seluruh bisnis mati suri, jalan raya kosong, segala aktivitas dihentikan, bahkan airport internasionalnya, dan pada malam harinya kota diselimuti gelap gulita karena diberlakukannya aturan luhur untuk tidak menyalakan lampu. Maknanya agar umat memasuki tahun baru dengan awal yang bersih dan suci, atau sederhananya bila awalnya sudah bersih diharapkan hari-hari seterusnya akan jadi bersih dan suci pula.</p>
<p>Hikmah positif yang kita ambil dari sini, jika anda sependapat, adalah alam bisa beristirahat walaupun hanya sehari…namun sehari ini sangat berarti….bayangkan, sekian energi bisa dihemat dalam 24 jam akibat pemakaian listrik yang sangat minim, sekian banyak polusi bisa ditekan akibat ribuan kendaraan bermotor tidak tumpah ke jalan, sekian banyak stress, asap, dan limbah pabrik tidak membumbung akibat semua tempat usaha diliburkan, tidak ada pesta pora karena seluruh tempat hiburan ditidurkan, sekian banyak energi positif bertebaran di atmosfir sekitar pulau karena sekian banyak orang bermeditasi, berpuasa, dan berintrospeksi diri sepanjang hari.</p>
<p>Bumi kita sudah tua dan lelah…Coba bayangkan, betapa alam kita tercinta ini bisa bernapas lega dalam istirahat sehari penuh setelah kepayahan dirongrong perlombaan dan keserakahan manusia sepanjang tahun di era berslogan “waktu adalah uang” ini.</p>
<p>Tradisi ini masih lestari di Bali, diwariskan dari generasi ke generasi, dan saya pribadi sangat berharap akan tetap diteruskan oleh anak cucu kita kelak. Bali patut bersyukur punya hari Nyepi, yang berpotensi bisa <a href="http://www.worldsilentday.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">menginspirasikan dunia untuk mengadakan gerakan sejenis</span> </a>demi cinta kita terhadap semesta.</p>
<p>Ini lagu baru tentang Nyepi dari band sahabat saya, <a href="http://www.facebook.com/Kaimsasikun.11" target="_blank"><span style="color: #008000;">Kaimsasikun</span></a>. Sebuah band asal Bali. Saya dan Ian (vokalis/gitaris Kaimsasikun) dulu sering melewati Nyepi bersama. Tahun ini mereka berkumpul di Jakarta untuk rekaman, tapi tetap merayakan Nyepi dengan cara mereka. Lagu ini patut disimak dan direnungkan.<em> Enjoy:</em><br />
<iframe src="http://www.youtube.com/embed/FsMrrLnFKNk" frameborder="0" width="600" height="335"></iframe></p>
<p><strong>Salam damai dan selamat tahun baru Caka 1934!</strong></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/230312-nyepi-bali-silent-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memadu butuh tanggung jawab</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/beekeeping-bali-010311/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/beekeeping-bali-010311/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Feb 2012 18:57:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Robin Dua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Teknik]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Urban Farming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali honey]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Urban Farming]]></category>
		<category><![CDATA[bee]]></category>
		<category><![CDATA[beekeeping]]></category>
		<category><![CDATA[honey bee]]></category>
		<category><![CDATA[Ubud]]></category>
		<category><![CDATA[Yayasan Tri Hita Karana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1729</guid>
		<description><![CDATA[Pelatihan ini cukup berbahaya, tapi hasilnya manis.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini cukup sulit menemukan populasi lebah Bali yang diternakkan untuk tujuan produksi madu. Padahal peternakan lebah madu adalah satu bentuk kontribusi positif dalam pelestarian ekosistem unik di pulau ini.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/A-limpa-bee-one-of-Balis-native-bees.-Limpa-means-kidney-and-refers-to-the-bees-shape..jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1733" title="A native Bali limpa bee" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/A-limpa-bee-one-of-Balis-native-bees.-Limpa-means-kidney-and-refers-to-the-bees-shape..jpg" alt="" width="214" height="307" /></a>Menurut Chakra Widia, pendiri Yayasan Tri Hita Karana (THK), peternakan lebih madu membantu pertumbuhan sayuran, buah-buahan dan bunga. “Lebah adalah salah satu pollinator (penyerbuk) alam yang paling produktif dan membawa manfaat positif yang luar biasa, bahkan dapat meningkatkan tingkat panen banyak jenis benih dan buah,” kata Chakra. “Dan yang lebih baik lagi Anda mendapatkan madu.”</p>
