<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akarumput &#187; Alfred Pasifico</title>
	<atom:link href="http://akarumput.com/author/alfred/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarumput.com</link>
	<description>An earth walker&#039;s guide to growing wild</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Nov 2016 02:20:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-ID</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Navicula membuka Borneo Tour di Medan</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/navicula-membuka-borneo-tour-di-medan/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/navicula-membuka-borneo-tour-di-medan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2012 15:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1981</guid>
		<description><![CDATA[Grup musik asal Bali, Navicula membuka rangkaian tur ke Kalimantan (Borneo Tour) untuk kampanye perlindungan orangutan dengan konser musik di Medan, 24 Juli mendatang<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1983" class="wp-caption aligncenter" style="width: 611px"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/Gembull_NVCL_orangutan-1_web.jpg"><img class="size-full wp-image-1983" title="Gembull_NVCL_orangutan-1_web" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/Gembull_NVCL_orangutan-1_web.jpg" alt="" width="601" height="402" /></a><p class="wp-caption-text">Gembull Navicula meets an orangutan</p></div>
<p>Grup musik asal Bali, Navicula membuka rangkaian tur ke Kalimantan (Borneo Tour) untuk kampanye perlindungan orangutan dengan konser musik di Medan, 24 Juli mendatang. Pertunjukan bertajuk “Road to Borneo Tour” itu digelar untuk menggemakan persoalan deforestasi yang mengancam habitat satwa langka di Sumatera, khususnya Hutan Rawa Tripa, Aceh.</p>
<p>“Konser di Medan adalah pemanasan sebelum kami tur ke Kalimantan, bulan September nanti. Di tengah persiapan menuju Borneo Tour mencuat banyak persoalan di Sumatera, seperti masalah hutan Rawa Tripa yang merupakan habitat orangutan. Didukung oleh beberapa lembaga yang concern pada konservasi lingkungan, kami pun hadir di Sumatera, pilihannya di kota Medan,” kata Gede Robi Supriyanto, vokalis Navicula di Bukit Lawang, Sumatra Utara, Jumat (20/7).</p>
<p>Robi berada di Bukit Lawang dalam rangka perjalanan menyusuri hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Perjalanan ini menjadi asupan pengalaman bagi Robi untuk mengampanyekan persoalan lingkungan lewat musik. Road to Borneo Tour di Medan didukung oleh <a href="http://www.yelweb.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Yayasan Ekosistem Lestari (YEL)</span></a>, <a href="http://www.sumatranorangutan.org/content-n31-sE.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">Sumateran Orangutan Conservation Programe (SOCP)</span></a>, <a href="http://www.paneco.ch/aktuelles-n111-sD.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">PanEco</span></a>, <a href="http://sawitwatch.or.id/" target="_blank">Sawit Watch</a>, dan <a href="http://www.walhi.or.id/id/home/eksekutif-daerah/114-walhi-sumatera-utara.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut.</span></a></p>
<p>Pada acara yang akan digelar di Rama Gardenia Café, 24 Juli itu Navicula yang berdiri sejak tahun 1996 akan tampil dalam format akustik. Acara juga diisi dengan diskusi tentang penyelamatan hutan rawa Tripa, serta pameran foto orangutan dan harimau Sumatera dari Komunitas Mata Kamera, Medan.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/poster_NVCL_medan-web.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1985" title="Navicula_Medan_24Juli" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/poster_NVCL_medan-web.jpg" alt="" width="600" height="437" /></a></p>
<p>Navicula yang konsisten menyuarakan isu lingkungan akan menggelar Borneo Tour di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, pertengahan September mendatang. Tur ini mengangkat tema persoalan orangutan sebagai dampak dari deforestasi dan ekspansi perkebunan kelapa sawit.</p>
<p>Tur Navicula dibiayai dengan proyek pendanaan oleh khalayak (crowdfunding) lewat portal <a href="http://www.kickstarter.com/projects/1637792006/golden-green-grunge-for-rare-red-apes-navicula-bor" target="_blank"><span style="color: #008000;">kickstarter.com</span></a> dan <a href="http://mari.patungan.net/project/navicula-borneo-tour" target="_blank"><span style="color: #008000;">patungan.net.</span></a> Di kicstarter.com Navicula memasang proyek dengan target AS$3.000, sementara di patungan.net target sebesar Rp5 juta. Proyek pada kedua portal tersebut sudah melebihi target, dan proyek di kickstarter.com masih berjalan hingga 29 Juli 2012. Sebagai kompensasi untuk pendukung proyek, Navicula menjanjikan unduh lagu gratis, kaos, CD, kerajinan tangan, show di rumah donatur, sampai ikut tur ke Kalimantan.</p>
<p>“Kami sangat senang proyek crowdfunding untuk <em>Borneo Tour</em> berhasil mengajak orang mendukung gerakan kami membawa musik sebagai media kampanye lingkungan. Ini juga menjadi pembuktian kami sebagai band independen tapi dapat menggelar tur mandiri yang panjang tanpa dibiayai oleh sponsor atau promotor,” kata Robi.</p>
<p>Pada Desember 2011, <a href="http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula" target="_blank"><span style="color: #008000;">Navicula merilis lagu <em>Orangutan</em></span></a> yang disebarkan secara gratis dengan lisensi creative common. Vokalis Navicula, Gede Robi Supriyanto menulis lagu Orangutan pada April 2011. Lagu ini akan menjadi materi album ke-7 Navicula. Album ini juga akan memuat nomor Harimau! Harimau! yang didedikasikan untuk penyelamatan harimau Sumatra yang tersisa 400 ekor karena hutan rumahnya menipis.</p>
<p>Navicula telah memainkan <em>Orangutan</em> dari panggung ke panggung, bahkan di program musik siaran langsung di stasiun televisi nasional. Sejak saat itu banyak penggemar yang meminta Navicula untuk tampil di kota mereka, terutama di Kalimantan. “Sebagai musisi dari Bali, yang bukan pusat industri musik, ini kebanggaan buat kami bisa hadir di Kalimantan, hutan hujan tropis terakhir di muka bumi dan habitat orangutan yang terancam, membawakan langsung lagu Orangutan,” kata Robi.</p>
<div id="attachment_1988" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/NVCL_bukit_lawang_web.jpg"><img class="size-full wp-image-1988" title="Navicula in Bukit Lawang" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/07/NVCL_bukit_lawang_web.jpg" alt="" width="600" height="402" /></a><p class="wp-caption-text">Navicula visit the orangutan of Bukit Lawang, Sumatera</p></div>
<p><strong>Kampanye Internasional</strong></p>
<p>Lagu Orangutan pula yang membawa <a href="https://www.envoletmacadam.com/en/planetrox/indonesia/semi-finalists-videos/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Navicula memenangkan kompetisi band internasional Planetrox.</span> </a>Pemenang nasional kompetisi ini diongkosi untuk tampil di festival musik Envol et Macadam di Quebec, Kanada, 7-8 September mendatang. “Ini salah satu cara kami untuk membawa isu orangutan menjadi perhatian publik internasional. Masalah lingkungan entah itu di Kalimantan, Sumatera, atau Antartika adalah kepentingan seluruh penghuni bumi,” kata Robi.</p>
<p>Untuk berpartisipasi pada Planetrox, Navicula mengikutkan video musik Orangutan yang kemudian terpilih sebagai semi finalis. Ke-10 semi finalis Planetrox bertarung dalam voting online untuk diambil 5 finalis. Finalis lalu tampil dalam babak final penjurian di Bandung 7 Juli lalu. Juri pun memutuskan Navicula sebagai pemenang untuk dikirim mewakili Indonesia ke Kanada.</p>
<p>Selain tampil di Kanada, Navicula juga berpeluang untuk rekaman di Hollywood, Amerika Serikat. Navicula masuk sebagai salah satu dari <a href="http://www.rodemic.com/roderocks/navicula" target="_blank"><span style="color: #008000;">10 finalis kompetisi RØDE Rocks</span> </a>yang berhadiah rekaman tiga lagu di Record Plant Studio, Los Angeles. Finalis dipilih dari 500 video yang berasal dari 43 negara. Pemenang ditentukan lewat voting online, dan saat berita ini diturunkan Navicula memimpin perolehan vote.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/navicula-membuka-borneo-tour-di-medan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Bali untuk Borneo</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/140612-dari-bali-untuk-borneo/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/140612-dari-bali-untuk-borneo/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jun 2012 13:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Borneo]]></category>
		<category><![CDATA[deforestation]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1949</guid>
		<description><![CDATA[Navicula tak berhenti sampai membuat lagu tentang orangutan. Tanpa sponsor dan promotor, Navicula membuat proyek tur ke hutan hujan tropis yang terus terkikis, Kalimantan.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Navicula tak berhenti sampai <a href="http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/" target="_blank"><span style="color: #008000;">membuat lagu tentang orangutan.</span></a> Tanpa sponsor dan promotor, Navicula membuat proyek tur ke hutan hujan tropis yang terus terkikis, Kalimantan.</strong></p>
<p>Coba sebutkan karya lagu dengan pesan tentang lingkungan. Banyak. Bahkan sebuah majalah (berbahan kertas yang berasal dari pohon) musik nasional pada bulan Hari Bumi merilis cerita sampul tentang 100 lagu bertema bumi.</p>
<p>Tapi apa yang sebenarnya dibutuhkan bumi yang tengah dirundung rusak parah ini? Segerombolan orang yang mengaku seniman dan berlagu tentang alam seperti suara-suara yang berseru di padang gurun?</p>
<p>Kerja praksis kesenian musik yang ingin mengetuk hati dan menggedor akal membutuhkan upaya ekstra dari sekadar mencipta-memproduksi lagu-membawakannya di panggung.  Terutama dalam konteks perjuangan bagi lingkungan. Apalagi di tengah demam media jejaring sosial saat ini, ketika orang sudah merasa puas sebagai aktivis tagar (hashtag): ulang-ulang kicauan (tweet) tentang satu isu dan selesai. Sementara degradasi bahkan perusakan lingkungan secara sistematis terus terjadi.</p>
<p>Sempat terjadi demam isu penyelamatan orangutan pada penghujung tahun lalu. Tagar #SaveOrangutans gencar di jagat twitter. Pemicunya karena merebak kabar sayembara yang digelar perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Mereka menjanjikan ganjaran sejumlah uang bagi warga yang menyetorkan jasad orangutan yang dianggap musuh tanaman sawit. Keji. Namun minyak kelapa sawit lebih dianggap sebagai kebutuhan global, daripada keberlangsungan hidup primata merah yang berbagi 97% DNA dengan manusia.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Green-042.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1957" title="Green-042" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Green-042.jpg" alt="" width="600" height="337" /></a></p>
<p>Pada Desember 2011, Navicula merilis lagu Orangutan yang bisa diunduh secara gratis. Sejumlah musisi lain seperti Shaggydog pun membuat lagu tentang Orangutan yang terancam punah. Robi Navicula – yang memiliki akun twitter namun sangat jarang menggunakannya – menulis lagu Orangutan pada April 2011. Lagu ini akan menjadi materi album ke-7 Navicula yang sedang dalam negosiasi kontrak untuk dirilis di Amerika Serikat. Selain Orangutan, album ini juga akan memuat nomor <em>Harimau! Harimau!</em> yang didedikasikan untuk penyelamatan harimau Sumatra yang tersisa 400 ekor karena hutan rumahnya menipis.</p>
<p>Navicula telah memainkan <em>Orangutan</em> dari panggung ke panggung, bahkan di program musik siaran langsung di stasiun televisi nasional. Sejak saat itu banyak pendengar yang meminta Navicula untuk tampil di kota mereka, terutama di Kalimantan. Hadir di Kalimantan, hutan hujan tropis terakhir di muka bumi dan habitat orangutan yang terancam, membawakan langsung lagu <em>Orangutan</em> adalah harapan yang menyalakan api di dada Navicula.</p>
<p>Namun sebagai band yang sering dituduh <em>legend</em> namun masih rindu order panggung, punya basis fans menyebar-mengakar namun masih pra-sejahtera, tur mandiri ke Kalimantan bagi Navicula jauh lebih sulit daripada memproduksi lagu pembuat hits. Berharap pada sponsor atau promotor membawa tur ke Kalimantan, jelas Navicula bukan band ideal bagi brand rokok yang bisa mengguyur duit ke konser musik.</p>
<p>Kendala dana tak menghalangi rencana Navicula ke Kalimantan. Ada peluang pendanaan khalayak (<em>crowdfunding</em>) untuk proyek-proyek kreatif lewat Kickstarter.com. Pendanaan khalayak menjadi fenomena bisnis yang memukau di tengah resesi ekonomi Amerika yang belum selesai dan bangkrutnya ekonomi sebuah negara seperti Yunani. Massalution, firma riset khusus <em>crowdfunding </em>dan <em>crowdsourcing</em> awal bulan ini merilis laporan Crowdfunding Industry Report. Firma ini mengumpulkan data dari lebih 170 (38 persen dari total) platform pendanaan khalayak.</p>
<p>Massalution menemukan, selama tahun 2011 portal-portal pendanaan khalayak mengumpulkan dana 1,5 miliar dollar AS dan mendanai sekitar 1 juta proyek. Angka itu memang memukau. Tapi sebelum berpikir tentang menembus target dana proyek, tidak semua orang bisa membuat proyek yang menarik minat orang banyak untuk ikut mendanai. Pengaju proyek juga harus melewati seleksi awal, persetujuan dari pengelola portal. Navicula telah melewati ini, <a href="http://www.kickstarter.com/projects/1637792006/golden-green-grunge-for-rare-red-apes-navicula-bor" target="_blank"><span style="color: #008000;">proyek tur Borneo Orangutan</span> </a>sudah diluluskan oleh Kickstarter.com.</p>
<p>Proyek tur Navicula ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah ini menargetkan dana 3000 dollar AS, dengan masa pendanaan 45 hari. Sebagai kompensasi untuk donatur, Navicula menjanjikan download lagu gratis, kaos, CD, kerajinan tangan, show di rumah donatur, sampai ikut tur ke Kalimantan.</p>
<p><iframe src="http://www.kickstarter.com/projects/1637792006/golden-green-grunge-for-rare-red-apes-navicula-bor/widget/video.html" frameborder="0" width="480px" height="360px"></iframe></p>
<p>Navicula adalah musisi atau band pertama dari Indonesia yang menjalankan proyek di Kickstarter. Sudah ada beberapa proyek tentang musisi Indonesia di kickstarter, tapi itu dilakukan oleh orang dari luar (negeri), bukan oleh musisi langsung. Misalnya <a href="http://www.kickstarter.com/projects/157803924/jakarta-punk-the-marjinal-story" target="_blank"><span style="color: #008000;">proyek film dokumenter tentang kolektif punk</span></a> paling berwibawa di Indonesia, Marjinal. Proyek dengan target 16.000 dollar AS, massa penggalangan dana 45 hari ini berhasil mengumpulkan 16.450 dollar AS. Proyek ini diajukan oleh 3 filmaker dari AS, Cina dan Malaysia.</p>
<p>Donatur proyek di Kickstarter adalah orang yang memilik kartu kredit di Amerika Serikat. Jelas dengan begitu, partisipasi donatur dari Indonesia sangat kecil di Kickstarter. Untuk itu Navicula juga meluncurkan proyek pendukung lewat patungan.net, dengan target dana Rp5 juta.</p>
<p>Seakan tak berhenti meresonansi suara primata merah, Navicula juga membawa lagu Orangutan untuk kompetisi band internasional Planetrox. Pemenang nasional kompetisi ini akan diongkosi untuk tampil di festival musik Envol et Macadam di Quebec, Kanada. <span style="color: #008000;"><a href="http://www.envoletmacadam.com/en/planetrox/indonesia/semi-finalists-videos/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Tahap voting online berlangsung</span></a></span> hingga 24 Juni, dan akan diambil 5 finalis yang akan berlaga di depan juri pada final di Bandung 8 Juli.</p>