<p>THK menerapkan prinsip-prinsip Permakultur untuk pendidikan, advokasi dan mendorong penerapan praktek yang lebih ramah lingkungan dan ekonomi berkelanjutan di Bali. Pada 24-25 Maret mendatang THK adalah menggelar pelatihan peternakan lebah madu di pusat pelatihan Yayasan THK di Pengosekan, Ubud. Tema pelatihan ini “BEE the change” disitir dari kutipan Gandhi “<em>Be the change you want to see in the world</em>”.</p>
<p>Menurut Chakra, peternakan lebih madu tidak bisa dilakukan iseng-iseng saja. “Anda perlu tanggung jawab untuk menerapkannya secara tepat, dan perlu pemahaman dasar tentang lebah, khususnya lebah liar yang ada di Bali,” kata Chakra.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Pak-Panca-gave-us-a-taste-of-the-divine-honey-from-the-tiny-black-bees-that-live-in-the-hive-behind-him.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1734" title="Pak Panca" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Pak-Panca-gave-us-a-taste-of-the-divine-honey-from-the-tiny-black-bees-that-live-in-the-hive-behind-him-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Peserta pelatihan akan belajar dari I Gede Panca, salah satu ahli peternak lebah madu di Bali. Panca seumur hidupnya sudah terlibat dalam peternakan lebah madu. Dia bukan hanya ahli, tetapi juga berdedikasi sebagai advokat untuk populasi lebah liar Bali.</p>
<p>Panca juga menerima penghargaan sebagai peternak lebah madu terbaik di Indonesia tahun 1998. Panca telah mendirikan tiga organisasi lokal peternak lebah di Payangan, Tegalalang dan Petak. Organisasi ini bertemu dua kali setahun.</p>
<p>Materi pelatihan akan disampaikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan dirancang untuk orang yang baru belajar peternakan lebah dan mau memulai koloni lebah sendiri. Selama pelatihan, partisipan akan belajar tentang lebah asli Bali, dan tentang satu spesies lebih baru yang agresif dan berpotensi mengganggu biodiversitas lebah di pulau ini.</p>
<p>Partisipan juga akan mendapatkan pengetahuan mengenai jenis bunga dan pengaruhnya pada rasa madu yang dihasilkan, lengkap dengan sesi mencicipi berbagai jenis madu.</p>
<p>Setiap partisipan akan membuat rumah lebah madu sederhana yang cocok dengan lebah madu Bali. Rumah lebah ini dapat dibawa pulang atau bisa disumbangkan ke Yayasan THK untuk digunakan dalam kebun percontohan Permakultur milik THK.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Yayasan-Tri-Hita-Karana-Bali-Learning-Centre.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1735" title="Yayasan Tri Hita Karana Bali Learning Centre" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Yayasan-Tri-Hita-Karana-Bali-Learning-Centre-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Kebanyakan waktu pelatihan akan diadakan di pusat pelatihan Yayasan THK – yang terbuat dari bambu dengan desain yang ringan dan sejuk. Juga akan ada kegiatan mengunjung pura tetangga yang dihuni lebah madu, sesuatu yang cukup umum terjadi di Bali.</p>
<p>Panca akan memperlihatkan cara menemukan ratu lebih madu dan memindahkan lebah dari pura tersebut ke dalam kotak rumah lebah.</p>
<p>Partisipan juga akan belajar teknik penempatan kotak lebah madu untuk memancing lebah datang, cara memindahkan lebah ke tempat sumber makanan baru, dan cara mengetahui dan mengatasi masalah predator lebah. Panca juga akan mengajarkan cara memanen madu dan jumlah madu yang bisa diambil dari koloni lebah untuk menjaga lebah tetap punya cukup makanan untuk mereka dan larva lebah. Panca juga akan mengajarkan pengobatan gigitan lebih untuk mengurangi risiko pembekuan darah.</p>
<p>Selama pelatihan, Panca akan didampingi oleh Tri Suda Pala, seorang ahli tanaman obat. Tri akan menyampaikan sifat obat dari madu dan pentingnya penyerbukan untuk tanaman obat. Peserta pelatihan bisa memesan lebah, madu, atau kotak rumah lebah dari Panca.</p>