<p>Navicula satu-satunya dari 10 semifinalis pada kompetisi ini dengan lagu berbahasa Indonesia. Ketika band Indonesia lain menghadapi kompetisi internasional Planetrox dengan lagu berbahasa Inggris, Navicula percaya diri dengan lagu berbahasa sendiri: Orangutan. Sebab ini tentang pesan, bukan tentang bahasa.</p>
<p><strong>Navicula mengundang Anda pada show akustik sekaligus launching Orangutan Borneo Tour:</strong><br />
Sabtu, 16 Juni<br />
Pukul 18.00 WIB<br />
Di Café Tjikini Jl Cikini Raya no 17 Jakarta Pusat<br />
Penampil: Navicula, Adrian Aditeotomo, Balian</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Navicula_e_poster.jpg"><img class="size-full wp-image-1950 aligncenter" title="Navicula_e_poster" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/06/Navicula_e_poster.jpg" alt="" width="389" height="750" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/140612-dari-bali-untuk-borneo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imajinasi kota dalam taman</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/120505-imajinasi-kota-dalam-taman/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/120505-imajinasi-kota-dalam-taman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 23:15:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Errik Irwan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1916</guid>
		<description><![CDATA[Berkumpul, bermain, memanfaatkan barang bekas di taman. Mewujudkan imajinasi tentang sebuah kota.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/Imaginasi_kota.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1918" title="Imaginasi_kota" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/Imaginasi_kota.jpg" alt="" width="600" height="424" /></a></p>
<p><strong>Berkumpul, bermain, memanfaatkan barang bekas di taman. Mewujudkan imajinasi tentang sebuah kota.</strong></p>
<p>Kardus-kardus dan kotak-kotak bekas makanan bisa ikut tampil dalam sebuah panggung taman hijau. Mereka memperkenalkan diri sebagai sebuah kota yang padat. Kota dalam taman.</p>
<p>Lalu bagaimana jika robot, monster, dan berbagai mainan ikut hadir? Entahlah.<br />
Tapi yang pasti sebuah cerita dan peristiwa bisa terjadi.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/taman_1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1920" title="taman_1" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/taman_1.jpg" alt="" width="300" height="399" /></a>Kegiatan ini bertolak dari ide yang sederhana. Errik Irwan Wibowo, seorang arsitek muda, saat sedang bercengkerama di Lapangan Puputan Renon melihat kardus-kardus dan kotak makanan yang mau dibuang. “Rasanya sayang betul. Lalu tiba-tiba saja muncul imajinasi seolah yang saya pandangi bukanlah dus-dus dan kotak-kotak tak berguna, tapi tumpukan bangunan,” kata Errik.</p>
<p>Errik mengatakan ada banyak benda terbuang lain yang masih bisa diberi kesempatan tampil di taman. Mereka didandani layaknya bangunan yang gemar bersolek. “Menarik juga kalau orang-orang tak dikenal, yang malu-malu tapi ikut terlibat mendandani dus-dus dan kotak itu,” kata Errik.</p>
<p>Kegiatan ini merupakan pengembangan dari apa yang terjadi pada Minggu (29/4) sore lalu di Lapangan Renon. Errik dan kawan-kawannya mengumpulkan sejumlah barang bekas dan semua orang diajak merespons barang-barang yang disajikan: tusuk sate, robot, piring kertas. Beberapa orang menggunakan cat air di atas lembaran kertas.</p>
<p>Semuanya terjadi tanpa penulis cerita dan sutradara. Entah apa skenarionya, tak jadi soal. Tanpa komando, orang merayakan ruang (dan waktu) terbuka. Merasakan jadi manusia yang manusiawi di kota. “Pasti sesuatu akan terjadi dan kita tinggal mengikuti,” kata Errik.</p>
<p>Errik dan kawan-kawan merencanakan aktivitas kedua, Minggu sore berikutnya di Lapangan Renon. Bagi partisipan diharapkan membawa bahan-bahan yang bisa digunakan untuk meramaikan suasana. “Bisa bawa dus-dus, boleh cat air, kertas lipat, alat musik, camilan, kamera, mainan, apa saja. Bagus juga kalau barang-barang tak terduga yang baru ditemukan di sekitar itu bisa ikut digunakan” kata ia.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/taman_2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1919" title="taman_2" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/05/taman_2.jpg" alt="" width="300" height="401" /></a>Menurut Errik dalam kegiatan ini setiap orang akan merespons dengan caranya masing-masing. Mungkin akan ada yang bermusik, menari, bermain, atau membuat instalasi. “Silakan untuk menggambar atau menggunakan cat air di media kotak, lalu menata atau menempatkan. Ini seperti bermain dalam arsitektur atau susun massa,” kata Errik yang komik-komiknya sering menghiasi halaman akarumput.</p>
<p>Kota-kotaan dari kardus ini adalah sebuah peristiwa yang dibangun. “Harapannya akan ada orang-orang penasaran yang akhirnya kenalan, terlibat dan ikut berkreasi. Untuk yang sudah kenal bisa lebih akrab lagi. Selama proses itu bisa terjadi diskusi-diskusi menarik pula. Setidaknya ada hal aneh baru yang terjadi di lapangan itu. Kira-kira selesai ketika matahari menghilang,” kata Errik.</p>
<p><strong>Sebuah ajakan yang menggoda. Mari rayakan kota dalam taman.</strong><br />
<strong>Waktu:</strong> Minggu, 6 Mei 2012 mulai pukul 15 WITA<br />
<strong>Tempat:</strong> Lapangan Puputan Niti Mandala Renon. Berkumpul di Circle K depan Museum.<br />
<em>*Bawalah kardus bekas yang bisa diolah</em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/120505-imajinasi-kota-dalam-taman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nafka talks and responsible products presentation</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/170412-nafka-talks/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/170412-nafka-talks/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 04:02:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Little Tree]]></category>
		<category><![CDATA[nafka]]></category>
		<category><![CDATA[Patungan.net]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1894</guid>
		<description><![CDATA[Talks and responsible lifestyle products presentation by Nafka, Patungan.net and Wisnu Open Space. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Nafka-5X5-Talks.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-1895" style="border: 1px solid black;" title="Nafka_talks" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Nafka-5X5-Talks-1024x425.jpg" alt="" width="600" height="249" /></a><strong></strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Nafka – 2nd chance to be Better</strong><br />
<em><strong>Talks and responsible lifestyle products presentation</strong></em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Minggu 22 April 2012 | 2-4pm</strong><br />
di Little Tree Green Building Center<br />
Jl. Sunset Road No. 112x, Kuta &#8211; Bali</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Presentation and discussion sessions:</strong><br />
1. Responsible lifestyle product ideas by <a title="Kejutan visual Nafka" href="http://akarumput.com/environment/kejutan-nafka/"><span style="color: #008000;">NAFKA</span></a> | Ayip<br />
2. Financing creative and good projects by <a href="http://patungan.net" target="_blank"><span style="color: #008000;">Patungan.net</span></a> | Enrico Halim<br />
3. The making of Wisnu Open Space | Made Suarnatha</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/170412-nafka-talks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejutan visual Nafka</title>
		<link>http://akarumput.com/environment/kejutan-nafka/</link>
		<comments>http://akarumput.com/environment/kejutan-nafka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 08:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah & Polusi]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[nafka]]></category>
		<category><![CDATA[upcycle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1876</guid>
		<description><![CDATA[Produk upcycle sangat berpotensi menjadi aksesori-individual-tidak-ada-yang-punya-selain-saya.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Produk upcycle sangat berpotensi menjadi aksesori-individual-tidak-ada-yang-punya-selain-saya.</strong></p>
<p>Pekerjaan seorang desainer adalah memastikan sebuah model harus bisa dikonversi menjadi prototype kerja –cetak biru untuk manufaktur. Namun, sudah kodrat manusia untuk mengukir individualitas. Sejak tahun 1980an desainer mulai menyuntikkan “kromosom” identitas unik kepada produk berskala industri.</p>
<p>Masyarakat berpendapatan tinggi -yang merupakan target industri- mengisi lubang besar kebosanan hidup kesehariannya dengan membeli. Namun menjadi kebosanan baru apabila mereka memakai benda yang persis dengan orang lain. Era konsumsi seragam telah berlalu. Produksi massal terus dikonter oleh sesuatu yang benar-benar individual. Pseudo individual memang.</p>
<p>Pada periode 1980an juga, pertanyaan tentang kerusakan alam tidak lagi ekslusif dari para pejuang lingkungan. Seruan untuk menghentikan kehancuran hutan, polusi lingkungan, dan efek rumah kaca menjadi gerakan populer. Terminologi Eco, Green, dan Global Warming terus digemakan seiring pembicaraan pentingnya Penggunaan Ulang, Pengurangan dan Daur Ulang (Reuse – Reduce – Recycle).</p>
<p>Recycle dinilai terlalu mahal dan butuh energi besar. Maka merebak <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Upcycling" target="_blank"><span style="color: #339966;"><em>upcycle</em></span></a>, memanfaatkan barang tak terpakai menjadi memiliki kegunaan baru, seperti yang dilakukan <a title="Freitag (1): Sukses dengan terpal bekas" href="http://akarumput.com/featured/freitag-1-success-with-used-tarps/" target="_blank"><span style="color: #339966;">Freitag</span></a>. Di Bali digagas <a href="http://www.nafka.asia/" target="_blank"><span style="color: #339966;">Nafka</span></a>, sebuah laboratorium kreatif para desainer yang mengusung semangat menciptakan responsible lifestyle product. Pada Juni 2011, di Denpasar Nafka menggelar pameran perdana bertajuk Wonderground. Nafka kembali memamerkan kreasi para desainernya pada<a href="http://akarumput.com/environment/1889-sus-solutions-week/"> <span style="color: #339966;">Ecologically Sustainable Solutions Week 16 &#8211; 22 April 2012</span> </a>di Little Tree, Kuta Bali.</p>
<p>Penggunaan materi bekas membuat pekerjaan desainer Nafka terlokasi pada perancangan bentuk. Lalu sisanya, materi bekas memainkan perannya sebagai kejutan visual. Kita seperti melihat unsur karya montage atau kolase foto dari seniman Dadaisme pada aksesori seperti tas, sofa, partisi dan kap lampu dari bahan limbah reklame atau kemasan plastik bekas. Potongan gambar, nomor atau huruf terpotong, warna menumpuk.<br />
<a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Indah-Esjepe-Bungkisan-kupu.jpg"><img class="aligncenter" title="Indah-Esjepe-Bungkisan-kupu" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Indah-Esjepe-Bungkisan-kupu.jpg" alt="" width="600" height="379" /></a></p>
<p>Produk Nafka terlihat melebur batasan antara seni dan kerajinan dan mewujud sebagai aksesori kehidupan sehari-hari. Mereka atraktif bagi mata yang terlatih secara visual. Produk Nafka adalah kejutan menyenangkan di tengah dunia keseharian yang dipenuhi produk massal yang standar. Karena sumber daya bahan limbah terbatas, maka jumlah produksi pun tidak massal. Produk Nafka sangat berpotensi menjadi aksesori-individual-tidak-ada-yang-punya-selain-saya.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/5856923660_810a016e44.jpg"><img class="alignleft" title="Nafka design" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/5856923660_810a016e44.jpg" alt="" width="218" height="256" /></a>Produknya untuk ekspresi individualitas. Tapi produksinya dijalankan dengan semangat pengembangan komunitas. Nafka menjanjikan pengerjaan produknya kepada mitra kelompok-kelompok perajin. Perajin, seperti juga produsen tradisional lainnya kerap dimarjinalkan dalam belantara ekonomi distribusi.</p>
<p>Pada sistem perdagangan modern, tidak bisa dipungkiri kehadiran perantara atau pemasar. Ketika produsen dan konsumen terlalu berjarak hingga sulit mengakses satu sama lain, peran pemasar kian besar. Namun pihak perantara dagang kerap mendikte harga untuk memaksimalkan keuntungan. Produsen tidak punya daya tawar lebih untuk menjual dengan harga yang lebih menguntungkannya.</p>
<p>Ketidakadilan pemasaran ini hanya menguntungkan perantara dagang dan eksploitatif terhadap produsen. Di Bali, gejala ini telah berlangsung lama misalnya pada perdagangan barang seni atau kerajinan. Art shop menetapkan marjin keuntungan yang sangat tinggi, bisa mencapai 60 persen, atas produk perajin. Sampai ke tangan konsumen, kerajinan bisa menjadi mahal, namun nilai yang dinikmati produsen tak sebanding.<br />
Kemitraan Nafka dengan perajin dijalankan dengan semangat perdagangan yang adil (fair trade). Ini menjadi saluran cita-cita keberlanjutan (sustainability) yang tidak semata-mata untuk memurnikan lingkungan, tapi demi manusia.</p>
<p>Butuh kerja keras untuk memelihara prinsip fair trade sebagai aktivitas ekonomi murni. Sehingga tidak menjadi “asal fair trade.” Dibeli karena kualitas bukan karena dikasihani.</p>
<p>Bila upcycling menjadi kegemaran yang mewabah, apakah benda-benda upcycle akan memiliki nilai ekonomi yang spesial? Setiap orang pasti bisa melihat benda-benda tidak terpakai di sekitarnya dan mentransformasinya ke bentuk dan kegunaan lain. Lantas akan adakah pasar bagi produk Nafka?</p>
<p>Di sini lah sebuah sistem bernama brand –yang kerap misterus- bekerja. Benda tidak sekadar diukur dalam perspektif utilitarian atau manfaat semata. Masyarakat urban tetap ingin berkomunikasi meski membutuhkan deklarasi individualitas di tengah perasaan disorientasi kesendirian hidupnya. Brand adalah tawarannya.</p>
<p>Brand menjadi alat interaksi, sebuah perayaan kebersamaan meski tanpa komunikasi. Tanpa bertukar pesan. Sebab brand adalah pesan itu sendiri.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Nafka-5X5.jpg"><img class="size-full wp-image-1880 aligncenter" style="border: 0.1px solid black;" title="Nafka-poster" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/04/Nafka-5X5.jpg" alt="" width="600" height="852" /></a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/environment/kejutan-nafka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>OBRAL: illustrations around the world</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/140312-illustrations-around-the-world/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/140312-illustrations-around-the-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 04:17:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Responsible Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[motion graphic design]]></category>
		<category><![CDATA[Obral]]></category>
		<category><![CDATA[Pablo Ientile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1771</guid>
		<description><![CDATA[Proyek "Illustration around the world" adalah misi Pablo Ientile untuk melakukan perjalanan, merekam lewat gambar dan sketsa.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Unknown.jpeg"><img class="size-full wp-image-1773 aligncenter" title="Unknown" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Unknown.jpeg" alt="" width="600" height="454" /></a></p>
<p><a href="http://www.pabloientile.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Pablo Ientile</span></a>, adalah seorang Illustrator dan motion graphic designer yang tinggal dan bekerja di Madrid dan berlin. Dia studi Graphic Design di the FH, Trier, Jerman. Secara spesifik ia mendalami ilustrasi dan animasi dan saat ini bekerja sebagai freelance designer untuk perusahaan periklanan dan majalah.</p>