<p>Chakra berharap pelatihan ini dapat menjadi batu loncatan untuk membantu memperluas pengetahuan mengenai peternakan lebah di Bali dan membentuk jaringan peternak lebah yang bisa turut menjaga populasi lebah Bali. “Kami berharap ini dapat berkembang menjadi organisasi untuk peternak lebah madu Bali yang akan bekerja sama dengan peternak lebah lokal untuk memastikan bahwa koloni lebah asli Bali dapat tetap berkembang,” kata Chakra.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Pak-Panca-and-Pak-Tri-chat-with-visiting-beekeeper-Steve-Black-Peel-from-the-Isle-of-Man-between-England-and-Ireland..jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1736" title="Panca, Tri and Steve Black" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Pak-Panca-and-Pak-Tri-chat-with-visiting-beekeeper-Steve-Black-Peel-from-the-Isle-of-Man-between-England-and-Ireland.-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Steve Black, peternak lebah asal Isle of Man (di antara Inggris dan Irlandia) yang sedang berkunjung di Bali, mengatakan dukungan bagi peternak lebah baru sangat penting. Ia menganjurkan pembentukan kelompok peternak lebah yang terus-menerus bertemu untuk saling belajar.</p>
<p>&#8220;Seseorang tidak bisa mempejari semuanya tentang peternakan lebih dalam satu pelatihan selama dua hari,” kata Steve. “Saat sesuatu terjadi dengan lebah Anda, penting untuk memiliki jaringan orang lain yang lebih berpengalaman dan bisa membagi pengetahuan.”</p>
<p>Pendaftaran peserta akan ditutup tanggal 19 Maret. Untuk mendaftar lewat email ke <span style="color: #008000;"><a href="mailto:thkbalicommunications@gmail.com"><span style="color: #008000;">thkbalicommunications@gmail.com</span></a></span> atau menghubungi 087861463406 atau 081338794571 (Chakra).</p>
<p>Partisipan dianjurkan membawa makan siang sendiri, atau membayar Rp. 15.000 untuk makan siang. Partisipan sebaiknya mengenakan topi, sunscreen, dan jika alergi terhadap gigitan lebah harus membawa EpiPen.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/beekeeping-bali-010311/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koperasi petani gaya baru ala Swiss</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/koperasi-petani-gaya-baru-ala-swiss/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/koperasi-petani-gaya-baru-ala-swiss/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 12:34:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mohammed Ikhwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Urban Farming]]></category>
		<category><![CDATA[Kebunmu]]></category>
		<category><![CDATA[consumer supported agriculture]]></category>
		<category><![CDATA[farming]]></category>
		<category><![CDATA[Serikat Petani Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[spi]]></category>
		<category><![CDATA[urban farming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1472</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah koperasi di Swiss mengembangkan sistem produksi pertanian yang didukung konsumen dengan membayar di muka. Konsumen juga diwajibkan bekerja di atas lahan beberapa jam per tahun.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/herbs_farming.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1481" title="Seedlings" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/herbs_farming.jpg" alt="" width="600" height="362" /></a>Sebuah koperasi di Swiss mengembangkan sistem produksi pertanian yang didukung konsumen dengan membayar di muka. Konsumen juga diwajibkan bekerja di atas lahan beberapa jam per tahun.</strong></p>
<p>Tanah seluas dua setengah hektar di kawasan Ziplo, Jenewa itu sepi. Hanya ada selada-selada kecil dan beberapa tanaman herbal. Karena masih transisi dari musim dingin ke musim semi di Swiss, aktivitas di koperasi Jardin du Chorroton pun masih lengang.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/05.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1477" title="Chicken coop" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/05-300x225.jpg" alt="" width="317" height="237" /></a>“Ini bukan tanah milik petani dan konsumen di sini,” ujar Irene (29) enteng. “Empat tahun lalu, kami mengambilnya karena ditelantarkan,” kata dia lagi. Alkisah, tanah ini dulunya ditanami ala pertanian konvensional lengkap dengan pupuk dan racun kimia. “Pertanian di sebelah pun masih konvensional, ini (menunjuk batas tanah antara kedua lahan) adalah perbedaan antara kematian dan kehidupan.”</p>
<p>Tanah pertanian di sebelah Jardin du Chorroton dimiliki pekerja imigran dari Portugal. Berbeda dari tanah yang dikelola Irene, tanahnya kelihatan sangat kering dan gersang.</p>