<p>Proyek<a href="http://illustrationaroundtheworld.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;"> &#8220;Illustration around the world&#8221;</span> </a>adalah misi Pablo Ientile untuk melakukan perjalanan, merekam lewat gambar dan sketsa dan berjumpa artis serta desainer di negara-negara atau tempat yang disinggahinya. Pablo berencana akan membukukan perjalanannya ini pada pertengahan tahun ini.</p>
<p>Proyek ini membuatnya sangat bersemangat dan Bali adalah salah satu tempat yang menjadi favorit dalam perjalanannya. Sebelum kembali ke Jerman akhir pekan ini Pablo ingin berbagi dan berjumpa dengan insan kreatif di Bali sekaligus bertukar pengalaman dan cerita.</p>
<p><strong>Obral 15 Maret 2012</strong><br />
<strong>Tempat: Danes Art Veranda, Jl Hayam Wuruk no 159 Denpasar</strong><br />
<strong>Waktu: 19.00 WITA</strong></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/140312-illustrations-around-the-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi pelancong yang bertanggung jawab</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/080311-responsible-travel-tibet/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/080311-responsible-travel-tibet/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2012 08:25:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Main Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Responsible Travel]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Lhasa]]></category>
		<category><![CDATA[responsible travel]]></category>
		<category><![CDATA[Tibet]]></category>
		<category><![CDATA[tourism]]></category>
		<category><![CDATA[travel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1748</guid>
		<description><![CDATA[Berwisata tidak selamanya baik, apalagi membagikan ceritanya.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Tibet_Alfred1.jpg"><img class="size-full wp-image-1756 aligncenter" title="Tibet_Alfred" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Tibet_Alfred1.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a>Manusia punya hasrat alami untuk menguasai informasi atau pengetahuan lebih cepat daripada manusia lainnya. Hasrat ini yang dikelola oleh industri informasi seperti media massa. Sehingga medan perang teknologi informasi media adalah berlomba cepat mengabarkan.</p>
<p>Kenapa manusia ingin lebih tahu atau lebih cepat tahu daripada sesamanya? Karena dengan begitu dia merasa berkuasa atas orang yang belum tahu. Berbagi pengetahuan menjadi sebentuk penundukan. Kekuasaan bukan lagi bagian inheren dan didominasi subjek yang otoritatif seperti negara. Kekuasaan bisa ada dimana-mana, tidak selamanya bersifat represif. Pengetahuan adalah kuasa.</p>
<p>Salah satu bentuk klaim kuasa pengetahuan adalah penjelajahan atau minimal pelancongan, ke tempat-tempat asing. Di Indonesia akhir-akhir ini, tulisan perjalanan (<em>travel writing</em>) berkembang pesat. Begitu banyak buku bertema kisah perjalanan diterbitkan dan menjadi kategori baru di toko buku.</p>
<p>Pesawat terbang bukan lagi moda transportasi yang mahal untuk diakses. Seperti slogan sebuah maskapai penerbangan murah, sekarang semua orang bisa terbang. Turisme juga terus didongkrak sebagai industri. Saat ini 8 persen produk domestik bruto dunia berasal dari industri pelancongan. Tempat mana di dunia ini yang belum dijelajahi manusia. Pelosok dunia yang citra-citranya mengisi halaman media massa sewaktu-waktu bisa menjadi destinasi wisata paling diincar.</p>
<p>Komodifikasi petualangan sebagai gaya hidup menghadirkan hiperealitas tentang tempat-tempat baru yang menantang untuk ditundukkan. Sementara itu dampak degradasi ekologi, budaya dan pergeseran sikap sosial masyarakat setempat, menjadi konsekwensi logis dari kehadiran turisme.</p>
<p>Belakangan ini sedang gencar dipromosikan pemahaman <em>responsible travel</em>. Setiap pelancong harus menyadari apa dampak kehadirannya pada tempat yang ia datangi, baik secara kultural maupun ekologi. Bentuk perjalanan yang paling bertanggung jawab adalah dengan tidak melakukan perjalanan. Karena kehadiran manusia baru di suatu tempat selain bisa menguntungkan, juga bisa menjadi racun.</p>
<p>Hasrat melancong dan membagikan kisah perjalanan menemukan saluran yang tepat dengan adanya media jaringan sosial seperti facebook atau twitter. Seperti dua hari lalu, seorang warga negara Indonesia membagikan foto-foto dan kisahnya melancong ke Tibet<a href="http://twitter.com/debmaha" target="_blank"> <span style="color: #008000;">lewat akun twitternya</span></a>.</p>
<p>Ada kepingan cerita maksimal 140 karakter yang umum tentang Tibet itu memuat kekeliruan informasi. Dia menyebut Dalai Lama sudah tidak tinggal di Tibet sejak tahun 1995. Padahal tahun sebenarnya 1959, dan pemimpin spiritual itu bukan sekadar “tidak tinggal” tapi mengungsi ke Dharmsala, India.</p>
<p>Dia juga bercerita tentang istana Potala dan Norbulingka, juga foto-foto panoramanya yang memikat secara visual. Tapi dia lupa bercerita tentang kondisi para rahib di Potala yang jumlahnya tinggal segelintir dan posisi mereka seperti petugas kebersihan dengan seragam (bukan berjubah khas rahib). Dia juga mengingatkan waktu terbaik ke Tibet pada bulan Agustus, September, April dan Mei, saat dia sedang berada di Tibet pada bulan Januari.</p>
<p>Lalu <span style="color: #008000;"><a href="https://twitter.com/tibettruth" target="_blank"><span style="color: #008000;">@tibettruth</span></a></span> menyebutkan akun itu sebagai turis yang menyebarkan ilusi propaganda China tentang Tibet yang terjajah. @tibettruth adalah akun gerakan internasional yang menghimpun simpat bagi perjuangan kemerdekaan Tibet. Warga Indonesia pelancong itu membalas kalau dia tidak sedang menyebarkan propaganda, intensinya hanya membagikan apa yang dia lihat dan rasakan ke teman-temannya. Respons itu menunjukkan kegagalan menangkap realitas yang telanjang tentang Tibet sebagai tanah terjajah. Padahal di Lhasa setiap 100 meter ada pos tentara China dan mereka tidak berhenti patroli.</p>
<p>Sekitar setahun silam, fotografer <a href="http://www.timurangin.com/home/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Timur Angin</span></a> melakukan hal serupa lewat twitter. Beberapa saat setelah dari Tibet, Timur mempromosikan rencananya membentuk kelompok tur bersama sebuah majalah fotografi ke Tibet pada bulan terbaik melancong ke Tibet. Rencana ini kandas, karena selama 2011 China tidak mengeluarkan izin masuk [<em>permit</em>] bagi warga asing untuk melancong ke wilayah aneksasi yang disebut Tibet Autonomous Region.</p>
<p>Saya pernah ke Tibet selama 15 hari. Saya menyaksikan Tibet menjadi halaman belakang bagi China yang membutuhkan lokasi piknik bagi warganya yang sedang menikmati lonjakan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia. Saya menyaksikan raut wajah kusam para rahib di kuil atau istana yang dibatasi geraknya pasca aksi perlawanan tahun 2008 yang berujung represi tentara China.</p>
<p>Saya menyaksikan, sektor ekonomi di wilayah Tibet yang dikuasi warga dari daratan China. Hampir seluruh toko souvenir dan kebutuhan turis di Lhasa milik orang China. Orang Tibet yang bahasa Inggrisnya lebih mudah dipahami daripada orang China cukup puas berjualan souvenir di kaki lima Barkhor. Pedagang kaki lima di sana selalu jujur menunjukkan mana barang otentik buatan orang Tibet dan mana souvenir buatan China yang sebenarnya kentara seperti barang China pada umumnya.</p>
<p>Saya menyaksikan jalur kereta ke yang diklaim China sebagai infrastruktur untuk kemajuan Tibet, sebagai moda untuk memobilisasi orang China ke Tibet. Dari penguasaan ekonomi, ruang gerak orang Tibet asli akan kian dikekang. Upaya menancapkan kuku dengan memobilisasi warga di wilayah aneksasi merupakan pengulangan dari yang dilakukan China di Uyghur. Bahkan di Uyghur yang pribuminya mayoritas muslim terjadi upaya pembersihan etnis (ethnic cleansing).</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Lonely-Planet-Tibet1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1758" title="Lonely-Planet-Tibet" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Lonely-Planet-Tibet1.jpg" alt="" width="200" height="309" /></a>Saya menyaksikan tentara China menahan buku <em>Lonely Planet</em> Tibet yang digeledah dari ransel seorang turis di pos perbatasan dengan Nepal. China mengharamkan Lonely Planet masuk Tibet karena buku panduan itu memuat peta wilayah Tibet dengan warna terpisah dari China dan foto Dalai Lama yang eksil di India.</p>
<p>Saya menyadari perjalanan saya ke Tibet sebuah kekeliruan. Berwisata ke sebuah wilayah yang terjajah berarti menyalurkan devisa bagi penjajah. Meski di awal perjalanan saya sudah berusaha menekan dampak itu dengan memakai biro perjalanan milik orang Tibet asli, bukan perusahaan China.</p>
<p>Satu-satunya kebanggaan tentang Tibet yang saya simpan adalah kaos dengan bendera dan teks “Free Tibet”. Itupun saya dapatkan di Kathmandu, Nepal, setelah membujuk pedagang kaos untuk membordir simbol legendaris itu. Bendera “Free Tibet” memang populer di Nepal, tapi tidak satu pun pedagang yang berani menyimpan stoknya di toko mereka. Mereka membuat bila ada yang memesan, untuk terhindar dari resiko razia aparat pemerintah Nepal yang sesekali ingin menunjukkan persahabatannya ke China.</p>
<p>Saya menulis beberapa kisah, membuat ribuan foto dan dan puluhan gambar video di Tibet. Tapi saya tidak menyebarkan kisah dan dokumentasi itu sebagai portofolio kebanggaan. Saya tidak ingin menyebarkan pengalaman ke Tibet secara luas sehingga membuat orang lain jadi ingin ke Tibet. Salah satu tulisan saya tentang Tibet saya sematkan menjadi sub judul tulisan ini.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Tibet_Lockdown_Dec2008_by_RyanGauvin.jpg"><img class="size-full wp-image-1751 aligncenter" title="Tibet_Lockdown_Dec-2008" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/03/Tibet_Lockdown_Dec2008_by_RyanGauvin.jpg" alt="" width="608" height="224" /></a></p>
<p><strong>Penjara di Atap Dunia</strong></p>
<p>Di dalam pesawat yang menjelang mendarat, sambutan bentangan alam Tibet membuat mata tak kuasa berkedip. Everest dan puncak-puncak satelitnya seperti pulau di laut awan, menjulang ke langit biru kobal. Salju bertiup seperti bendera yang berkibar dari kejauhan.</p>
<p>Pemandangan yang tak mungkin ditemui di negeri lain. Negeri ini memang atap dunia. Negeri yang sangat istimewa, dengan sejarahnya berselimut tebal spiritualitas, devosi pada Buddha, invasi, penundukan dan penindasan. Negeri yang menjadi mimpi para petualang. Namun mereka harus menghadapi syarat masuk yang cukup ketat, tapi sangat mudah bagi ribuan turis China yang datang setiap musim panas. Tibet ibarat “taman bermain di pekarangan rumah” China.</p>
<p>Dengan pemandu wisata yang menjelaskan dengan perspektif penguasa Tibet, para turis China memenuhi kuil dan biara. Mereka terpesona, dan seharusnya mereka akan lebih terpesona kalau saja tentara China tidak <a href="http://www.freetibet.org/about/10-facts-about-tibet" target="_blank"><span style="color: #008000;">menghancurkan sekitar 6000 biara ketika mengokupasi Tibet tahun 1951</span></a>. Identitas religius Tibet dilucuti secara brutal ketika itu, dan ribuan orang sipil terbunuh.</p>
<p>Tahun 1959, Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14, “sang Buddha yang hidup”, meninggalkan Lhasa dan mengungsi ke India untuk meneruskan perjuangan pembebasan tanah airnya.</p>
<p>Di sejumlah kuil dan biara terpajang lengkap lukisan atau foto semua Dalai Lama, kecuali yang ke-14. Sosok itu sangat diharamkan untuk dibicarakan atau terpajang fotonya di Tibet. Pemandu wisata pun dilarang bicara tentangnya. Turis juga dilarang membawa Lonely Planet masuk atau keluar dari Tibet. Sebab “buku suci” para petualang itu memuat foto Dalai Lama dan peta Tibet sebagai negara yang terpisah dari China. China mewajibkan pemakaian istilah Tibet Autonomous Region (TAR) atau agar lebih eksotis: Tibetan Plateau.</p>
<p>Di Potala Palace, istana Dalai Lama, para biarawan tidak diperbolehkan memakai jubah merah khas mereka. Mereka memakai seragam seperti pekerja, dan bertugas seperti di museum. Sejak aksi protes para biarawan tahun 2008 yang berujung pada kekerasan tentara, menjadi biarawan semakin sulit. Jumlah biara pun berkurang drastis. Populasi biarawan di Potala Palace yang sebelumnya sekitar 600 orang, kini tak sampai 200 orang.</p>
<p>Tiket masuk yang cukup mahal ke biara atau kuil semua masuk ke pemerintah China. Kuil dan biara hidup dari derma warga. Karena itu tidak heran di dalam biara, ada peraturan memotret harus bayar, sebagai pemasukan untuk biara. Di Jokhang Temple, biarawan membuka toko dengan plakat “blessed souvernir” Sementara di luar kuil, di Bakhor Square, turis bisa mendapatkan barang yang hampir mirip dengan harga jauh lebih murah.</p>
<p>Di Lhasa, turis bisa didamprat oleh tentara atau polisi China bila memotret pengemis. China khawatir imaji tentang orang miskin akan merusak upaya pencitraan mereka mengenai kemajuan yang terjadi di Tibet. Jalur kereta tertinggi di dunia Qinghai – Lhasa yang beroperasi sejak 2007 diklaim membawa banyak kemajuan bagi Tibet. Padahal jalur kereta api ini justru untuk memudahkan arus barang dari China, juga mobilisasi militer karena China memiliki 3 situs misil nuklir dan penambangan uranium di Tibet.</p>
<p>Seperti juga di Uyghur, China mencengkeram daerah pendudukannya dengan mengontrol komposisi populasi. Semakin banyak suku Han (orang China) di Tibet dan banyak di antara mereka menguasai basis bisnis. Untuk memuluskan asimilasi, orang Tibet dipaksa untuk berbahasa Mandarin lewat sekolah. Sementara tidak ada satupun orang Han yang mau belajar bahasa Tibet.</p>
<p>Saat ini, orang Tibet tidak bisa ke luar negeri karena tidak bisa memiliki paspor. Sampai tiga tahun lalu, masih banyak orang Tibet yang lari ke Nepal melalui pegunungan Himalaya. Namun kini, penjagaan polisi dan tentara China di pegunungan kian ketat.<span style="color: #008000;"> <a href="http://www.freetibet.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Orang Tibet pun terpenjara di tanahnya sendiri.</span></a></span></p>
<p><iframe src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F39084493&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=true&amp;color=ff7700" frameborder="no" scrolling="no" width="100%" height="166"></iframe></p>
<p><em>&#8220;Tibet under lockdown&#8221; photo by <a href="http://www.ryangauvin.com">Ryan Gauvin</a> via <a href="http://www.freetibet.org/" target="_blank">Freetibet.org</a></em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/080311-responsible-travel-tibet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obrolan rabu malam [Obral]: Get published!</title>
		<link>http://akarumput.com/inspiration/obral-get-published/</link>
		<comments>http://akarumput.com/inspiration/obral-get-published/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 15:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bali creative Community]]></category>
		<category><![CDATA[danes art veranda]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[Gagas Media]]></category>
		<category><![CDATA[Obral]]></category>
		<category><![CDATA[Windy Ariestanty]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1504</guid>
		<description><![CDATA[Obrolan Rabu Malam [Obral] bersama Windy Ariestanty, penulis buku Life Traveler dan editor in chief GagasMedia dan Bukune.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Obral-Januari-2012.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1505" title="Obral-Januari-2012" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Obral-Januari-2012.jpg" alt="" width="600" height="453" /></a></p>
<p>Indonesia masih menghadapi kendala klasik dalam soal perbukuan. Angka 15.000 judul buku yang diterbitkan dalam setahun dari 1.400 penerbit masih dinilai kecil untuk populasi 230 juta jiwa.</p>