<p>Ada 140 keluarga yang menjadi anggota koperasi di bawah Uniterre, organisasi petani anggota La Via Campesina ini. Pada tahun 2007, mereka sepakat membuat koperasi dengan petani yang bekerja di lahan tersebut dengan model pertanian yang didukung konsumen (<em>consumer supported agriculture</em>).</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/06.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1478" title="Eating from the farm" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/06.jpg" alt="" width="247" height="328" /></a>Uniknya dari sistem ini adalah konsumen membayar di muka sebesar 1.400 Franc Swiss (sekitar Rp13,2 juta) per tahun. Semua itu untuk produk yang disetujui antara anggota koperasi untuk ditanam di tanah tersebut. Dengan sistem ini, petani yang bekerja—sekitar enam orang, Irene salah satunya—mendapatkan kepastian gaji per bulan.</p>
<p>Produk pangan yang dihasilkan resikonya ditanggung bersama. Jika produksi berlimpah, konsumen mendapat banyak. Jika produksi susut seperti musim dingin, konsumen juga mendapat sedikit. Seluruh produk dikemas dalam keranjang dan didistribusikan koperasi dalam setiap minggu ke titik-titik pengambilan (<em>drop points</em>) di kota Jenewa.</p>
<p>Konsumen secara mandiri mengambil keranjang bagian mereka. Konsumen juga diwajibkan bekerja di atas lahan selama 16 jam per tahun. “Perlu konsumen yang tercerahkan untuk menjadi bagian sistem ini,” ujar Irene.</p>
<p>Dia juga menyatakan saat ini banyak keluarga di Jenewa yang ingin menjadi bagian koperasi gaya baru ini. Namun untuk kendali mutu dan keterbatasan produksi di tanah sempit tersebut, mereka dengan terpaksa menolak. Saat ini ada puluhan koperasi yang mengadopsi sistem <em>consumer supported agriculture</em> di Swiss.</p>
<p>Di <em>Jardin du Chorroton</em>, hampir seluruh tata kelola sudah termekanisasi. Mereka punya hampir sepuluh rumah kaca dengan konstruksi yang cukup baik, lengkap dengan sistem irigasi. Mereka punya bermacam alat mulai dari traktor tangan hingga traktor besar, mesin-mesin untuk membajak, menggemburkan tanah, membentuk bedeng untuk penanaman benih, dan sebagainya.</p>
<p>Karena bertani dengan sistem pertanian berkelanjutan, proses mengangkat kompos (dan juga proses limbah) juga cukup termekanisasi. “Salah satu teman saya yang bekerja di sini agak tergila-gila dengan mesin,” kata Irene sambil terkekeh.</p>
<p>Salah satu budaya tradisional yang mereka pertahankan adalah kereta yang ditarik kuda. Mereka punya beberapa ekor kuda yang mereka pelihara untuk bekerja di lahan. Mereka bisa membajak, mengangkat hasil pertanian, bahkan untuk demonstrasi. Dari situ nama <em>Chorroton</em> (kereta kuda) berasal.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/03.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1475" title="The Farm" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/03.jpg" alt="" width="601" height="450" /></a>Siang itu tampak satu orang konsumen sedang memetik daun <em>saige</em> (sejenis tanaman herbal) dan bekerja di sebidang tanah. Biasanya di akhir minggu, para konsumen mengajak keluarga mereka, terutama anak-anak untuk belajar dan bermain di Jardin du Chorroton.</p>
<p>Pola koperasi produksi dan konsumsi pangan seperti ini memang sedang berkembang di seluruh dunia. Jika kita lihat selain Swiss, Jepang, Amerika Serikat dan Spanyol adalah beberapa negara dimana <em>Community Supported Agriculture</em> sedang naik daun. Jika dirata-rata, harga yang didapat tak berbeda jauh dengan pasar konvensional. Nilai lebihnya adalah penekanan pada produk lokal, konsumen tahu kendali mutu, dan pendeknya rantai dagang.</p>
<p>Di sisi petani, selain harga yang terjamin mereka juga meraih pendapatan yang cukup dari sistem tersebut. Petani juga aman dari resiko gagal panen atau turun-naiknya harga.</p>