<p>Penerbit harus bertahan di tengah himpitan harga bahan baku kertas dan pajak berlipat untuk produk buku. Mereka harus berhati-hati dalam kalkulasi bisnis saat memilih naskah untuk diterbitkan. Wajar bila muncul kecemasan tentang kemerosotan mutu literasi karena pilihan pragmatis penerbit. Padahal peran tradisional penerbit buku untuk mencerahkan publik dan memajukan kultur harus terus dipelihara.</p>
<p>Apakah penerbit di Indonesia telah mencangkok pola “blockbuster” di film Hollywood sehingga lebih mudah menerbitkan naskah yang ditulis oleh nama besar? Masihkah ada kesempatan bagi penulis pemula untuk menembus penerbitan, bagaimana caranya? Apa yang harus dipersiapkan oleh seorang penulis? Penting juga bagi penulis untuk mencari penerbit mana yang cocok untuk naskahnya.</p>
<p>Semua itu akan dibahas di Obrolan Rabu Malam [Obral] bersama <a href="http://windy-ariestanty.tumblr.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Windy Ariestanty</span></a>, penulis buku <em>Life Traveler</em>. Windy juga telah menerbitkan <em>Tiara Lestari: Uncut Stories, Shit Happens: Gue Yang Ogah Kawin Kok Elo Yang Rese?!, Studying Abroad: Belajar Sambil Berpetualang di Negeri Orang.</em> Tidak hanya dari sisi penulis, Windy yang juga editor in chief GagasMedia dan Bukune akan membagikan perspektif penerbit dan industri buku.</p>
<p><strong>Obral 25 Januari 2012</strong><br />
<strong>Tempat: Danes Art Veranda, Jl Hayam Wuruk no 159 Denpasar</strong><br />
<strong>Waktu: 19.00 WITA</strong></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/inspiration/obral-get-published/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni rupa kritik di surga yang diciptakan</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/seni-rupa-kritik-di-surga/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/seni-rupa-kritik-di-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 06:59:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Upcoming]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Made Bayak]]></category>
		<category><![CDATA[Sanur]]></category>
		<category><![CDATA[Walter Spies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1485</guid>
		<description><![CDATA[Seni rupa pernah menjadi alat promosi wisata Bali. Made Bayak menambahkan ikon-ikon teraktual pada lukisannya: Bali yang tereksploitasi.<p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Seni rupa pernah menjadi alat promosi wisata Bali. Made Bayak menambahkan ikon-ikon teraktual pada lukisannya: Bali yang tereksploitasi.</strong></p>
<p>Pada 1920-an, di Eropa gerakan seni rupa kubisme dan ekspresionisme mulai menggelora. Namun tidak semua perupa betah pada gerakan baru yang memotong-motong alam menjadi bentuk geometris dengan kubisme, atau ekspresionisme yang menganggap alam hanya sebagai media untuk menumpahkan emosi.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Walter_Spies_02_large1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1495" style="margin: 0px 12px;" title="Walter_Spies_02_large" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Walter_Spies_02_large1.jpg" alt="" width="216" height="307" /></a>Walter Spies merasa aliran baru dalam seni rupa yang muncul waktu itu membuat bakatnya pada surealistis terkurung. Ditambah ketidakbetahan pada masyarakat Eropa yang tidak menerima orientasi seksualnya, Spies bertolak menuju ke Hindia-Belanda pada Agustus 1923. Dari Batavia dia ke Yogyakarta dan pada 1927 atas undangan raja Ubud Cokorda Gede Agung Sukawati ia menetap di Bali.</p>
<p>Spies banyak berkenalan dengan seniman lokal. Ia mulai terpengaruh oleh estetika seni rupa Bali yang ketika itu hanya menggambarkan dunia wayang dan cerita rakyat. Waktu itulah lahir lukisan-lukisannya yang memadukan misteri seni rupa Bali yang dekoratif, alami sekaligus naif dengan surealitas Barat.</p>
<p>Spies mulai mengarahkan para pelukis Bali untuk menggambar alam sekitar yang terlupakan dibawa ke media gambar. Pada 1935, bersama Cokorda Gde Agung Sukawati dan Rudolf Bonnet, Spies mendirikan Pita Maha. Perkumpulan ini bertujuan memberi nilai lebih kepada karya seniman Bali untuk menghadapi kecenderungan komersialisasi seni yang mulai melanda Bali.</p>
<p>Pita Maha memberikan bimbingan, cat dan peralatan melukis yang baru kepada seniman lokal. Kemudian mereka mempromosikan seni lukis dan patung Bali yang telah dipilih untuk dipamerkan di Jawa maupun di luar negeri. Melalui seni rupa, pesona Bali semakin harum sebagai pulau surga dengan perempuan berdada terbuka.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/AC233a.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1497" title="Bali in the 1920s" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/AC233a.jpg" alt="" width="600" height="380" /></a></p>
<p>Jargon pulau surga berhasil mengkonstruksi Bali hingga kini. Pulau kecil ini dipaksa hidup dari industri turisme yang tak pernah puas, dan selalu haus menyerap investasi. Pembangunan infrastruktur pariwisata mengabaikan daya dukung Bali yang terbatas. Untuk satu soal, pengelolaan sampah misalnya, sampai saat ini Bali belum punya solusi menyeluruh yang ampuh. Belum lagi menahan dampak kerusakan ekologi yang ditimbulkan infrastruktur wisata.</p>
<p>Masyarakat Bali yang sebenarnya memuja alam sebagian telah berubah perangai. Banyak yang terlena menggadai sumber daya alam karena harga properti yang meroket. Akhirnya sebagian masyarakat Bali harus menjalani posisi sebagai sekrup-sekrup di mesin besar bernama industri turisme.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/demoland.jpg"><img class="size-full wp-image-1493 aligncenter" title="Bali development 2011" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/demoland.jpg" alt="Bali development 2011" width="601" height="402" /></a></p>
<p>Kondisi teraktual Bali menggelisahkan sejumlah seniman, meski jumlahnya tak banyak. Salah satunya perupa Made Muliana Bayak. Bayak merefleksikan kegundahannya menjadi beragam karya rupa dari lukisan hingga instalasi, yang akan digelar dalam pameran seni rupa bertajuk “Fresh from the Oven” (Segar dan Renyah Dari Penggorengan). Pameran yang dibuka pada Jumat (20/1) dan berakhir 2 Maret 2012 ini berlangsung di Griya Santrian Gallery, Jl Danau Tamblingan 47, Sanur.</p>
<p>Kurator pameran ini, Wayan Jengki Sunarta pada pengantar pameran menulis, kebanyakan perupa Bali hanya sibuk meladeni selera pasar. Mereka asyik mengorek estetika yang formalistik, namun melupakan eksplorasi gagasan dan konten karya.</p>
<p>Pelukis-pelukis lulusan perguruan tinggi seni, misalnya, kebanyakan memilih jalan aman dan nyaman sebagai perajin lukisan. “Karya-karya yang hanya mengejar keindahan, ‘made to order’, dan berbau turistik mendominasi seni rupa Bali.</p>
<p>Karya-karya seperti ini turut andil mengekalkan kebohongan tentang Bali. Mereka asyik masyuk masturbasi dengan estetika, dan melupakan berbagai persoalan yang bersliweran di depan hidungnya,” sebut Jengki.</p>
<p>Pada karya-karyanya yang dipamerkan, Bayak mengkritik lukisan “Sukawatian”, lukisan tiruan Mooi Indie yang banyak dijual di pasar-pasar dan toko seni dan oleh-oleh di Bali. Lukisan “Sukawatian” menggambarkan eksotisme Bali, dengan ikon-ikon keindahan yang itu-itu saja, seperti pemandangan sawah, desa yang permai, atau perempuan telanjang dada. Padahal kenyataannya, sawah-sawah di Bali mulai digerus oleh kehadiran hotel-hotel dan vila. Kesopanan modern juga telah menutup dada perempuan lokal, sementara para turis menikmati kebebasannya membuka dada.</p>
<p>Bayak mereproduksi ikon-ikon lukisan turistik dan menambahkan ikon-ikon baru yang sesuai dengan kondisi Bali teraktual: tulisan “SOLD”, barcode, simbol mata uang dollar. Dia juga menambah ornamen-ornamen kenyataan baru pada lukisan pemandangan seperti tembok batu, papan iklan tanah dijual, atau mengganti kereta sapi petani dengan excavator.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/02_sold_bayak.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1498" title="Sold" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/02_sold_bayak.jpg" alt="" width="601" height="186" /></a></p>