<p>Bisakah sistem seperti ini dikembangkan di organisasi petani lokal? Dan di Indonesia secara luas?</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><em>Penulis adalah Ketua Departemen Luar Negeri <a href="http://www.spi.or.id" target="_blank"><span style="color: #008000;">Serikat Petani Indonesia.</span></a> Tulisan ini dibuat di sela-sela aktivitas mengusung hak asasi petani di tengah sidang ke-16 Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa, di Swiss, Maret 2011.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/koperasi-petani-gaya-baru-ala-swiss/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Songan, dian yang menjelang padam</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/songan-dian-yang-menjelang-padam/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/songan-dian-yang-menjelang-padam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 16:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sakti Soediro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali Urban Farming]]></category>
		<category><![CDATA[Batur]]></category>
		<category><![CDATA[songan]]></category>
		<category><![CDATA[tegal matanai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1444</guid>
		<description><![CDATA[Daerah vulkanik di sekitar Danau Batur yang seharusnya subur terus mengalami degradasi lingkungan. Tegal Matanai ingin mengembalikan praktik pertanian yang tidak mengandalkan bahan kimia.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/374237_260201847381163_100001740483361_654360_1663020856_n.jpg"><img title="Desa Songan" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/374237_260201847381163_100001740483361_654360_1663020856_n.jpg" alt="Desa Songan" width="601" height="401" /></a><strong><br />
Daerah vulkanik di sekitar Danau Batur yang seharusnya subur terus mengalami degradasi lingkungan. Tegal Matanai ingin mengembalikan praktik pertanian yang tidak mengandalkan bahan kimia.</strong></p>
<p>Itu Januari 2007 ketika kali pertama saya menginjakkan kaki di Songan. Apa yang saya rasakan saat itu mungkin sama seperti yang dialami Sutan Takdir Alisjahbana (STA) ketika sampai di desa ini 50 tahun silam. Seperti perasaan antara Yasin dan Molek, tokoh roman karya STA -Dian yang Tak Kunjung Padam. Jatuh cinta.</p>
<p>Jauh dari kesan turistik, desa ini memiliki segalanya yang dibutuhkan untuk hidup di hari ini dan masa depan. Bentang alam yang menakjubkan, ladang-ladang pertanian yang terhampar, pemandian air panas, hingga titik-titik penyelaman air dingin yang sulit ditemukan di penjuru pulau tropis Bali. Sempurna.</p>
<p>Alam seakan mencukupkan segala yang dibutuhkan masyarakatnya hingga tak perlu mengkhawatirkan kondisi geografis desa yang terpencil dan sulit dijangkau. Letak desa di dataran tinggi vulkanik beriklim pegunungan yang sejuk membuat Songan menjadi ladang subur bagi tanaman buah dan sayuran. Hasil pertanian masyarakat setempat menjadi salah satu sumber pasokan ke pasar-pasar di Bali.</p>
<p>Sejak pertama kali ke Songan, saya kerap melewati akhir pekan di sana. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyusuri perbukitan kecilnya, bermain di danau, berjalan-jalan di desa atau sekadar duduk-duduk menengok ruang buku sang pujangga. Ya, di pintu masuk desa ada rumah peninggalan STA. Pada tahun 1971, STA mendirikan Balai Seni Toyabungkah di sana. Sutan Takdir Alisjahbana pernah memimpikan desa ini akan menjadi pusat seni di masa depan.</p>
<p>Setelah empat tahun, kebiasaan saya ke Songan pun mulai berkurang. Rasanya berkendara selama hampir dua jam dari Denpasar menuju desa mulai terasa tak setara dengan apa yang dilihat. Songan hari ini sudah tak lagi seindah dulu, yang dipicu oleh pergeseran budaya hidup masyarakat yang tak lagi berkaca pada kearifan klasik.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Songan+11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1469" title="Unhappy Tomatoes" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Songan+11.jpg" alt="" width="602" height="401" /></a>Saya memerhatikan cara mereka bercocok tanam. Tak kurang dari 50 hektar areal perkebunan buah dan sayur terbentang di Songan. Namun, masyarakat lokal kian meninggalkan sistem pertanian hayati dan mengandalkan bahan kimia untuk mendongkrak hasil. Hasilnya, kuantitas produk memang meningkat. Tapi tanah dan petani sangat bergantung pada bahan kimia pertanian.</p>
<p>Danau Batur hari ini juga sudah dihapus dari daftar referensi lokasi penyelaman air dingin di Bali. Tengah tahun lalu bersama beberapa penyelam, saya menderita panas dingin dan gatal-gatal selepas melakukan aktivitas penyelaman disana. Saat itu terjadi, masyarakat setempat mengganggap kami mendapat &#8216;gangguan&#8217; dari penjaga Danau.</p>
<p>Akhirnya muncul gurauan di antara kami jika sebenarnya penjaga danau baik-baik saja andai bahan kimia dari lahan pertanian dan sampah di sepanjang tepian danau tak separah hari ini. Sepertinya karena penduduk telah &#8216;mengganggu&#8217; penjaga danau maka penjaga danau mulai &#8216;mengganggu&#8217; kami. Hari itu menjadi kali terakhir kami menyelam di sana.</p>
<p>Di akhir November lalu saya sempat menanyakan penyebab petak-petak kebun sayur yang hancur tersebar di sejauh mata memandang. <em>&#8220;</em>Musim hujan, matanai (matahari) jarang muncul, mendung setiap hari<em>,&#8221;</em> kata Ketut Sidarta dari tengah kebun sambil memompa tabung berisi cairan bahan kimia yang digendongnya.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/pesticide-spray.jpg"><img class="size-full wp-image-1450 aligncenter" title="pesticide spray" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/pesticide-spray.jpg" alt="" width="601" height="453" /></a>Hanya itu. Ketika panel gagal, alam menolak menjadi tempat tumbuh, terkadang manusia cenderung akan menyalahkan alam. Ketut Sidarta hanya satu contoh petani Songan yang menjadi korban dari sistem pertanian modern. Padahal sistem pertanian yang baik bisa meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kondisi cuaca ekstrim sekalipun. Ketut belum tahu jika sistem pertanian yang baik bisa membantunya terhindar dari kerugian gagal panen akibat cuaca.</p>
<p>Adakalanya manusia lupa akan apa yang pernah diajarkan alam di masa sebelumnya. Seperti masyarakat Songan yang pernah bercocok tanam tanpa melibatkan pupuk produksi pabrik dan insektisida. Dan itu terjadi selama ratusan tahun lamanya.</p>
<p>Tanah yang sehat menjadi tempat hidup dan berkembang mikroorganisme yang menguntungkan, di antaranya biota yang bisa menjadi antibiotik untuk melindungi tanaman dari hama penyakit. Beberapa organisme lain akan memproduksi makanan alami bagi tanaman sementara yang lainnya menjaga unsur hara tanah. Penggunaan pupuk dan insektisida telah memutus mata rantai itu. Tanaman dipaksa tumbuh dengan bahan-bahan kimia sementara tempat mereka mengakar miskin sudah dari kandungan nutrisi alami. Di Songan, petani seakan memaksa tanaman dan alam bekerja untuk mereka, bukan sebaliknya. Saya melihat Songan cikal desa mandiri yang terpinggirkan.</p>
<p>Apa yang terjadi di Songan hari ini bukan semata tentang merosotnya kualitas lingkungan. Di sana kearifan lokal terkikis sudah akibat pola hidup yang kelewat konsumtif dan tak berwawasan masa depan. Padahal Songan memiliki segala yang dibutuhkan untuk menjadi sebuah desa mandiri.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/383668_288867351155197_186118878096712_778763_1265562785_n.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1452" title="Tegal Matanai" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/383668_288867351155197_186118878096712_778763_1265562785_n.jpg" alt="" width="252" height="378" /></a>Asa untuk perubahan mulai terpercik. Beberapa proyek lingkungan berskala kecil terkait pertanian sehat mulai digagas di sana. Salah satunya <a href="http://www.facebook.com/pages/Tegal-Matanai-Kebun-Matahari/186118878096712" target="_blank"><span style="color: #008000;"><span style="color: #008000;">Tegal Matanai</span></span></a>, diambil dari bahasa setempat yang berarti Kebun Matahari. Berlokasi di Banjar Serongga, sepetak tanah garapan milik pemangku desa digarap secara kolaboratif oleh beberapa praktisi pertanian dengan merangkul anak-anak sekolah setempat. Tegal Matanai akan sepenuhnya digarap dengan berkiblat pada kearifan lokal. Semua yang terlibat dalam proyek sederhana ini mengajak setiap orang untuk hidup bersanding dengan alam, dan untuk alam.</p>
<p>Tegal Matanai akan mencoba tumbuh dengan cara yang berbeda dari praktek pertanian yang umum berlaku di Songan. Selain menyemai benih buah, sayuran dan bunga matahari, proyek ini menanam benih harapan.</p>
<p>Semoga perlahan masyarakat setempat tersadarkan, ada yang jauh lebih penting dari hidup cukup di hari ini. Semoga Tegal Matanai bisa menjadi dian atau cahaya yang menghangatkan harapan. Agar Songan laksana dian yang tak kunjung padam.</p>