<p>Pada karya-karyanya Baya tidak menunjukkan penjelejahan teknik. Pamerannya murni demi muatan pesan. Bila dulu Spies memanfaatkan seni rupa sebagai alat promosi wisata, sebaliknya Bayak ingin mempromosikan kerusakan Bali akibat industri wisata.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/seni-rupa-kritik-di-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video klip &#8220;Orangutan&#8221; oleh Navicula</title>
		<link>http://akarumput.com/featured/video-orangutan-oleh-navicula/</link>
		<comments>http://akarumput.com/featured/video-orangutan-oleh-navicula/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 10:25:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alfred Pasifico</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[navicula]]></category>
		<category><![CDATA[orangutan]]></category>
		<category><![CDATA[sawit watch]]></category>
		<category><![CDATA[Walhi Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarumput.com/?p=1334</guid>
		<description><![CDATA[Tidak hanya merilis lagu untuk diunduh publik, Navicula juga merilis video musik “Orangutan”. Gambar video ini diselipi dengan potongan gambar dari Green, the Film. <p></p>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/B4m5b5DJtBU" frameborder="0" width="600" height="335"></iframe></p>
<p>Kita hidup di dunia yang tunggang langgang. Isu, persoalan, kekhawatiran, semuanya cepat hilang, secepat mereka datang. Suatu isu bisa terasa gawat, hanya ketika masih hangat.</p>
<p>Masih di penghujung tahun 2011, jejaring media sosial di Indonesia riuh dengan isu pembantaian orangutan. Tapi dalam hitungan minggu, isu itu seperti berlalu. Nasib orangutan masih riskan. Sementara deforestasi terus melaju, dan ekspansi lahan perkebunan sawit tak terhambat.</p>
<p>Perusahaan perkebunan kelapa sawit pun dengan lincah menempuh pola greenwashing untuk <a href="http://news.mongabay.com/2011/1207-orangutan_policy.html" target="_blank"><span style="color: #008000;">memoles citranya sebagai musuh utama orangutan.</span></a> Ini upaya lapis kedua setelah bergincu membangun logika kehadiran <a href="http://akarumput.com/environment/the-unashamed-business-of-indonesia-green-awards/" target="_blank"><span style="color: #008000;">perkebunan kelapa sawit sebagai upaya “menghijaukan hutan kembali”.</span></a></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/press-conf-2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1346" style="margin: 8px 12px;" title="discussion Suara untuk Alam II" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/press-conf-2-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Dari Bali, sebagai media alternatif yang partisipatif, akarumput.com menggelar “Orangutan” – Suara untuk Alam II, bekerja sama dengan <a href="http://sawitwatch.or.id/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Sawit Watch</span></a> dan <a href="http://walhibali.org/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Walhi Bali</span> </a>di Seaman’s Sanur, 17 Desember lalu. Acara ini diawali dengan diskusi “Refleksi Lingkungan Hidup Akhir Tahun” bersama Albert Nego Tarigan (direktur eksekutif Sawit Watch), Wayan Suardana atau Gendo (WALHI Bali), dan Gede Robi Supriyanto (vokalis Navicula).</p>
<p>Albert menyerukan penghentian ekspansi perkebunan sawit. “Kebun sawit merebut ruang hidup masyarakat lokal dan hewan langka seperti orangutan. Di Aceh, Riau, dan Kalimantan Timur, semua terjadi pembunuhan orangutan,” kata Albert.</p>
<p>Albert juga menyoroti kasus kekerasan di Kabupaten Mesuji, Lampung yang berkaitan dengan kehadiran perkebunan kelapa sawit. Lima orang tewas pada peristiwa bentrok antara masyarakat dengan pengamanan perusahaan sawit. Menurut Abert masih ada kasus serupa yang terjadi di daerah lain. “Di Riau, seorang ibu tewas karena dituduh menduduki kebun perusahaan sawit besar. Di Jambi, tujuh orang diberondong peluru, dan kami punya rekaman videonya,&#8221; kata Albert.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Balian_live.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1349" title="Balian_live" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Balian_live.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Nosstress_live.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1356" style="margin-top: 10px; margin-bottom: 10px;" title="Nosstress_live" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Nosstress_live.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Geekssmile_live.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1350" title="Geekssmile_live" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Geekssmile_live.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a>Setelah diskusi, acara beralih ke panggung musik dengan penampilan band The Listen, Balian, Nosstress, Geekssmile, dan Navicula.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/woodcut-2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1362" title="woodcut-2" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/woodcut-2.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/auction_art.jpg"><img class="aligncenter" style="margin-top: 10px; margin-bottom: 10px;" title="auction_art" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/auction_art.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Acara diselingi dengan lelang karya bertema orangutan karya seniman Bali seperti Made Bayak dan mahasiswa ISI yang tergabung dalam Komunitas Djamur. Dana yang terkumpul dari lelang sekitar Rp. 6,000,000 disalurkan ke WALHI Bali untuk perjuangan lingkungan hidup.</p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/NAVICULA_LIVE.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1351" title="NAVICULA_LIVE" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/NAVICULA_LIVE.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a>Momen yang paling ditunggu dari acara ini adalah peluncuran single terbaru Navicula berjudul “Orangutan”. Navicula mendedikasikan lagu ini untuk melipatgandakan kepedulian pada keselamatan dan kelestarian orangutan sebagai spesies langka. Robi menciptakan lagu ini pada April 2011 sebagai salah satu materi album baru Navicula yang direncanakan rilis tahun depan. <a href="http://akarumput.com/environment/unduh-gratis-lagu-orangutan-oleh-navicula/" target="_blank"><span style="color: #008000;">“Orangutan” bisa diunduh secara gratis di sini.</span></a></p>
<p><a href="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Green-072.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1352" style="margin: 8px 12px;" title="Green-072" src="http://akarumput.com/wp-content/uploads/2012/01/Green-072-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a>Tidak hanya merilis lagu untuk diunduh publik, Navicula juga merilis video musik “Orangutan”. Gambar video ini diselipi dengan potongan gambar dari <a href="http://www.greenthefilm.com/" target="_blank"><span style="color: #008000;">Green, the Film.</span></a> Film dokumenter karya Patrick Rouxel ini berkisah tentang Green, seekor orangutan betina yang meregang nyawa. Film ini tanpa narasi, hanya gambar-gambar yang indah dan menyedihkan.</p>
<p>Green adalah korban deforestasi dan eksploitasi sumber daya alam. Film ini adalah perjalanan emosional seekor primata langka dalam kesendiriannya di dunia yang tak berpihak padanya.<strong></strong></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p><strong></strong><em>Foto oleh Vifick Bolang dan Green the Film.</em></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarumput.com/featured/video-orangutan-oleh-navicula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