<p><em>Foto oleh <a href="https://twitter.com/teddy_drew" target="_blank">Teddy Drew.</a></em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/songan-dian-yang-menjelang-padam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unduh gratis: Lagu Orangutan oleh Navicula</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 14:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lakota Moira</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Unduh]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1306</guid>
		<description><![CDATA[Unduh gratis lagu "Orangutan", single terbaru dari Navicula.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><iframe src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F30855119&amp;auto_play=true&amp;show_artwork=true&amp;color=ff7700" frameborder="no" scrolling="no" width="100%" height="166"></iframe></p>
<p><strong>Lagu: Orangutan</strong><br />
<strong>Musik: Navicula </strong><br />
<strong>Lirik: Gede Roby Supriyanto</strong></p>
<p>Orangutan muda, rumahnya di belantara,<br />
Dijaga papa dan mama yang kemarin masih ada<br />
Kini tiada…</p>
<p>Orangutan muda diculik perambah rimba<br />
Dibawa paksa ke kota, jadi hiburan manusia<br />
Terpenjara…</p>
<p>Orangutan (6x)<br />
Orangutan akan jadi legenda</p>
<p>Orangutan gila karena manusia gila<br />
Tak betah tinggal di kota, dia rindu habitatnya<br />
Di rimba…</p>
<p>Orangutan murka mengamuk serang manusia<br />
Manusia bawa senjata, orangutan tertawa<br />
Terbang ke surga…</p>
<p>Orangutan (6x)<br />
Orangutan akan jadi legenda</p>
<p>Orangutan (6x)<br />
Orangutan akan jadi legenda</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk orangutan yang akan jadi legenda</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/untuk-orangutan-yang-akan-jadi-legenda/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/untuk-orangutan-yang-akan-jadi-legenda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 06:54:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rebekah Moore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>
		<category><![CDATA[sawit watch]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatra]]></category>
		<category><![CDATA[Walhi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1288</guid>
		<description><![CDATA[Dari Bali, Navicula menyuarakan keprihatinan tentang orangutan. Hewan langka ini bisa menjadi legenda karena dianggap musuh perkebunan sawit serakah. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dari Bali, Navicula menyuarakan keprihatinan tentang orangutan. Hewan langka ini bisa menjadi legenda karena dianggap musuh perkebunan sawit serakah. </strong></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Navicula-by-CPMB_1107-web.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1295" style="margin: 8px 12px;" title="Navicula" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Navicula-by-CPMB_1107-web.jpg" alt="" width="300" height="450" /></a>Band grunge psychedelic Navicula tidak berhenti mengangkat tema lingkungan. Kebanyakan lagu di album ke-6 Navicula <em>Salto</em> didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan. “Over Konsumsi” ingin mengetuk konsumen yang harusnya ikut bertanggung jawab atas krisis lingkungan global. Lagu “Pantai Mimpi” ditulis sebagai bentuk perlawanan terhadap privatisasi dan hancurnya pantai-pantai di Bali, terutama untuk memboikot pengembangan Pantai Dreamland di daerah Bukit, Jimbaran.</p>
<p>“Metropolutan” yang dirilis sebagai single tahun 2010 mengkritik degradasi lingkungan di Indonesia dan krisis polusi di Jakarta. Lagu ini kerap menjadi anthem pada penampilan Navicula di atas panggung. Akhir tahun ini, Navicula kembali menggebrak dengan merilis single “Orangutan”.</p>
<p>“Orangutan” salah satu materi untuk album ke-7 Navicula yang dikerjakan sejak pertengahan tahun ini dan dirilis tahun 2012.</p>
<p>Banyak topik satwa muncul di lagu-lagu baru Navicula. Selain “Orangutan” ada “Harimau! Harimau!” Lagu “Orangutan” bercerita tentang anak orangutan yang ditangkap dan dibawa ke kota setelah orangtuanya dibunuh. Orangutan muda ini murka pada lingkungan barunya dan ingin kembali ke rimba. Dia mengamuk di kota. “Orangutan adalah satu dari sekian banyak fauna yang terancam akibat alih fungsi hutan di Indonesia. Orangutan akan jadi legenda,” kata vokalis Navicula, Gede Roby Supriyanto.</p>
<p>Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang kaya; rumah untuk lebih dari 12 persen spesies flora dan fauna di bumi. Namun, akibat hilangnya habitat dan perburuan, beberapa satwa Indonesia telah punah, termasuk Harimau Jawa dan Bali. Ahli lingkungan sudah memprediksi tidak lama lagi badak Jawa, harimau Sumatra, dan orangutan Sumatra akan ikut punah.</p>
<p>Tahun 2008, jumlah orangutan Sumatra tinggal 6.600, turun dari angka 7.300 tahun 2004. Menurut <a href="http://www.orangutans-sos.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Sumatran Orangutan Society</span></a>, turunnya jumlah orangutan di Borneo dan Sumatra dalam tahun-tahun terakhir menjadi simbol hancurnya keanekaragaman hayati di salah satu tempat terkaya di dunia – hutan di Asia Tenggara”.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Green-122.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1299" title="Green-122" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Green-122.jpg" alt="" width="600" height="337" /></a>Penurunan jumlah orangutan yang drastis berkaitan langsung dengan hilangnya habitat mereka akibat penebangan hutan dan<a href="http://akarumput.com/environment/the-unashamed-business-of-indonesia-green-awards/"> <span style="color: #008000;">alhi fungsi hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit</span></a>. Dalam dekade terkahir lebih dari <a href="http://news.mongabay.com/2011/0225-indonesia_sumatra_borneo.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">9 persen hutan Kalimantan dan Sumatra telah  hilang</span></a>.</p>
<p>Erik Meijaard, ekolog yang bekerja di Indonesia sejak tahun 1993, memperingatkan bahwa<a href="http://news.mongabay.com/2011/0110-indonesia_meijaard_hunting.html" target="_blank"><span style="color: #008000;"> perburuan yang sering tidak dapat pengawasan dari pihak konservasi maupun pemerintah, adalah salah satu penyebab utama spesies satwa Indonesia menjadi langka</span></a>. Populasi orangutan terancam akibat perdagangan satwa ilegal dan konflik antara manusia dan orangutan, dua masalah yang diangkat oleh Navicula dalam lirik “Orangutan”.</p>
<p>“Tidak banyak band lokal yang benar-benar menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan hidup, tapi Navicula merupakan band yang aktif dengan isu-isu lingkungan hidup. Termasuk tentang orangutan sebagai hewan yang nyaris punah kalau kita tidak mencegahnya. Lagu ini juga menyuarakan kemarahan terhadap keadaan orangutan sekarang yang kian menyedihkan: dibunuh manusia, sebuah genosida,” komentar Arian13 vokalis band Seringai, setelah mendengar “Orangutan”. Arian13 juga aktif dalam advokasi konservasi orangutan lewat twitter.</p>
<p>Robi berharap lagu ini dapat meningkatkan kesadaran orang tentang ancaman terhadap salah satu spesies unik di Indonesia. “Harapan kami adalah perbaikan kebijakan, kuasa, dan kontrol pemerintah terhadap industri kelapa sawit karena selama ini industri perkebunan kelapa sawit seolah memiliki “hukum” sendiri di luar hukum negara Indonesia. Juga kontrol yang lebih ketat untuk  mendukung pelestarian lingkungan dan ekonomi setempat, agar lebih sehat bagi lebih banyak masyarakat lokal, hutan, dan lebih berkelanjutan,” kata Roby.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Orangutan_Poster2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1296" style="margin: 8px 12px;" title="Orangutan_Poster" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2011/12/Orangutan_Poster2.jpg" alt="" width="300" height="468" /></a>Navicula akan merilis lagu “Orangutan” di acara <a href="http://akarumput.com/environment/orangutan-suara-untuk-alam"><span style="color: #008000;">Suara untuk Alam II</span></a>, inisiatif WALHI Bali. Acara “Orangutan – Suara untuk Alam II” akan berlangsung di Seaman’s Club, Sanur, 17 Desember 2011. Sebagai bagian dari acara ini akan ada lelang seni bertema orangutan, workshop cukil kayu, dan penampilan band Nosstress, Geekssmile, Balian, dan Navicula. Dana yang terkumpul di acara ini akan disumbangkan ke WALHI Bali dan lembaga yang aktif di bidang konservasi orangutan.</p>
<p>Selama satu minggu, mulai tanggal 17 Desember, lagu “Orangutan” dapat diunduh secara gratis di Akarumput.com.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/untuk-orangutan-yang-akan-jadi-legenda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
